My Girlfriend Is A Bad Girl

My Girlfriend Is A Bad Girl
Part 4-War ditunda



Sesampai di UKS, Benua merebahkan Fanny di atas kasur yang sudah tersedia di ruang UKS. Meski Benua masih berbaik hati untuk menolongnya, Fanny tetap memasang tatapan tajam ke arah Benua.


Benua yang melihat ekspresi Fanny yang tidak berubah sejak tadi hanya menggeleng kecil dan tidak terlalu memperdulikan tatapan mengerikan itu, yang terpenting baginya adalah bisa membantu sesama.


"Ca, ini Fanny, tadi abis jatuh dari tangga." Ucap Benua ke salah satu penjaga UKS.


"Ohh, oke Ben." Jawab Caca sambil melihat apakah ada luka dikaki Fanny, namun ya tidak menemukannya. "Ben, kok gak ada luka?"


"Mungkin aja terkilir, Hei, gue bener, kan?" Ucap Benua sambil memastikan kembali pada Fanny.


"Hmm.." Jawab Fanny ketus.


Benua yang lagi-lagi direspon ketus itu hanya mengurut dada, huft sabar-sabar.


"Hmm, Ben?"


"Iya Ca, kenapa?"


Caca ragu untuk mengatakan sesuatu pada Benua, namun ia tidak punya pilihan lain. "Gue gak bisa ngobatin kaki yang terkilir, gue ga paham soalnya. Klo gue maksain buat ngobatin. Ntar takutnya malah makin parah." Jelas Caca dengan jujur.


Benua hanya mengangguk paham, "Okeh, gue bisa sih sebenarnya, tapi sayang banget kek nya orang ini gak suka gue tolongin." Ucapnya dengan sedikit menyindir.


"Ha? Serius? Terus gimana?"


Benua hanya mengangkat kedua bahunya pertanda bahwa ia juga tidak tau harus berbuat apa.


"Ah, gue tau siapa yg bisa nyembuhin, pak Ujang Ben." Ujar Caca setelah mendapat pencerahan.


"Nah, ide bagus, pak Ujang kan ahli pengobatan tradisional." Ucap Benua yang setuju, namun didalam hatinya ia kurang setuju karena ia memiliki perasaan yang kurang enak dihatinya.


"Okeh kalo gitu gue pangg---"


"Ehh, wait wait wait? Pak Ujang? Seriously? Oh, **** motherfacker, are u guys kidding me? No, big no!" Tukas Fanny yang tidak terima mereka yang mengambil keputusan tanpa persetujuannya.


"Lha? Terus, Lo mau di obatin sama siapa? Gue? Lo aja liat gue kaya liat sampah." Cibir Benua yang membuat jantung Fanny terasa tertohok.


"Ewhhh, mending gue di obati sama Lo dari pada sama pak Ujang si tua Bangka mesum itu!!"


"Apa? Maksud Lo?" Tanya Benua penasaran.


Fanny mengangkat sudut bibirnya, ternyata masih banyak orang-orang polos disekolah ini yang tidak mengetahui sifat-sifat asli dari penghuni sekolah ini.


"Yang kelihatan baik diluar belum tentu baik juga didalam." Ucap Fanny tanpa harus menjelaskan panjang lebar.


Benua paham dengan kata-kata Fanny tadi, namun ia masih kurang yakin tanpa diberi penjelasan. Sementara Caca semakin bingung dengan maksud Fanny.


"Ya udah, kalian gak usah repot-repot bantuin gue, ntar juga sembuh sendiri."


"Lo yakin? Lo gak boleh ngeremehin penyakit sekecil apapun, hal sekecil itu bisa bahaya Klo terlalu lama dibiarin." Jelas Benua agar Fanny mengerti.


"Benua bener, Fan. Lo gak boleh anggap ini sepele, ya udh Ben, Lo bantu aja dia. Maaf banget gue gak bisa lama-lama disini, soalnya gue ada UH yang gak bisa ditinggalin. Gue cabut ya." Caca pamit sebelum meninggalkan mereka berdua di UKS.


"Sip, good luck ya." Jawab Benua sambil memberi semangat.


Caca hanya mengangguk kemudian memberikan tos kecil pada Benua.


Setelah Caca pergi, sekarang tersisa 2 species bumi yang memiliki 2 aura yang berbeda. Yang mana aura panas milik Fanny dan aura dingin milik Benua.


"Sini, yang mana yg sakit, kaki kanan atau kiri?" Tanya Benua.


"Kiri."


Benua hanya menggeleng kecil, " Maaf ya, gue ijin." Benua meminta ijin Fanny sebelum menyentuh kakinya.


Fanny mengangguk, setelah mendapatkan ijin, Benua memegang bagian kaki Fanny yang sakit.


"Tahan sedikit, ini bakal sedikit sakit. Tapi abis ni bakal fine kok."


"Ok-- arghhhhh!!!" Belum selesai Fanny menjawab Benua sudah menggerakkan kaki Fanny untuk menghilangkan rasa nyeri dikakinya. Sementara Fanny berteriak kesakitan karena mendapat gerakan spontan.


"Dah, aman." Ucap Benua setelah dirasa sudah selesai.


Sementara Fanny masih syok dan mengumpati Benua, "Sialan, Lo! Lo bilang sakit nya sedikit, buktinya Lo hampir ngebunuh gue!"


Benua hanya terkekeh melihat Fanny yang mengumpatinya, ia mengerti bahwa Fanny pasti akan terkejut mendapatkan gerakan spontan itu. Tapi mau bagaimana lagi, jika tidak sakit yang ada dikaki Fanny akan semakin menjadi.


"Udah, jangan kebanyakan argumen, sekarang coba Lo gerakin lagi kaki Lo, udah baikan gak?"


Fanny masih memasang tatapan kesal dengan Benua, kemudian ia mencoba untuk menggerakkan kakinya. Setelah digerakkan, kakinya sudah tidak terasa sakit lagi.


"Gimana, hmm?" Tanya Benua lagi untuk memastikan.


"Udah enggak."


"Thanks." Ucap Fanny pelan.


"Urwell." Jawab Benua dengan senyuman sambil sedikit mengacak-acak rambut Fanny.


Fanny yang diperlakukan seperti itu seketika terpaku dan merasakan kedua pipinya memanas, namun dengan cepat ia menggeleng. Ia tidak mau sampai suka dengan musuhnya.


"Mau gue anterin ke kelas?" Tawar Benua.


"Gak, gue bisa sendiri."


Benua mengangguk paham, "Oke, kalo gitu gue cabut." Ucap Benua kemudian melangkah menuju luar, namun sesampai di pintu ia berhenti dan membalikkan badan. "Lain kali hati-hati, jangan sampe jatoh lagi. Ntar ngerepotin ayang lagi." Ucapnya sedikit mejaihili Fanny.


Fanny yang mendengar hal itu seketika membulatkan matanya sementara Benua hanya terkekeh dari kejauhan.


"Kenapa ekspresi Lo kek gitu? Kita udah jadian, kan? Ah iya, lain kali bicaranya dikondisikan lagi ya sayang, cantik-cantik kok bar-bar. See u honey." Ucap Benua sambil mengedipkan sebelah matanya dan memberikan kiss sign dari kejauhan.


Fanny yang melihat hal itu seketika bergedik ngeri, apa-apaan orang tadi? Tu anak gak kesambet, kan?


"Fix, dia sakit jiwa." Fanny bergumam.


...###...


Fanny kembali ke kelas dengan hati-hati, ia tidak mau kejadian sama terulang kembali. Karena dia tidak Sudi menahan rasa sakit apapun termasuk sakit hati.


Sesampai dikelas, dilihatnya kelas tidak ada guru. Fanny pun mengernyitkan dahinya karena tidak biasanya di hari Selasa Miss Merry tidak masuk. Guru bahasa Inggris yang terkenal killer dan tidak memandang buluh siswa mana yang mau dia ajar.


"Fanny..." Ujar Yora saat melihat sosok Fanny yang baru sampai di kelas.


Fanny langsung masuk dan menuju kursi kebanggaannya sambil berjalan terbata-bata.


Semua teman-temannya langsung mengerumuninya dan mulai bertanya banyak hal .


"Woi, Lo kemana ae?"


"Anjirlah, gue pikir Lo ngebolos."


"Huaaa, gue pikir Lo diculik wewegombel tadi."


"Sini, cerita Fan."


Fanny yang diintrogasi secara beruntun reflek menutup telinganya, setelah dirasa sudah muak Fanny langsung menghentikan mereka.


"Stop it!"


Seketika mereka terdiam setelah mendengar teriakkan Fanny.


"Udah? Udah ngebacotnya? Udah bisa gue ngomong sekarang?"


Mereka semua mengangguk, "sorry, Fan."


Fanny kembali mengatur emosinya agar tidak kelepasan, "Hm, it's ok."


Fanny diam sejenak kemudian membuka suara, "Tadi itu gue telat, pintu udah terkunci."


"Terus?" Tanya Lira sudah mulai penasaran.


"Ya, mau gak mau gue manjet pagar dong. Abis tu..."


Fanny menceritakan seluruh kejadian yang ia alami tadi dan akhirnya teman-temannya mengerti.


"Syukurlah ada yang nolongin, Lo. Terus gimana kaki Lo?" Tanya Meiriska.


"Udah gapapa sih, cuman masih rada-rada nyeri dikit, mungkin masih tahap pemulihan."


Yang lain hanya mengangguk pelan setelah mendengar penjelasan dari Fanny.


"Fan, maaf gue lancang. Keknya war kita hari ini kita pending dulu. Kita gak bisa war kalo kondisi Lo kek gini." Saran Lira setelah tau kondisi Fanny yang belum pulih seutuhnya.


"Lira bener, Fan. Kita pending dulu sampe Lo bener-bener pulih." Timpal Yora.


"Hmm, yodah, kalo itu mau kalian. Btw, thanks karena kalian udah care banget sama gue."


"Sama-sama, Fan."


Tanpa mereka sadari, seorang mata-mata sekolah berhasil mendengar pembicaraan mereka. Setelah itu ia pergi dan hendak melaporkan rencana siswa XI MIPA 7 ke atasannya.


--------------


*Tbc


To be continued