
Keesokan harinya, tibalah saatnya mimpi buruk Fanny akan dimulai. Fanny berjalan menyusuri lorong-lorong kelas untuk mencari Benua. Catat baik-baik guys, hari ini adalah hari bersejarah bagi Benua dan hari tersial bagi Fanny.
Sesampai dikelas XI MIPA 1, Fanny menghentikan langkahnya dan masuk tanpa permisi ke dalam kelas itu.
"Eh, cewe pembawa masalah, ngapain Lo masuk-masuk disini?" Ucap cabe-cabean kelas XI MIPA 1 yang berlagak sebagai bodyguard sang ketua OSIS.
"Minggir, *****. Gue ada urusan sama ketua kalian." Ucap Fanny acuh sambil menepis tangan cabe-cabean itu.
"Ettttt, gak bisa. Emang Lo udah buat janji?" Tanya salah satu dari mereka.
Fanny mengernyitkan dahinya, "Apaan sih, emang disini rumah sakit? Pake janji-janji segala, norak!"
"Pokoknya gak bisa, Lo Fanny kan? Anak XI MIPA 7 yang paling terpojok itu? Ewwwh, anak-anak dari kalangan kumuh dan berandalan gak pantas buat menginjakkan kaki dikelas yang paling top ini." Ucap salah satu lagi dari mereka sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Fanny.
"Bacot, berisik Lo semua. Minggir!"
Fanny mendorong paksa sekelompok cabe-cabean alay itu tanpa memperdulikan teriakan mereka yang memekakkan gendang telinga.
Setelah berhasil masuk, Fanny mulai mengarahkan pandangannya ke setiap sudut kelas. Di carinya sosok benua yang sangat ia yakini sudah berada di dalam kelas.
Nice, ketemu! Dilihatnya Benua dengan santai membaca buku dengan setumpuk bunga dan surat yang ada di mejanya.
"Ck, semua cewe di sekolah ini memang udah sinting sampe2 harus ngasih hadiah sebanyak itu. Dan sekarang, gue bahkan melebihi sintingnya mereka." Gumam Fanny sambil menatap Benua dari jarak yang tidak begitu jauh.
Fanny berjalan kearah meja Benua, kemudian memukul meja yang ada di depan Benua.
Sontak Benua langsung tersentak kaget kemudian menoleh ke arah sosok yang sudah mengejutkannya pagi-pagi.
Fanny menarik nafas lalu menghelanya. Kemudian ia sedikit menunduk kan kepalanya dan mensejajarkan posisi wajah mereka.
"Mulai hari ini, Lo jadi cowo gue. Tidak ada penolakan dan tidak ada pembatahan. Atau besok Lo ke sekolah berjalan tanpa kaki." Ucap Fanny dengan sedikit nada mengancam.
Setelah itu ia bangkit dan menyingkirkan tangannya dari atas meja Benua.
Ntah ada angin apa, Benua hanya mengangguk saja seperti sudah terhipnotis dengan perkataan Fanny barusan.
"Oke, urusan gue udah selesai, gue cabut." Fanny berjalan ke arah pintu kelas dengan santai meninggalkannya Benua yang masih belum terpaku.
"Eww, sana Lo cewe pembawa masalah, pergi jauh-jauh." Ucap cabe-cabean tadi. "My baby benua, kamu gak apa-apa kan sayang? Kamu gak di apa-apain, kan?"
Syukurlah, semua berjalan sesuai rencana Fanny, Fanny sengaja tidak mengeraskan suaranya saat mengatakan hal itu kepada Benua agar tidak ada yang tau. Bisa-bisa seluruh semua fans Benua akan bersatu untuk menyerangnya.
Ah tidak, sepertinya seseorang berhasil mendengar perkataan Fanny tadi dan hal itu tentu menghancurkan hatinya. Seperti ada yang patah tapi bukan ranting.
###
Setelah selesai dengan urusannya Fanny dengan santai kembali kedalam kelasnya. Ia duduk di kursi kebanggaannya sambil mengemut setangkai permen bulat berwarna merah.
"Widihh, santuy bet pepagi." Ucap Lira yang baru saja masuk kedalam kelas.
"Woya dong, Lo gak liat muka bahagia gue." Ucap Fanny ketus sambil memutar kedua bola matanya jengah.
Lira mengernyitkan dahinya, "Maksud Lo?"
Fanny berdecak, "Mei, tolong kasih liat ke perempuan jahanam ini."
"Gimana? Lo puas?" Ucap Fanny sambil menatap Lira dengan ekspresi menahan kesal.
Lira terkekeh setelah melihat isi Vidio itu, "Haha, dasar cewe psikopat. Gue yakin mental anak orang udah rusak gara-gara Lo, dan yang paling tidak mungkin lagi. Benua Nerima Lo gitu aja."
"Terus dengan cara apa lagi? Udah ya, gue udah berhasil lakuin tantangan dari Lo."
"Okkay, gak masalah, selamat atas hari jadian Lo. Dan sekarang, Lo harus kasi gue dan temen2 yang lain pajak jadian Lo."
Seketika Fanny tersedak, ia menatap Lira tidak percaya karena bisa-bisanya ia meminta pajak jadian yang sama sekali tidak ia harapkan.
"Stress, Lo. Sering-sering ke psikolog Lo, lir. Otak Lo udah makin rusak."
Lira terkekeh mendengar perkataan Fanny, "Memang iya, otak gue rusak setelah berteman sama Lo. Hahaha."
"Sial,"
###
Disisi lain, Benua masih mencerna kata-kata Fanny tadi pagi. Sampai-sampai ia tidak fokus dengan rapatnya bersama anggota OSIS.
"Ben? Oi, Benua?" Ucap Jeki yang berusaha membuyarkan lamunan sang ketua OSIS.
"Ah, iya sampai mana tadi?" Ucap Benua Linglung.
"Hmm, Lo kenapa? Sakit? Kurang sehat? Dari tadi gue perhatiin Lo diem aja." Tanya Jeki untuk memastikan dugaannya.
Benua menggaruk tekuknya yang tidak gatal, "Hmm, gak bro. G-gue lagi banyak pikiran aja."
Jeki terkekeh pelan, "Bisa-bisanya Lo banyak pikiran, punya cewe kaga, istri juga kaga. Emang ada anak orang yang lagi Lo nafkahi sampe lo banyak pikiran?"
"Haha, ada ada aje lu, gak lah."
"Lha terus? Ben, Lo kalo ada masalah cerita ke sahabat-sahabat Lo ini ya. Apalagi gue, kami pasti bakal bantuin. Karena Lo udah berjasa banyak buat kami dan buat sekolah kita selama menjabat ketos. Salut banget gue sama Lo." Ucap Jeki sambil menepuk sebelah bahu Benua.
Benua hanya tersenyum, "Ah, jangan berlebihan gitu sob. Gue memang seneng bantu orang."
"Nah itu dia sob, gak selamanya Lo selalu membantu sesama, sesekali Lo pasti butuh bantuan orang juga dikala Lo sedang lagi ada masalah. Did u understand Brother?"
"Iya, Lo bener, ya udah, gue gak kenapa-kenapa. Kita lanjut aja rapat proker kita hari ini."
Benua lebih memilih untuk tidak memberitahu hal ini kepada teman-temannya, bukan karena ia tidak percaya kepada sahabat-sahabatnya, hanya saja ia lebih suka menyelesaikan masalahnya sendiri.
###
Seusai rapat, Benua memilih untuk pergi ke perpustakaan. Ia butuh waktu untuk sendiri sekarang.
Benua kembali mengingat wajah Fanny, wajah yang selama ini sering ia lihat dari kejauhan saat ia berkunjung ke panti asuhan. Namun ada sesuatu yang menjanggal dikepalanya. Mengapa perilakunya sangat berbeda saat berada di sekolah?
"Diluar seperti malaikat, di sekolah seperti preman. Aneh." Gumam Benua.
Tidak mau membuat kepalanya semakin sakit, Benua memutuskan untuk membaca buku agar ia bisa menenangkan pikirannya sejenak.
Benua memilih perpustakaan setiap jam istirahat, karena jika ia terlalu sering berada dikelas maupun diluar kelas, sekumpulan fansnya tidak akan berhenti mengejar-ngejar dia. Bisa dibilang, Benua itu adalah pribadi yang ramah kepada setiap orang dan juga ceria. Ketos yang satu ini tidak dingin seperti ketos-ketos di lapak sebelah wkwk. Berani tampil beda itu keren cuy. Dengan catatan bukan yang aneh-aneh.