My Enemy

My Enemy
BAB 9



Gue udah berada disekolah tepatnya sekarang gue sedang bersitatap dengan Albert, membujuk dia buat mau memberikan contekannya nanti ke gue.


"Al.. kasih-in contekan ya nanti," ucap gue memohon.


"Gak," dia cuma bales singkat. Ngeselin Khan!


"Please.. semalem gue gak belajar," mohon gue lagi.


"Gak," singkat dia lagi. gue ngomong aja nih, dia gak liat ke arah gue. Dia cuma baca-baca bukunya itu.


"Bolehlah, ya ya ya."


"GAK." singkat padat dingin pula.


"Oke. Gue juga bisa isi sendiri! Tanpa mencontek!" tegas gue.


"Ya udah. Kalo emang Lo bisa sendiri." bales dia yang beralih menatap gue.


Gue maju-in muka lalu melototkan kedua mata. "Dengerin! Gue akan kalahin nilai Lo." ucap gue angkuh. Lalu balik duduk di bangku gue.


Detik berikutnya setelah gue duduk bel masuk bunyi, lantas seorang guru masuk dan dia pak Dayat. Gue langsung bangkit dan mimpin salam ke dia.


Selesai memberi salam dia langsung bersuara, Sesuai apa yang ia katakan pada Minggu kemarin, bahwa 10 IPA 6 ini akan ada ulangan harian darinya.


Setelahnya pak Dayat panggil gue ke depan, lalu dia ngasih setumpuk kertas ulangan buat gue bagi-in satu persatu. Kertasnya lumayan agak berat karena setiap kertas berisi dua lembar, pak Dayat juga panggil Albert buat bantu gue karena dia ngelihat gue kesusahan, dan mungkin biar cepat juga.


Dia bangkit lalu beralih ke gue, gue pasang muka sinis dan dengan sigap gue kasih tumpukan yang agak banyak buat dia haha. Gue juga denger kalo dia berdesis sebal.


Kita berdua selesai nge-bagiin lalu duduk di tempat masing-masing. Setengah jam gue berkutik dengan


Soal-soal yang gue gak mengerti, dan sejam tiga puluh menit terlewati pak Dayat menginstruksikan untuk semuanya mengumpulkan masing-masing kertasnya ke depan.


Gue udah pasrah, semuanya gue serahin ke tuhan. Moga aja nilai gue bisa lebih tinggi dari Albert. Tapi sepertinya itu sangat mustahil huaaa.


"Baiklah semuanya sudah mengumpulkan, dan nanti sore sebelum pelajaran berakhir bapak akan ke kelas ini lagi, untuk memberikan hasil nilai kalian." jelas pak Dayat.


"Apa ada yang mau bertanya?" tanya nya. Semua murid menggeleng kompak.


"Oke. kalo gitu saya tinggalkan kelas, sampai jumpa nanti anak-anak." ucap pak Dayat lalu keluar kelas dikarenakan jam pelajaran nya sudah habis.


Gue membalikan badan kearah dara, "gimana? Lancar Lo?" tanya gue. Dara cuma cengengesan gajelas.


"Dih gila nih anak," cibir Gue.


"Eh dengerin dah, lu liat nanti nilai gue bakal jauh lebih tinggi dari Albert!" lanjut gue kepedean, dan sengaja membesarkan suara agar si Albert denger apa yang gue ucap.


Si dara malah ketawa-in gue."Lo kayanya deh yang udah gila." cibir dara balik.


"Gak-papa si, pede dikit," Balas gue dan di akhir kalimat berbisik pelan.


"Gue si gak yakin."


"Lo aja gak yakin, apalagi gue," tutur gue yang tertawa ngakak di ikuti dara juga.


"Aduh gue punya temen gini amat," ucap dara selesai tertawa gajelas.


"Gini-gini juga gue cantik dan menggemaskan, wlee."


"Sini deh gue bilangin," ucap dara seraya memanggil gue dengan isyarat tangannya.


Gue agak mendekat, "Apaan?"


"Lo tau khan kalo tuhan menciptakan manusia itu dari tanah?" ujarnya yang gue gak ngerti apa maksudnya.


"Iya tanah lah, ya masa lumpur," jawab gue cepat.


"Nah tapi nih ya, kayanya Lo itu di ciptakan tuhan dari tanah yang agak sedikit tercampur *** kucing deh. Soalnya Lo gila!" tuturnya, yang sontak ngebuat gue menempeleng jidatnya, membuat sang empu meringis sebal.


"******* Lo Jesslyn!" gue nyengir kuda layaknya gak ada dosa.


"Hehe sorry gue replek," maaf gue. "Lagi juga Lo seenaknya ngomong. Lo kira gue manusia yang terbuat dari tanah yang ke campur *** kucing! Huh!" lanjut gue yang tadi gak terima dibilang terbuat dari tanah yang ke campur *** kucing. ******* emang!


°•••°


Sekarang waktunya jam istirahat. Gue Dara, Albert, Reno, Alvan dan Alvin udah ada di dalam satu meja yang sama di kantin.


Kita yang udah pesan makanan langsung melahap makanan masing-masing dengan ganas, terlebih gue yang sama sekali gak bisa jaga image di depan laki-laki. Menurut gue si bodo amat, prinsip gue ya lebih baik kita jadi diri sendiri, dan gak perlu ikut-ikutan gaya orang lain.


"Pelan-pelan ***** Jesslyn," ujar Reno yang kaget ngeliat gue makan dengan gak santai.


"Gue laper." jawab gue yang masih mengunyah penuh makanan.


"Abis-in dulu yang di mulut." cibir Albert dan gue si oh aja.


"Like like me." tukas gue menggunakan Inggris yang ngaco dan melanjutkan aktivitas memakan gue.


°•••°


Clara dan geng ceweknya baru aja masuk kantin dan mereka duduk tidak terlalu jauh dari meja Jesslyn dan kawan-kawan. Clara menyadari bahwa ada Albert disana, lalu tersenyum sumringah.


"Lo mau pesan apa Ra?" tanya temannya yang bernama Wulan itu, cewek dengan rambut panjang sebahu dan agak sedikit pirang.


"Gue pesen pasta dong," sambung salah satu temannya, Eleanor.


"Gue nanya Clara bukan Lo." ujar Wulan, Lea berdecak sebal.


"Ya sekalian gitu," jawabnya.


"Beli sendiri lah." ucap Wulan, yang memang gadis ini terkenal jutek.


"Pelit Lo!"


"Udah kalian jangan ribut." ucap Clara menengahi. "Kalian duluan aja, aku mau kemeja Albert bentar." lanjutnya.


"Albert si cowok populer itu?" ujar Lea sangat kencang dan sontak Wulan mendekap kesal gadis di sebelahnya ini. Untung nya orang yang dibicarakan itu tidak mendengarnya nya.


"Lo suka sama dia Ra?" tanya Wulan yang masih mendekap mulut Lea. Clara hanya tersenyum simpul.


"Gue dukung! Kalian berdua kayanya cocok." ujar Wulan tersenyum senang.


Lea menghempaskan tangan Wulan yang tadi mendekapnya. "Anjing Lo!" protes Lea.


"Mulut Lo itu gak bisa di jaga." balas Wulan yang seperti tidak merasa bersalah sama sekali.


"Udah-udah, minta satu brosur pendaftaran ekskul basket dong." ucap Clara menengahi lagi dan meminta sebuah brosur pendaftaran ekskul, lalu mulai melangkah kemeja Albert dan kawan-kawan.


"Mau sekalian aja gak Ra?" pekik Wulan.


"Boleh, samain aja kaya kalian." balas Clara seraya berjalan.


°•••°


"Kalo di bilangin ya," sambung Alvin.


"Ikut-ikutan aja Lo." balas gue lalu menelan sisa makanan yang ada di mulut gue.


"Like like me." ucap Alvin mengikuti cara bicara gue tadi.


Gue gak nge-gubris ucapan Alvin dan melanjutkan makan gue, tiba-tiba aja ada Clara datang ke meja kita-kita, tapi lebih tepatnya dia menghampiri Albert yang kebetulan Albert duduk di pinggir.


"Hai," sapa dia ke kita semua seraya memasang senyum manis.


"Hai juga." balas kita-kita dan membalas senyumnya terkecuali Albert yang hanya membalas sapaannya.


"Lo mau gabung?" tanya gue. Ya cuma basa basi si, padahal juga bangku dan meja kita udah ke isi semua.


"E-hh enggak kok, aku kesini cuma mau bicara sama Albert." ucapnya sedikit terbata-bata.


Albert menoleh ke sumber yang memanggil nya, "kenapa?" tanya si Albert datar.


Clara tersenyum, "emm.. sesuai apa yang waktu itu aku bilang, aku bakal balik lagi ke kamu. buat tau keputusan kamu." ucap si Clara dan kita-kita cuma nyimak.


"Maaf baru temuin kamu lagi." lanjutnya.


"Waktu itu bukannya Lo udah denger keputusan gue?" ucap Albert dingin. Gue yang denger agak kasian wkwk.


"Ya, mungkin kamu berubah pikiran Al," balas si Clara.


"Gak akan." lagi-lagi si Albert cuma balas singkat.


"Ya udah kalo memang kamu nolak, ini aku bawain brosur pendaftaran ekskul basket," terang clara lalu memberikan brosur nya ke Albert.


Albert Nerima brosur itu, "harus banget gue daftar?" tanya si Albert.


"I-ya, soalnya kamu cocok. apalagi kalo jadi ketua basket, kamu cocok karena kamu ganteng." ucap si Clara blak-blakkan.


Gue yang baru aja memasukan makanan ke mulut langsung tersedak akibat mendengar penuturan Clara di akhir kalimatnya.


Uhukk uhukk


"Eh itu si Jesslyn." beo dara sedikit khawatir tapi cuma berucap gak bertindak sama sekali.


"Lo keselek Jes?" ujar si Alvan yang malah nanya gak jelas.


Uhukk uhukk


Gue masih tersedak dan gak ada yang bertindak buat kasih air, temen laknat emang Lo semua! Namun ada satu tangan yang menyodorkan segelas air. Dia Albert. Gue dengan cepat menenggaknya.


Gue bernapas lega setelah menghabiskan minumnya, "Lo semua sialan! Kalo gue mati gimana?" beo gue yang kesel setengah mati.


"Mati ya tinggal kubur Jess," balas Alvin cepat dan dengan cepat juga gue mukul-mukul bahu Alvin sekuat mungkin yang memang nih anak ada di samping gue.


Clara berdeham dan melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong sama gue, "gimana, apa kamu mau daftar?" tanya Clara pada si Albert.


Albert menimang sebentar keputusannya, "Lo cuma ajakin gue?" tanya Albert ke si Clara, Clara manggut-manggut seraya tersenyum.


"Gue mau ikut," ujar Albert.


"Serius?" tanya Clara memastikan.


"Iya, asal mereka semua ikut." jawab Albert yang mengisyaratkan bahwa yang di maksud mereka adalah Reno, Alvan dan Alvin.


"Lo semua mau Khan ikut basket?" ucap si Albert yang menanya pada Reno, Alvan dan Alvin. Sedangkan Clara hanya terus menatap wajah Albert.


"Gue si ikut aja." balas Reno cepat.


"Iya, kita berdua juga ikut." sambung Alvan dan Alvin.


"Ada lagi?" tanya Albert datar pada Clara, Clara gak ngejawab ia masih terus natap wajah si Albert.


Albert memalingkan wajahnya, "e-hh ga-ada hehe." balasnya gugup sehabis tersadar.


"Yaudah." ucap Albert.


"Kalo gitu aku permisi pergi." ucapnya lalu melenggang pergi.


Setelahnya kita semua beranjak pergi meninggalkan kantin dan pergi ke kelas, namun berbeda dengan gue dan dara yang pergi ke toilet terlebih dahulu.


"Lo liat gak si? Si Clara, Clara itu kayanya suka deh sama si Albert." ujar dara ke gue.


"Ya terus?"


"Ya, Lo gak takut gitu kalo semisal Albert di ambil sama dia?" ucap dara.


"Ya udah si biarin," balas gue.


"Yakin lo ikhlas?"


"Apaansi dar." tukas gue, lalu secara diam-diam gue mencerna ucapan yang dara maksud.


°•••°


Sekarang adalah jam terakhir dan beberapa menit lagi bel pulang akan berbunyi. Pak Dayat masuk ke kelas kita, ia ijin sebentar pada guru yang sedang mengajar.


"Baik semua saya akan bagikan hasil kalian semua. Sebelumnya juga saya mau memberi tahu bahwa yang mendapat nilai tertinggi dan dari semua jawabannya benar adalah Albert." ujar pak dayat lalu memanggil satu persatu nama kita untuk mengambil hasil kertas ulangannya.


Saat gue di panggil dan maju ke depan,


Gue lemes cuy ngeliat hasil nilai ulangan gue yang di bawah KKM. Malu sendiri deh gue sama Albert:(.


"Semua sudah di bagikan, dan saya minta untuk yang mendapat nilai di bawah KKM besok lusa harus mengulangnya." jelas pak Dayat, gue menghembuskan napas panjang- panjang.


"Terlebih untuk Jesslyn, Reno, Dara, Alvan dan Alvin. Saya minta kalian berlima untuk meminta bantuan kepada Albert." lanjutnya. Shit, kenapa gerombolan gue kena semua. Emang dasar Genk bodoh si ini mah.


"Saya minta juga untuk Albert bersedia untuk mengajari mereka berlima untuk belajar bersama, terserah kalian mau belajar dimana." jelas pak Dayat. Albert mengangguk setuju.


Setelahnya bel berbunyi berbarengan dengan pak Dayat yang keluar kelas, semua murid sudah keluar kelas terkecuali gue, Albert, Reno, Dara, Alvan dan Alvin gue cegat buat pulang.


"Kalian mau belajar?" tanya gue ke mereka terkecuali Albert.


"Mau gimana lagi, nilai gue anjlok." jawab dara.


"Kalian?" tunjuk gue ke Reno, Alvan dan Alvin.


"Sama nilai kita anjlok."


"Jadi kalian yakin bakal belajar?" tanya gue lagi.


"Iya Jesslyn." beo mereka berbarengan.


"Mending kita main aja nanti." ajak gue.


"Pikiran Lo cuma main aja. Huh?!" ucap Albert.


"Suka-suka kita dong, kita ini yang mau main, iyakan?" balas gue ke mereka terkecuali Albert.


"Gak, Lo aja!" balas Mereka kompak lalu secara berbarengan berlari ke arah Albert.


"Kita mau belajar Albert." lirih dara pada Albert. Reno, Alvan dan Alvin ikut mengangguk-angguk.


"Gimana, masih mau main?" cicit Albert ke gue.


Gue berdesis sebal. "Lo ya!" Albert ga nge-gubris ucapan gue.


"Kalo gitu, nanti malam sehabis isya kalian datang ke rumah si bodoh ini." ucap Albert pada mereka lalu menyindir gue.


"Yang Lo maksud bodoh itu gue?!" balas gue seraya menunjuk diri gue sendiri.


"Iya, kenapa?" balas Albert ngeselin.


Gue berdecak lalu membalikkan badan dan melangkah pergi keluar kelas dan pulang.


TBC.


.