
♥:♥:♥
IU masih terdiam ditempatnya saat ini. Ia dan Minho kini sedang berada di sebuah café yang letaknya tidak jauh dari Mini market. Moccacino hangat dihadapannya saja sejak tadi belum sekalipun ia sentuh.
"Minumlah.." Kata Minho memecah keheningan. "Itu akan membuatmu merasa lebih hangat."
IU menatap Minho cukup lama, dan akhirnya menuruti perkataan pemuda itu untuk meminumnya. "Ah~enak sekali.." Ucapnya tanpa sadar membuat Minho tersenyum melihatnya.
"Kau memang sama sekali belum berubah, Jieun~ah!" Ucap Minho
"Apa aku kelihatan cantik sekarang?" Tanya IU antusias
"Aniyo." Jawab Minho santai membuat raut wajah IU berubah seketika. "Tapi kau kelihatan saaaaangat cantik!" Tambahnya
IU menatapnya kesal. "Ah~oppa...kau selalu saja mempermainkan aku!" Pekiknya.
Minho sendiri hanya tertawa kecil karna puas mengerjai gadis itu.
"Oh iya. Bagaimana kabar Ahjumma dan Ahjussi?! Aku benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan mereka." Ucap Minho antusias namun melihat perubahan wajah IU membuatnya merasa ada yang aneh.
"Ada apa?"
IU tersenyum kecil. "Mianhaeyo, oppa. Mungkin kau tidak akan bisa menemui mereka."
"Memangnya kenapa? Apa mereka sedang sibuk jadi..."
"Mereka sudah meninggal." Sela IU cepat.
Mendengar perkataan gadis itu membuat Minho seolah terpaku ditempatnya.
"Mwo..mworago?!" Tanyanya seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya
"2 tahun yang lalu, mereka semua mengalami kecelakaan mobil. Appa, Eomma dan juga...Ahra eonni." Dada Minho terasa begitu sesak saat ini. Berita tentang kedua orang tua IU yang meninggal dalam kecelakaan benar-benar diluar bayangannya, ditambah lagi Ahra.
Bayangan wajah Taemin mendadak muncul dibenaknya. Pria itu sama sekali tidak berani membayangkan seperti apa jadinya kalau Taemin sampai tau Ahra ternyata sudah meninggal. Seseorang yang begitu berarti bagi adiknya itu.
"Maafkan aku, Jieun~ah. Selama ini aku dan Taemin sudah berusaha mencari kalian. Tapi entah kenapa rasanya begitu sulit untuk menemukan alamat kalian. Bahkan aku sampai tidak tau mengenai..." Minho tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia benar-benar merasa bersalah pada gadis itu.
"Gwencanayo, oppa. Tidak ada yang perlu disesali. Aku juga tidak mungkin menyalahkan kalian hanya karna tidak dapat menemukan kami." Tutur IU. "Lagipula..aku tau, kalian pasti akan mencari kami. Terutama Taemin oppa."
Minho menatap IU yang terlihat menerawang. "Kau..bukankah kau bilang akan melupakannya?!" Tanyanya membuat IU balik menatapnya.
"Sesuatu membuatku terpaksa harus mengingkari perkataanku sendiri."
"Apa maksudmu?" Tanya Minho tidak mengerti
"Sebelum Ahra eonni meninggal, ia berpesan padaku agar aku harus tetap menunggu Taemin oppa sampai ia kembali menepati janji mereka."
"Jieun~ah..apa kau tau? Saat ini Taemin berada di Seoul dan sedang bersekolah di SMA Paran."
IU membelalakkan matanya tak percaya. "Mwo?! SMA Paran?! Itu artinya dia satu sekolah denganku."
"Mworago?! Jadi kau juga sekolah disana?!" Kali ini giliran Minho yang terkejut.
"Hmm..padahal aku satu sekolah dengannya. Tapi kenapa aku sama sekali tidak bisa bertemu dengannya."
"Dia memang baru 2 hari berada disana. Jadi wajar jika kau belum bertemu dengannya." Tutur Minho membuat IU mengangguk pelan. "Lagipula..apa yang akan kau lakukan jika suatu saat nanti kau bertemu dengan Taemin?"
IU terdiam sesaat. "Entahlah..tapi sepertinya aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya padanya untuk saat ini. Mendengar kenyataan bahwa orang disayanginya kini telah tiada pasti akan membuatnya merasa down. Jadi akan lebih baik jika ia tidak mengetahuinya dulu untuk saat ini. Dan juga..Oppa, bisakah kau berpura-pura tidak mengenalku jika suatu saat nanti kita bertemu dengan Taemin. Jangan memanggilku dengan Jieun, tapi panggil aku dengan IU karna Taemin oppa tidak kenal dengan nama itu."
"IU?" Tanya Minho heran membuat IU mengangguk
"Iya benar. IU. Itu adalah panggilan yang diberikan oleh Eomma-ku sejak aku kecil. Tidak ada seorang pun yang tau selain keluarga kami."
"Tapi sampai kapan kau akan terus menyembunyikannya, Jieun~ah?" Tanya Minho lagi membuat IU menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
"Aku tidak tau. Untuk saat ini yang terpenting hanyalah menjaga perasaan Taemin oppa. Aku tidak ingin melihatnya bersedih jika tau kenyataan pahit ini."
Minho menatap gadis dihadapannya itu cukup lama, seolah ingin memastikan sesuatu.
"Kau...masih menyukainya?"
♥:♥:♥
"Gomawo~yo, oppa. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi." Kata IU tersenyum saat keluar dari mobil Minho.
"Apa benar-benar tidak apa-apa? Kalau mau kau bisa menghubungiku agar nanti kujemput lalu kuantar pulang." Tanya Minho. Pemuda itu sebenarnya ingin mengantar IU pulang kerumah, tapi gadis itu menolak karna beralasan harus melanjutkan pekerjaannya. Itulah sebabnya Minho hanya mengantarnya kembali ke Mini market.
"Tidak apa-apa, oppa. Jeongmal gomawo karna sudah mengantarku." Tolak IU seraya tersenyum kecil. Minho akhirnya hanya dapat mengangguk kemudian melajukan mobilnya pergi dari sana.
IU pun berjalan masuk kedalam Mini Market dan kembali bekerja seperti biasa. Samar-samar pertanyaan Minho saat mereka berada di café terlintas di benaknya. Entah kenapa saat itu ia sama sekali tidak dapat menjawabnya.
Apa mungkin itu karna ia memang masih menyukai orang itu, atau justru tidak yakin dengan perasaannya sendiri karna ternyata sudah mulai melupakannya?
♥:♥:♥
IU berjalan memasuki sebuah toko yang tidak lain adalah tempat dimana ia menitipkan hp Taemin yang telah dijatuhkannya.
"Annyeong haseyo~saya ingin mengambil handphone yang 3 hari lalu saya titipkan di tempat ini." Ucapnya seraya memberikan secarik kertas pada pemilik toko.
"Ah! Tolong tunggu sebentar.." Kata Pemilik toko membuat IU mengangguk. Setelah beberapa saat pemilik toko pun kembali dengan sebuah kotak ditangannya. Nampak handphone Taemin yang sebelumnya rusak parah kini kembali menyatu seperti baru lagi.
"Ini..silahkan." Ia lalu memberikannya pada IU
"Wah..benar-benar sudah bagus kembali!" Serunya senang saat melihat hp itu dapat menyala kembali. "Terima kasih banyak!!" Tambahnya
"Ne! Sama-sama.." Sahut Pemilik toko seraya tersenyum.
IU akhirnya keluar dari toko, dan langsung menaiki bus yang saat itu tiba tepat pada waktunya di halte.
Sejak tadi gadis itu terus mengamati handphone tersebut. Nampak wajah Taemin yang sedang tersenyum membuat IU sedikit terkejut.
"Pemuda ini—padahal dia kelihatan tampan jika tersenyum seperti ini. Tapi kenapa setiap kali bertemu dengannya ia malah bersikap dingin seperti itu?" Gumamnya.
Bus yang berhenti tiba-tiba membuat lamunan IU buyar seketika. Rupanya tadi ia terlalu sibuk mengamati handphone itu sampai-sampai tidak menyadari kalau ternyata bus nya sudah sampai di tujuan. Ia pun akhirnya turun dari mobil.
Seperti biasa IU harus berjalan-jalan untuk sampai ke dalam perumahan. Gadis itu menghentikan langkahnya sesaat. Ia sedang mengamati lampu jalan disampingnya. Ia ingat betul kejadian 2 hari yang lalu yang menimpanya. Kalau saja tidak ada orang itu yang menolongnya, entah seperti apa dirinya saat ini. Sayangnya malam itu lampu ini mati jadi dia sama sekali tidak dapat melihat wajah orang itu. Ia benar-benar ingin melihatnya.
Alih-alih saat memikirkan hal itu, sesuatu yang tidak disangkanya membuat mata gadis itu terbelalak. Sosok yang sempat dibicarakannya saat di bus kini lewat tidak jauh dari tempatnya.
"Oh?! Chogi..tunggu se..akkh!!" Pekiknya seraya memegang pergelangan kakinya yang sakit. Tadi gadis itu berniat mengejar Taemin karna ingin mengembalikan handphone miliknya namun baru saja berjalan IU sudah tidak menyadari pembatas jalan membuat kakinya tergelincir dan akhirnya terjatuh.
Melihat sosok Taemin yang semakin menjauh. Ia pun tidak ingin melepaskan kesempatan ini. Gadis itu akhirnya kembali bangkit dan berusaha mengejar pemuda itu. Berkali-kali ia berusaha memanggil pemuda itu, tapi ia sama sekali tidak tau harus memanggilnya apa. Karna ia sama sekali tidak tau namanya.
Akhirnya Taemin pun masuk kedalam sebuah rumah, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. IU lagi-lagi terperangah ditempatnya.
"Mwoya~jadi selama ini dia tetangga baru yang tinggal di depan rumahku?! Dan aku sama sekali tidak tau hal ini!" Ucapnya lemah. "Kau benar-benar bodoh, IU~ya!!" Katanya lagi seraya memukul pelan kepalanya.
IU memandang rumah dihadapannya itu cukup lama. Detik berikutnya ia mengangguk mantap. Ia tidak ingin berurusan dengan pemuda itu lebih lama lagi. Ia juga tidak mau terus-menerus merasa bersalah, itu sebabnya ia berniat mengembalikan handphone itu malam ini juga.
Tok-Tokk!!
IU memberanikan diri mengetuk pintu rumah tersebut. Tidak ada jawaban. Mungkinkah itu karna penghuni rumah tersebut sudah tidur? Lagipula ini kan sudah larut malam. Tidak seharusnya ia melakukan hal ini pada orang lain.
Akhirnya gadis itu pun mengurungkan niatnya, namun baru saja IU berbalik membelakangi pintu hp yang dipegangnya mendadak bergetar. Mata gadis itu mendadak membulat saat melihat nama pengirim sms tersebut.
IU menarik nafasnya dalam kemudian memberanikan diri membuka pesan tersebut demi memastikan sesuatu.
From:
Minho Hyung
Subject :
Tidak usah menungguku, Taemin~ah.
Tangan gadis itu mendadak terasa kaku. Sesuatu seolah menghantam dadanya hingga terasa sesak.
"Jadi selama ini dia adalah..." Tepat saat ia membalikkan tubuhnya kembali pintu rumah tersebut akhirnya terbuka. Nampak seseorang yang berdiri menatap kearahnya heran.
Baik tubuh maupun pikiran IU seolah membeku saat itu juga. Ia sama sekali tidak tau harus bersikap maupun berkata apa.
Bayangan saat dirinya menabrak Taemin dan saat mereka bersama di teras atap sekolah kembali terlintas di benaknya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda dihadapannya ini ternyata adalah Taemin.
Pemuda yang selama ini begitu ia rindukan.
Andai saja ia bisa memeluknya. Andai saja.
"Kenapa kau tiba-tiba menangis?" Tanya Taemin heran saat melihat gadis dihadapannya itu mendadak meneteskan airmatanya.
IU yang sepertinya baru menyadarinya dengan sigap mengalihkan wajahnya lalu berniat pergi dari sana sampai Taemin menarik lengannya.
"Tunggu!"
"Oh?! Bukankah kau gadis itu?" Ucap Taemin saat akhirnya menyadari bahwa IU adalah gadis yang pernah menabraknya di sekolah. IU yang mendengar itu tidak mengatakan apa-apa dan langsung memberikan hp pada Taemin lalu melepaskan diri dari genggaman pemuda itu.
Setelah itu ia pun dengan cepat berlari masuk kedalam rumahnya sendiri, meninggalkan Taemin yang memandangnya tajam dari kejauhan.
IU akhirnya tiba di kamarnya. Sesampainya didalam ia langsung terisak sambil bersandar di pintu kamar. Ia benar-benar tidak menyangka semuanya akan jadi seperti ini. Ia benar-benar tidak mampu menghentikan airmatanya.
Mata gadis itu mendadak terarah pada kotak musik yang terletak di meja belajarnya. Dengan langkah gontai ia pun berjalan mendekatinya.
Kotak musik krystal berbentuk piano yang pada penutupnya terdapat tulisan hangul nama Taemin dan Ahra. IU menatap kotak musik itu cukup lama. Bayangan saat dirinya masih kecil kembali terlintas. Gadis itu seolah menyesali dirinya. Disaat ia sudah berniat melupakan pemuda itu, Eonni-nya justru membuatnya terpaksa kembali merindukannya karna memberikan harapan bahwa suatu hari ia kana bertemu dengan pemuda itu lagi. Namun disaat mereka sudah bertemu, dirinya justru seolah berpikir akan lebih baik jika Taemin tidak pernah mengenalnya. Karna ia tau, yang pemuda itu cari bukanlah dirinya melainkan kakak perempuannya. Mengetahui kenyataan itu membuat hatinya terasa sakit. Sambil terus meneteskan air matanya ia menatap kotak musik dihadapannya.
"Apa yang harus kulakukan, Eonni..?"
♥:♥:♥
Pagi ini cuaca tidak cerah seperti kemarin, hujan gerimis mulai jatuh membasahi kota Seoul. Dan seperti biasa setiap pagi Minho sudah bersiap-siap untuk mengantar Taemin ke sekolah.
"Taemin~ah, apa yang sedang kau lakukan?!" Seru Minho saat melihat Taemin yang sejak tadi terus memandangi rumah didepan mereka yang tampak kosong. Taemin yang mendengar itu sedikit tersentak. "Kau tidak lihat ini sedang hujan? Cepat masuk!" Seru Minho lagi. Taemin sendiri tidak menjawab, ia kembali memadang rumah itu sekilas lalu akhirnya menuruti perkataan Hyung-nya masuk kedalam mobil.
"Ada apa denganmu? Apa kau sakit?!" Pertanyaan Minho membuat Taemin tersadar dari lamunannya.
"Mwo?" Taemin balik bertanya
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Minho lagi. Tidak biasanya ia melihat sikap adiknya itu seperti ini. Ia tau adiknya itu tidak banyak bicara, tapi kali ini ia benar-benar belum mengatakan sepatah katapun sejak mereka berangkat.
Pandangan Taemin menerawang ke depan. Sejujurnya ada sesuatu yang mengganjal pikirannya saat ini. Lebih tepatnya seseorang.
"Hyung..gadis yang tinggal didepan rumah kita. Sepertinya ada yang aneh dengannya." Ujar Taemin pelan membuat Minho mengernyitkan dahi.
"Mworago? Gadis yang mana..?" Tanya Minho bingung seraya menghentikan mobilnya karna mereka sudah sampai di depan sekolah Taemin.
"Aniyo. Bukan siapa-siapa.." Sergah Taemin cepat lalu keluar dari mobil membuat Minho semakin menatapnya heran.
"Taemin~ah! Hubungi aku kalau pelajaranmu sudah berakhir!" Seru Minho dari dalam mobil yang dijawab anggukan oleh Taemin.
♥:♥:♥
Pandangan IU menerawang ke depan. Gadis itu kini sedang berada di Mini market tempatnya bekerja.
"Tolong semuanya dihitung..." Ucapan seseorang menyadarkan lamunannya.
"Nde..saya meng.." Kalimat IU mendadak terhenti saat menyadari orang yang berdiri dihadapannya. "Minho oppa!" Serunya membuat Minho tersenyum lebar. "Apa yang kau lakukan disini?!" Tanyanya
"Aku? Ya tentu saja belanja..memangnya apa lagi? Kenapa? Kau pasti mengira aku datang kesini untuk menemuimu." Jawab Minho membuat raut wajah IU berubah masam seketika. Melihat itu ia pun langsung terkekeh pelan. "Aku bercanda!"
IU menatapnya kesal sekaligus senang. "Yaa~kau ini suka sekali mengerjaiku!"
"Mwo? Yaa? Kau memanggilku dengan Yaa'?! Bocah ini benar-benar..yaa!! bagaimana mungkin kau berani berbicara informal padaku, aku ini kan lebih tua darimu!" Kata Minho dengan nada serius membuat IU sedikit terkejut
"Oh?! Jeongmal mianhaeyo, oppa..aku kelepasan." Ucap IU merasa bersalah
Minho menatapnya sesaat.
"Aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat.."
"Apa itu?!"
"Temani aku makan malam." Jawab Minho singkat membuat raut wajah IU lagi-lagi berubah
"Tapi oppa, kau tau kan aku sedang bekerja?"
Minho terlihat berpikir sejenak. "Hmm..tunggu disini." Katanya tiba-tiba lalu berjalan masuk ke ruang staff. IU yang melihat itu sempat terkejut namun akhirnya membiarkan pemuda itu masuk kedalam.
Setelah beberapa saat Minho pun akhirnya keluar dari dalam ruangan.
"Ayo!" Katanya santai membuat IU menatapnya tidak percaya. "Aku sudah meminta izin padanya."
"Benarkah?!" Tanya IU berusaha memastikan membuat Minho mengangguk seraya tersenyum. "Tapi sebelumnya..hitung belanjaan itu lebih dulu. Aku tidak mungkin seenaknya membawamu tanpa membeli apapun dari sini kan?!" Ujarnya membuat IU mengangguk mengerti kemudian mulai menghitung barang-barang tersebut.
♥:♥:♥
Keduanya kini berada dalam sebuah rumah makan sederhana. Sebenarnya Minho sudah memilih tempat khusus untuk mereka berdua, tapi karna IU merasa tempat itu kelihatan mahal jadi ia mencarikan tempat lain untuk pemuda itu.
"Yaah~kau ini benar-benar..apa kau belum makan dari pagi? Sampai-sampai makan saja seperti itu." Ucap Minho yang sempat terkejut saat melihat betapa lahapnya IU menikmati makanan dihadapan mereka.
IU sendiri hanya terkikik mendengarnya. "Mianhaeyo, aku memang belum makan sejak tadi karna.." gadis itu mendadak menghentikan kalimatnya
"Karna apa..?" Tanya Minho membuat IU berpikir sejenak kemudian menggeleng
"Aniya. Bukan apa-apa." Jawabnya cepat. "Oh? Oppa..kenapa kau tidak makan?" kini gilirannya yang balik bertanya saat melihat sejak tadi Minho belum juga menyantap makanan dihadapannya.
Minho menatapnya sesaat, kemudian tersenyum kecil. "Aku...tidak biasa dengan makanan seperti ini." Ucapnya ragu
Sesaat IU terpaku mendengarnya. Ia tau Minho berasal dari keluarga kaya, jadi mungkin mendengar ia berkata seperti itu cukup wajar. Sebuah ide mendadak terlintas di benaknya.
"Oppa..saranghaeyo!" Serunya tiba-tiba membuat Minho membelalakkan matanya
"MWO?!" Ucap Minho terkejut dan seketika itu pula IU memasukkan sebuah udang kecil dengan mayonnaise kedalam mulutnya.
Rencana gadis itu ternyata berhasil.
"Bagaimana?! Rasanya enak kan?!" Tanya IU antusias
Minho sendiri tidak menjawab, ia masih menatap gadis dihadapannya itu dalam. Detik berikutnya ia pun mengangguk seraya tersenyum kecil. Ternyata rasanya lumayan juga. IU yang melihat itu kini tertawa puas karna merasa telah berhasil dengan rencananya.
"Kyaa!! Kubilang juga apa, kan? Rasanya memang enak..dan aku yakin kau akan menyukainya." Seru IU antusias lalu kembali menyantap udang miliknya
Minho sedikit terperangah ditempatnya. Ia sama sekali tidak mengira kalau gadis ini akan menggunakan cara seperti itu padanya. Mata pemuda itu kini terarah pada IU yang masih terkekeh dihadapannya. Senyuman itu, sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dilihatnya. Sesuatu yang mungkin begitu ia rindukan selama ini.
IU menghentikan tawanya seketika saat Minho tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya dan akhirnya membersihkan sisa mayonnaise dari sudut bibirnya dengan jari pemuda itu.
"Cepatlah makan. Setelah itu kuantar kau pulang." Ucap Minho kemudian menarik tubuhnya kembali. IU sendiri sempat mematung sejenak lalu tersenyum malu, setelah itu kembali melanjutkan makannya.
Minho memandang IU yang sibuk dengan makanannya itu. Ia tidak menyangka benar-benar bisa kembali bertemu dengan gadis ini. Seseorang yang dulu sempat dilepaskannya. Namun untuk kali kini ia berjanji pada dirinya sendiri, tak akan melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.
Aku tidak akan melepaskanmu lagi.