My Enemy

My Enemy
BAB 12



"Jesslyn bangun!!!"


"WOI! BANGUN BANGKE!" Dev menggoyang-goyangkan tubuh adiknya itu kesal karena masih terlelap dalam tidurnya padahal jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh.


"ASTAGA! JESSLYN BANGUN!" pekik Dev semakin mengencangkan goyangannya, sudah dari pukul enam pagi ia membangunkan adiknya itu namun tak kunjung bangun juga sampai sekarang.


Dev tak sabaran dirinya keluar kamar lalu beranjak pergi ke dapur mengambil salah satu panci dan segelas air yang terisi setengah.


Dirinya masuk kembali ke kamar adiknya itu lalu menyimpan segelas air yang ia bawa pada nakas dekat pintu lalu beralih mengambil sendok yang sangat kebetulan ada di sana, ia langsung maju lalu dengan gemas memukul-mukul kencang pancinya menggunakan sendok, itu tidak cukup untuk Jesslyn bangun bahkan sampai sang kakak memukul panci itu seraya menodongkannya di telinganya ia tak kunjung bangun. Mungkin efek semalaman, ia sangat lelah karena pulang malam dan belum lagi pada saat siang dan sore nya.


Dev membanting kesal panci itu ke lantai lalu beralih mengambil segelas air yang berada di nakas, Dev bersumpah bila adiknya ini tak kunjung bangun juga ia akan membawanya dan melemparkannya langsung dari lantai 2. Kejam.


"Woy *** bangun!" beo nya kesal seraya menciprat-cipratkan air itu dikit demi sedikit.


"Aghh.." Jesslyn mulai terganggu oleh percikkan itu tetapi ia malah merubah posisinya menjadi menguasai ranjang seraya menguap dan tidak peduli.


"Adek sialan!" umpat Dev lalu dengan kesalnya menumpahkan semua isi gelas itu ke wajah Jesslyn.


Jesslyn terpelonjat kaget matanya terbuka lebar dirinya terbatuk-batuk sebab air itu masuk ke dalam mulut dan hidungnya.


Uhukk.. uhukk..uhukk.


"Mantep tuh!" cerca Dev seraya melipatkan kedua tangannya di depan.


"ARGHH!!!" Jesslyn langsung duduk di pinggir ranjangnya dan menendang-nendang tak jelas ranjangnya lalu menatap Dev tajam.


"Apa mau marah? Huh!" ucap Dev, Jesslyn mengangkat sebelah tangannya mengepal rasa ingin menghantam kakaknya keluar namun tertahan lalu tangannya menurun.


"Sana per—!" belum sempat Jesslyn mengusir Dev, ucapannya sudah lebih dulu di potong.


"Liat noh jam berapa?!" ujarnya seraya mengarah pada jam dinding yang menyangkut pada dinding pastinya.


Jesslyn mengikuti arah pandang Dev lalu kedua matanya melotot dan dengan panik segera berlari ke arah kamar mandi. gadis yang ceroboh! dirinya baru saja masuk sudah lebih dulu terpeleset jatuh dan membuatnya terpekik.


"Aww!" pekiknya seraya meringis membuat Dev langsung berlari kearahnya.


"Kenapa?" tanyanya lalu tertawa kecil setelah mendapati Jesslyn yang sudah berdiri meringis seraya mengelus-elus pantatnya.


"Ck, Udah sana!" tukasnya lalu menutup pintu kencang.


"Sialan, rasain tuh!" umpat Dev mencibir dan berlalu keluar.


Tidak seperti biasanya Jesslyn akan menghabiskan waktu lama di kamar mandi, Namun kini tidak butuh waktu sepuluh menit ia sudah keluar dan bergegas memakai seragamnya dan segera pergi tanpa sarapan.


Ia mengendarai sepedanya terburu-buru karena beberapa menit lagi pintu gerbang sekolahnya akan tertutup. Apalagi hari ini hari Senin, biasa seperti sekolah pada umumnya yang melaksanakan upacara bendera rutin setiap Seninnya.


Tak terasa Jesslyn sudah sampai pada gerbang sekolahnya, namun pagar yang menjulang tinggi itu sudah tertutup rapat. Tapi kali ini ia beruntung bisa menerobos masuk tanpa ketahuan sebab di dalam gerbang sana tak ada penjaga satu pun, biasanya yang menjaga gerbang itu pak Ruslan entahlah satpam itu pergi kemana.


Buru-buru Jesslyn memarkirkan sepedanya karena keadaan seantero halaman yang ia lewati sudah sangat sepi, apa jangan-jangan upacaranya sudah di mulai? Gawat bisa dihukum habis Jesslyn ini.


Benar saja saat ia pergi ke lapangan di sana semua murid sudah berkumpul dan berbaris rapih, hanya dirinya saja lah yang masih di posisi ini sendirian.


"******." gumamnya panik seraya menepuk jidatnya sendiri.


Jesslyn ingin kabur saja rasanya lebih baik ia membolos dari pada dihukum di depan seluruh murid SMA Erlangga.


Baru saja ia membalikkan tubuhnya ingin kabur seseorang sudah meneriakinya lebih dulu. Sepertinya pengurus OSIS yang berjaga di belakang.


"Hei! Lo mau bolos kemana?!" teriaknya segera berlari ke arah Jesslyn.


Jesslyn menyengir lalu menunduk seraya memainkan ujung roknya. Itu Wulan salah satu anggota osis lebih tepatnya si sekertaris OSIS dan dia juga sahabat dari Clara bukan?


"Ikut gue!" ucapnya angkuh Jesslyn berdecak kesal, ia pasrah dan Wulan membawanya ke depan dimana tempat untuk murid yang terlambat atau melanggar peraturan.


"Diam disitu sampai upacara selesai dan jangan kemana-mana, karena setelahnya gue bakal kasih hukuman buat Lo!" ucapnya tegas-tegas songong lalu meninggalkan Jesslyn sendiri membuat Jesslyn mengumpatnya dalam hati.


Cuaca sangat terik sehingga cahaya sinar matahari sangat terpancar pada tempat Jesslyn, Membuatnya berkeringat kepanasan. Apalagi hanya dia seorang yang berdiri di tempat panas seperti ini.


Akhirnya upacara selesai namun sesekali dirinya sangat kesal sebab disindir habis-habisan oleh pak Doni selaku pembina upacara pengganti saat amanat upacara tadi.


Dirinya masih menetap di sana banyak pasang mata yang melihatnya miris dan menertawainya. Seperkian detik akhirnya Wulan datang namun kali ini bersama sang ketua OSIS-Clara, dan tiga lainnya termasuk Lea.


"Anjeng keroyokan," ucap Jesslyn dalam hati yang pasti akan kesal dengan hukuman yang akan mereka berikan.


"Kamu kenapa telat?" tanya Clara.


"Em..-"


"Udalah ra langsung hukum aja!" timpal Wulan, entah ia punya dendam apa sama Jesslyn sepertinya ia sangat tidak senang melihat Jesslyn, atau sama seperti ini juga bila sedang menghukum yang lain?


Clara tampak berpikir, "kamu pel-in seluruh koridor anak kelas sepuluh aja deh," ucapnya Jesslyn mendengus pasrah.


"Eh jangan itumah ke enakan! Sekalian bersihin kamar mandi siswi!" tambahnya lalu beralih memandang Jesslyn dari atas sampai bawah.


"Itu aja udah cukup kok," ucap Clara seraya tersenyum simpul.


"Liat dong!" teman-temannya mengikuti arah pandang Wulan. "Harus di tambah! Udah pakai dasi gak rapih! Kaus kaki sebelah panjang sebelah pendek dan sepatu kotor!" tambahnya, sepertinya gadis ini memang mau ngajak ribut dengan Jesslyn.


"Yasudah hukuman kamu di tambah," ucap Clara.


Setelahnya Jesslyn lebih memilih untuk membersihkan kamar mandi siswi terlebih dahulu, dua pelajaran terlewati begitu saja. Saat ini ia beralih mengambil alat pel dan segera mengisi embernya dengan air. Untuk sekedar menyapu ngepel Jesslyn bisa melakukannya.


"Nyiksa gue tuh si sialan!" umpatnya masih mengepel koridor kelas 10 IPS terlebih dulu, dirinya mengepel asal-asalan saja bayangkan setiap kelas 10 mempunyai kelas masing-masing 6, capek banget gak tuh?


Dirinya sudah selesai mengepel-i seluruh koridor kelas 10 IPS dan sekarang beralih mengepel kelas 10 IPA dan ia memulai dari koridor kelasnya terlebih dahulu.


Jesslyn maraung keras seraya menghentak-hentakan kakinya kesal sehabis melihat kedalam dan mendapati Albert sedang menahan tawanya melihat dirinya yang tersiksa seperti ini.


"Hei siapa itu!" beo seorang guru yang sedang mengajar dan beranjak keluar dan mendapati Jesslyn.


"Kenapa teriak-teriak?!" tanya pak Hengki selaku guru sejarah.


"Maaf pak," balasnya seraya menunduk lesu. "Saya lelah tau pak, capek dihukum." lanjutnya mulai merajuk seraya mengerucutkan bibirnya.


"Jangan ganggu, sudah sana lanjutkan hukumannya!" suruh nya lalu pergi meninggalkan Jesslyn dan kembali masuk ke kelasnya. Jesslyn menghela nafas gusar.


Ia melanjutkan hukumannya dan saat ini ia hampir selesai sebab saat ini ia sedang mengepel koridor kelas 10 IPA 1.


"Halo Bu," sapa Jesslyn pada guru wanita yang baru saja keluar dari kelas 10 IPA 1. Guru itu membalas senyuman Jesslyn dan berlalu begitu saja dan tidak seperti guru lain yang baru saja Jesslyn lewati kelasnya yang langsung menanyakannya heboh dan berujung menggunjingnya.


"Kasian bet dah dia wkwk" itu suara Wulan yang berbicara pada Clara dan Lea yang duduk tidak berjauhan.


"Emang sepantasnya dia dapat itu onyon." ucap Lea tiba-tiba.


"Jahat nih si Wulan pake di tambahain segala," sahut Clara dan ketiganya langsung tertawa.


"Yaelah udah mau selesai juga itu dia," ucap Wulan merotasikan bola matanya.


"Emang gak ada si, tapi gue mau ulur waktunya dia aja haha." ujar Wulan tersenyum bak iblis lalu beranjak keluar.


Wulan berjalan sengaja melewati lantai basah yang sudah di pel oleh Jesslyn alhasil lantai itu kembali kotor dan ia pergi begitu saja entah kemana dan Jesslyn dengan kesal kembali mengepel nya, sungguh Jesslyn mengumpatnya!


Setelah beberapa menit Wulan kembali dan ia dengan sengaja lagi menginjak lantai basah itu sehingga kotor kembali.


"*******!" umpat Jesslyn.


"Eh maaf deh, gak liat." ucapnya tertawa meledek lalu segera masuk kedalam kelasnya. Jesslyn berdecih melihat tingkah senonoh anggota OSIS satu itu yang sangat menjengkelkan.


Alhasil ia mengepel kembali lantai itu, hampir selesai tinggal tiga pel-lan lagi namun dengan sengajanya lagi-lagu Wulan kembali keluar dan kembali menginjak lantai itu dan sengaja berlari.


"Sorry ya, gue tuh mau pup jadi buru-buru haha." ucapnya tertawa kecil bak meledek lalu segera pergi.


"Anak setan! Gada akhlak!" umpat Jesslyn kesal setengah mati, Sumpah demi apapun kali ini Jesslyn harus berbuat sesuatu!


Dirinya mulai berpikir- mungkin kalau kalian orang beriman pasti kalian akan melihat sebuah lampu menyala tepat di atas kepala Jesslyn haha.


Jesslyn tersenyum picik dirinya sudah mendapatkan ide untuk mengerjai Wulan si anak setan!


Menit selanjutnya Jesslyn mendengar suara pijakan dari sebelah tembok tangga, dan dengan segera ia menumpahkan semua isi air yang berada di dalam ember ke lantai yang pasti akan di injak oleh Wulan. Dan benar saja dari arah belakang Wulan datang dan mulai berjalan ke arahnya, dan Jesslyn kini berpura-pura mengepel.


Terdengar juga Wulan bernyanyi ria seraya berjalan penuh kemenangan.


"I'm bad guy- kyaaa!!!" Baru saja mau menyelesaikan laguny naasnya Wulan terpelset jatuh dan terpekik kencang setelah pantatnya berhasil mencium ubin yang becek.


Sontak Jesslyn tertawa penuh kemenangan. "HAHAHAHA ****** Lo *****!" umpat Jesslyn seraya tertawa ngakak.


"Lo ya!" kesalnya menahan tangannya yang ingin sekali menampar Jesslyn.


"Apa? Huh?!" ledek Jesslyn yang mendekatkan wajahnya pada wajah Wulan.


"Gaya ya Lo!" ucap Wulan menahan kesal dirinya baru saja ingin berdiri namun dikarenakan lantai yang basah dan licin so.. dia malah terjatuh kembali dan mengudang tawa Jesslyn semakin kencang.


"Sini gue bantu." tawar Jesslyn yang hanya meledeknya.


"Bacot lo!" balasnya lalu berusaha untuk berdiri lagi seraya menompang sebelah tangannya ditembok.


"Maksud Lo apa-apaan si? Huh!" ujarnya kencang Jesslyn.


"Lo yang apa-apaan? Maksud Lo apa ganggu gue ngepel?" balasnya tak kalah kencang.


"Lo ya anjing!" pekik Wulan lalu menjambak rambut Jesslyn membuat seisi kelas 10 IPA 1 keluar dan menyaksikan mereka yang sedang jenggut-jenggutan.


"Jangan main-main Lo sama gue!" ucap Wulan disela-sela mereka saling jenggut.


"Yang ada elo yang main-main sama gue!" balas Jesslyn tak kalah sengit.


Dari anak yang menonton di sana tak ada yang memisahkan, mereka malah asik menontonnya. Namun Clara dan Lea lah yang mencoba melerai mereka.


"Udah berhenti!" pekik Clara namun keduanya tak mendengarkannya dan terus melanjutkan.


"Panggil Bu Rinai Le, buru!" ucap Clara yang kewalahan menghadapi mereka berdua.


"Udah Lan, Jes!" pekik Clara lagi.


"Gak bisa dia harus di kasih pelajaran!" balas Wulan masih terus nafsu menjambak rambut Jesslyn.


"Kalian berhenti!!!" pekik Bu Rinai yang baru saja datang, keduanya berhenti dan nafas keduanya tersenggal-senggal layaknya sehabis lari maraton sepuluh putaran lapangan 2000 meter.


"Apa-apaan ini?!" pekik Bu Rinai seraya melototkan matanya.


"Dia duluan Bu..." ujar Wulan tiba-tiba, menuduh Jesslyn.


Jesslyn melototkan matanya. "Apa-apaan lo?! Lo duluan ya yang ganggu gue!" sahut Jesslyn tak terima.


"El-"


"Sudah-sudah kalian berdua ikut saya ke kantor!" tegas Bu Rinai lalu membawa keduanya ke kantor


°•••°


Sesampainya di kantor mereka berdua langsung di marahi habis-habisan oleh Bu Rinai, setelah capek memberi nasehat pada dua gadis ini nur Rinai langsung memberi mereka hukuman.


Jesslyn yang kini sedang mengantar barang-barang semua guru yang tertinggal. Ya, gak semuanya si... Ini hukuman yang ia terima.


Berbeda dengan Wulan yang mendapat hukuman mengambil semua data absen murid SMA Erlangga. Coba kalian bayangin betapa lelah dan capeknya menghampiri satu persatu kelas di SMA Erlangga yang terkenal luas ini?


Memang diantara hukuman mereka Jesslyn lah yang lebih ringan di bandingkan Wulan. Karena Wulan lah yang membuat masalah terlebih dulu. Namun Wulan sempat protes tak terima. Ya, mau gimana lagi? Yang bersalah harus lebih berat Khan? Setuju?


Kini Jesslyn telah usai mengerjakan semua hukumannya dan saat ini perutnya sangat lapar dirinya berinisiatif untuk pergi ke kantin untuk sekedar membeli sebungkus roti dan cola float.


Saat ini ia sedang asik duduk dan melahap rotinya dengan tenang, namun menit berikutnya seseorang menepuk bahunya sontak jesslyn terpelonjat kaget, alhasil membuatnya tersedak saat ia baru saja menenggak minumannya.


Uhukk..uhukk..uhukk.


"Aduh biasa aja kali," ucap seorang pria yang baru saja mengangetkan nya.


"Siapa Lo?!" ucap Jesslyn kaget membuat kedua matanya melotot.


"Minum dulu minum," ucapnya Jesslyn langsung menyedot kembali minumnya.


"Gue Arlan 11 IPA 3." ucap pria itu setelah Jesslyn menenggak minumnya lalu tersenyum .


"Gak kenal." sinis Jesslyn memutar bola mata jengah.


"Tak kenal maka tak sayang, maka dari itu nama Lo siapa?" ujarnya seraya menaikturunkan alisnya.


"Ck, apaansi! Sana pergi!" sepertinya hari ini mood Jesslyn sedang tidak bagus, ia mengusir pria itu tanpa memperdulikan gimana perasaannya.


"Iya iya gue pergi, tapi siapa dulu nama Lo?" tanya nya kekeuh.


"Jesslyn!" jawab Jesslyn cepat pria itu ngangguk-ngangguk.


"Udah kan? Sana pergi!" lanjutnya kembali mengusir Arlan untuk segera pergi.


"Iya, galak amat! Semoga nanti kita ketemu lagi ya Jesslyn, bye..." ucap Arlan menggodanya lalu segera pergi namun sebelum itu ia melambaikan tangannya pada Jesslyn membuat gadis itu berdecak sebal.


"Sinting." cibirnya lalu melahap kembali rotinya.


Seperkian detik sepeninggalan Arlan lagi lagi seseorang meneriakinya begitu kencang, namun kali ini dengan suara khas orang dewasa yang begitu berat. Dirinya sontak kaget dan rotinya yang ia pegang ikut terjatuh.


BERSAMBUNG