
Seorang anak perempuan berumur 12 tahun sedang memandang kearah taman.
Namun bukannya bermain di ayunan yang sedang didudukinya saat ini, anak itu justru mengamati 2 orang anak laki-laki dan perempuan yang usianya 2 tahun lebih darinya yang kini sedang duduk bersama di pinggiran taman.
Anak laki-laki itu adalah sahabatnya yang bernama Taemin, sedangkan anak perempuan itu bernama Ahra. Yang tidak lain adalah Eonni-nya sendiri.
"Ahra~ya..ini untukmu." Ucap Taemin seraya memberikan sebuah kotak musik krystal berbentuk piano kepada Ahra. Anak bernama Ahra itu memandang kotak music ditangannya cukup lama.
"Cantik sekali." Ucapnya tersenyum kagum.
"Itu adalah kenang-kenangan dariku untukmu." Perkataan Taemin membuat senyum diwajah Ahra seketika menghilang. Anak itu kini berbalik menatapnya.
"Apa maksudmu? Kau..."
"Aku--akan pergi. Appa dan Eomma-ku akan pergi ke Amerika." Tutur Taemin sedih. Tidak terkecuali dengan Ahra, anak itu bahkan tidak mampu berkata apa-apa. Detik berikutnya ia pun memeluk tubuh Ahra membuat anak perempuan itu menangis pelan.
"Suatu hari nanti aku pasti akan kembali untuk mencarimu. Sampai saat itu tiba, berjanjilah padaku..kau akan menungguku." Ucapnya
Sambil terisak Ahra pun mengangguk. "Aku pasti akan selalu menunggumu, Taemin~ah. Aku berjanji."
Taemin mempererat dekapannya. Dia benar-benar tidak mampu menahan kesedihannya saat melihat orang yang disayanginya kini harus menangis karna dirinya. Perusahaan yang dimiliki kedua orangtuanya di Amerika kini mulai berkembang, itu sebabnya demi keberhasilan perusahaan tersebut mereka terpaksa harus pindah ke Amerika. Karna hanya itu cara bagi kedua orang tuanya bisa mengawasinya secara langsung.
Tanpa mereka sadari seorang anak perempuan yang sejak tadi mengamati mereka kini ikut meneteskan airmatanya. Anak yang tidak lain adalah Lee Jieun. Anak itu juga mendengar semuanya.
Namun yang ia lakukan hanyalah dapat mengamati kedua orang itu dari jauh. Walau sebenarnya ia sangat ingin bergabung bersama mereka. Namun ia sama sekali tidak berani melakukannya, itu karna ia tau..kehadirannya hanya akan jadi pengganggu bagi mereka. Itulah sebabnya ia hanya dapat lari bersembunyi dibawah papan luncuran untuk meluapkan semua kesedihannya.
Aku akan merindukanmu, Taemin oppa.
♥:♥:♥
Sudah hampir setengah jam lamanya sejak Taemin terus memperhatikan benda dihadapannya. Entah kenapa ia sama sekali tidak pernah merasa bosan untuk melihat benda tersebut.
"Yaa!! Kau masih mengamatinya?!!" Tanya seseorang saat memasuki kamarnya. Orang itu tidak lain adalah Minho, kakak laki-lakinya.
"Memangnya apa urusannya denganmu? Terserah padaku." Sahut Taemin dingin.
Minho menatapnya sebentar lalu akhirnya tersenyum kecil.
"Anak ini benar-benar..aku ini Hyung-mu tau! Berani-beraninya kau bersikap seperti itu padaku! Kemari kau!!" Seru Minho kemudian mengalungkan lengannya pada leher adik satu-satunya itu. Membuat Taemin menjerit pelan.
"Arasseo hyung! Mianhae..mianhae!!" Pekiknya seraya tertawa kecil. Minho yang merasa puas karna berhasil mengalahkan adiknya itu pun melepaskan pegangannya.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Taemin~ah!" Tutur Minho. Taemin sendiri hanya mengelus lehernya pelan. "Yaa! Kau ini..kenapa belum siap-siap juga?! Kau bisa terlambat ke sekolah tau!"
Seolah baru menyadarinya Taemin pun terkejut. "Ah benar!! Aku sampai lupa! Ini kan hari senin!!" Serunya dengan cepat mengambil handuk lalu berlari menuju kamar mandi. Minho sendiri hanya tertawa melihatnya.
"Dasar bodoh! Siapa suruh sejak tadi kau terus memperhatikan benda ini. Apa kau tidak bosan memperhatikannya setiap hari?" Tanya Minho asal.
Taemin menghentikan langkahnya sejenak. "Tidak akan hyung..karna aku menyayangi benda itu. Sama seperti aku menyayangi orang yang memberikannya padaku."
"Taemin~ah..bukankah kita sudah berusaha mencari alamatnya? Tapi tetap tidak bisa menemukannya." Ucap Minho berbalik menatap Taemin tajam
"Aku akan menemukannya, Hyung. Itu pasti." Ucap Taemin serius kemudian berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Minho sendiri hanya mampu memandangi Taemin yang kini menghilang dari balik pintu kamar mandi. Ia tau benar apa yang dimaksud oleh adiknya itu. Satu-satunya alasan Taemin kembali ke Korea hanyalah untuk menemukan seseorang.
Gadis yang telah ia janjikan untuk bertemu dengannya. Gadis yang menurutnya adalah orang yang memberikan sebuah mainan dancing doll padanya. Gadis yang merupakan cinta pertamanya, saat ia berusia 12 tahun. Ahra.
♥:♥:♥
Neul Paran High School. Ini adalah hari pertama Taemin masuk ke sekolah ini. Walau tidak mengenal siapapun di tempat ini, ia merasa sepertinya akan lumayan betah. Itu karna orang-orang dalam sekolah ini tergolong tidak banyak bicara. Kebanyakan dari mereka sepertinya lebih serius dalam belajar. Walau memang masih ada beberapa yang cukup berisik, namun Taemin merasa itu lebih baik. Setidaknya itu akan membuat suasana jadi kelihatan lebih hidup.
Namja itu sedang mendengarkan musik melalui earphone miliknya dan berniat kembali ke kelas sampai tiba-tiba seseorang menabraknya.
Brukk!!
"Aakkh!" Pekik orang yang menabrak Taemin, yang ternyata adalah seorang gadis. Ia kini jatuh terduduk di lantai. Taemin sendiri tidak mengatakan apa-apa.
Merasa aneh gadis itu pun mengangkat wajahnya dan betapa terkejutnya ia saat mendapati baju Taemin yang kini basah oleh Jus jeruk dan lebih parahnya lagi nampak sebuah handphone yang kini tergeletak di lantai dengan keadaan yang bisa dibilang rusak parah.
"Omo!! Ma..maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja! Aku sama sekali tidak menyangka ada orang yang muncul dari samping ruangan ini." Tutur gadis itu panik seraya berusaha membersihkan noda jus dari seragam pemuda itu.
Taemin yang melihat itu segera menepis tangan gadis itu membuatnya sedikit terkejut.
"Siapa namamu?!" Tanya Taemin membuat gadis itu sedikit tergelak
"Eh?! Namaku? Namaku IU."
Taemin menatap tajam gadis dihadapannya itu.
"Kalau begitu IU~si..mulai sekarang jangan pernah lagi muncul dihadapanku. Mengerti!" Tutur Taemin serius membuat IU sedikit merinding saat mendengarnya.
Setelah mengatakan itu Taemin pun berjalan pergi meninggalkan tempat itu. IU sendiri memandang tubuh pemuda itu cukup lama kemudian berbalik dan mendapati handphone yang masih tergeletak di lantai, yang sepertinya sudah tidak dipedulikan oleh Taemin.
♥:♥:♥
"Yaa~kau ini bodoh atau apa?! Kenapa tidak bilang kalau kau pulang lebih awal?" Tanya Minho saat menjemput Taemin di sekolahnya. Minho sama sekali tidak tau kalau adiknya itu ternyata pulang lebih awal karna para guru mengadakan rapat mendadak. Itulah sebabnya ia hanya tinggal di kampus selama menunggu mata kuliah selanjutnya.
"Aku juga sama sekali tidak tau kalau guru-guru itu akan mengadakan rapat mendadak." Tutur Taemin seraya memandang ke luar jendela mobil.
"Lalu kenapa tidak segera menelponku?!"
"Handphone-ku rusak." Jawab Taemin singkat membuat Minho sedikit terkejut mendengarnya.
"Mworago?! Bagaimana bisa..?"
Taemin menghela nafasnya berat. Kejadian saat di samping kantin kembali terlintas di benaknya. Jujur saja hal itu membuatnya kembali merasa kesal terutama pada gadis yang menabraknya. Entah kesalahan apa yang ia perbuat sampai ia harus mengalami hal seperti itu di hari pertamanya sekolah di Seoul.
"Aku menjatuhkannya."
♥:♥:♥
Hari sudah beranjak larut malam saat IU berjalan memasuki sebuah toko yang terletak di pinggiran kota. Toko yang tidak lain adalah tempat penjualan sekaligus service hp.
"Permisi..saya ingin Tanya. Apa hp ini masih bisa diperbaiki?" Tanyanya seraya memberikan hp ditangannya yang tidak lain adalah milik Taemin.
Pemilik toko itu mengamati hp ditangannya cukup lama dan akhirnya memandang IU. "Kerusakannya cukup parah. Tapi sepertinya masih bisa diperbaiki."
Mendengar perkataan pemilik toko barusan membuat IU tersenyum senang. "Benarkah?! Lalu..kapan aku bisa mengambilnya?" Tanyanya antusias
"Sejujurnya aku tidak bisa memastikan. Tapi mungkin sekitar 2-3 hari kedepan."
"Ah~saya mengerti. Saya akan kembali kesini beberapa hari lagi."
"Kalau begitu, isi keterangan dirimu disini." Pemilik toko lalu memberikan sebuah lembaran kertas pada IU.
Setelah mengisi lembaran tersebut, gadis itu pun mengembalikannya pada pemilik toko. "Terima kasih banyak!" Ucapnya tersenyum seraya mengangguk pelan kemudian berjalan keluar toko.
Setelah menaiki bus sekitar 20 menit, ia pun akhirnya sampai di halte yang terletak di dekat rumahnya. Gadis itu berjalan memasuki perumahan yang mulai terlihat sepi itu.
Brukk!!
"Nona manis..apa yang kau lakukan malam-malam begini? Bukankah anak sekolah sepertimu seharusnya tidak berkeliaran jam segini?!" Tanya seorang Ahjussii yang IU yakini bukanlah seseorang yang baik. Bagaimana tidak? Nampak jelas dari cara bicaranya yang kurang jelas ditambah lagi botol minuman keras yang masih digenggamnya.
IU tidak menjawab kemudian berusaha pergi dari sana, namun belum sempat dirinya beranjak ahjussiitu sudah lebih dulu menarik bagian kanan seragamnya cukup kuat hingga sobek.
"APA YANG KAU LAKUKAN?! LEPASKAN AKU!" Teriaknya panik namun ahjussi itu malah semakin menariknya membuat seragamnya sudah hampir terbuka hingga setengah.
"Kumohon lepaskan aku!!"Serunya berusaha melepaskan diri dari cengkraman ahjussi itu.
Tepat saat itulah mendadak sebuah Ipod mendarat tepat mengenai kepala ahjussi tersebut membuatnya berbalik kearah orang yang melemparkannya. Nampak seorang pemuda yang sedang berdiri dihadapan mereka.
Ahjussi itu melepaskan genggamannya pada IU yang akhirnya menjatuhkan dirinya di jalanan.
"Siapa kau?! Berani-beraninya kau..."
Belum sempat ahjussi itu melanjutkan kalimatnya pemuda itu sudah lebih dulu memukul wajahnya hingga akhirnya jatuh ambruk dijalanan.
Melihat orang itu sudah kehilangan kesadarannya pemuda itu pun berniat meninggalkan tempat itu, namun mendadak menghentikan langkahnya saat menyadari gadis yang kini terisak dipinggiran bangunan. Pemuda itu tidak dapat melihat wajah gadis dihadapannya dengan jelas karna lampu jalan yang tidak menyala. Begitupun sebaliknya dengan IU.
Gadis itu masih terisak kecil ditempatnya seraya berusaha menutupi tubuhnya yang kini hampir terekspos seluruhnya. Dingin dan ketakutan, itulah yang dirasakannya saat ini.
"Gadis mana yang masih berani berkeliaran larut malam seperti ini!" Kata pemuda itu tak percaya. Detik berikutnya ia melemparkan sebuah jaket berwarna merah kearah gadis itu. "Pakai itu untuk menutupi tubuhmu dan cepatlah pulang!"
IU memandang jaket ditangannya sejenak kemudian berniat berterima kasih, namun saat gadis itu mengangkat wajahnya pemuda itu sudah tidak ada dihadapannya.
"Dimana dia? Padahal aku belum sempat mengatakan terima kasih.." Sesalnya kemudian kembali menatap jaket tersebut seraya tersenyum kecil.
Siapapun orang itu, yang pasti IU benar-benar merasa berterima kasih karnanya.
Bahkan mungkin lebih dari itu.
♥:♥:♥
IU berjalan menaiki tangga menuju teras atas bangunan sekolah. Ini adalah tempat favoritnya sejak masuk ke sekolah ini. Tempat yang seolah menjadi rumah kedua baginya. Setelah lelah menaiki anak tangga, ia pun akhirnya tiba diatas. Namun sesuatu mendadak mengejutkannya, ada seseorang ditempat itu. Ini pertama kalinya ia melihat ada orang yang datang ke tempat ini selain dirinya.
Seorang namja sedang terbaring diatas kursi tua yang terletak di pojokan gedung. IU pun memberanikan diri mendekati pemuda itu, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati orang tersebut yang tidak lain adalah Taemin. Namja yang kemarin ditabraknya. Hanya saja ia sama sekali tidak mengetahui namanya.
IU memandang wajah pemuda itu cukup lama. Namja itu nampaknya sedang tertidur lelap dan kelihatan begitu polos saat melihatnya seperti sekarang ini. Menyadari apa yang barusan terlintas di pikirannya IU pun cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kau lakukan?!" Ucapan Taemin yang secara tiba-tiba, membuat IU tersentak seketika hingga mundur beberapa langkah dan tanpa sengaja menginjak patahan kayu lalu akhirnya terjatuh ke lantai.
"Auuw~sakit.." Rintihnya
Taemin menatapnya sesaat. "Apa kau sengaja mengikutiku?!"
"HAH?! Aa~aniyo..tentu saja tidak." Seru IU cepat
"Lalu apa yang kau lakukan disini?!"
"Aa..aku memang biasa kesini setiap jam istirahat."
"Hmm..jadi kau yang membersihkan tempat ini." Ujar Taemin, sejak tadi ia memang penasaran siapa yang membersihkan tempat ini. Padahal tidak biasanya ada orang yang membersihkan tempat seperti ini. Dan sepertinya sekarang ia sudah menemukan jawabannya.
"Iya benar. Aku yang melakukannya.."
"Kalau begitu, bolehkan aku tidur lebih lama disini?" Tanya Taemin terdengar seakan meminta izin pada IU
Gadis itu menatapnya terkejut. "Mwo?! Ah~ten..tentu saja. Lagipula tempat ini kan bukan benar-benar milikku. Ini milik sekolah." Ujarnya pada Taemin. Namun tampaknya pemuda itu sudah tidak begitu peduli dan bahkan sudah melanjutkan kembali tidurnya.
Melihat itu IU hanya bisa memanyunkan bibirnya kesal. Detik berikutnya ia pun duduk bersandar di pinggiran gedung seraya membuka buku yang sejak tadi dipegangnya. Buku yang tidak lain berisi tentang lirik-lirik lagu ciptaannya.
Beberapa juga terdapat chord gitar dari lagu-lagu barat yang biasa di cover olehnya. Setelah beberapa saat membaca lirik tersebut, ia pun mulai mencoba menyanyikannya sedikit demi sedikit.
Taemin yang menyadari suara seseorang sedang bernyanyi, perlahan membuka matanya dan akhirnya mendapati IU yang sedang bernyanyi tidak jauh dari tempatnya berada. Suara gadis itu bahkan caranya bernyayi seolah mengingatkannya pada seseorang, tapi ia sendiri tidak tau siapa. Entahlah, yang pasti ia harus mengakui kalau suara gadis itu terdengar merdu ditelinganya.
IU yang merasa dirinya sedang ditatap kini berbalik kearah Taemin, namun nyatanya pemuda itu sedang tertidur lelap.
Mungkinkah hanya perasaannya saja?
Gadis itu memandangi wajah Taemin sejenak, berikutnya ia kembali teringat akan kejadian kemarin. Jujur saja ia ingin mengatakan pada pemuda itu tentang handphone miliknya, tapi melihat keadaan seperti saat ini. Sepertinya akan lebih baik jika ia mengurungkan niatnya terlebih dulu.
♥:♥:♥
Seperti biasa sepulang sekolah IU langsung menuju sebuah Mini market yang tidak jauh dari tempatnya.
"Annyeong haseyo!!" Sapa IU seraya membungkukkan badannya pelan pada seorang karyawan pria dalam Mini market tersebut.
"Oh! Kau sudah datang rupanya! Tepat waktu sekali.." Ujar pria itu senang membuat IU mengangguk tersenyum.
"Baguslah..kalau begitu cepat ganti pakaianmu." Kata pria itu lagi
"Nde..saya mengerti." Balas IU kemudian berjalan masuk ke ruang staff
Tidak butuh waktu lama bagi gadis itu, kini ia sudah selesai berganti pakaian begitupun dengan pria yang tadi.
"Baiklah..kalau begitu selamat bekerja yah, IU~si.." Kata pria itu kemudian berjalan keluar toko
"Nde..hati-hati di jalan. Diluar sedang hujan." Seru IU semangat membuat orang itu tersenyum.
Inilah yang dilakukan IU selama 2 tahun terakhir. Menjadi karyawati dalam sebuah Mini market. Gadis itu sengaja meninta shift dari siang hingga malam hari karna ia hanya dapat melakukannya setelah pulang dari sekolah. Lelah? Itu sudah pasti. Tapi hanya ini yang dapat dilakukannya saat ini demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Permisi..ini tolong dihitung." Ucapan seorang namja menyadarkan IU dari lamunannya. Orang yang tidak lain adalah Minho.
"Oh?! Maafkan saya!" Sesal gadis itu kemudian mengambil keranjang dari tangan Minho kemudian menghitung harga barangnya satu per satu." 30 ribu won"
Minho pun mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, kemudian memberikannya pada gadis itu.
"Terima kasih!" Seru IU sambil tersenyum membuat Minho terpaku sesaat.
"Chogi..apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Minho tiba-tiba
IU mengerling heran. "Eh?! Saya memang tiap hari berada disini, jadi mungkin saja jika kita pernah bertemu sebelumnya."
Minho menggeleng pelan, seolah tak yakin. Namun bagaimanapun juga yang dikatakan gadis itu ada benarnya. Mungkin saja itu hanya perasaanya, karna tadi saat melihat gadis itu tersenyum seolah mengingatkannya pada seseorang.
Minho pun akhirnya berjalan meninggalkan toko tersebut. Setelah membuka payungnya ia pun berjalan menuju mobilnya.
"Permisi..apa ini milikmu?" Tanya seorang ahjussi pada IU saat berniat membayar di kasir. IU menatap dompet itu cukup lama sampai akhirnya teringat akan sesuatu. Dompet itu rupanya adalah dompet milik Minho yang tanpa sengaja terjatuh saat berusaha memasukkan kembali ke kantong celananya.
"Lana~ya..tolong gantikan aku sebentar yah!" Serunya pada seorang karyawati lain kemudian berlari keluar toko sambil membawa dompet ditangannya.
"Tuan..dompet anda!!" Serunya seraya berlari ditengah hujan. Entah apa yang membuatnya tidak berpikir panjang dan hanya langsung mengejar mobil pemuda itu tanpa mengambil payung lebih dulu.
Mendadak kaki gadis itu tergelincir saat berlari di pinggiran jalan membuat dirinya jatuh disamping trotoar. Minho yang sempat melirik kearah kaca spion mendadak terkejut saat melihat apa yang dilakukan gadis itu. Ia pun segera menghentikan mobilnya kemudian berlari menghampiri IU dengan payung ditangannya.
"Apa yang kau lakukan?!" Tanyanya heran
"Ini..dompet anda ketinggalan." Jawab IU seraya memberikan dompet itu pada Minho kemudian berniat pergi namun nyaris terjatuh kalau saja Minho tidak cepat menahannya.
Mata pemuda itu mendadak terbelalak saat melihat kalung berbentuk hangul yang tergantung di leher gadis itu. Selama hidupnya ia tau, hanya ada seseorang yang dikenalnya memiliki kalung seperti itu.
Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia pun menatap tajam kearah gadis dihadapannya itu.
"Ji..Jieun~ah"