
"Apa kau--menyukai Jieun?!"
Pertanyaan Minho seketika membuat Taemin tertegun di tempatnya. Ia bahkan merasa seolah jantungnya sempat terhenti selama 2 detik saat mendengarnya. Ia benar-benar tidak menyangka hyung-nya itu akan menanyakan hal seperti ini.
"Taemin~ah, jawab aku! Apakah kau menyukainya?" Tanya Minho lagi.
Taemin sendiri tidak menjawab. Bibir pemuda itu seolah kaku. Ia benar-benar tidak tau harus menjawab apa saat ini. Ia menatap mata Minho dalam.
Taemin sadar kalau hyung-nya ini begitu mencintai Jieun dan pasti akan merasa sangat terluka jika ia mengatakan yang sebenarnya. Tapi disisi lain, ia juga tidak ingin membohongi perasaannya sendiri kalau ternyata dirinya juga telah jatuh cinta pada gadis itu.
Melihat Taemin yang tidak menjawab membuat Minho seolah kehilangan tenaganya.
"Jadi benar kalau kau menyukai---"
"Apa kau sudah gila?" Ucap Taemin tiba-tiba membuat Minho menatapnya terkejut.
"Taemin~ah." Kata Minho tak percaya
"Apa kau sedang mempermainkanku?! Bagaimana mungkin aku bisa menyukainya kalau aku masih memiliki Ahra di dalam hatiku, hyung."
Tutur Taemin berbohong membuat Minho menatapnya tajam kemudian mendadak tersenyum lebar lalu dengan cepat mengalungkan tangannya ke leher adiknya itu.
"Mianhaeyo, adikku sayang! Tidak usah marah seperti itu!" Seru Minho seraya memperkuat perlakuannya.
"Aiish~jinjja! Hyuuuungg!! Sakitt! Mau mati, hah?!" Sahut Taemin tanpa sadar membuat Minho mendadak berhenti.
"Kau bilang apa?! Anak ini berani sekali kau mengancam hyung mu seperti itu!! Iissssh~" Desis Minho sembari kembali mengalungkan lehernya pada Taemin
"Arasseo!! Arasseo hyung!! Mianhae!! Mianhaaee!! Tolong lepaskan aku." Teriak Taemin sambil tertawa kecil membuat Minho akhirnya melepaskannya.
"Aah~hyung!! Kau ini benar-benar tega sekali! Aku hampir kehabisan nafas, tau!" Gerutu Taemin sambil memegang lehernya
Minho yang melihat itu bukannya menyesal malah tertawa puas karna merasa berhasil menganggu adik satu-satunya itu.
"Iya..iya, maaf!" Katanya akhirnya. "Oh iya! Besok kan hari libur? Bagaimana kalau kita bertiga pergi ke taman hiburan?! Bukankah selama disini kita belum pernah jalan-jalan?! Lagipula aku berencana untuk mengatakan perasaanku pada Jieun besok."
Taemin lagi-lagi tertegun mendengarnya namun cepat-cepat mengganti ekspresinya.
"Apa hyung sudah gila?! Untuk apa juga kau mengajakku di acara kencan kalian? Aku tidak ingin jadi nyamuk pengganggu! Membuatku malu saja!"
"Yang bilang itu acara kencan memangnya siapa? Bukankah sudah kubilang baru akan menyatakannya besok?! Aku hanya ingin kita bertiga bisa bersenang-senang!" Tutur Minho
"Pokoknya besok kau harus ikut! Aku tidak ingin membuat Jieun merasa tidak nyaman jika aku hanya berdua dengannya. Mengerti! Sekarang tidurlah!!" Kata Minho lagi seraya mengacak rambut Taemin lalu berjalan keluar dan akhirnya menghilang dari balik pintu.
Taemin memandang datar kearah pintu kamarnya cukup lama lalu akhirnya menghela nafasnya berat. Mendadak ia teringat sesuatu.
Sejujurnya, sejak kecil ia sudah tau kalau kakaknya itu menyimpan perasaan terhadap Jieun.
Hal inilah yang membuat Taemin terpaksa mengurungkan niatnya untuk mendekati gadis itu.
Ya benar.
Taemin bukannya baru menyadari perasaannya pada Jieun saat ini. Sebenarnya pemuda itu sudah juga sudah menyukai Jieun sejak masih kecil, bahkan sebelum Minho mengenal Jieun ia sudah lebih dulu jatuh cinta pada gadis itu.
Saat menyadari bahwa Minho diam-diam selalu memperhatikan Jieun ditambah lagi pernah menemukan hyung-nya itu mengigau dan mengatakan kalau ia menyukai Jieun membuatnya terpaksa memilih menyembunyikan perasaannya bahkan mulai menjauhi gadis itu.
Saat itulah ia bertemu dengan Ahra. Seorang gadis kecil yang begitu ramah.
Setiap kali Taemin merasa sedih, gadis itu akan selalu ada disampingnya. Sejak saat itulah Taemin dan Ahra selalu bersama. Kehadiran Ahra seakan menggantikan posisi Jieun dihari-harinya. Pikiran Taemin bahkan selalu tertuju padanya, membuat pemuda itu merasa bahwa Ahra adalah gadis yang diimpikannya.
Namun rupanya takdir berkata lain. Disaat Taemin berpikir Ahra adalah segalanya untuknya, Tuhan justru mengambilnya dan seolah menyadarkannya akan sesuatu.
Saat ia mencoba menutup matanya dan akhirnya mendapati wajah Jieun yang muncul disusul dengan debaran jantungnya yang tidak karuan seakan menyadarkan pemuda itu bahwa ternyata Ahra hanyalah gadis yang selama ini dipikirkannya, sedangkan ada orang lain yang sejak dulu mengisi hatinya.
Ahra mungkin bisa mengisi hari-harinya, namun gadis itu tidak dapat mengisi ruang hati Taemin. Karna ruang itu selamanya hanya dipenuhi oleh Jieun seorang, yang tidak lain adalah cinta pertamanya.
Dada Taemin terasa sesak saat ini membuatnya seolah begitu sulit untuk bernafas.
Mungkinkah Tuhan sedang mempermainkannya saat ini? Disaat Minho sudah begitu dekat dengan harapannya pada Jieun, Tuhan justru memunculkan kembali perasaan yang dulu sempat dikubur dalam-dalam oleh Taemin membuatnya harus kembali berbohong dan menahan sakit hatinya.
Taemin menghembuskan nafasnya berat, detik kemudian pemuda itu tersenyum miris dengan pandangan menerawang ke depan.
"Kau harus menjaganya dengan baik, hyung.."
♥♥♥
Sore ini tampak cukup cerah, tidak seperti hari kemarin dimana hujan terus menerus mengguyur kota Seoul.
"Oppa.." Ucap Jieun saat membuka pintu rumah lalu akhirnya mendapati Minho yang berdiri menunggunya. "Mianhaeyo oppa, kau pasti lama menungguku kan?!"
Minho tertawa kecil.
"Tidak juga. Lagipula rumahmu kan berada tepat di depan rumahku, jadi aku bisa menunggumu dengan tenang." Tuturnya membuat Jieun tersenyum. "Kau sudah siap kan?!"
Jieun mengangguk.
"Nde~aku sudah siap!"
"Baguslah..kalau begitu ayo! Taemin sudah menunggu di dalam mobil." Mereka baru saja berangkat sampai mendadak Jieun teringat sesuatu.
"Tunggu sebentar, aku lupa sesuatu. Sebentar saja~" Pekiknya lalu berlari masuk kembali kedalam rumah.
Tak lama kemudian gadis itu pun akhirnya kembali dengan sebuah jaket ditangannya.
"Ini kukembalikan." Katanya lalu memberikan jaket merah tersebut pada Minho.
Pemuda itu sendiri nampak terkejut melihatnya.
"Oh?! Ini kan jaket milikku yang--"
"Kau berikan padaku saat menolongku malam itu, kan!" Lanjut Jieun membuat Minho menatapnya. "Saat itu aku benar-benar tidak tau kalau orang itu adalah kau. Kalau saja aku tau, aku pasti bisa mengucapkan terima kasih lebih cepat. Jeongmal gamsahaeyo, oppa..kalau malam itu tidak ada kau, aku tidak tau lagi akan jadi seperti apa."
Minho tidak langsung merespon. Ia menatap Jieun cukup lama.
"Kau__tau darimana kalau aku pemilik jaket ini?"
"Hm? Taemin oppa. Dia memberitahuku semuanya." Jawab Jieun seraya tersenyum
"Taemin? Apa hanya itu yang diceritakannya padamu?!"
Pertanyaan Minho membuat Jieun menatapnya curiga.
"Iya. Memangnya ada yang lain?"
Minho tidak menjawab. Detik berikutnya ia menggeleng sambil tersenyum.
"Aniya. Bukan apa-apa. Ayo berangkat!" Serunya kemudian menarik tangan Jieun menuju mobil.
♥♥♥
Setelah melalui perjalanan yang cukup lama mereka pun akhirnya tiba di Taman hiburan tujuan mereka. Walaupun akhir-akhir ini hujan sering turun, hal itu rupanya tidak mengurangi minat orang-orang untuk datang ke tempat tersebut. Kenyataannya tempat itu begitu ramai saat ini.
Satu per satu wahana permainan di tempat itu mereka jelajahi. Namun sejujurnya hanya Minho dan Jieun lah yang menikmatinya, itu karna Taemin lebih memilih tinggal diluar selama keduanya bermain. Ia tidak ingin menganggu kesenangan kedua orang itu, apalagi Minho sudah mengatakan kalau dirinya akan menyatakan perasaannya pada Jieun hari ini.
Dia tidak ingin mengacaukan rencana yang dibuat oleh hyung-nya dengan berada di dekat gadis itu. Lebih tepatnya ia sendiri tidak ingin mendengarnya.
"Bagaimana kalau kita makan dulu? Setelah itu baru kita lanjutkan lagi bermainnya?" Usul Minho saat mereka tengah beristirahat.
"Hmm..sepertinya itu ide yang bagus. Aku setuju!" Seru Jieun senang. Minho memandang kearah Taemin yang hanya dijawab anggukan oleh pemuda itu.
Mereka pun akhirnya tiba di sebuah rumah makan sederhana yang tidak jauh dari sana. Sesampainya di tempat itu mereka langsung memesan makanan di samping kasir.
"Chogi..apa kentang gorengnya masih ada?" Tanya Jieun pada salah satu pelayan saat ia sedang memilih pesanannya.
Pelayan itu menunduk pelan.
"Maaf, tapi untuk kentang gorengnya baru saja habis." Sesalnya
Wajah Jieun seketika terlihat murung mendengar hal tersebut. Padahal ia berharap bisa makan itu hari ini. Itu karna ia memang sangat suka dengan kentang goreng. Tapi yah, mau bagaimana lagi. Ia pun akhirnya tersenyum kecil pada pelayan tersebut.
"Gwencana, terima kasih!" Ucapnya lalu menerima nampan yang berisi pesanannya.
Disisi lain Taemin yang menyaksikan itu sesaat menatap piringnya, detik kemudian ia mengambil sebungkus kentang goreng miliknya dan berniat memberikannya pada gadis itu. Namun langkahnya terhenti saat melihat Minho. Pemuda itu sepertinya juga baru saja selesai memesan.
"Hyung..berikan ini pada Jieun!" Ucap Taemin seraya menyodorkan kentang tersebut pada Minho. Pemuda itu sendiri terlihat bingung.
"Jieun? Memangnya dia kenapa?!" Tanya Minho tidak mengerti
"Berikan saja." Jawab Taemin singkat lalu berniat pergi namun menghentikan langkahnya sesaat. "Dan jangan biarkan dia mengambil sambal terlalu banyak." Tambahnya
Minho sendiri memandangnya heran. Namun melihat Jieun ia pun akhirnya mendekati gadis itu.
Tepat saat Jieun berniat kembali ke tempat duduknya, seseorang tiba-tiba saja menaruh sebuah bungkusan yang berisi kentang goreng diatas piringnya.
"Minho oppa.." Ucapnya sedikit terkejut.
Minho sendiri menatapnya dalam. "Waeyo? Apa kau tidak suka?"
"Aniya. Aku justru sangat menyukainya. Tapi bagaimana denganmu?"
"Aku tidak begitu suka dengan kentang.."
"Lalu kenapa kau memesannya?" Pertanyaan Jieun membuat Minho mematung sesaat. Jujur saja ia tak tau harus menjawab apa.
Apa mungkin ia harus mengatakan kalau Taemin lah yang memberikan itu padanya?
"Sudahlah. Kalau suka ya makan saja..tapi kalau tidak mau ya sudah, sini!" Ucap Minho pura-pura berniat mengambilnya kembali namun dengan sigap ditarik oleh Jieun.
"Mianhaeyo oppa..aku mengerti!" Seru Jieun cepat membuat Minho memandangnya terkejut. "Jeongmal gomawoyo, oppa~"
Minho tidak menjawab. Detik berikutnya ia mengikuti Jieun yang berjalan kearah pengambilan saus. Mata pemuda itu membulat saat menyadari gadis itu mengambil begitu banyak saus sambal.
"Jieun~ah..apa itu tidak berlebihan?" Tanya Minho heran
"Wae..waeyo?!" Tanya Jieun seraya menatapnya.
"Yaa~bukankah kau tidak boleh makan banyak sambal?!"
"Memangnya kena--?" Ucapan Jieun mendadak terhenti. Gadis itu akhirnya ingat sesuatu.
"Ah benar! Mian..aku memang sering lupa kalau aku punya penyakit maag. Jeongmal gomawoyo, oppa! Karna sudah mengingatkanku! Ayo!" Kata Jieun seraya tersenyum senang kemudian berjalan pergi.
Minho sendiri memandang punggung Jieun yang mulai menjauh. Semua yang baru saja ia alami seolah membuatnya sadar akan sesuatu. Detik berikutnya pemuda itu tertawa kecil.
Jadi Taemin mengetahui semuanya?
♥♥♥
Setelah kembali ke Taman hiburan, mereka akhirnya memutuskan untuk naik bianglala. Rupanya banyak juga orang yang ingin menggunakan wahana tersebut, itu sebabnya mereka harus menunggu terlebih dulu. Dan setelah cukup lama mengantri giliran mereka pun akhirnya tiba. Ketiganya baru saja berniat masuk kedalam sampai Minho tiba-tiba berhenti.
"Tunggu! Dompetku tidak ada!" Serunya membuat Taemin dan Jieun menatapnya terkejut
"Bagaimana mungkin? Coba cari lagi, hyung!" Ucap Taemin khawatir
"Permisi..tapi kalau bisa tolong segera naik karna orang lain sedang menunggu antrian." Ucapan petugas wahana membuat ketiganya sedikit tersentak.
"Ah! Aku ingat! Sepertinya aku tidak sengaja meninggalkannya di tempat pembelian tiket!" Seru Minho tiba-tiba membuat Taemin dan Jieun tersenyum lega
"Benarkah? Kalau begitu ayo kita kesana!" Seru Jieun berniat pergi namun ditahan oleh Minho.
"Aiish~kalian ini..biar aku saja yang mengambilnya sendirian! Kalian naiklah lebih dulu!"
Taemin menatapnya terkejut.
"Apa maksudmu hyung?! Mana mungkin kami masuk tanpamu?"
Minho menatapnya sebentar. Detik berikutnya ia membelalakkan matanya.
"Ah! Bagaimana kalau kalian masuk dulu, nanti aku akan membeli ulang tiketnya. Dengan begitu saat kembali aku bisa langsung ikut kalian dan main untuk kedua kalinya."
Ucapan Minho membuat Taemin berpikir sesaat, apa yang dikatakan kakaknya itu sepertinya boleh juga. Akhirnya ia pun mengangguk dan akhirnya masuk kedalam bianglala bersama dengan Jieun. Setelah itu Minho pun bergegas menuju tempat pembelian tiket.
Sunyi sepi. Itulah suasana yang terjadi di dalam bianglala milik Taemin dan Jieun. Keduanya sama sekali belum berkata apa-apa sejak tadi.
Tepat saat Taemin berbalik kearah Jieun, tanpa sengaja dirinya melihat ada yang aneh dengan gadis itu. Dan saat memperhatikannya dengan seksama, ia akhirnya menyadari sesuatu.
"Kau..baik-baik saja?!" Tanya Taemin khawatir
Jieun tidak langsung menjawab. Melihat itu akhirnya membuat Taemin memberanikan diri memegang tangannya. Betapa terkejutnya Taemin saat menyentuh tangan Jieun. Tangan gadis itu dingin dan gemetar.
"Ak..aku lumayan takut pada ketinggian."
Mendengar hal itu seketika membuat Taemin pindah dari posisi yang sebelumnya duduk di depan kini duduk disamping Jieun. Taemin menatap Jieun yang masih menunduk, detik berikutnya akhirnya ia mendekap tubuh gadis itu pelan.
Jieun bisa merasakan jantungnya yang berdetak tidak seperti biasanya. Ini adalah kedua kalinya ia merasakan hal ini selama hidupnya. Kini ia benar-benar tidak bisa mengingkari lagi hatinya sendiri. Ia benar-benar belum bisa melupakan Taemin hingga saat ini.
"Waeyo..?" Ucapnya tiba-tiba membuat Taemin melepaskan pelukannya perlahan. Ia menatap Jieun yang masih memandang ke depan.
"Kenapa gadis sepertiku harus mengalami hal seperti ini?"
"Apa..maksudmu..?" Tanya Taemin khawatir
"Kenapa dulu Tuhan tidak membiarkanku mati saja bersama dengan orang tua dan eonni-ku? Kenapa harus membiarkanku tetap hidup dengan semua beban ini?" Ucap Jieun
"AKU MENYUKAIMU!!"
Mendengar ucapan Jieun barusan membuat Taemin seketika tertegun di tempatnya.
Ia menatap gadis dihadapannya itu dalam-dalam.
"Dulu dan saat ini--aku selalu menyukaimu. Aku yang selalu mengangumimu saat melihatmu menari sendirian di taman dan berharap suatu hari nanti bisa bersama denganmu. Apa kau tau seperti apa rasanya jika kita menyukai orang yang disukai oleh saudara sendiri? Berusaha mengabulkan permintaannya yang jelas-jelas kau tau nantinya hanya akan membuatmu sakit hati. Apa kau tau bagaimana sulitnya melupakan seseorang yang sudah kita sukai sejak masih kecil?" Tutur Jieun suara bergetar
Taemin sendiri tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memandang wajah gadis dihadapannya itu dengan tatapan nanar.
"Saat itu mungkin aku belum mengerti cinta, tapi memutuskan sebuah hubungan yang terjalin sejak kecil tidak semudah yang kau pikirkan, Taemin~si. Apa kau tau bagaimana rasanya menyembunyikan semua itu selama bertahun-tahun ini? Aku mungkin lebih baik mati daripada harus terus merasakan sakit seperti ini."
Taemin memandangnya terkejut. "Kau sudah gila?! Bagaimana dengan---"
"Dengan siapa?" Sela Jieun membuat ucapan Taemin terhenti.
"Siapa lagi yang harus kupertahankan disini..? Appa..eomma sudah meninggalkan aku. Amanah yang diberikan oleh Ahra eonni juga sudah kusampaikan padamu. Lalu menurutmu apa lagi alasanku untuk tetap disini..?" Tanyanya memandang Taemin yang terdiam ditempatnya.
"Oppa..bolehkah aku bertanya satu hal padamu? Kali ini bahkan jika kau berbohong untuk membuatku merasa senang, aku tidak akan marah. Aku hanya ingin mendengarnya sekali saja darimu." Tutur Jieun lagi. Taemin berbalik menatapnya.
"Apa pernah selama kita bersama, kau pernah sekali saja menyukaiku?"
Pertanyaan Jieun membuat Taemin seketika tercekat mendengarnya. Jantungnya serasa mencelos keluar. Kenapa juga gadis itu harus menanyakan hal seperti ini. Kenapa ia harus menanyakan sesuatu yang jelas-jelas nantinya hanya akan membuatnya terluka.
"Apa kau pikir perasaanku pada Ahra hanya sebuah lelucon?!" Ucap Taemin akhirnya.
"Aku mencintai Ahra, entah itu dulu..saat ini dan selamanya. Aku sama sekali tidak pernah menyukaimu. Maaf. "
Jieun tidak dapat menahan airmatanya lebih lama lagi. Matanya yang sejak tadi merasa panas kini meneteskan butiran-butiran airmata yang kemudian membasahi pipi mungilnya.
Gadis itu menyesali sikapnya yang begitu bodoh. Kenapa juga ia harus bertanya sesuatu yang jelas-jelas ia tau apa jawabannya. Hatinya benar-benar sakit mendengar pernyataan langsung yang terlontar dari Taemin.
Tepat saat itu pula bianglala yang mereka naiki akhirnya berhenti dan saat pintu terbuka Taemin segera berjalan keluar meninggalkan Jieun yang masih berada dalam bianglala. Pemuda itu mengepalkan tangannya kuat, airmatanya menetes pelan namun ia tetap berjalan ke depan. Bagaimanapun juga ia tidak boleh berbalik, karna jika ia berbalik dirinya tidak yakin bisa bertahan seperti saat ini. Hal terbaik saat ini hanyalah meninggalkan Jieun.
Maafkan aku.
♥♥♥
Taemin menatap miris dancing doll dihadapannya. Bayangan wajah Jieun saat menangis tadi kembali terlintas di benaknya. Mengingat itu seketika kembali membuat hatinya kembali terasa sakit. Untuk kesekian kalinya ia harus membuat gadis yang dicintainya kembali meneteskan airmata karenanya.
Tepat saat itu pintu kamarnya mendadak terbuka. Nampak Minho yang menatapnya tajam dari arah pintu. Pemuda itu lalu berjalan menghampiri Taemin.
"Hyung...apa yang kau---"
Taemin tak sempat menyelesaikan kalimatnya karna Minho sudah lebih dulu melayangkan pukulan kearahnya dan tepat mengenai pelipisnya hingga jatuh di atas meja belajar.
Belum sempat Taemin berdiri Minho kembali menarik kerah adiknya itu lalu kembali memukulnya hingga akhirnya jatuh menabrak lampu kamar disamping tempat tidurnya membuat dancing doll yang terdapat disebelahnya jatuh ke lantai.
"Bagaimana?! Apa kau sudah puas? KENAPA TIDAK SEKALIAN MEMBUNUHKU SAJA, HYUNG!!"
Bentak Taemin membuat Minho kembali menarik bajunya dan berniat memukul adiknya itu hingga akhirnya menghentikan dirinya. Ia pun melepaskan genggamannya pada Taemin.
Taemin menyentuh sudut bibirnya yang kini mengeluarkan darah. Ia tau suatu hari hyung-nya pasti akan melakukan ini padanya cepat atau lambat.
"Apa kau benar-benar menyukai Jieun?!" Tanya Minho akhirnya
"Tidak." Jawab Taemin cepat membuat Minho membelalakkan matanya
"Dalam keadaan seperti ini kau masih ingin berbohong?! Kau ini benar-benar..."
"Lalu apa?! Jika aku mengatakan bahwa aku menyukai Jieun, apa yang akan kau lakukan?! Apa kau akan membunuhku?! Atau kau akan menyerahkannya padaku?! Menyerahkan cinta pertamamu yang sudah sejak 8 tahun lalu kau tunggu! APA SEPERTI ITU, HAH?!"
Pertanyaan Taemin membuat Minho tertegun. Ia sama sekali tidak tau harus menjawab apa saat ini. Dalam hatinya jujur saja ia merasa sakit hati mengetahui kenyataan bahwa Taemin ternyata benar-benar menyukai Jieun, tapi jujur saja ia juga tidak berniat merelakan gadis itu padanya. Ia masih berharap dapat mempertahankan gadis itu.
"Aku akan pergi." Ucap Taemin tiba-tiba, membuat Minho menatapnya heran.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan pergi dari sini. Aku akan kembali ke Amerika. Jadi kau tidak usah khawatir, aku tidak akan menganggu hubungan kalian lagi. Lagipula tujuanku disini sudah tercapai, aku sudah menemukan Ahra. Walaupun berbeda dari perkiraanku." Ucap Taemin berusaha tersenyum.
"Aku sudah memesan tiket pesawat. Besok aku berangkat pagi-pagi." Ucap Taemin lagi lalu berniat keluar dari kamar sampai panggilan Minho menghentikan langkahnya.
"Taemin~ah..kenapa kau melakukan semua ini?" Tanya Minho seraya membelakangi Taemin
"Mudah saja. Itu karna aku menyayangi kalian semua." Ucap Taemin lalu berjalan meninggalkan Minho yang masih mematung di tempatnya.
♥♥♥
Taemin akhirnya tiba di bandara. Pemuda itu sengaja pergi pagi-pagi tanpa memberitahu Minho lebih dulu karna ia tidak ingin kalau kakaknya itu mengantar kepergiannya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah secepatnya pergi dari sini. Agar ia bisa melupakan semua masalah yang ada, dan berharap dapat melupakan Jieun. Semoga saja.
Panggilan untuk penerbangan menuju Amerika kini telah berbunyi. Taemin pun akhirnya bangkit dari tempatnya. Selama beberapa saat ia memandangi sekelilingnya, ia ingat dulu sewaktu kecil saat dirinya harus pergi ke Amerika, Ahra dan keluarnya ikut mengantar kepergian mereka di bandara. Saat itu ia bisa menyadari kalau Jieun sedang menangis dari kejauhan.
Walaupun gadis itu berusaha menyembunyikan tangisannya, sejujurnya Taemin bisa melihatnya dengan jelas. Pemuda itu bahkan sangat ingin menghampiri Jieun tapi terpaksa mengurungkan niatnya saat melihat Minho yang lebih dulu menghampirinya. Saat itu ia bahkan tidak berpamitan pada Jieun sebelum pergi dan sepertinya saat ini hal tersebut akan terulang kembali. Ia harus pergi tanpa berpamitan bahkan tanpa melihat gadis itu lebih dulu.
Taemin menatap pintu keberangkatan yang kini sudah berada di depan matanya. Pemuda itu pun menghembuskan nafasnya pelan kemudian tersenyum lebar. Detik berikutnya ia pun berjalan masuk.
Kuharap suatu hari nanti kita akan bertemu kembali, Jieun~ah.
♥♥♥
Jieun yang masih tertidur lelap mendadak terbangun saat mendengar handphone-nya yang berdering.
"Halo.." Ucapnya setengah sadar.
"Oh?! Mianhae..aku menganggu tidurmu yah?!" Kata orang diseberang telpon yang tidak lain adalah Minho.
"Aniyo, oppa. Gwencana..memangnya ada apa menelponku pagi-pagi begini?" Tanya Jieun
Minho terdiam sesaat. "Jieun~ah..Taemin akan pergi hari ini."
"Apa maksudmu? Memangnya Taemin oppa mau kemana?" Tanya Jieun lagi. Kali ini ia duduk diatas tempat tidurnya
"Dia..akan kembali ke Amerika. Dan tidak ingin kembali kesini lagi."
Ucapan Minho seketika menyadarkan Jieun sepenuhnya.
"Mwo..mworago?" Ucap Jieun seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan
"Jieun~ah..ada yang harus kukatakan padamu."Jieun tidak menyahut namun Minho tetap melanjutkan ucapannya.
"Jaket merah yang kau berikan padaku, itu memang adalah milikku. Tapi orang yang menolongmu malam itu...bukanlah aku. Melainkan Taemin." Ucapan Minho membuat Jieun terpaku di tempatnya
"Apa maksudmu?"
"Malam itu Taemin berniat pergi ke Mini market, tapi karna sweater miliknya kotor jadi ia terpaksa meminjam jaket milikku. Saat pulang aku sempat bertanya dimana jaket milikku dan ia akhirnya menceritakan semuanya padaku. Tapi saat itu ia benar-benar tidak tau kalau gadis itu adalah kau. Dan juga..yang satu ini mungkin terdengar biasa bagimu. Tapi aku hanya ingin kau tau, kemarin malam orang yang sebenarnya menyuruhku untuk memberikan kentang goreng padamu itu juga adalah Taemin. Anak itu bahkan menyuruhku agar mengingatkanmu agar tidak terlalu banyak mengambil saus sambal. Karna sejujurnya saat itu aku benar-benar tidak tau kalau kau punya penyakit maag." Tutur Minho
"Lalu..kenapa dia mengatakan hal sebaliknya padaku?" Tanya Jieun tidak mengerti
"Itu karna dia menyukaimu, Jieun~ah." Jantung Jieun serasa mencelos saat mendengar perkataan Minho. Gadis itu berharap dia hanya salah mendengarnya.
"Mw..mwo? Jangan bercanda, oppa. Jelas-jelas dia mengatakan kalau..."
"Dia sengaja berbohong. Anak itu..dia sengaja melakukannya karna ingin menyatukanmu denganku."
Jieun semakin tidak mengerti. "Menyatukan?"
"Karna dia tau bahwa aku menyukaimu, Jieun~ah." Jieun lagi-lagi terpaku di tempatnya. Ia bahkan tidak tau harus merespon seperti apa saat ini.
"Itu benar. Aku menyukaimu, Lee Jieun. Dan itu kulakukan sejak pertama kali aku mengenalmu. Saat pertama kali Taemin memperkenalkanmu padaku, saat itulah aku begitu senang bisa bertemu denganmu. Aku selalu berharap bisa menjadi orang yang berarti bagimu. Aku selalu berusaha agar selalu ada di dekatmu untuk menemanimu. Saat itu aku sadar, pandanganmu hanya terarah pada Taemin. Awalnya aku berpikir suatu saat aku pasti bisa mengubah pandanganmu dan beralih padaku, tapi ternyata dugaanku salah. Kini bukan hanya pandanganmu semata, tapi hatimu benar-benar sudah tertutupi oleh Taemin seorang dan tidak ada ruang lagi yang tersisa untuk orang lain." Ujar Minho
"Oppa...aku..." Jieun tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia benar-benar tidak menyangka semua hal ini. Selama ini dirinya berpikir bahwa Minho hanyalah menganggapnya seperti seorang adik, namun ternyata dugaannya salah besar. Pemuda itu justru mencintainya.
"Kejar dia, Jieun~ah.." Ucap Minho tiba-tiba. "Jangan biarkan Taemin pergi. Beritahu padanya kalau kau membutuhkannya. Jangan pernah membiarkan kesempatan yang ada ini hilang begitu saja. Kesempatan kedua mungkin ada, tapi tidak semua orang beruntung bisa mendapatkan hal itu. Karna itu kejar dia..Aku percaya padamu, Jieun~ah." Seru Minho dari seberang telpon kemudian memutuskan sambungan.
Tanpa membuang waktu lagi Jieun pun berlari keluar, gadis itu bahkan tidak sempat berganti pakaian. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Taemin. Ia harus menghentikan pemuda itu sebelum terlambat.
♥♥♥
Jieun akhirnya tiba di bandara. Sesampainya disana ia langsung berlari kesana kemari. Beberapa tempat sudah didatanginya tapi ia tetap tidak dapat menemukan sosok Taemin. Saat gadis itu mulai panik, tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Ia pun dengan cepat berlari menuju ruang informasi.
Sesampainya Jieun disana, ia langsung meminta izin pada petugas agar ia dibolehkan untuk menggunakan mic informasi untuk memanggil seseorang. Awalnya bagian informasi tidak menyetujui hal tersebut namun karna gadis itu terus memohon bahkan sampai berlutut akhirnya mereka pun mengiyakan.
"Taemin oppa..apa kau masih ada diluar sana?! Kalau kau benar-benar mendengarku, tolong datanglah ke sumber suara ini. Kumohon jangan pergi! Aku membutuhkanmu disini..Jangan tinggalkan aku seperti dulu lagi. Saranghaeyo, oppa..."
Jieun mengakhiri kalimatnya. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ini adalah jalan terakhir yang dapat ditempuhnya. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang mengatakannya aneh karna telah mengungkapkan isi hatinya melalui speaker informasi.
"Permisi, aku ingin bertanya..pesawat dengan penerbangan menuju Amerika apa sudah berangkat?!" Tanyanya pada Nona petugas informasi.
Petugas itu terlihat mengecek komputernya. Detik kemudian ia tersenyum sambil mengangguk pelan. "Nde. pesawat tersebut sudah berangkat setengah jam yang lalu."
Tubuh Jieun seketika lemas saat mendengar ucapan petugas tersebut. Hilang sudah harapannya untuk menghentikan pemuda itu. Semuanya seolah tidak ada gunanya lagi.
"Gamsahamnida." Ucap Jieun seraya menunduk pelan pada orang-orang di bagian informasi. Dengan langkah gontai Jieun kembali berjalan tanpa arah. Detik berikutnya gadis itu jatuh terduduk di lantai. Berakhir sudah, kini harapan terakhirnya juga sudah hilang. Kesempatan yang Minho katakan kini tidak mampu ia pertahankan. Taemin benar-benar sudah kembali ke Amerika. Airmata kini kembali menetes membasahi pipi gadis itu. Hatinya benar-benar sakit mengingat semua yang terjadi.
"Bangunlah!" Ucapan seseorang seketika menghentikan isakan Jieun. Suara yang begitu dikenalnya kini terdengar jelas di telinganya. Alih-alih ia menemukan seseorang yang kini berdiri di depannya, dan betapa terkejutnya ia saat menyadari kalau orang tersebut tidak lain adalah Taemin. Pemuda itu ternyata tidak pergi.
Jieun yang melihat itu seketika bangkit dari tempatnya dan langsung memeluk tubuh Taemin, membuat pemuda itu terkejut hingga melepaskan kopernya.
"Jieun~ah.."
"Bodoh!! Apa kau tau bagaimana khawatirnya aku tadi?! Aku pikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi! Kupikir kau benar-benar meninggalkan aku!!" Pekik Jieun seraya memukul pelan punggung Taemin. "Kumohon jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendirian seperti dulu lagi, oppa.." Isaknya seraya masih memukul punggung Taemin.
Tiba-tiba saja Taemin melepaskan tubuh gadis itu kemudian memegangi kedua tangannya. Ia menatap lama wajah Jieun yang kini tepat dihadapannya. Detik berikutnya pemuda itu mencondongkan tubuhnya dan langsung mengecup bibir Jieun.
Jieun yang mencoba melepaskan tubuhnya tidak dapat melakukannya karna Taemin yang menahan kedua tangannya, akhirnya ia pun mengalah dan membiarkan Taemin melakukannya. Beberapa orang kini menatap kearah mereka, namun Taemin sama sekali tidak peduli akan hal itu.
Setelah beberapa saat akhirnya Taemin pun melepaskan ciumannya.
"Kau ini terlalu banyak bicara!" Ucap Taemin membuat Jieun menatapnya
"Mwo?"
"Apa kau tidak malu mengungkapkan isi hatimu melalui speaker informasi?!" Taemin menatapnya takjub
Jieun menggeleng pelan. "Aniyo. Saat itu yang kupikirkan hanyalah bagaimana bisa menemukanmu. Terutama saat aku bertanya pada petugas tentang keberangkatan pesawat..Ah! benar!!" Gadis itu mendadak teringat sesuatu. "Bagaimana kau bisa berada disini? Bukankah pesawatnya sudah berangkat setengah jam yang lalu?"
Taemin menatapnya datar. "Itu juga yang sedang kupikirkan saat ini. Tadi saat berniat memasuki pintu keberangkatan mendadak aku tidak bisa menemukan tiket milikku. Padahal jelas-jelas aku ingat sudah memasukkannya ke dalam tas semalam." Ujarnya membuat Jieun ikut menatapnya.
Saat itulah hp Taemin mendadak bergetar. Sebuah sms berhasil diterimanya.
"Oh?! Dari Minho hyung.." Ucap Taemin lalu membuka pesan tersebut diikuti Jieun disampingnya
Saat kau membaca ini kau mungkin sudah bersama dengan Jieun kan?! Baguslah kalau begitu! Taemin~ah, kau tidak perlu kembali ke Amerika, karna sekarang aku sudah lebih dulu menuju kesana.
"MWO?!!" Taemin dan Jieun saling menatap satu sama lain. Kemudian melanjutkan membaca pesan tersebut.
Tidak usah terkejut! Apalagi merasa bersalah. Aku tidak pergi karna ingin menghindari kalian. Aku pergi karna aku merindukan Appa dan Eomma. Dan akan kembali minggu depan.
Taemin~ah, mianhae..sebenarnya sejak dulu aku sudah tau kalau kau menyukai Jieun.
Taemin dan Jieun lagi-lagi terkejut melihat isi pesan tersebut. Mereka berdua saling menatap sesaat kemudian kembali membacanya.
Aku tau kalau kau sengaja berpaling darinya karna menyadari hyung-mu ini menyukainya. Tapi bukannya mengalah aku justru terus berpura-pura tidak tau tentang hal itu. Kalau saja bukan karnaku, kau pasti tidak perlu terluka selama 8 tahun ini. Maafkan aku, Taemin~ah. Mulai sekarang berhentilah membohongi dirimu sendiri. Katakan apa yang ada didalam hatimu, bukanhanya yang ada di pikiranmu. Memikirkan orang lain memang baik, tapi kau juga harus menjaga hatimu, jangan biarkan ia terluka. Karna disaat hatimu terluka, maka ada hati lain yang juga akan ikut terluka.
Ada satu hal lagi yang ingin kuberitahukan padamu. Dancing doll itu sebenarnya bukan dari Ahra, melainkan dari Jieun. Kau bisa menanyakan langsung padanya. Ah! Dan juga..soal tiket itu! Mianhae..hyung sengaja mengambilnya agar kau tidak jadi ke Amerika. Kekeke~ :P
Taemin tertawa kecil lalu menurunkan handphone-nya. Detik berikutnya airmata mendadak menetes di pipinya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata selama ini Minho mengetahui perasaannya pada Jieun.
Jieun yang melihat Taemin seketika mengusap airmata pemuda itu dengan tangannya. Ternyata pemuda itu belum berubah. Ia tau, sekeras dan sedingin apapun sikap seorang Taemin ia pasti akan menangis saat tersentuh oleh ucapan dari orang-orang yang disayanginya.
Taemin memegang tangan Jieun yang sedang mengusap airmatanya. Pemuda itu menatap Jieun cukup lama lalu kemudian mengeluarkan sebuah dancing doll dari dalam tasnya.
Jieun yang melihat itu seketika tersenyum senang. "Oh?! Kau masih menyimpannya?!!" Kata Jieun girang. Saat menyadari apa yang dilakukannya barusan ia pun diam seketika.
"Kenapa diam? Jadi benar, kalau orang yang memberikan ini padaku sebelum pergi ke Amerika adalah kau? Dan bukan Ahra?!" Tanya Taemin berusaha memastikan
Jieun sendiri tampak terkejut mendengarnya. Dia tau, Minho pasti sudah mengatakan yang sebenarnya pada pemuda itu. Dan tidak ada lagi alasan untuk berbohong. Ia pun mengangguk pelan.
"Lalu kenapa kau menyuruhnya mengatakan ini dari Ahra?!"
"Itu karna aku takut..kau tidak akan mau menerimanya jika tau itu adalah pemberianku. Lagipula aku sama sekali tidak tau kalau ternyata kau juga..." Jieun menghentikan kalimatnya
Sebuah kecupan singkat tiba-tiba saja mendarat di bibir mungil Jieun membuat gadis itu membelalakkan matanya terkejut.
"Ap..apa yang kau lakukan?!" Katanya terbata
"Itu adalah hadiahku untukmu. Kau tau, mencintai seseorang diam-diam mungkin terdengar egois, tapi terkadang hanya dengan keegoisan seperti itulah kita dapat mempertahankan senyuman seseorang. " Ucap Taemin seraya tersenyum lebar.
Jieun menatapanya dalam. Ia mengerti maksud perkataan Taemin. Karna apa yang dilakukannya selama ini sebenarnya sama saja dengan yang dilakukan oleh pemuda itu. Sana-sama menyembunyikan perasaan sendiri, demi orang-orang yang mereka sayangi.
Taemin lalu menarik Jieun dalam dekapannya.
"Mianhae. Saat ini aku tidak bisa memberikan apa-apa padamu. Jadi aku hanya bisa memberikan itu untukmu. Tapi aku janji, suatu hari nanti aku akan memberikan hadiah yang paling istimewa untukmu. Karna itu tetaplah disampingku."
"Gwencana. Memelukmu seperti sekarang saja sudah merupakan hadiah yang paling indah untukku." Tutur Jieun tersenyum seraya membalas pelukan Taemin.
"Benarkah?! Kalau begitu jangan pernah melepaskannya! Kemanapun kita pergi, kita harus berpelukan seperti ini!!" Canda Taemin lalu berjalan kesana kemari sambil terus memeluk Jieun. Ia sendiri hanya dapat tertawa kecil melihat apa yang dilakukan oleh pemuda dihadapannya ini.
-Kotak musik yang mengawali perpisahan itu, namun boneka menari inilah yang kembali menyatukan sekaligus mengakhiri cerita ini.