
18 Juni 2018
Tampak seorang gadis mengenakan jaket warna hitam dan headset yang berada di telinganya, sedang berteduh dan menunggu hujan mereda.
Tak lama kemudian, hujan pun berhenti. Gadis itu segera bergegas menuju ke rumahnya.
Dirumahnya, tampak ibunya sudah bersiap untuk memarahinya.
" Kemana saja kau! Jam segini baru pulang!?
Coba tanya sama tetangga, apa ada anak gadis pulang selarut ini!! "
" Iya baiklah. Besok akan kutanyakan "
" Jawab ya kau! Berani? " Setelah mengucapkan kata itu, ibu gadis itu memukul lengan kanannya.
" Aauu! Sakit! Memang ibu kira aku ini apaan bisa sembarangan dipukul!? "
" Sudah jangan protes, cepat ganti pakaianmu! "
" Aku, protes? " Tanyanya dengan suara pelan.
Gadis itu pun segera menuju kamarnya, dan berganti pakaian.
" Oh ya hampir terlupa, aku harus siapkan segala kebutuhan untuk besok, karena besok aku pindah sekolah jadi aku harus semangat. Akan kupastikan nilaiku akan meningkat "
" Hufftt, jadi besok adalah hari baru disekolah baru. Aku tidak boleh melakukan kesalahan apa pun. Tapi bagaimana jika aku ceroboh lagi? Ahhhh, tenanglah Oh Da Yeong, pasti besok kamu akan baik baik saja "
Oh Da Yeong merebahkan dirinya di atas kasur dan mulai memejamkan mata.
Keesokan harinya, dirumah keluarga Park. Seperti biasa, Yeo Chan selalu dibangunkan oleh beberapa asisten di rumah itu.
" Tuan muda, apa anda sudah bangun? Tuan muda!? Tuan muda!!? "
Mendengar suara itu, segeralah Yeo Chan membuka matanya dan duduk dengan tegak seakan telah siap untuk mereka layani.
" y-ya! Aku sudah bangun. Kalian boleh
masuk! "
Mendengar perintah tersebut, para asisten itu memasuki kamar Yeo Chan. Tampak seorang asisten utama tersebut yang memimpin barisan di depan. Dan diikuti oleh 8 asisten yang berbaris rapi dibelakangnya dengan membawa perlengkapan perlengkapan untuk mempersiapkan segala kebutuhan Yeo Chan dipagi hari.
Misalnya wadah berisi air dan kain bersih untuk membersihkan wajah Yeo Chan, serta kebutuhan lainnya.
Empat asisten mempersiapkan seragam sekolah yang akan dikenakan Yeo Chan, sedangkan empat asisten lainnya membasuh tubuh Yeo Chan dengan air lalu mengeringkannya menggunakan kain
: Hanya bagian tubuh tertentu, contohnya seperti wajah, tangan, dan kaki.
Setelah selesai, barulah asisten utama membantu Yeo Chan berpakaian, seperti biasa saat Yeo Chan mengganti pakaiannya semua asisten berbalik badan dan tidak boleh menengok kebelakang sampai Yeo Chan selesai berganti pakaian.
Selesai berganti pakaian, Yeo Chan pasti akan menuju ruang makan dan diikuti oleh para asisten di belakangnya.
Sampainya di ruang makan, Yeo Chan harus membungkuk dan menyapa orang tuanya dengan senyuman. Kemudian duduk dan makan dengan tenang.
Itulah aturan pagi yang harus dikerjakan Yeo Chan setiap hari. Pagi itu dia cukup sedih karena sarapan nya pagi itu sedikit, sedangkan aturan terpenting adalah tidak boleh menghabiskan seluruh makanan karena dianggap rakus, jadi setidaknya setiap Yeo Chan makan ia harus menyisakan sedikit dari makanannya, atau menyisakan separuh dari makanannya.
: Oh ya btw, Yeo Chan tidak makan makanan manusia yaa. Tapi dia makan semacam oli mesin yang teksturnya lebih kental. Biasanya kalau tidak disediakan di atas mangkok, pasti digelas. Jadi itulah makanan Yeo Chan, ia juga makan satu kali dalam sehari, biasanya kalau malam ia minum bensin. Agak kocak yaa?
Baiklah, inilah yang biasa Yeo Chan lakukan ketika pagi hari.
" Selamat pagi ibu, ayah. Apa tidur kalian nyenyak? "
" Tentu saja, bagaimana kami tidak tidur nyenyak? Jika selalu ada kamu di mimpi kami yang suka mengompol saat berenang. Benar bukan istriku? "
" Kamu berlebihan, suamiku "
" Ohh, yaa. Ha-ha-ha-ha, lelucon yang lucu ayah.. "
Yeo Chan mengira bahwa ayahnya sedang bercanda dan memaksakan diri untuk tertawa. Mana mungkin ada robot yang bisa mengompol? Ditambah lagi, jika Yeo Chan masuk kolam otomatis konslet lah ya kan..?
" Ayah tidak bercanda. Tadi malam ayah bermimpi kamu memang sedang berenang dan mengompol didalam air "
Yeo Chan yang melihat wajah ayahnya yang begitu serius dengan ucapannya, mencoba mengalihkan topik pembicaraan ke hal lain.
" Apa ayah dan ibu tahu? Hari ini aku ada ujian dadakan. Dan aku belum sempat belajar tadi malam "
" Mengapa harus khawatir? Kamu selalu peringkat pertama bukan dikelasmu, ibu yakin pasti nilai ulanganmu hari ini akan bagus juga seperti hari biasanya "
" Ibumu benar, tapi walau begitu jangan tetap lengah, kamu harus tetap rajin belajar. Kamu tahu bukan, ayah tidak ingin kamu mendapatkan peringkat terakhir. Jangankan peringkat terakhir, ayah tidak ingin kamu peringkat kedua. Jadi pertahankan posisimu itu di kelas " Nasihat ayah Yeo Chan, yang kali ini tidak bercanda ya guys.
" Ayah percaya bukan padaku? Aku akan mendapatkan peringkat pertama semester ini. Seperti semester dahulu "
Singkat cerita, setelah selesai sarapan, Yeo Chan berangkat ke sekolahnya dan diantar oleh sopir.
Sebenarnya Yeo Chan tidak setuju, karena jika ayahnya ikut mengantarnya, dirinya pasti jadi pusat perhatian satu sekolah akibat kedatangan Presdir Park pemilik sekolah itu.
Tapi mau bagaimana lagi? Yeo Chan tidak bisa menolaknya.
Sesampainya di sekolah, benar saja. Belum apa apa juga, semua orang hanya menatap mobil mewah yang memasuki gerbang sekolah dan berhenti tepat di depan pintu masuk sekolah. Padahal aturannya tidak boleh, biasanya siswa lain akan diberhentikan dan diturunkan di depan gerbang bukan tepat di depan pintu masuk sekolah.
Yeo Chan sudah mengatakan itu kepada ayahnya, tapi ayahnya justru malah menjawab
" Mungkin itu memang peraturannya, peraturan yang ayah buat bersama kepala sekolah. Tapi tentu anak pemilik sekolah ini bisa diperlakukan lebih istimewa bukan? Dan tenang saja, jika ada yang protes tentang hal ini, akan ayah pecat dengan mudah tanpa belas kasihan "
Yeo Chan bilekk:
" Yo wes mending meneng👍 "
Saat sopir membukakan pintu untuk ayah Yeo Chan, semua siswa melongo dan kagum sejadi jadinya.
Kemudian keluarlah Yeo Chan dari dalam mobil.
" Ayah, kenapa harus keluar!!? Se-sekarang ayah lebih baik masuk kembali saja, ayah bisa terlambat bukan ke kantor?? "
" Ayah itu Bos di kantor, banyak waktu senggang yang ayah miliki. Jadi hari ini, ayah akan mengantarmu sampai ke kelasmu "
" A-apa!!?? Ayah dengarkan aku kumohon "
Ayah Yeo Chan tidak mendengarkan anaknya, dirinya segera masuk kedalam sekolah.
Tampak kepala sekolah yang menyambut kedatangan Presdir Park yang datang tiba tiba.
" Selamat datang pak, kenapa bapak datang kemari? Maksud saya, apa yang bisa saya bantu?? "
" Saya datang kesini untuk mengantar anak saya Park Yeo Chan. Setelah dipikir pikir saya tidak pernah mengantar anak saya sendiri ke sekolah "
" Pa-Park Yeo Chan?? Park Yeo Chan anak anda?? "
" Benar. Kamu memperlakukan anak saya dengan baik, bukan? "
" Te-tentu saja, pak. Park Yeo Chan selalu kami perlakukan berbeda disini " Jawab kepala sekolah, padahal aslinya Park Yeo Chan selalu diperlakukan seperti murid lainnya, malah sering sekali disuruh suruh sama guru mentang mentang dia murid yang pintar.
" Baiklah, Yeo Chan dimana kelas kamu? "
" Ayah kumohon, sudah sampai disini saja ayah mengantarku. Ayah harus bekerja bukan? "
" Tidak, tidak apa apa. Ayah akan mengantarmu sampai ke depan kelasmu "
Tanpa basa basi ngak ngek ngok lagi, ayah Yeo Chan jalan menaiki tangga menuju lantai dua.
Yeo Chan hanya bisa mengikuti dari belakang dengan berusaha menghentikan ayahnya untuk ke kelasnya, namun sangat sulit.
Ditambah lagi dirinya menjadi pusat perhatian semua orang.
Sesampainya di kelas Yeo Chan, hahh entah apa yang Yeo Chan bisa katakan kepada ayahnya.
Di saat yang benar benar tepat, bisa bisanya keadaan di kelas waktu itu benar benar kacau balau. Tidak ada yang rapi sama sekali.
Ada yang nyanyi nyanyi pakai mic speaker yang dia bawa sendiri, ada yang lagi berantem, ada yang joget joget gak jelas, ada yang coret coret papan tulis, bahkan ada lohh yang mau ciuman.
Pokoknya ambruladul satu kelas, dan itu disaksikan oleh ayah Yeo Chan sendiri.
" A-ayah, tolong lupakan apa yang kamu lihat disini "
" APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!! "
" BERHENTI SEKARANG JUGA!!!!! "
Mendengar itu semua siswa langsung panik gak karuan, mereka berusaha untuk membersihkan kekacauan yang mereka lakukan.
Karena panik ada yang sampai kesandung, saling bertabrakan, dan meletakkan barang mereka sembarang tempat.
Seketika kelas yang awalnya rame kayak pasar jadi sepi kayak kuburan.
Bagi Yeo Chan ini adalah hal memalukan yang pernah dirinya alami. Tentu saja, jika kalian berada di posisinya sebagai ketua kelas di kelas itu, siapa coba yang gk malu.
Tapi karena sudah waktunya bersambung jadiiii... sampai jumpa!
Yeo Chan:
" Ini namanya Bencana Kelas. Kalian harus ingat! BENCANA KELAS PALING MEMALUKAN BAGI DIRIKU HWUAAA!! "
Bersambung...