Music Box & Dancing Doll (SHINee Taemin - Minho)

Music Box & Dancing Doll (SHINee Taemin - Minho)
The Truth



"Oppa." Ucapan seseorang menyadarkan Taemin.


Nampak IU yang kini seolah ikut terpaku melihat kearahnya saat ini.


Taemin berbalik kearah gadis itu.


"Kau..."


IU bisa merasakan kekesalan dan kebencian yang terpancar dari wajah Taemin saat ini. Tadi ia sempat terbangun saat melihat sosok yang berdiri di depan meja belajarnya dan seketika terkejut saat menyadari orang itu tidak lain adalah Taemin.


Ditambah lagi pemuda itu sedang memegang kotak musik milik Ahra kakaknya, saat itulah ia sadar kalau Taemin sudah tau segalanya.


Tanpa mengatakan apa-apa Taemin langsung berjalan keluar kamar, disusul dengan IU yang mengikutinya dari belakang. Gadis itu tau kalau Taemin pasti salah paham saat membaca diary miliknya dan ia harus menjelaskan semuanya.


Keduanya kini berada di halaman depan rumah IU. Setelah berkali-kali berusaha akhirnya IU berhasil membuat Taemin berhenti. Ia sama sekali tidak peduli dengan hujan lebat yang kini membasahi mereka, karna baginya yang terpenting saat ini hanyalah menjelaskan semuanya pada pemuda itu.


"Ada apa lagi?!" Bentak Taemin seraya menepis tangan IU kasar.


"Mau membohongiku tentang apa lagi? Apa menyembunyikan keberadaan Ahra dariku belum membuatmu merasa puas?! Aku seperti orang bodoh mencari-cari orang yang jelas-jelas sudah berada di depan mataku, tapi kau justru membohongiku dan berpura-pura seolah kau baru mengenalku?! Apa rasanya menyenangkan saat mempermainkan aku, LEE JIEUN?!"


IU masih berusaha menjelaskan. "Oppa dengarkan aku dulu. Aku sama sekali tidak bermaksud--"


"Apa kau menyukai-ku?!" Pertanyaan Taemin membuat IU mematung seketika. Gadis itu sama sekali tidak bisa menjawab.


Detik berikutnya Taemin tiba-tiba saja menarik tubuhnya kemudian mengecup bibir gadis itu kasar, membuat IU terkejut dan seketika berusaha melepaskan tubuhnya namun Taemin malah memperdalam ciumannya. IU yang terus berusaha memberontak akhirnya berhasil melepaskan dirinya.


"Bagaimana? Sudah cukup puas?!" Ucap Taemin santai namun IU justru menatapnya heran. Detik berikutnya airmatanya menetes, ia menatap Taemin tidak percaya.


"Sekarang katakan dimana, Ahra? Setelah itu aku akan memenuhi apapun yang kau inginkan-"


Sebuah pukulan keras tiba-tiba saja mendarat tepat di pipi kanan Taemin membuat namja itu seketika jatuh tersungkur di tanah.


"Hyung?" Ucap Taemin seraya menyentuh pinggiran bibirnya yang berdarah saat mendapati orang yang memukulnya ternyata tidak lain adalah Minho.


IU sendiri tidak mengatakan apa-apa dan langsung berlari meninggalkan tempat itu.


♥♥♥


IU akhirnya tiba di tempat tujuannya. Tempat yang tidak lain adalah makam Ayah,Ibu dan Kakak perempuannya. Tidak ada seorang pun disana. IU terus berjalan sampai akhirnya terhenti pada 3 nisan yang sejajar. Ia lalu duduk di samping salah satu nisan tersebut. Detik berikutnya ia memeluk batu tersebut.


Kejadian saat berada di depan rumahnya kembali terlintas. Airmata jatuh menetes membasahi pipi mungil IU. Ia sama sekali tidak menyangka Taemin akan bersikap seperti itu padanya. Hatinya benar-benar sakit saat mendengar ucapan namja itu yang seolah memandangnya begitu rendah.


Dinginnya air hujan yang membasahi tubuhnya seolah menambah pilu di hatinya. Gadis itu akhirnya terisak di tengah hujan.


Seorang diri.


♥♥♥


Minho menatap kesal Taemin yang kini bangkit dari tempatnya.


"Hyung..kenapa kau memukulku?!" Tanya Taemin heran sedangkan Minho tidak menjawab. "Apa kau tau dia itu siapa? Dia itu sebenarnya adalah Jieun! Selama ini dia sudah membohongi kita berdua!!" Seru Taemin kesal ditengah hujan deras yang masih mengguyur mereka.


Minho lagi-lagi tidak menjawab, pemuda itu hanya menatap adiknya datar. Taemin yang sebelumnya melihat ada yang aneh dibalik sikap diam Minho kini seolah menyadari sesuatu.


"Apa mungkin..? Kau juga sudah tau semuanya sejak awal?!"


"Taemin~ah." Minho menatap adiknya itu khawatir


Taemin tertawa renyah. Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Mwoya~jadi benar? Kau sudah tau sejak awal." Ucapnya pelan. "Waeyo, hyung? Kenapa kau tega melakukan ini padaku?"


"Taemin~ah, sebenarnya ini demi kebaikanmu juga." Minho berusaha menjelaskan


Taemin lagi-lagi tertawa kecil. "Kebaikanku?! Apa tidak membiarkanku bertemu dengan Ahra adalah hal terbaik dimatamu? Gadis itu hanya ingin memisahkan aku dan---"


"TAEMIN~AH!!" Teriak Minho kesal. Ia benar-benar sudah tidak tahan mendengar hal-hal buruk tentang Jieun yang dilontarkan dari mulut Taemin. Adiknya itu benar-benar sudah diluar batas.


"Hyung! Kau menyukainya, kan?!" Pertanyaan Taemin membuat Minho menatapnya terkejut. Ia tidak menyangka kalau adiknya itu akan melontarkan pertanyaan seperti ini.


Minho menatap Taemin tajam.


"Benar! Aku menyukainya. Aku menyukai Lee Jieun. Gadis yang kukenal sejak kecil itu. Apa kau puas?!" Kali ini giliran Taemin yang terkejut mendengarnya.


Sejujurnya ia sudah tau kalau sejak dulu kakaknya itu menyimpan perasaan pada Jieun. Hanya saja ini pertama kali ia mendengar Minho mengatakan langsung padanya.


"Apa kau tau? Kenapa aku menyetujui keinginan Jieun untuk tidak memberitahukan yang sebenarnya padamu?! Itu karna dia tidak ingin kau kecewa nantinya. Kami hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk menjelaskannya padamu."


"Waktu yang tepat? Memang apa sulitnya mempertemukan aku dengan Ahra?"


"Kau tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi, Taemin~ah!" Sela Minho membuat Taemin menatapnya bingung.


"Sebenarnya apa maksudmu?"


"Ahra sudah pergi, Taemin~ah."


"Memangnya dia pergi kemana? Aku bisa menca--"


"Sadarlah Lee Taemin! Apa kau masih juga tidak mengerti?!" Bentak Minho yang kesal


"Ahra sudah meninggal! Dia sudah pergi untuk selamanya!!"


Taemin yang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Minho seketika tertegun di tempatnya.


"Ap--apa katamu? Ahra..dia..?" Taemin tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Bibirnya terlalu kaku untuk bicara apapun saat ini.


"Ahra sudah meninggal, Taemin~ah. Kita tidak akan lagi bisa bertemu dengannya. Ini adalah kenyataan yang harus kau terima." Ujar Minho.


Taemin yang tampak kehilangan tenaga kini jatuh berlutut di tanah. Semua usahanya untuk bertemu gadis itu kini sia-sia. Ahra sudah pergi untuk selamanya, bahkan sebelum mereka sempat menepati janji mereka.


Dadanya terasa sesak dan hatinya terasa begitu sakit mendengar semua kenyataan ini.


"Aaaarrrghhh!!!!!"


Taemin berteriak keras seraya memukul tanah dibawahnya berkali-kali. Pemuda itu bahkan tidak dapat menahan tangisnya. Ia terus memukul-mukul tanah yang tampak mulai berantakan.


Minho sendiri tidak melakukan apa-apa. Ia tau seperti apa yang dirasakan oleh Taemin saat ini. Pemuda itu pasti sangat terpukul mendengar kenyataan ini.


Itulah sebabnya akan lebih baik jika ia membiarkannya. Melepaskan semua kekesalan sekaligus kesedihan yang ada dalam dirinya.


♥♥♥


Hyung-nya lah yang memberitahunya tentang tempat ini.


Dihadapan pemuda itu kini terdapat 3 nisan bertuliskan nama orang-orang yang dulu dikenalnya. Hati Taemin masih sulit menerima semua ini, namun inilah kenyataannya dan tidak ada yang dapat mengubah yang telah terjadi.


Mata pemuda itu mendadak terarah pada sosok Jieun yang sedang tertidur disamping nisan Ahra.


Taemin memandang wajah gadis itu lama. Tiba-tiba saja ia teringat perkataan Minho saat mereka masih berada di halaman rumah gadis itu.


"Aku tidak peduli kau ingin mendengarnya atau tidak. Tapi aku akan tetap mengatakannya padamu! 2 tahun lalu saat Ayah dan Ibu Jieun pulang dari menghadiri perpisahan sekolah Ahra, mobil mereka mengalami kecelakaan. Jieun yang saat itu juga sedang menunggu kedatangan keluarganya untuk menerima laporan hasil belajarnya, bukannya melihat Ayah, ibu ataupun kakaknya melainkan polisi yang datang menjemputnya seraya membawa kabar bahwa ketiga orang yang disayanginya itu kini sudah tiada. Ia pernah mengatakan padaku, bahwa dirinya sempat merasa putus asa dan mencoba mengakhiri hidupnya karna merasa tidak ada lagi yang perlu ia pertahankan di dunia ini. Tapi akhirnya ia teringat akan pesan Ahra.


Sebelum meninggal, Ahra sempat meminta tolong pada Jieun agar menggantikannya bertahan sampai kau datang untuk menepati janjimu. Ahra hanya ingin kau tau bahwa dia tidak pernah melupakan janjinya padamu. Sejak saat itulah Jieun merasa kembali memiliki alasan untuk tetap hidup. Mulai dari bekerja siang hingga malam hanya untuk bertahan hidup dan terus melanjutkan sekolahnya.


Saat tau kau ternyata kembali ke Seoul, gadis itu merasa senang sekaligus sedih. Ia senang karna akhirnya bisa melihatmu lagi, tapi disisi lain hatinya sedih kalau mengingat ia harus mengatakan hal yang sebenarnya padamu. Jieun tau, kenyataan itu pasti akan membuat hatimu terluka. Itu sebabnya ia memilih berpura-pura tidak mengenalmu dan menyimpan rahasia ini sampai menemukan waktu yang tepat. Meski ia tau itu akan menyakitkan baginya jika harus dianggap sebagai orang lain olehmu, tapi dia tetap ingin melakukannya. Karna ia menyukaimu."


"Gadis bodoh. Kenapa harus selalu melibatkan dirimu dalam kehidupanku?" Ucap Taemin seraya menatap nanar kearah IU yang masih terlelap.


Ia kembali teringat ucapan terakhir Minho sebelum pergi.


"Aku tau kalau Jieun menyukaimu. Bahkan aku sudah menyadari hal itu sejak kita masih kecil. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku yakin suatu hari nanti bisa membuat hatinya berpaling padaku. Aku tidak akan melepaskan Jieun untuk kedua kalinya."


Taemin menghela nafasnya keras seraya menatap kearah lain. Detik kemudian pandangannya kembali pada Jieun.


"Minho hyung akan menjagamu dengan baik."


♥♥♥


Taemin sedang berdiri di samping gerbang sekolah. Namja itu sedang menunggu Jieun. Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi namun gadis yang ditunggu-tunggunya sejak tadi belum juga terlihat melewati gerbang tersebut. Apa mungkin dia tidak datang hari ini?


Alih-alih saat Taemin mulai putus asa dan berniat pergi dari sana, Jieun akhirnya muncul dari balik gerbang. Keduanya kini saling berhadapan satu sama lain.


Jieun menatap Taemin sesaat, detik berikutnya gadis itu berjalan melewatinya. Taemin yang melihat itu segera berbalik dan menarik tangan gadis itu. Saat itulah ia terkejut karna merasakan tangan Jieun yang begitu panas. Ia menatap Jieun yang tampak pucat dan lemas. "Ada apa? Apa kau sakit?!" Tanyanya


Jieun menarik tangannya dari Taemin.


"Aku baik-baik saja. Tidak usah pedulikan aku. Aku harus segera pergi bekerja." Ucapnya dingin lalu kembali berjalan. Namun belum jauh gadis itu berjalan, Jieun tiba-tiba saja merasa kepalanya pusing dan tubuhnya seolah kehilangan keseimbangan.


Taemin yang melihat itu dengan sigap menahan tubuh Jieun saat gadis itu jatuh pingsan.


♥♥♥


Taemin memandangi Jieun yang sedang tertidur di ranjang. Tadi saat gadis itu pingsan ia langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Dokter mengatakan Jieun hanya terkena demam biasa, jadi tidak perlu khawatir. Menurut hasil pemeriksaan, tubuh gadis itu menjadi lemah karna terlalu lelah bekerja. Ditambah lagi cuaca yang seperti ini.


Mendengar itu membuat Taemin kembali teringat kejadian kemarin sewaktu ia menemukan Jieun di pemakaman. Gadis itu pasti seharian hujan-hujanan di tempat itu.


Jieun akhirnya membuka matanya perlahan lalu mendapati Taemin yang sedang duduk disampingnya. Ia pun berusaha bangkit dari ranjang namun kembali nyaris terjatuh kalau saja Taemin tidak cepat menahannya.


"Lepaskan." Jieun menepis tangan Taemin.


"Jieun~ah.." Ucap Taemin singkat. Namun Jieun sama sekali tidak peduli dan terus berjalan pergi sampai akhirnya jatuh ambruk hanya beberapa meter dari ranjangnya.


"KENAPA KAU KERAS KEPALA SEKALI?! Apa kau pikir bisa jalan dengan keadaan seperti ini, hah?!!" Bentak Taemin saat menghampirinya


"LALU APA PEDULIMU?!!" Kali ini giliran Jieun yang membentak Taemin membuat pemuda itu sedikit tertegun di tempatnya.


"Bukankah dimatamu aku ini hanyalah gadis rendahan? Seorang gadis yang demi mendapatkan pemuda yang dicintainya rela melakukan apa saja termasuk membohongi pemuda itu? Begitu, kan?! Lalu untuk apa lagi kau mencariku? Gadis sepertiku tidak pantas berada di---"


Taemin yang tiba-tiba saja menarik Jieun dalam pelukannya membuat ucapan gadis itu seketika terhenti.


"Mianhae." Ucapnya akhirnya


"Maafkan ucapanku yang sudah melukaimu. Maafkan sikap bodohku yang tidak ingin mendengarkan penjelasan darimu. Sejak dulu kau selalu berusaha untuk membantuku tapi yang kulakukan justru hanya melukai perasaanmu. Mianhae, Jieun~ah."


Mendengar ucapan Taemin membuat Jieun tidak kuasa menahan airmatanya. Ia pun akhirnya terisak dalam dekapan pemuda itu.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang memandang kearah mereka dari balik pintu luar. Minho yang menerima kabar segera datang ke rumah sakit, namun saat pemuda itu baru saja ingin masuk ke dalam langkahnya mendadak terhenti.


Samar-samar ia mendengar seseorang yang berteriak membuatnya penasaran dan akhirnya mengintip melalui celah pintu.


Sejak itulah ia melihat semua yang terjadi.


♥♥♥


Taemin akhirnya tiba di rumah setelah sebelumnya lebih dulu mengantar Jieun pulang. Ia baru saja tiba di dalam kamar lalu menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Namja itu menghembuskan nafasnya panjang dan tanpa sengaja menatap kearah sebuah meja kecil disebelah ranjangnya. Disamping lampu tidurnya terdapat sebuah Dancing doll.


Taemin pun meraih benda tersebut dan menatapnya cukup lama. Benda yang selalu dijaganya karna memiliki arti luar biasa baginya. Bukan hanya karna benda itu dapat mengingatkannya pada Ahra, tapi juga karna benda itu memiliki peran penting baginya. Ia masih ingat saat Minho memberikan Dancing doll itu padanya. Waktu itu mereka sudah berada di dalam pesawat menuju Amerika, Minho mengatakan bahwa Ahra yang menitipkannya Hyung-nya itu untuk diberikan padanya. Saat tau ternyata yang diberikan oleh Ahra adalah sebuah dancing doll, dirinya begitu senang dan terus menjaganya hingga sekarang.


Perlahan Taemin memutar sebuah kunci yang terdapat dibagian bawah boneka tersebut beberapa kali, dan detik berikutnya boneka itu pun mulai bergerak. Terdapat sepasang boneka anak laki-laki dan perempuan yang saling berpegangan tangan kemudian menari bersama. Ia menatap benda itu lagi. Bagi Taemin, boneka itu adalah salah satu penyemangatnya. Sewaktu kecil Taemin pernah bermimpi ingin menjadi seorang dancer yang hebat, namun terkadang ia merasa ragu akan hal itu. Tapi setelah dirinya melihat mainan tersebut, semangatnya seolah kembali. Mainan itu seolah memberinya kepercayaan diri agar dapat melakukan dance dengan baik.


Saat itulah ia benar-benar ingin berterima kasih pada Ahra karna telah memberikan mainan tersebut padanya. Namun hal itu tidak mungkin lagi dilakukannya saat ini. Taemin masih memandang kedua boneka yang masih berputar tersebut, benda itu ternyata lucu juga saat dipandangi cukup lama. Seolah mengingatkannya pada seseorang. Detik berikutnya wajah Jieun saat tersenyum tiba-tiba saja terlintas di benaknya membuat Taemin sedikit terkejut dan langsung bangkit dari tempatnya.


"Apa yang terjadi padaku? Bukankah tadi aku sedang memikirkan Ahra, tapi kenapa wajah Jieun tiba-tiba saja muncul di pikiranku?!" Gumamnya heran. "Apa jangan-jangan..." Taemin menaruh tangannya di dada lalu perlahan menutup mata.


Detik berikutnya ia membelalakkan matanya terkejut.


"Maldo andwae. Aku menyukainya? Aku menyukai Jieun?!" Tanyanya pada dirinya sendiri seolah tidak percaya. Namun detakan jantungnya yang begitu kencang saat ini mampu memperjelas semuanya.Namja itu tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Ia benar-benar telah jatuh cinta pada Jieun.


"Taemin~ah.." Ucapan seseorang mendadak menyadarkan lamunan Taemin


Nampak Minho yang berdiri di depan pintu kamarnya, hal itu membuat Taemin membelalakkan matanya.


"Hyung..kau..sejak kapan kau berdiri disana?!" Tanyanya terbata


"Baru saja." Jawab Minho santai membuatnya menghela nafas laga. "Aku ingin bicara sesuatu denganmu, bisa kan?"


Taemin menatapnya dalam kemudian mengangguk pelan. "Tentu saja, masuklah."


Minho pun berjalan menghampiri adiknya itu, sesaat matanya terarah pada mainan yang terdapat disamping tempat tidur kemudian duduk disamping Taemin.


"Taemin~ah..kau tau kan selama ini aku selalu mempercayaimu dan aku yakin kau tidak akan membuatku kecewa." Ucap Minho membuat Taemin menatapnya datar.


"Jika saat ini aku menanyakan sesuatu padamu, apa kau akan menjawabnya dengan jujur?"


"Memangnya ada apa?" Tanya Taemin khawatir


Minho tidak langsung menjawab, ia menatap Taemin tajam.


"Apa kau...menyukai Jieun?!"