
Sekarang pukul tujuh malam lewat. Gue baru aja ambil minum dari dapur dan sekarang lagi jalan buat ke kamar, gue yang lagi jalan terhenti akibat suara ketukan pintu sontak gue jalan kearah jendela dan mengintip.
Buru-buru gue nutup gorden sehabis ngintip karena mendapati teman-teman gue di luar.
"Shit! Mereka ngapain si." gumam gue lalu buru-buru lari naik keatas menuju kamar. karena gue males banget buat belajar ya jadi gue mencoba buat ngumpet aja di kamar.
Kak Dev yang baru aja keluar dari kamar ngeliat gue lari terburu-buru dan dia langsung panggil gue.
"Eh.. ngapain lari-lari?" ucap kak Dev lalu menutup pintu kamarnya.
Sontak gue berhenti. "Diem. Diem. Sutss.." ujar gue berbisik seraya menempelkan jari telunjuk ke bibir gue dan lanjut lari masuk kamar.
Dev terkekeh melihat tingkah adiknya itu, setelahnya ia mendengar suara ketukan pintu. "Siapa?" gumam nya. lalu melangkah pergi ke depan pintu.
Sesampainya ia langsung membuka pintunya dan mendapati lima remaja muda berdiri di ambang pintu.
"Hai kak," sapa Dara seraya melambaikan tangannya dan tersenyum.
"Hai." balas Dev lalu tersenyum.
"Eh ada Albert juga toh. Yuk masuk dulu." lanjutnya mempersilakan mereka masuk dan menyuruh mereka untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Kalian teman-temannya Jesslyn kan?" mereka mengangguk terkecuali Albert.
"Iya hehe, salam kenal kakaknya Jesslyn." ujar Dara seraya tersenyum manis.
"Btw Jesslyn nya mana kak?" sambung Reno membuka suara.
"Jesslyn ada kayanya deh di atas. Kalian mau pada ngapain?"
"Mau belajar." telak Albert cepat.
"Kalo gitu kakak panggil Jesslyn nya dulu ya," ujar Dev lalu beranjak ke kamar Jesslyn.
Sesampainya di ambang pintu Dev langsung mengetuk-ngetuk pintu kamar Jesslyn.
"Jesslyn." panggil nya tak ada jawaban dari dalam.
"Jesslyn buka pintunya, ada teman-teman kamu di luar." tak mendapat jawaban lagi Dev menghela napas gusar.
"Buka atau gue dobrak?" ancam Dev yang sudah mulai emosi. Sedangkan Jesslyn yang tadinya sedang asik mencoret-coret buku A4 nya langsung buru-buru bersembunyi.
"Jesslyn!" lagi dan lagi tak ada jawaban. Dev langsung membuka pintu kamar yang ternyata tak di kunci.
"Jingan." umpatnya sendiri.
Dev masuk ia tak melihat keberadaan adiknya itu lalu ia mencoba mencarinya lagi di setiap sudut sampai pada kamar mandi ia tak juga menemukannya.
"Jesslyn keluar. Kasian teman-teman kamu nunggu." beo kak Dev yang sudah mulai malas.
Dev terkekeh plus kaget sehabis mendengar seseorang bersin dari ambang rak sepatu, dirinya mengecek dan menemukan Jesslyn sedang mengempet seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya di samping rak tersebut.
Dev berdecak, "JESSLYN!" pekiknya. Jesslyn tersentak kaget dan mendapati kakaknya yang sedang menatapnya kesal.
"E-hh kak Dev.." cicit Jesslyn menyengir kuda.
"Dari tadi di panggil-in. Ngapain si kamu disitu!" ucap Dev.
"Nyamar jadi sepatu hehe." ngaconya seraya menyengir Kuda.
"Dih gila. udah buru sana turun!" Dev terkekeh dan menyuruhnya untuk turun.
"Males tau! Jejes gak mau belajar!" tukasnya.
"Belajar Jes."
"Gak mau!"
"Mau jadi apa gak belajar?!" tegas Dev.
"Jadi orang lah!" balasnya songong. Dev berdecak kesal lalu melangkah pergi dan turun kebawah.
"Coba kalian yang ajak di turun ke bawah." ucap Dev yang baru saja turun. semua berbalik ke sumber suara.
"Jesslyn nya gak mau?" tanya Dara.
"Iya." balas kak ev menunduk lesu. Albert beranjak bangun lalu menghampiri kak Dev.
"Biar saya yang bujuk." ucapnya Dev mengangguk setuju.
Setelahnya Albert menaiki tangga dan sampai di kamar Jesslyn ia mengetuk pintu namun sama seperti kak Dev tadi tak ada jawaban dari kamar itu, sontak Albert masuk dan dengan cepatnya ia langsung menemui Jesslyn yang masih dengan posisinya tadi, mengempit pada rak sepatu.
"Bangun!" ucap Albert datar sedangkan Jesslyn masih menutup matanya. Albert berdecak pinggang.
"Gak mau!" balasnya masih setia menutupi wajahnya.
Albert berdesis sebal. "Lo ngapain si disitu?!" ucap Albert menaiki nada bicaranya.
"Di bilang lagi nyamar jadi sepatu juga!" tukasnya.
"Sinting!" cibir Albert memutar bola matanya malas. Mendengar itu Jesslyn langsung membuka lebar-lebar matanya dan syok melihat seseorang yang ia kira kakaknya dan ternyata adalah Albert.
Jesslyn terpekik. "Ngapain Lo?! Di kamar gue!" pekiknya tak santai sontak Albert mendekap mulut gadis itu. Jesslyn melotot.
"Lo diem, berisik tau?!" kesal Albert segera melepaskan dekapannya.
"Lo ngapain si?!" lanjutnya. Jesslyn mengambil napas panjang-panjang.
"Ngumpet!" balasnya lalu segera berdiri.
"Turun kebawah," suruh Albert. Jesslyn memutar bola matanya.
"Ngapain?"
"Belajar!" Jesslyn tak menjawab ia malah beralih duduk di ranjangnya. Albert melipat kedua tangannya di dada.
"Cepet. Udah malem," beo Albert menahan sabar.
"Bacot ah." ucap Jesslyn lalu meninggalkan Albert sendiri di kamar.
"Turun ke bawah!" pekik Albert dari dalam.
"Iya, bacot!" balas Jesslyn lalu menghampiri teman-temannya di bawah.
"Sorry lama." ucapnya.
Albert datang dan langsung memulai pembelajaran tanpa banyak basa-basi.
Hampir dua jam Albert mengajarkan mereka, malah Dara, Reno, Alvan dan Alvin telah usai di ajar nya berbeda dengan Jesslyn yang meminta belakangan.
Dara yang sibuk mengobrol dengan Reno. Sedangkan Alvan dan Alvin yang sibuk dengan bermain permainan mobile legends nya.
Albert yang terduduk di sofa sedangkan Jesslyn duduk tepat di bawah Albert yang kini keduanya sangat fokus.
"Udah kelar?" tanya Jesslyn ingin menoleh ke arah Albert namun pipinya tak sengaja menabrak pipi Albert karena jarak antar keduanya sangatlah dekat, sontak Albert menoleh dan menatap Jesslyn.
Jesslyn mematung namun dengan segera ia berdeham, "emm udah kan?" ucapnya. Albert mengangguk lalu membereskan buku-bukunya.
"Eh udah?" tanya Dara melihat Albert dan Jesslyn sedang berberes.
"Iya."
Begitupun Mereka yang langsung memasukan barang-barangnya di tas mereka masing-masing.
"Ming-" baru saja Dara ingin berucap namun sudah di potong oleh Reno.
"Oh iya, besok Minggu kalian Dateng ya di acara pembukaan premier film gue," ujar Reno. Dara yang tadinya sedikit kesal akibat bicaranya dipotong langsung tersenyum bahagia.
"Skuy aja gue mah," balas Alvan begitu juga Alvin.
"Ya, kalo kalian mau nanti terkhusus yang VIP gue kasih." ujarnya lagi. Semua ternganga terkecuali Albert yang biasa saja.
"Banyak, termasuk gue." ucap Reno seraya menaik turunkan alisnya.
"Dih pede!" cibir Jesslyn memutar bola matanya malas. Reno hanya menjulurkan lidahnya meledek.
"Tadi padahal gue mau ajakin juga. Eh tapi udah keduluan Reno nya hehe," ujar Dara yang memang sangat membucinkan seorang Areno.
"Gakpapa, jadi Lo gausah capek-capek ngomong." ucap Reno lalu mengelus puncak kepala Dara lembut. Nah loh mati dah, mimpi apa semalam dara ini Haha.
"Eh btw yang tadi itu Abang Lo?" tanya Alvin tiba-tiba.
"Iya, kenapa emang?" jawab Jesslyn.
"Enggak, namanya saha?" tanyanya lagi Jesslyn mengangkat sebelah alisnya.
"Kak Dev. Kepo Lo dih,"
"Oh. Ganteng juga Abang Lo," ujar Alvin sepertinya otak sarafnya sudah tidak berjalan normal.
"Lo gay Vin? Sumpah gila si!" timpal Dara seraya geleng-geleng.
"Gue diem ada gay." cibir Reno. Alvin langsung melemparnya dengan bantal yang ada di sofa.
"Kalo lo suka sama cowok, please jangan Abang gue.." sambung Jesslyn lalu tertawa ngakak.
"******* Lo semua! Gimana juga gue masih doyan gunung!" balas alvin membuat semua ambigu saja haha.
"Oh Mpok Nunung?" ngaco Dara.
"Nunung teh Saha anyink?!" ucapnya terkekeh.
"Bahasa Lo vulgar banget setan!" timpal sang kakak Alvan lalu mentoyor kening adiknya itu membuat sang empu meringis.
"Serah Lo pada. Yang inti nya gue masih doyan cewek!" cicitnya memutar bola mata kesal.
"Udah malem," ucap Albert bersuara namun di gantung olehnya.
"Siapa bilang pagi?" cibir Jesslyn seraya berdecak.
"Dah kita balik, udah malem juga." sambung Reno beranjak berdiri dan diikuti semuanya. Setelahnya pulang.
°•••°
Sekarang jam istirahat SMA Erlangga, Sebenarnya bel berbunyi sudah sedari tadi. Jesslyn dan kawan-kawan kini berada di kantin berbeda dengan Albert yang sedari bel berbunyi hanya berdiam diri di kelas, Dirinya asik mendengarkan musik lewat Earphone miliknya seraya menyalin setiap kosa kata yang menurut nya penting.
Seseorang menghampiri meja Albert, Albert menoleh dan mendapati Clara yang sedang berdiri dan tersenyum canggung.
Bener tebakan gue. Dia pasti dikelasnya.- gumam Clara membatin.
"Hai Albert," ucapnya seraya melambaikan sebelah tangannya dan tersenyum manis.
"Iya." balas Albert singkat beralih menatap bukunya kembali. Clara berdecak.
"Bisa ngomong bentar kan?" Albert mengiyakan saja. Clara tersenyum senang. Sedangkan seseorang yang baru saja melewati kelas Albert, menatap ke arah Albert tajam. Seseorang itu seperti berapi-api setelah melihat Clara seperti sangat terobsesi dengan Albert. Clara melihat orang itu lalu terdiam.
"Mau ngomong apa?" tanya Albert datar saat melihat Clara yang malah terdiam.
"Sorry hehe." jawabnya tertawa kecil. Sebelah alis Albert terangkat.
"Aku cuma mau bilang kalo nanti sepulang sekolah jangan pulang dulu." lanjutnya.
"Ngapain?"
"Ada perkumpulan anak basket, pokonya nanti kamu jangan pulang dulu," tuturnya.
"Ini Albert aja yang di suruh kumpul?" sahut seseorang yang ternyata Alvan.
Dia kembali bersama geng nya sehabis dari kantin. Jesslyn dan dara yang baru saja masuk langsung duduk di tempatnya berbeda dengan Reno, Alvan dan Alvin. Mereka langsung menghampiri meja Albert untuk ikut nimbrung.
"Cantik-cantik pelit nih ah," timpal Alvin menggoda, Clara tersenyum ke arahnya.
"Aww.. gue di senyum-in cecan." godanya lagi, sangat lebay.
"Hehe bisa aja kamu," ucap Clara.
"Semua yang ngisi formulir disuruh kumpul kan?" ujar Reno bersuara, dirinya sudah lebih dulu tau dari anak kelas 10 IPA 3, jauh sebelum Clara memberitahu mereka.
"Iya hehe, nanti jangan pulang dulu ya?" peringatnya dan pas sekali bel masuk berbunyi.
"Kalo gitu aku duluan." Clara pamit seraya tersenyum canggung lalu beranjak pergi.
Menit berikutnya seorang guru masuk dan memulai pembelajaran. Jam demi jam pelajaran berganti sampai pada jam terakhir, dan masuklah pak Dayat.
Sesuai apa yang dibilang nya kemarin, anak-anak yang di remedial akan mengulang kembali ulangannya. Ia memanggil satu persatu nama murid yang di remedial untuk maju mengambil lembar soal.
"Baiklah kalian kerjakan dengan teliti dan benar," ucapnya.
"Untuk yang tidak remedial mengerjakan soal latihan 4 halaman 56. begitu juga dengan yang remedial kalian wajib mengerjakannya juga apabila sudah selesai." lanjutnya lalu duduk pada meja guru yang tersedia. Semua paham dan mengerti lalu mengerjakan tugasnya.
Tidak membutuhkan waktu sejam lebih untuk Jesslyn menyelesaikan remedial nya begitu juga dengan teman-temannya, setelahnya mereka mengerjakan tugas yang tadi pak Dayat berikan. Sedangkan pak Dayat ia sedang sibuk mengoreksi soal remedial nya.
Bel pulang berbunyi pas sekali mereka telah usai mengerjakan tugasnya dan mengumpulkan nya.
"Pertemuan berikutnya bapak akan kembalikan, dan sebelum pulang saya mau memberikan hasil remedial teman-teman kamu." ujarnya. sisi lain Jesslyn sudah deg-degan untuk melihat hasil nilainya.
Pak Dayat menyebutkan nama mereka satu persatu dan giliran Jesslyn, ia menerima hasil itu lalu dengan segera menutup kertasnya di dada.
"Gimana nilai Lo?" tanya dara dengan raut yang gembira.
"Gue deg-deg serr nih, Lo gimana?" tanyanya balik lalu menarik napas dalam-dalam.
"Alhamdulillah gue gak bakal ada remed remed-an lagi!" jawabnya antusias membuat Jesslyn seketika ketakutan sendiri untuk melihat hasilnya.
"Enak banget! Ah.. gue takut ngulang lagi," Jesslyn me-lirih pasrah.
"Belum di liat kan? Udah buru di liat!" Dara sudah gemas sedari tadi.
"O-ke doa-in ya," beo Jesslyn menghela napas gusar.
"Udah buru!"
Jesslyn memejamkan matanya lalu menarik kertasnya pelan, dirinya ragu untuk membukanya namun dikit demi sedikit ia menyipitkan sebelah matanya dan ya dia terpekik setelah melihat hasilnya.
"Woah, nilai gue bagus!" pekiknya membuat seisi kelas menatapnya bingung.
"Ada apa Jesslyn?" tanya pak Dayat sehabis memberikan hasil semuanya.
"Eh nggak pak hehe," ucapnya seraya tersenyum Pepsodent.
"Kalo gitu siap-siap dan pimpin salam." ucap pak Dayat lagi.
Semua murid sudah pulang kerumah mereka masing-masing begitu juga dengan Jesslyn dan Dara.
Albert, Reno, Alvan dan Alvin kini sudah berada di lapangan basket. Di sana semua anak basket sudah di kumpulkan dari mulai anak kelas 10-12. Disana mereka di beri tahu jadwal-jadwal latihan dan lain-lainnya tentang basket oleh sang ketua basket yang sebentar lagi akan di gantikan jabatannya di karenakan akan segera lulus. Di sana juga terdapat Clara, dirinya juga ikut serta dalam mengurusi ekskul basket.
Adit--selaku sang ketua basket mengetes satu persatu anak kelas sepuluh dalam seberapa ahli mereka bermain basket, setelahnya ia membagikan kelompok mereka.
"Gue bakal memilih beberapa dari kalian untuk bergabung ke anak basket kelas 11." ujar Adit lalu memanggil nama-nama yang akan bergabung dengan anak kelas 11.
Albert, Reno, Alvan dan Alvin berhasil dalam satu kelompok yang sama, mereka bergabung pada anak kelas 11 lainnya. Dan akhirnya perkumpulan selesai mereka diizinkan untuk pulang.
"Jago juga ya Lo Al," ujar Reno pada Albert di sela-sela mereka berjalan ke parkiran, dirinya tak menyangka permainan Albert dalam bermain basket sangat lincah dan jago. Albert hanya tersenyum mendengarnya.
"Apalagi kita." sambung Alvan yang di maksud adalah kembarannya.
"Buset dah, gue si oh aja." timpal Reno lalu merangkul Albert berjalan duluan ke parkiran.
TBC