My Girlfriend Is A Bad Girl

My Girlfriend Is A Bad Girl
Part 5-Bukan Urusan Lo!



Fanny cukup lega hari ini setelah mengetahui bahwa Miss Merry berhalangan masuk karena sedang sakit, sehingga ia selamat di jam pertama.


Tak terasa waktu berjalan dan usai begitu saja (Tapi cintaku padamu tidak pernah usai, yoshhh *author salto) oke, maap kan kerecehan author. Semoga gak garing.


Dan sudah waktunya pulang, Fanny berjalan menuju luar kelas dan tak sengaja menabrak Benua.


"****, Klo jalan tu pake mat--"


"Apa? Mata? Jalan pake kaki kali, masa pake mata. Serem dong Klo pake mata." Ucap orang itu sambil memotong perkataan Fanny.


Fanny memutar kedua bola matanya malas, lagi-lagi orang ini muncul lagi dihadapannya.


"Minggir, Lo!" Tukas Fanny sambil melabrak bahu orang itu.


Namun saat beberapa langkah berjalan tangannya ditahan oleh Benua dan membuatnya reflek berbalik arah.


"Apa-apaan ni?" Tanya Fanny yang tidak suka


"Kita perlu bicara."


"What the..." Belum selesai ia mengumpat Benua langsung menariknya ke suatu tempat.


Sepanjang jalan Fanny berusaha untuk menepis pegangan dari benua namun tidak bisa karena kekuatan Benua jauh lebih kuat. Sampai akhirnya Benua berhenti di ruang OSIS dan melepas pegangannya.


"Sekarang jujur sama gue, apa bener Lo dan geng Lo itu berencana mau tawuran di SMA sebelah?" Tanya Benua serius.


Fanny mengacuhkan pertanyaan Benua dan melihat ke sembarang tempat.


"Bukan Urusan Lo!"


Benua berusaha mengontrol emosi agar tidak membogem manusia yang ada dihadapannya ini, untung aja ni orang cewe. Kalo cowok udah di ajak by one dari tadi sama Benua.


"Ya tentu urusan gue, tindakan Lo itu bisa merusak citra sekolah tau gak!"


"Apa? Apa tadi Lo bilang? citra sekolah? Emang Lo pikir gue ngajak temen-temen gue war cuman untuk seneng-seneng?" Ucap Fanny yang mulai keberatan dengan pernyataan Benua.


"Terus untuk apa? Mengharumkan nama sekolah? Bercanda Lo."


Fanny berdecak kesal, "Kalo Lo gak tau apa alasannya, mending Lo gak usah ngebacot."


"Apapun alasannya, tawuran bukan jalan keluar terbaik." Bantah Benua.


"Sekarang gue tanya, kalo ada saudara Lo dilecehkan orang, dan orang itu menganiaya saudara Lo, apa yang akan Lo lakuin?"


"Ya gue hajar lah, gue gak akan terima itu."


"Nah, itu. Itu dia yang gue dan teman-teman gue rasain. Sahabat gue, teman gue, dan yang gue udah anggap sebagai saudara sekarang lagi sekarat karena perbuatan manusia-manusia biadab yang ada disana." Ucap Fanny sambil menaik turunkan nafasnya.


"Dan gue gak bisa diam liat bajingan-bajingan itu tertawa diatas penderitaan keluarga gue." Lanjut Fanny.


Benua yang mendengar hal itu terkejut, ia tidak menyangka bahwa Fanny melakukan semua itu demi memperjuangkan keadilan buat temannya. Namun tetap saja, caranya untuk melakukan penyerangan secara brutal tidak tepat.


"Oke, gue paham perasaan Lo, kalo Lo pengen memberi mereka pelajaran, masih ada cara lain. Gue bisa bantu Lo buat menyeret semua pelaku itu ke penjara."


"Gak, gue gak puas sebelum matahin tulang-tulang mereka! Enak aja gue lepasin gitu aja. Setelah itu terserah deh, mau dibuang ke laut, ke sungai, ke mana kek, gue gak peduli." Ucap Fanny yang masih keras kepala dengan kemauannya.


Benua mengusap wajahnya kasar, ia hampir frustasi menghadapi manusia yang ada dihadapannya ini.


"Eh, tunggu-tunggu, dari mana Lo tau gue mau war? Gue gak pernah ngasi tau Lo perasaan." Tanya Fanny dengan penuh keheranan.


"Lo lupa kalo gue anak OSIS, ya udah pasti mata-mata gue ada dimana-mana buat ngelaporin semua kejadian yang ada disekolah ini."


"Brengsek, ngecheat Lo ternyata!"


Benua tersenyum licik, "Makanya, jangan pernah ngeremehin kekuatan anak OSIS."


Fanny menatap tajam Benua, ingin rasanya menelan orang yang dihadapannya ini hidup-hidup.


"Udah? Udah selesai ceramahin gue, minggir, Lo ngebuang waktu gue dengan pembicaraan Lo yang gak mutu." Ucap Fanny sambil mendorong sebelah bahu Benua dengan tangannya.


Benua tidak tau harus berbuat apa untuk menghentikan Fanny, lama-lama ia bisa sakit jiwa karena mengajaknya terus berdebat.


Fanny berjalan meninggalkan Benua, namun saat beberapa langkah ia tidak sengaja menginjak tali sepatunya dan terjatuh.


Brak!


Benua yang melihat hal itu reflek mengejar Fanny dan hendak menolongnya.


"Fan, Lo ga apa2?"


"Sakit.. kaki gue, aduhhh." Ucap Fanny sambil memegang kakinya yang malang.


"Kita ke UKS." Tawar Benua.


"Gak, gue mau pulang."


"Ohh, Lo dijemput, ya udah, gue tungguin."


"Gak, gue nyetir sendiri."


"Terus gimana Lo mau pulang?"


"Ihh, pokoknya gue mau pulang."


Benua semakin menahan sabar menghadapi Fanny, "Ya udah, gue anterin pulang. Mana kunci Lo?"


Fanny memberikan kuncinya kepada Benua, kemudian Benua mengambilnya.


Setelah itu Benua menggendong Fanny dan mengantarkannya pulang.


...###...


Saat diperjalanan, suasana terasa akward diantara mereka berdua. Tidak ada yang mau memulai pembicaraan, Fanny hanya menatap jalanan ke arah luar kaca jendela mobil sementara Benua fokus menyetir, kadang sesekali ia melihat ke arah Fanny yang sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Makanya, jangan ngelawan apa kata suami. Kualat kan jadinya" Ucap Benua yang berusaha memecah keheningan.


Fanny yang mendengar hal itu reflek menoleh ke arah benua sambil melemparkan tatapan jijik ke arah Benua.


Sementara Benua terkekeh melihat ekspresi Fanny yang tidak suka atas perkataannya barusan, ntah kenapa menjahili Fanny menjadi candu baginya.


"Gue gak tau lagi harus ngomong ke Lo gimana lagi, yang jelas. Tolong Lo urungkan niat Lo untuk bikin keributan dengan SMA sebelah. Kalo tidak..." Ucap Benua yang sengaja menggantung perkataannya agar mendapat respon dari sang empunya.


"Kalo tidak apa?"


"Kalo tidak, jangan salahin gue kalo temen-temen Lo dikeluarkan dari sekolah." Ancam Benua.


Fanny menatap Benua tidak percaya, apa-apaan ancaman dia tadi.


"Pilihan Lo cuman ada 2, lanjut war atau say goodbye ke semua teman-teman Lo."


Fanny mengangkat sudut bibirnya, "Lo pikir gue takut sama ancaman Lo?"


Benua mengernyitkan dahinya, "gue gak ngancem, gue cuman ngasih pilihan."


"Itu sama aja idiot, Lo ngacem gue dengan cara nyingkirin teman-teman gue!" Fanny memperjelas fakta sebenarnya.


"Oke, anggap aja itu bener." Benua mengalah.


"Apapun ancaman Lo, gue gak takut, pun kalo mereka dikeluarin, gue juga tinggal keluar. Apa susahnya sih." Ucap Fanny dengan santai.


Benua hanya tersenyum mendengar ucapan Fanny tadi, gadis ini benar-benar menganggap semua teman-temannya seperti keluarga.


"Segitunya banget Lo ngebela teman-teman Lo, keluarga bukan, sanak saudara bukan.."


"Cuman mereka, mereka keluarga gue, gak ada yang lain." Tukas Fanny.


"Oke, mereka keluarga kedua Lo."


"Mereka bukan keluarga kedua, mereka keluarga satu-satunya!"


Benua mengerutkan keningnya, "Satu-satunya? Terus keluarga Lo yang dirumah..."


"Mati! Keluarga gua yang lainnya udah mati!"


"Maksudnya?"


"Bukan urusan Lo!"


 


TBC