My Enemy

My Enemy
BAB 13



"KETUA KELAS 10 IPA 6!!!" teriaknya menggelar ke seisi kantin.


Pak Doni menatap Jesslyn dengan tatapan tajam seraya berdecak pinggang, Jesslyn yang mendapati Pak Doni secara tiba-tiba langsung tersentak kaget dan melemparkan rotinya reflek.


"Ngapain kamu Disini?!" tanyanya dengan tidak santai, Jesslyn bergeming seraya membelakangi tangannya.


"Jawab!" pekiknya membuat telinga pecah saja.


"Emm... Lagi jahit nih," jawabnya melantur sontak Pak Doni semakin melebarkan matanya berapi-api.


"Bangun kamu!" suruh nya sudah geram dengan muridnya satu ini. Jesslyn langsung menurut dan berdiri.


"Seenaknya kamu jajan di kantin padahal jam istirahat belum berbunyi!" lanjutnya masih dengan ekspresi ingin memakan orang saja.


"Saya kan laper pak," ujar Jesslyn melirih layaknya orang kelaparan.


"Mau laper atau nggak. ya, nanti! Waktunya istirahat!" jelasnya Jesslyn menelan saliva mendengar suara pak Doni yang sangat nyaring layaknya terompet tahun baru.


"Lima belas menit lagi juga kan istirahat pak." Elaknya tak ada takutnya membuat pak Doni semakin menjadi-jadi berniat untuk menghukumnya.


"Kamu ya! Semakin menjadi-jadi! saya hukum kamu!" ancamnya.


Sontak Jesslyn terpelonjat dirinya bergeming ngeri.


"Pak please jangan hukum saya.. hari ini saya baru aja selesaiin tiga hukuman sekaligus lho pak, masa bapak tega si sama murid paling cantik di seantero SMA Erlangga ini?"


"Itu pantas buat murid gak tau aturan kaya kamu!" cerca nya membuat alis matanya yang tebal itu semakin menebal dan panjang.


"Sekarang kamu lari lima putaran di Lapangan!" lanjutnya. Jesslyn mendengus pasrah.


"Pak..." Lirihnya. Pak Doni tak menggubris dirinya langsung membelakangi Jesslyn.


"CK!" Jesslyn menahan kesalnya dengan guru satu ini, dirinya menghentak-hentakan kakinya di lantai, kesal.


"Cepetan!" galak pak Doni sehabis mendengar hentakan kaki Jesslyn.


Keduanya berjalan kearah lapangan sesampainya pak Doni langsung menyuruh Jesslyn lari lima putaran dan meninggalkannya sendiri.


"Sial banget gue hari ini," beo nya kesal sendiri di sela-sela ia berlari memutari lapangan SMA Erlangga yang luas ini. Lapangannya ini bisa memuat 3 kelas untuk sekali pelajaran namun dengan guru yang berbeda-beda.


Ini putaran ketiga yang sudah di lalui Jesslyn dan sekitar delapan Menit lagi bel istirahat berbunyi. Sungguh benar hari ini adalah hari sial bagi Jesslyn karena hari ini ia telat akibat kesiangan dan mendapatkan triple hukuman, ralat empat sama lari ini.


Dan satu putaran terakhir akan di lampau Jesslyn namun tiba-tiba ia terhenti seraya menumpu lututnya nafasnya memburu perutnya seketika sakit, kepalanya terasa berat dan pusing dirinya seketika ambruk.


BRUKK.


Jesslyn ambruk tak sadarkan diri karena sudah tak tahan menahan pusing di kepalanya dan saat detik itu juga bel istirahat berbunyi. Seluruh umat SMA Erlangga berhamburan keluar beberapa dari mereka melihat tubuh Jesslyn yang sudah tak sadarkan diri di lapangan, seketika semua heboh dan berlari kearahnya.


Dan bersamaan saat bel berbunyi Dara, Albert, Reno, Alvan dan Alvin sudah keluar dari kelas niat mereka terhenti saat ingin ke kantin karena semua murid heboh berlarian kearah lapangan.


"Ada apasi pada lari-lari?" tanya Dara di sela-sela mereka berjalan dan mereka semua yang bersamanya mengangkat bahu acuh tak acuh.


"Gue jadi penasaran." Gumamnya lalu menghentikan langkahnya dan memanggil salah satu murid yang baru saja abis dari lapangan seperti.


"Eh Berhenti dulu!" seru Dara pada semua temannya itu, sontak mereka berhenti.


"Apasi Dar," Beo Reno menghela nafas pelan.


"Andric!" panggil Dara pada Andric ia tak menggubris ucapan Reno, Andric adalah teman seangkatannya, ia memanggilnya seraya menarik lengan Andric agar berhenti terlebih dahulu.


"Why?" tanya pria blasteran itu seraya mengerutkan kening bingung.


"Ada apa pada lari-lari?" tanya Dara.


"Itu Jesslyn friends you pingsan di lapangan." jelasnya memberitahu, sontak semuanya yang mendengar langsung melebarkan matanya kaget. Berbeda dengan Albert yang langsung berlari begitu saja ke lapangan.


Sesampainya Albert melihat tubuh Jesslyn yang masih tergeletak di lapangan, dirinya mengumpat pada seluruh murid yang hanya menontonnya dan tidak ada usaha untuk membantunya, lalu ia berlari kencang kearahnya dirinya dengan cepat menggotong tubuh Jesslyn dan membawanya keruang UKS. Disusul dengan Dara, Reno, Alvan dan Alvin yang mengikuti Albert dari belakang.


Albert meletakan tubuh Jesslyn pada ranjang yang tertera di UKS.


"Ambil minyak kayu putih!" suruh Albert yang terlihat panik, dan dengan segera Dara mencari minyak kayu putih itu di lemari yang penuh dengan beragam obat.


Setelah menemukannya Dara langsung menyerahkan minyak kayu putih itu, dengan segera Albert membuka tutupnya dan menodongkannya pada hidung Jesslyn sesekali mengusapkannya.


"Udah mending Lo beliin teh hangat di kantin, biar gue yang coba bangunin dia," ujar Dara mengambil alih minyak kayu putih itu, Albert setuju dirinya langsung beranjak pergi ke kantin membeli teh hangat untuk Jesslyn.


Menit berikutnya Albert kembali dengan teh hangat di tangannya dan ia juga membelikan bubur hangat untuk Jesslyn, Dirinya tahu betul pada Jesslyn yang tidak sarapan hari ini.


Dan saat Albert kembali Jesslyn sudah sadarkan diri, ia melihat wajah gadis itu lusuh dan bibirnya yang merah kini terlihat pucat.


"Sini." Dara mengambil alih teh hangat itu lalu memberikannya pada Jesslyn ia menuntun Jesslyn untuk minum, karena tangan gadis itu bergetar saat memegang gelas saja.


Dara kemudian menaruh teh hangatnya pada nakas dekat ranjang Selesai Jesslyn meminumnya.


"Makan dulu," ujar Albert menyodorkan bubur ayamnya, Jesslyn mengangguk lemah dan menerimanya.


Dirinya langsung membuka Bubur itu dan tangannya mulai terangkat untuk memasukkan buburnya, entah mengapa ia sangat lemas hari ini sehingga sendok yang ia pegang saja bergetar.


"Bisa gak Jes?" tanya Dara yang sudah sangat khawatir melihat kondisi lemah Jesslyn. Lalu Jesslyn menggeleng lemah.


"Biar gue siapin ya?" ujar Dara dan mengambil alih buburnya, namun sudah diambil alih kembali oleh Albert.


"Biar gue, kalian istirahat aja." suruh Albert namun mereka menggeleng.


"Gak papa kalian pergi istirahat aja gue udah mendingan kok," ujar Jesslyn membujuk teman-temannya itu agar tidak terlalu mengawatirkan dirinya.


"Tapi Jes—" ucap Dara terpotong.


"Udah ayo kita istirahat aja." potong Reno lalu menggiring Dara, Alvan dan Alvin keluar.


"Makan lagi," ucap Albert lalu mulai menyuapi Jesslyn. Albert menyuapinya dengan telaten hingga habis.


"Udah mendingan?" tanyanya sehabis memberikan Jesslyn minum.


"Tapi masih sedikit pusing." jawabnya.


"Yaudah kalo gitu Lo tidur aja disini," ujar Albert, Jesslyn mengangguk setuju lalu ia membaringkan tubuhnya dan Albert membantu Jesslyn menyelimuti dirinya.


"Gue tinggal ya?" ucap Albert lagi, Jesslyn mengangguk dan ia segera memejamkan matanya.


Albert melangkahkan kakinya keluar pintu namun ia terhenti seketika Jesslyn memanggilnya.


"Al..." panggil Jesslyn, Albert membalikan tubuhnya menghadap Jesslyn.


"Iya," balas Albert membalas senyumnya lalu beranjak keluar.


Untuk seorang Jesslyn entah mengapa hanya untuk sekedar mengucapkan terimakasih untuk Albert itu sangat sulit bahkan untuk mengucapkannya saja bibirnya terasa keluh, entahlah.


°•••°


Sekarang sudah jam pulang SMA Erlangga, Jesslyn untuk hari ini ia diizinkan oleh Albert mengisi absennya sakit, dan saat Albert menghampiri Jesslyn di ruang UKS gadis itu masih terlelap tidur. Albert menaruh telapak tangannya di dahi Jesslyn dirinya merasakan tubuh Jesslyn yang panas, sepertinya gadis ini demam.


Namun akibat sentuhan Albert itu Jesslyn terbangun dan menatap Albert sekilas lalu mengedipkan matanya dua kali.


"Udah waktunya pulang," ucap Albert.


"Iya," balasnya lemah, dengan segera ia bangun dari ranjangnya dan meraih tasnya yang telah di bawa oleh Albert.


"Bisa jalan kan?" tanya Albert memastikan gadis itu.


"Bisa." jawabnya,


Dan keduanya berjalan keluar UKS menuju parkiran walau dengan langkah santai akibat Jesslyn yang masih belum berkumpul energinya.


Sesampainya di parkiran Jesslyn langsung ingin mengambil sepedanya, namun tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh Albert.


"Apa?" tanyanya mengerutkan kening bingung.


"Bareng gue, biarin sepeda Lo disini," ujsr albert lalu menaiki motor sportnya. Jesslyn setuju ia langsung menaiki motor Albert juga.


Jika saja ia tidak mau bisa-bisa nya gadis ini untuk pulang sendiri apalagi keadaannya lemah, mau pingsan di jalan dia? Sebelum menancapkan gasnya Albert bersuara terlebih dahulu.


"Peluk gue," ucap Albert Jesslyn mengangguk ia menurut saja, untuk kali ini dirinya sangat malas untuk menolak apalagi beradu mulut.


Albert menancapkan gasnya keluar gerbang, dan Albert mengeratkan pelukan Jesslyn takut gadis itu terjatuh, dan akan berakibat fatal pastinya.


Dan akhirnya mereka sampai dirumah Jesslyn, Jesslyn melepaskan pelukannya dan Albert membantu ia memasuki rumahnya, seperti biasa kakaknya belum pulang bekerja karena ia akan pulang pada malam hari. Albert memutuskan untuk tidak pulang terlebih dahulu karena ia masih ingin mengawasi Jesslyn.


"Ganti baju buru, nanti gue kompres," ujar Albert, Jesslyn mengangguk dirinya langsung pergi ke kamarnya. Sedangkan Albert ia beranjak ke dapur mengambil kompres.


Setelahnya ia beranjak ke kamar Jesslyn, sebelumnya ia mengetuk pintunya terlebih dahulu takut gadis itu masih memakai bajunya.


"Udah belum?" ujar Albert sedikit menaikan nada suaranya seraya mengetuk pintunya.


"Masuk aja," sahutnya Albert langsung membuka pintunya dan mendapati Jesslyn sudah terlentang di ranjangnya.


Albert menghampiri Jesslyn lalu duduk di sisi ranjang, "Sekarang Lo diem, gue kompres." ucapnya lalu mulai mengkompres kening Jesslyn.


"Tidur gih," suruh Albert selesai mengkompres. "Gue tungguin sampe kakak Lo balik." Lanjutnya Jesslyn tertegun lalu ia menurut saja.


Jesslyn terlelap dan waktu sudah mulai malam dan tiba-tiba saja Jesslyn mengigau.


"Bunda.. Jejes kangen bunda..." lirihnya mengigau, Albert memicingkan mata mendengar parau Jesslyn yang seakan membuat nada yang mengartikan kerinduan pada sang bunda.


"Bunda.. jejes mau di peluk bunda.." ngigaunya lagi dengan suara lirih.


"Bunda jangan pergi! Bunda belum peluk jejes hikss..." kali ini gadis itu mengigau seraya terisak dan mengeluarkan sedikit air matanya, Albert beralih duduk disisi ranjang yang tadinya ia terduduk di sofa.


"Bunda.. hiks.." isak nya, Albert dengan sigap mengelus pelan puncak kepala Jesslyn  mencoba untuk menenangkan nya.


Gadis itu tiba-tiba terhenti dari ngigau dan isaknya lalu Albert turun kebawah ranjang seraya berjongkok, tangannya terurai senyumnya terukir menatap wajah Jesslyn intens tangannya kini mulai mengelus pelan hidung Jesslyn menggunakan jari telunjuknya.


Saking asiknya memainkan hidung Jesslyn, sampai-sampai Albert tak mendengar suara ketukan beberapa kali dari luar kamar.


CKLEKK.


Pintu kamar terbuka beberapa anak muda di ambang pintu sana kaget melihat posisi Albert yang sedang memainkan hidung Jesslyn.


"HEMM!" suara dehaman Alvin berhasil menghentikan aksi Albert sebab ia tersentak.


Albert mendengus malas karena mendapati teman-teman nya memasang senyum jahil untuknya.


"Lo semua salah liat!" telak Albert yang tak peduli dengan tatapan-tatapan jahil temannya itu, ia memilih untuk duduk di sofa.


"Gimana keadaannya?" tanya Dara pada Albert gadis itu langsung meletakan bingkisan yang mereka bawa untuk Jesslyn di bangku samping ranjang.


"Dia demam, tapi sekarang udah mendingan," jawab Albert.


"Pasti ini gara-gara hukuman tadi!" gumam Dara kesal sendiri tetapi masih terdengar oleh semua temannya.


"Mungkin," sahut Albert datar.


"Lo dari tadi disini Al?" tanya Reno sehabis menyadari Albert yang belum mengganti pakaiannya.


"Hmm."


"Rumah Lo Deket kan? Ganti baju dulu sana Lo!" ujar Reno. "Bau asem!" lanjutnya menindas, Albert menatap tajam Reno membuat sang empu menyengir.


Mereka saling ngobrol seraya menunggu Jesslyn bangun, namun tiba-tiba pintu kamar terbuka menampilkan Dev yang terlihat kaget dan bingung.


"Pantes gak ada orang di luar, ternyata disini rame toh," ujar Dev yang biasanya sepulang kerja mendapati pemandangan adiknya yang tengah asik menonton tv.


"Eh kak Dev," itu suara semuanya terkecuali Albert.


"Jesslyn nya udah tidur duluan?" tanya Dev yang hanya melihat ujung kaki Jesslyn sebab terhalang oleh Dara.


"Iya, dia demam kak," jawab Dara memberitahu, sontak Dev berjalan ke arahnya dan memeriksa tubuh adiknya itu pada bagian leher sebab pada bagian kening sudah di tempel kompres.


Dev menghela nafas lega sebab demam adiknya kini sudah menurun.


"Heem makasih ya udah jaga Jesslyn," ucap Dev berterima kasih semua tersenyum senang.


"Mending kita kebawah dulu kita makan, kak Dev kebetulan bawa makanan banyak, Jesslyn biarin tidur aja." lanjutnya semua setuju dan langsung turun kebawah ke arah ruang tamu.


Semuanya tersenyum senang dan bahagia, sesekali mereka tertawa akibat lelucon dari Alvan dan Alvin yang sangat receh hingga tak terasa semua makanan yang ada di depan mereka habis.


Dan Dev menyuruh mereka untuk pulang sebab sudah malam apalagi semuanya sekolah besok, dan kini tinggal Albert yang masih setia dengan pakaian seragamnya. Dev mengantar Albert ke depan pintu.


"Makasih Al," ujar Dev seraya menepuk-nepuk pundak Albert.


"Iya kak." jawabnya ingin segera membuka pintu namun tertahan oleh Dev.


"Jagain Jesslyn terus ya?" ucap Dev meyakinkan Albert seraya menepuk pundaknya lagi. Dan Albert membalasnya seraya tersenyum 'iya'.


TBC