
Sekelompok remaja berseragam putih abu-abu sedang menikmati jam kosong mereka dikelas dengan melakukan sebuah permainan Truth or Dare. Sesekali mereka tertawa lepas karena berhasil memberikan tantangan aneh kepada mereka yang terkena 'Dare'.
"Giliran Lo, Fan." Ujar salah satu dari mereka yang di utus untuk memutar sebuah tongkat yang memiliki salah satu sudut yang runcing. Jika sudut yang runcing itu berhenti dan mengarah ke salah satu dari mereka, maka itulah yang akan menjadi korbannya.
"Wokeh," Fanny dengan percaya diri langsung memutar tongkat itu diatas lantai, yang mana tongkat itu berputar ditengah-tengah circle yang sekelompok remaja itu buat.
Fanny dengan santai tidak terlalu memperdulikan putaran tongkat itu karena ia yakin, ia tidak akan terkena, sebab dari tadi ia memang tidak kena.
Mengetahui hal itu, teman-temannya berharap semoga tongkat itu mengarah ke orang yang belum terkena imbas.
Tongkat itu perlahan mulai melambat dan berhenti. Sayang sekali, sepertinya keberuntungan tidak lagi memihak kepada Fanny.
"Yesss! akhirnya, Lo kena Fan, hahaha." Yora tertawa puas setelah sekian lama menunggu apesnya Fanny hari ini.
Sementara yang lain hanya merapal syukur karena mereka tidak lagi kena.
"Ck, sial." Fanny berdecak kesal saat melihat teman-temannya begitu puas dengan kesialannya hari ini.
"Well, guys.. sepertinya kita ada korban baru nich.." Ucap Lira yang saat ini mulai menanyakan apa yang Fanny akan pilih.
"Berhubung Fanny adalah ketua geng kita, jadi khusus buat Fanny, kita kasi tantangan aja.. setuju gak???" Lanjut Lira yang sepertinya sudah tidak sabar ingin memberikan tantangan untuk leader gengnya itu.
"SETUJU!!!!" teriak mereka semua serempak.
Sementara Fanny hanya melihat mereka dengan acuh, seolah siap menerima tantangan apapun. "Okeh, siapa takut."
"Aww, sepertinya Fanny sudah siap gengs. Baik, kalo begitu gue yang akan kasi tantangan.." Ucap Lira dengan senyuman smirk diwajahnya.
Semua hening, menunggu tantangan apa yang Lira berikan kepada Leader gengnya ini.
"Sebelum itu, gue bakal pastiin Lo adalah Pengecut Besar Klo Lo nolak tantangan ini. Ya gak, guys?" Lanjut Lira dan kembali memastikan kebenaran dari ucapannya itu kepada teman-teman yang lain.
"Yoi," Jawab mereka, dan beberapa ada yang hanya mengangguk setuju.
Lira kemudian melihat ke arah Fanny. Fanny menyipitkan matanya ka arah Lira karena perasaannya mulai tidak enak.
"Kenapa, Fan? Lo udah mulai ketakutan?" Tanya Lira setelah melihat ekspresi Fanny yang mulai resah dengan perbacotannya sejak dari tadi namun belum juga memberi tantangan.
"Takut? Huh, B aja. Palingan juga kalian jadiin gue badut dan Lo semua punya kesempatan buat mempermalukan gue." Tebak Fanny yang merasa tidak takut sama sekali jika hal itu memang terjadi.
Lira yang mendengar hal itu langsung tertawa, tebakan Fanny sangat diluar ekspektasi. "Ckck, sayang sekali.. tapi bukan itu yang kita semua mau."
"Udah, udah.. kebanyakan bacot, gak kelar-kelar ni game.. langsung aja Lir, gue gak akan takut dengan semua tantangan Lo, dan Lo harus ingat kalo gue bukan pengecut." Ucap Fanny dengan sedikit menekan kata pengecut diakhir katanya.
"Waw waw waw, gue aplause deh sama keberanian Lo. Oke Dare buat Lo adalah.." Lira menggantungkan ucapannya.
Semua hening, menunggu tantangan apa yang akan ia berikan kepada Fanny.
"Lo harus jadi pacar Benua selama 1 bulan."
"Hahhh?!!!!" Teriak Fanny spontan dan diikuti pula oleh beberapa orang yang ada di circle itu.
Fanny menatap Lira tidak percaya setelah mendengar tantangan dari Lira, bagaimana mungkin ia bisa menerima tantangan itu.
"Lir, Lo yakin Benua mau terima dia...?"
"Lir, parah Lo, gue suka sama benua..."
"Lir, Lo pikir-pikir lagi deh tantangan Lo tadi.."
Beberapa tanggapan tidak setuju beruntun menyerang Lira, kenapa tidak? hampir seluruh kaum hawa di SMA Tri Sakti mengantri untuk jadi pacarnya Benua, sang ketos yang memiliki pesona kuat dan ketampanan makhluk bumi diatas rata-rata.
"Eitt, Sttttt, tenang semua tenang... dengerin gue dulu." Ucap Lira yang berusaha menenangkan keadaan.
"Ck, gak asik Lo lir." Fanny berdecak kesal.
"Gue tau, Lo adalah satu-satunya cewe yang ga suka sama Benua. Maka dari itu, gue nantang Lo untuk itu." Lira tersenyum puas setelah memberikan Fanny tantangan. "Kenapa? Lo takut? Lo gak bisa Nerima tantangan.. hah, sudah gue duga Lo itu penge----"
"Siapa takut? Gue terima tantangan Lo!" Ucap Fanny memotong perkataan Lira. Astaga, ia rasanya ingin menggigit lidahnya karena main setuju-setuju saja dengan tantangan dari Lira tanpa berfikir panjang.
Lira tersenyum puas, "Oke, bagus.. waktu Lo dimulai besok, Deal?" Ucap Lira sambil mengulurkan tangannya.
Dengan berani Fanny menyambut tangan Lira. "Deal."
Fanny merutuki dirinya yang sudah terlanjur menerima tantangan dari Lira, queen of the kamvret itu. Dan satu hal lagi, Fanny paling pantang disebut 'pengecut' ia akan mati-matian menahan egonya agar tidak dianggap sebagai pecundang.
"Oiya, kalo Lo putus sebelum 1 bulan. Siap-siap aja Lo harus say good bye buat rambut kebanggaan Lo." Ucap Lira kembali menambah aturan.
Lira berdecak kesal, ingin rasanya membenamkan kepala Lira di kolam sampai ia merenggang nyawa.
...###...
Sepulang sekolah Fanny berdecak kesal dan tak henti-hentinya merutuki dirinya, bisa-bisanya ia menerima tantangan Lira? Ah, tidak.. mimpi buruk, bagaimana bisa ia jadian dengan orang yang paling ia tidak suka dimuka bumi ini? Benua Aksara. Orang yang menurutnya sok suci dan sok keren hanya karena jabatannya yang Fanny anggap tidak seberapa itu.
Belum sampai ia didekat tangga, suara orangtuanya membuat langkahnya terhenti.
"Surat Pemanggilan Orang tua, Yth kepada orang tua Fanny, di tempat." Ucap pria paruh baya itu sambil membacakan pembukaan surat yang dipegangnya.
Fanny memutar kedua bola matanya jengah saat lagi-lagi pria paruh baya itu membacakan bait yang sama setiap hari.
"Fanny, sudah berapa kali papa bilang. Kamu jangan buat ulah di sekolah! Sudah berapa kali papa bilang, hah? capek papa lama-lama nasehatin kamu." Ucap pria paruh baya itu yang tidak lain adalah papa Fanny sendiri.
"Kalo papa capek, ya udah, berhenti urusin Fanny. Gitu aja kok repot." Ucap Fanny santai.
Mendengar perkataan lancang dari putrinya tersebut membuat papanya hendak menampar putrinya sendiri, namun urung ia lakukan saat perasaan tidak teganya muncul.
"Apa? Mau nampar? silahkan! Seharusnya Fanny juga mati sama mama saat itu dari pada harus hidup seperti di neraka bersama papa!" Teriak Fanny dan pergi ke kamar meninggalkan pria paruh baya itu sendirian.
...###...
Fanny membanting pintu kamarnya dengan keras tanpa memperdulikan teriakan papanya. Ia berkali-kali mengusap air matanya yang jatuh karena tidak mampu menahan semua sakit yang ada di ulu hatinya.
Jika kalian bertanya, mengapa Fanny bersikap sekurang ajar itu kepada orang tuanya, Fanny punya alasan yang kuat mengapa ia bersikap demikian.
Ia kecewa, kecewa pada keluarga yang selama ini ia cita-cita kan menjadi keluarga yang harmonis.
Tak ada asap, jika tidak ada api. Kurang lebih begitulah defenisi kehidupan Fanny saat ini. Sikap dia, rasa tidak hormat dia, bahkan masalah yang ia timbulkan tercipta karena kehancuran dan rasa kecewanya terhadap keluarganya sendiri.
...--------------------------...
**Hola! This is my first story' di lapak ini, hihi.
I don't know ini bakal ada yang baca atau gak, tapi coba-coba aja kali ya, hehe..
Sebelumnya aku udh pernah nulis di platform lain, jadi mau cobak disini juga..
Enjoy ya**..