My Enemy

My Enemy
BAB 11



Hari ini adalah hari Minggu tepatnya Minggu siang menjelang sore. Dengan malasnya dan terpaksanya gue anter si Dara pergi ke Mall buat beli baju. Katanya si sebelum nanti malam kita pergi ke gala premier nya si Reno dia harus dandan cantik dan elegan. Lebay tingkat kayangan.


Sekarang dia lagi pilih-pilih baju yang menurut dia cocok. tapi tepat dia berhenti di samping mirror gue liat baju dan rok yang memikat mata dan hati gue eaa, sontak gue jalan kearah dia dengan cepat.


"Dar," panggil gue seraya colek colek lengannya, Dara noleh sebentar ke arah gue dan malah lanjut pilih-pilih.


"Kenapa?" sahutnya masih sibuk memilih.


"Liat ini!" seru gue lalu berpindah tempat menyampingi manekin rok dan baju yang gue suka.


Dara mengalihkan pandangannya ke arah gue, "Wah... Style yang bagus!" beonya seraya menganga. Gue berkacak pinggang.


"Mata Lo rabun! Jelas-jelas disini ada yang bagus, Lo malah muter-muter! Cari yang gak pasti." Dara memutar bola matanya malas.


"Ya orang gak liat gimana?" sahutnya lalu mengerucutkan bibirnya, gue langsung aja ambil bajunya gak nge-gubris ucapan Dara.


Kita berdua langsung ambil baju itu terus pergi ke ruang ganti buat cobain dan akhirnya kita berdua cocok dan langsung pergi bayar ke kasir, setelahnya kita cuma beli popchiken di holdak yang porsinya gak banyak. Ya, sengaja buat nanti malam biar gak kenyang kalo mau pada makan-makan.


°•••°


Sekarang pukul setengah lima sore,


Gue udah dirumah. lima belas menit lalu gue di anter balik sama mobil pribadinya Dara. Dan sekarang gue mau santai santai dulu sebelum rapih rapih, lagi juga berangkatnya sehabis magrib.


Setengah jam gue di ruang tv sesekali ngotakatik hp buat sekedar buka sosmed, tiba-tiba suara getaran nada dering yang berasal dari hp gue bunyi sontak gue nge-buka room chat dan menampilkan sebuah nama yang menelpon gue yang ternyata itu kak Dev.


"Halo Jes, udah balik belum?"


tanya kak Dev dari seberang sana saat gue baru pencet tombol berwarna hijau.


"Udah," balas gue males. karena gue itu emang paling males buat ngomong di telepon.


"Bantu gue dek, ban motor gue bocor." Gue denger suara kak Dev yang masih santai.


"Yaudah pergi ke tambal ban lah!" sahut gue ngomel. Kenapa harus bilang ke gue coba?


"Buru kesini cepetan." gue berdesis sebal. Baru aja gue balik udah disuruh pergi lagi! Mana bentar lagi mau magrib.


"Ah...Sendiri aja si! Gue baru balik kak, nanti mau pergi lagi, Magrib." protes gue.


"Masalahnya ini gak ada tukang tambal ban di sekitar jalan!"


"AH!"


"Buru kesini gue share lok, kalo gak mau besok gue gak masakin!" ancamnya gue berdecak lalu matiin tv dan pergi keluar ambil sepeda.


"Yaudah, ter.pak.sa!" ucap gue penuh penekanan lalu mematikan sambungan secara sepihak.


Kak Dev baru aja kirim lokasinya dan gue langsung goes sepeda buat kesana,


Tiga puluh menit gue goes sepeda dan akhirnya gue liat kak Dev kaya gembel lagi jongkok di pinggir jalan bawah pohon haha.


"Ada gembel," cibir gue sehabis standarrin sepeda. kak Dev menye-menye setelah mendapati gue di sampingnya.


"Lama Lo." Gue ngangkat sebelah alis. emang gak tau di untung nih kakak satu!


"Masih untung gue kesini." sahut gue memutar bola mata kesal.


"Yaudah buru bantu," ujar kak Dev.


"Bantu gimana?! Nanti sepeda gue gimana?!" balas gue kesal sendiri.


"Maksudnya Lo bantu jalan aja sambil bawa sepeda, nanti gue yang tenteng motor dan ntar gue titipin di warkop ujung sana dan panggil-in tukang montir."


"Kalo gitu kenapa gak panggil tukang montir dari tadi aja?! Kenapa jadi gue si," beo gue memprotes. Betapa bodohnya punya kakak yang ganteng tapi otak dangkal.


"Gue gak ada pulsa buat hubungin nya, lagi juga tuh montir langganan gue gak ada main wa!"


"Yeuh hp doang bagus, pulsa gak ada!"


Dan akhirnya kita sampai di warkop yang dimaksud kak Dev tadi dan dia minta gue buat telpon kang montirnya, dan akhirnya si kang montir datang, dia bawa satu temannya buat bawa motor kakak gue dengan cara di dorong dari belakang di bantu dengan motor si kang montirnya.


Gue liat jam udah pukul enam kurang sepuluh menit seraya di bonceng kak dev, sontak gue kalang kabut dan mukul-mukul kakak gue.


"Kak Dev! Buruan!" pekik gue seraya pukul-pukul bahunya dia yang lagi fokus bonceng gue di sepeda.


"Sabar, kaya gak berat aja!" timpalnya.


"Nanti gue terlambat kak," lirih gue yang udah pasrah.


"Iya iya, duduk diem aja disitu!"


Gue buka hp dan liat room chat grup yang udh gue buat khusus ada Dara, Reno, Albert, Alvan dan Alvin. disana mereka udah tag gue banyak banget apalagi dara. Kayanya mereka takut gue gak jadi atau gak ada kabar.


DaralifiaDesta


@jesslynguan 7+


Dara lebih dari tujuh nge tag gue di grup.


Arenojulian


Kalian nanti di jemput sama supir gue aja.


Alvan


Berangkat sendiri-sendiri aja lah, nunggu² kelamaan.


Alvin


Iya, udah tau nunggu itu gak enak!


Gue geleng-geleng ngebaca pesan dari Alvin haha.


DaralifiaDesta


Yaudah nanti gue bareng sama @jesslyn.


JesslynGuan


Kayanya gak keburu Dara, gue masih diluar.


DaralifiaDesta


Kok?


Arenojulian


Udah gak papa @Daralifiadesta, nanti Lo di jemput sama supir gue, tinggal kirim share lok.


DaralifiaDesta


Jesslyn gimana?


JesslynGuan


Kalau masih sempet gue kerumah Lo Dar.


Gue langsung nutup hp dan nyimpennya di saku. Berani gak berani gue kudu sampe!


°•••°


Kita balik ke rumah tadi pas banget pukul lima lewat tiga puluh dan alhasil kita sampai rumah pas banget pukul enam!


Gue buru-buru masuk kamar dan melakukan ritual mandi di kamar mandi! Gue yang emang gak bisa lihat waktu keluar-keluar dari kamar mandi udah pukul setengah tujuh lewat dan gue emang lagi gak sholat jadi gue buru-buru pake baju yang tadi sore gue beli bareng Dara.


Gue jalan menuruni tangga setelahnya gue berjalan ke arah pintu dan berpekik pada kak Dev untuk izin pergi sebelum keluar. Dan sebelum keluar gue berhenti di ambang pintu lalu membuka kembali hp gue mengecek chat grup.


JesslynGuan


Maaf telat:( kalian udah pada di sana?


DaralifiaDesta


Ah... Jess, kita udah pada sampai lima belas menit lalu.


JesslynGuan


Yaudah kalau gitu gue otw!


DaralifiaDesta


Lo bukannya gak berani sendiri?


JesslynGuan


Hmm... Gak-papa.


Gue langsung masukin hp gue di tas yang gue bawa. Lalu buka pintu dan pada saat gue buka pintu gue di kagetkan oleh sosok mahluk tuhan yang sangat indah, Albert.


"Lo ngapain?" tanya gue seraya mengerutkan kening bingung.


Albert cuma diam dia natap wajah gue lekat tanpa ngedip lalu tersadar.


"Biasa aja kali liatin-nya, gue tau gue cantik!" beo gue super pede Albert menaikan sebelah alisnya.


"Dih." sahutnya datar gue cuma nyengir kuda lalu dia jalan nge-duluin gue.


"Lo belum juga berangkat Al?" tanya gue dia udah lebih dulu naikin motor sportnya dan tanpa ngejawab pertanyaan gue dia langsung kasih helmet miliknya ke gue.


"Gak ada waktu, buruan naik!" ucapnya datar dan dengan segera gue naik di motornya, detik berikutnya Albert langsung menancap gas motornya keluar area komplek.


Gak butuh waktu lama buat kita sampai di mall karena jarak yang gak terlalu jauh dan Albert bawa motornya kek orang kesetanan.


Kita turun di parkiran lalu jalan masuk ke pintu loby utama dan segera menaiki lift.


Pada saat kita keluar pada lift lantai terkahir tepatnya arah masuk bioskop banyak pasang mata memperhatikan kita berdua dan berbisik-bisik. Kebanyakan dari itu adalah kaum hawa.


Dari mulai tatapan gak suka pada saat gue berdua sama Albert dan lebih banyak tatapan mengagumi pada sosok Albert.


"Albert! Jesslyn!" pekik seseorang. Sontak kita berdua mencari keberadaan sang pemilik suara pekikan itu, dan yang ternyata adalah Dara.


Kita jalan ke arah Dara dan setelahnya kita di bawa masuk dan di sana sudah ada Alvan dan Alvin. Berbeda dengan Reno yang akan muncul secara bersamaan dengan aktor lainnya.


Menit berikutnya gala premier dimulai sesuai dengan apa yang diberikan Reno pada kita sebuah tiket VIP, semua menyaksikan dengan tenang dan Sampai pada akhir acara selesai.


Sekarang pukul sembilan malam, kita-kita sudah keluar bioskop termasuk Reno yang memaksa pada managernya untuk ikut dengan kita.


"Film Lo keren banget Ren!" ujar gue penuh antusias.


"Iya sumpah keren! Ah... Jadi makin sayang deh hehe," sahut dara seraya tertawa kecil.


"Apalagi pas scene banyak cewek-cewek bahenol kaya cendol haha!" ucap Alvin yang tertawa ngakak.


"Gila!" cibir gue.


"Syukur deh kalo kalian semua suka sama film terbaru gue." balas Reno tersenyum senang.


"Ke sana yuk!!!" ajak gue yang antusias setelah melihat banyak permainan time zone.


"Let's go..." balas semuanya kompak tanpa ragu terkecuali Albert yang tak bereaksi sama sekali.


Kita semua langsung berjalan ke time zone, setelah sampai kita langsung membeli kartu token nya untuk bermain.


Kita semua langsung memainkan permainan yang kita mau. sama seperti gue yang sekarang lagi mainin mesin capit boneka, sudah empat kali coba buat dapetin bonekanya tapi nihil gak ada satupun yang gue dapet.


Gue frustasi dan langsung menghampiri Albert yang lagi asik duduk menyendiri. Saat gue lagi jalan ke arah Albert tiba-tiba ada satu orang cewek mencoba buat duduk deket-deket sama Albert, sontak gue berlari dan duduk mendahului cewek itu dan langsung merangkul Albert buat berdiri dan pergi. Gue denger jelas cewek itu berdecak kesal.


Albert mengerutkan keningnya bingung dan dengan cepat gue ngelepas rangkulannya. Lalu senyum-senyum gajelas bak orang gak waras.


"Gak waras!" cibirnya. Membuat gue mengerucutkan bibir sebal.


"Emm... Bantu gue ayo!" ajak gue lalu kembali narik lengan Albert untuk kearah mesin capit boneka yang gue mau.


"Dapetin yah!" suruh gue yang langsung nge gesek kartu token nya. Dia mulai main dan gue nunjuk-nunjuk pada boneka yang gue mau.



Dan streak dengan sekali coba dia langsung dapetin boneka yang jadi inceran gue dari tadi.


"Wah!! Akhirnya yey!!" beo gue berteriak kesenangan layaknya anak kecil, Albert tersenyum simpul.


"Gitu aja gak bisa dapetin," cibirnya gue menye-menye in Aja haha.


"Bonekanya mau gue kasih nama ah, tapi siapa ya?" gue nge-gantungin ucapan buat mikir.


"Berslyy." timpal Albert cepat.


Gue melebarkan mata setuju dengan ucapan albert, "Nama yang bagus." sahut gue seraya peluk-peluk boneka itu ke pipi gue.




"Main basket yu Al," ajak gue. Albert mengangguk setuju.


Kita sampai pada permainan bola basket dan segera menggesek tokennya.


Permainan dimulai gue versus Albert dan hasilnya Albert lah yang menang karena mendapat poin terbanyak di banding gue yang hanya dapet 1 poin.


Gue masih mau coba, namun kali ini gue sendiri gak duel sama Albert.


Ada lima bola keluar dari penjagaan nya dan satu bola gue lempar ke ring dengan semangat, namun dari kelima bola yang baru keluar tadi tidak ada satupun yang berhasil gue masukin ke ring.


Waktu bermain masih berjalan, detik demi detik gue lewati gak ada satupun bola yang masuk.


Albert gemas melihat cara gue bermain yang panik sendiri dan pecicilan, dia sontak langsung memegangi bola itu yang secara otomatis tangan kita bersentuhan dan jarak kita sangat dekat. Membuat gue mematung kepanasan.


"Caranya gini," ucapnya seraya mengendalikan tangan gue buat nglempar bola itu ke ring dan, ya! Bola berhasil masuk di ring. Gue tersenyum senang dan melanjutkan mainnya sendiri, namun baru beberapa detik waktu permainan sudah habis.


Kita semua udah kumpul karena sudah cukup puas dengan permainan banyak, dan sekarang kita semua sedang melahap makanan Jepang di restoran Jepang itu sendiri, sebelum pergi makan kita juga sempat buat photobooth.




Contohnya ini aja ya gais^^ gak ada lagi soalnya wkwk


°•••°


Mereka telah menyelesaikan makannya dan memutuskan untuk pulang. Alvan dan Alvin yang memang bersaudaraan otomatis pulang berbarengan dan Dara yang diantar pulang oleh Reno dan supirnya, entah mimpi apa Dara semalam ia berhasil di antar pulang oleh idolanya sendiri.


Berbeda dengan Albert yang tengah menyiapkan motornya untuk dikeluarkan dari baris motor lain lalu menaikinya dan memberi helmet untuk Jesslyn.


"Nih." Albert menyodorkan helmet nya lalu Jesslyn menerima nya seraya menguap.


"Nga-ntuk." cicitnya segera menaiki motor dengan lemas nya dan menahan kantuk.


Motor Albert keluar dari mall dan berjalan membelah jalanan. Sesekali Jesslyn menguap di tengah perjalanan karena sangat mengantuk dan sesekali juga Albert melirik pada Jesslyn lewat kaca spionnya dan kali ini dirinya dengan sigap memegang tangan Jesslyn yang sedari tadi memegang pinggangnya agar tidak terhuyung jatuh dari motor. Sekarang kepala Jesslyn menyender pada punggungnya dan Albert dengan sigap juga meletakan kedua tangan Jesslyn untuk memeluknya agar gadis itu tidak terjatuh. Dan sekarang Albert membawa motornya dengan satu tangan memegangi sebelah lengan Jesslyn. Bisa-bisa nya ya Jesslyn ketiduran di atas motor haha.


Albert telah sampai di depan rumah Jesslyn ia turun dengan hati-hati lalu segera menurunkan gadis itu dan menggendongnya ala bridal style.


Albert mengetuk pintu rumahnya dan sang kakak lah yang membukakan pintu.


Dev tercengang kaget melihat kondisi adiknya itu, "Dia kenapa Al?" tanya Dev yang masih kaget.


"Ketiduran di motor." Dev melebarkan matanya lalu berdesis.


"Astaga bisa-bisanya nih bocah," ucap Dev masih terkekeh.


"Yaudah biar kakak yang bawa masuk Jesslyn nya Al," ujarnya lalu mengambil alih Jesslyn.


"Albert makasih banyak, maaf ngerepotin." lanjutnya.


"Iya, kalo gitu saya pamit kak," ucap Albert segera beranjak.


Dev dengan segera membawa adiknya itu ke kamar dan meletakkannya di ranjang. Dev gak habis pikir dengan adik satunya ini. Lalu ia meletakan boneka yang berada di tubuh Jesslyn sedari tadi Albert mengantarnya.


TBC