
Sebelum berangkat ke sekolah Rombongan geng Fanny berkumpul di basecamp seperti biasa. Hari ini adalah projek besar mereka.
"Yora?" Panggil Fanny.
"Hadir."
"Ehh, si anying. Gue gak lagi ngabsen." Ucap Fanny jengkel.
Yora terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Fanny menggeleng pelan, "Lo udah bawa apa yang gue suruh kemaren?"
"Tenang ae gue udh bawa kok. Nih." Ujar Yora sambil memberikan secarik kertas yang berisi properti projek mereka.
"Bagus," Ucap Fanny sambil menerima lembaran kertas dari Yora.
"Ekhemm, perhatian semua, simpan ghibahan kalian untuk besok." Fanny memberi kode kepada seluruh anggotanya untuk memperhatikannya.
Seketika tempat itu hening tanpa suara, semua kembali fokus dengan Fanny.
Di rasa sudah tenang, Fanny melanjutkan pembicaraannya, "Salah satu sahabat kita sekarat dan sekarang dia lagi ada dirumah sakit. Semua itu karena ulah anak-anak anj*ng dari SMA sebelah."
Mendengar hal itu, semua anggota Fanny geram. Sepertinya mereka sudah tidak sabar untuk tawuran.
"Brengsek!"
"Mereka gak akan bisa dikasih ampun!"
"Ahh, gak sabar pengen congkel mata orang.."
Beberapa dari mereka mulai mengumpat dan tidak mampu menahan kekesalan mereka.
"Tenang, tahan emosi kalian untuk beberapa saat. Setelah nanti siang, terserah mau kalian apa in mereka." Fanny mencoba untuk menenangkan teman-temannya.
"Sebelum kita war, gue mau bacain apa aja yang perlu kita persiapkan." Fanny mulai membaca isi kertas dari Yora tersebut.
"Ekhemm, Selada seikat, cabe sekilo, terasi, ayam sekilo????" Fanny membulatkan matanya dan mengerutkan keningnya setelah menyadari apa yang dia baca bukan sesuai dengan yang dia minta.
"Lha? Yor? Ini?" Ucap Fanny menatap Yora dengan penuh keheranan.
"Astaga, maap Fan, salah kasi. Hehe, itu daftar belanjaan Mak gue." Ucap Yora sambil menarik kertas yang ada ditangan Fanny, kemudian mengganti kertas yang sebenarnya.
Sementara yang lain hanya mengulum senyum sambil menahan tawa mereka agar tidak meledak.
Fanny menggeleng pelan dan menatap Yora tidak percaya. Bisa-bisanya dia hampir menghancurkan kewibawaan Fanny sebagai ketua geng.
Dengan cepat ia kembali serius dan tidak mau memperpanjang kecerobohan Yora.
"Oke, serius. Perhatian semua. Gue bakal bacaain apa aja yang perlu kita bawa nanti." Fanny kembali dengan mode serius.
"Parang?"
"Aman."
"Pisau?"
"Tajam."
"Golok?"
"Siap, gue yang bawa."
"Okeh, bagus. Jangan lupa nanti siang. Kita akan kasi pelajaran sama bajingan yang ada disana dan bikin mereka nyesel karena udh berurusan dengan anak Tri Sakti." Ucap Fanny sebelum menutup diskusi mereka.
"Fan, palu, paku, gergaji, sekop sama batu perlu gak?" Timpal Yudi yang merupakan salah satu dari mereka.
"Ngapain? Lo mau nguli? Ngapa gak sekalian aja semen, bata, sama kayu? Ntar abis tu lama2 gue panggil arsitek kalo gitu. " Jawab Fanny jengkel.
Yudi yang mendengar itu hanya cengengesan gaje, padahal niatnya hanya untuk menghibur sang ketua.
"Ya kali kan, Lo mau bangun rumah masa depan kita berdua.. uhuy." Astaga, Yudi semakin menjadi, apakah nyawanya akan selamat hari ini?
Semua orang yang ada didalam basecamp menahan mulut mereka yang hampir saja muntah melihat kelakuan Yudi.
"Oke, segitu aja dari gue. 5 menit lagi masuk. Kita balik ke sekolah."
...###...
Fanny memarkirkan mobilnya di luar gerbang sekolah, dilihatnya pagar sudah terkunci. Sementara teman-temannya yang lain sudah berhasil tepat waktu sampai di sekolah.
"Ck, sial." Fanny mengumpat pelan sambil menendang pagar utama sekolah, ia tidak punya pilihan lain selain memanjat pagar sekolah. Sebelum itu ia mencari tempat yang aman untuk memarkirkan mobilnya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Fanny pergi ke bagian belakang sekolah untuk memanjat pagar.
Setelah berhasil, ia melompat kebawah kemudian membersihkan jejak debu yang ada di seragamnya.
Fanny celingak-celinguk untuk memastikan tidak ada yang melihatnya, setelah di rasa sudah aman, ia pun berjalan dengan santai menuju kelas.
Saat menaiki tangga kelas, Fanny terpeleset dan membuatnya terjatuh. Ia meringis kesakitan sambil mengeluarkan segala umpatan sumpah serapah yang lolos dari mulutnya.
Fanny berusaha untuk berdiri namun tidak bisa, ia frustasi karena tidak ada satupun yang ada diluar kelas.
Yaps, memang benar. Tapi tidak lama setelah itu seorang siswa keluar dari Toilet yang jaraknya tidak jauh dari tangga kelas. Langkahnya terhenti setelah melihat seseorang terduduk di lantai didekat tangga. Tanpa ragu siswa itu langsung menghampirinya.
"Hey? Kamu kok duduk disini?" Tanya siswa itu tanpa berdosa.
Fanny yang ditanya dengan pertanyaan bodoh seperti itu semakin jengkel, "Stupid, gue abis jatoh idiot!" Tukas Fanny kemudian menoleh ke arah siswa yang menghampirinya tadi.
Seketika mata mereka saling bertemu, Fanny terkejut melihatnya sama halnya dengan siswa tadi.
"Elo??" Ucap mereka serentak sambil menunjuk satu sama lain.
Yaps, siswa tadi tak lain tak bukan adalah Benua. Benua Aksara, sang ketos yang kemaren aja baru ditembak sama Fanny.
Tiba-tiba suasana terasa canggung, Fanny dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Kamu ngapain disini?" Ucap Benua yang memecah keheningan.
Fanny memutar kedua bola matanya, "Latihan paskibra!! Lo buta? Tuli? Gue udah bilang gue abis jatoh!"
"Ohh, jatuh.. kok bisa?" Ucap Benua dengan polos.
Fanny menatap Benua tidak percaya, lama-lama di ajak by one juga nih orang.
"Diam Lo! Mending Lo pergi sebelum gue murka."
Benua mengerutkan dahinya, "Yakin gak perlu bantuan?" Tawar Benua.
"Gak usah, gue bisa sendiri! Jangan sok baik sama gue, mungkin Lo bisa cari muka didepan semua orang, tapi ewhh sorry, itu gak ngaruh buat gue."
Benua semakin mengerutkan dahinya, kemudian menatap Fanny tidak percaya, "Terus, kenapa Lo maksa gue jadi cowo lu?"
"Berisik, bukan urusan Lo. Ya suka2 gue dong."
"Ya urusan gue juga, karena Lo melibatkan gue dalam kehidupan Lo." Jawab Benua tidak mau kalah.
Fanny semakin jengkel menghadapi orang yang ada disampingnya ini, "Okeh, gue akan jelasin nanti. Sekarang Lo pergi, gak usah peduliin gue."
Benua cukup kesal mendengar perkataannya Fanny tadi, dari pada ia memaki Fanny, lebih baik dia menuruti saja keinginan Fanny untuk tidak menolongnya.
"Ya udah, gue pergi." Ucap Benua, kemudian pergi meninggalkan Fanny sendiri. Namun saat beberapa langkah pergi, ia kembali menoleh kebelakang saat mendengar suara Fanny yang masih meringis kesakitan. Benua yang memiliki rasa kemanusiaan yang besar itu langsung berbalik dan membantu Fanny.
"Eh, mau ngapain Lo?" Ucap Fanny saat melihat Benua yang sudah ada lagi dihadapannya.
"Diem, gue bantuin."
"Gak usah, gue gak butuh bantuan Lo."
Seolah tuli dengan perkataan Fanny, ia kemudian menggendong Fanny ala bridal style.
"Udah tau sakit, tetep aja keras gak mau di tolongin. Lo harus ingat, manusia itu makhluk sosial yang pasti akan butuh bantuan dari orang lain." Ucap Benua sambil berjalan ke arah UKS.
Fanny hanya diam dan tetap menatap Benua tajam, ia mengalungkan leher benua dengan tangannya agar tidak jatuh.