Mrs. Kitty

Mrs. Kitty
Image



Setelah seminggu penyembuhan, hari ini Emma kembali kuliah. Gadis itu berjalan sendirian menyapa beberapa orang yang tersenyum kepadanya. Semenit yang lalu Tarissa memberi pesan pada gadis itu untuk ketemuan di area parkiran. Tarissa mengajak Emma untuk shopping.


Gadis yang memakai kaus putih dengan terusan celana kulot hitam itu berjalan melewati gedung sains untuk sampai di area parkiran. Sebelum melanjutkan perjalanannya, Emma berhenti di satu kursi untuk menyimpan buku di tangannya agar bisa mengikat rambut panjangnya yang terurai.


"Capek!" keluhnya mengusap dahinya yang banjir peluh. Perkiraan cuaca tadi pagi yang tadi Ia tonton benar adanya, udara siang kota sangat menyengat hingga ke tulang.


Tarissa melambaikan tangannya ke arah Emma dari samping mobil merah mencolok yang baru gadis itu dapatkan dari Ibunya. "Kamu sengaja memarkirkan mobil sejauh ini untuk menyiksaku, hah?" Tentu gadis berbaju kuning teduh itu menggeleng dengan tuduhan sahabatnya.


"Tidaklah, mana mungkin aku berani memarkirkan mobil sejauh ini." Emma menutup pintu mobilnya. "Jika tadi pagi aku tidak kehilangan tempat parkirku karena Camilla dan gengnya, pasti aku tidak akan parkir sejauh ini," jawab Tarissa. Keduanya sudah duduk di kursi mobil dan sudah bersiap untuk berjalan menuju mall.


"Maksud mu, mereka menerobos?"


"Begitulah. Aku mengerti, jika mereka sangat terobsesi dengan kecantikanku hingga tempat parkirku saja di terobos." Kepercayaan diri seorang Tarissa tidak ada tanding.


Emma terbelak, dia menatap geli Tarissa yang sudah memakai kacamata hitam andalannya. "What ever."


...🐁🐁🐁...


"Hai, what are you gonna do in here?" salah satu dosen dari fakultas Emma menyapa keduanya. Cassia. Dia adalah dosen muda yang mengajar kelas desain digital. "Wow, kalian sangat tahu trend ya." Cassia melihat paperbag yang berlogo brand terlaris sekarang.


Emma mengakat sudut bibirnya ke atas. Dosen muda di depannya terkenal sangat ramah, ditambah cantik yang begitu menguras perhatian. "Mrs bisa saja."


"Have a fun time girls. Mrs duluan, ya." Mrs Cassia, dia melanjutkan jalannya. Dia belum menenteng apapun seperti dua gadis itu.


Emma dan Tarissa berjalan beriringat, mata mereka memperhatikan beberapa toko yang bagus dan baju yang menarik.


Tarissa berhenti di depan gerai ice cream asal Itali yang cukup terkenal dari berbagai kalangan. Gadis berbaju kuning teduh itu menarik lengan Emma masuk ke dalam gerai.


Tarissa tentu tahu, Emma tidak akan pernah menolak berbagai makanan manis. Emma memilih rasa hazelnut dan Tarissa rasa pistachio. Setelah selesai memesan keduanya duduk di meja yang di sediakan. Mereka menghabiskan sisa waktu hari ini dengan obrolan dan sedikit candaan.


...🐁🐁🐁...


Pukul 8 malam Shira mengetuk pintu kamar putrinya yang tertutup. Saat mendengar suara si bungsu mengizinkan untuk masuk, Shira langsung masuk ke dalam. Shira masuk kedalam dengan menenteng sebuah kebaya berwana peach dengan rok kebaya jika di satukan sangat cantik.


"Ada apa, Mi? kebaya siapa, bagus banget," ujar Emma beranjak dari duduknya di atas sofa dekat balkon. Dia menaruh buku bacaannya di atas meja kecil di depannya sebelum berhadapan dengan Shira.


Wanita berumur di atas angka empat puluh itu tersenyum mendengar pujiannya. "Ini kebaya saat Ayah kamu melamar Mami. Cantik bukan. Ini kebaya yang di buatkan nenek kamu dalam satu bulan. Nenek mengerjakannya sangat teliti. Bahkan sampai saat ini kebayanya masih bagus."


"Really? pasti banyak sekali kenangan dari kebaya ini." Shira mengangguk. "Buat kamu, pasti Emma sangat cantik menggunakan ini."


Suara pot terjatuh merengut perhatian keduanya untuk menatap balkon. Di sana ada tikus besar yang tersenyum kikuk. Dia William. Pria itu menampilkan senyumnya. Shira tidak heran. Anak tetangganya memang sering masuk keluar kamar putrinya. Karena balkon keduanya berdempetan dan hanya berbatas kaca bening. William menaiki pagar dan berjalan di atasnya dengan bermodalkan memegang kaca.


Pernah suatu ketika, William berumur sebelas tahun kehilangan pegangannya karena sebelumnya komplek mereka turun hujan. Kaca bening yang selalu jadi pegangannya licin dan menahaskan William terjatuh ke bawah. Ke lantai satu dari lantai dua. Parah, kaki William patah dengan luka benturan di kepala. Kapok? tentu tidak.


"William!! Jangan ganggu anak perawan tetangga. Pulang, cepet pulang." Wajah Diana mengamuk. William dapat jelas melihat wajah sang Mama dari kaca yang bening.


Shira menghampiri, dia membuka pintu balkon yang bermaterialkan kaca. Dia tersenyum ke arah Diana yang berdiri di balkom kamar putranya. "Biarkan saja, sepertinya William rindu putri cantikku."


Diana pun terkekeh. "Pesona Emma," ujarnya. "Emma, Tante titip anak tikus ini. Jam sepuluh suruh pulang ya, cantik. Kalo dia tidak mau kamu kasih saja terasi." Terasi dapur. William takut dengan bumbu masak itu, jika di dekatkan dia akan berlari dan segera muntah.


"Belanja bersama siapa?" William bertanya karena melihat paperbag tergeletak di atas karpet.


"Tarissa," jawab Emma.


Willam membanting tubuhnya di atas kasur Emma yang rapih. Dia berguling dari kanan ke kiri, mencari kenyamanan. "Jangan tidur di sini. Awas saja." Peringat Emma melirik William yang mencoba menutup matanya dari arah sofa.


"Terserah aku," jawab William.


"Aku kasih terasi baru tahu rasa."


"Pengancam!"


William memaksa tubuhnya yang sudah nyaman untuk bangun. Kakinya berjalan menghampiri Emma yang sedang membaca. Kolor hijau, kaus berlogo ultraman yang di kenakan pria itu sangat lucu. Hanya Emma dan kedua keluarga yang tahu kebiasaan unik William.


Kepala William menyelusup di bawah Emma. Dia menidurkan kepalanya dipaha Emma yang memakai hotpants. Gadis itu menunduk melihat tikus laboratorium yang sudah memejamkan matanya. Emma menutup bukunya, menyimpan di sampingnya. "Bantal banyak. Kasihan, bantal tidak punya harga diri karena kamu tidur di pahaku. Sana, tidur di kasur."


William menggeleng, dia menyilangkan tangannya di dada. Matanya terpejam, bibirnya sedikit maju untuk meledek. Agar membuat William geram, Emma membawa ponselnya lalu memotret wajah William seperti ingin mengajaknya berduel.


"Heh!" sontak, Emma meyembunyikan ponselnya di baju dalam, atau branya.


William duduk, matanya menatap Emma sebal. "Emma!" erang William, ponselnya tidak bisa di rampas. Apalagi di sembunyikan di ... ekhm.


"Apa?" tanya Emma. Dia tertawa pecah karena wajah William begitu frustasi. William itu sangat menjaga imagenya yang cool, manly dan tegas. Dia tidak mau karena satu foto yang tadi Emma ambil merusak itu semua. Kolor hijau, kaus ultraman, semua itu bisa merusak imagenya.


Emma berbangga diri, dia mempunyai foto untuk mengancam William. Jika sewaktu waktu William menyebalkan, dia bisa mengusut tentang foto tersebut.


William berpasrah diri. Jika dia merebutnya itu tidak akan lucu. Ia kembari menidurkan kepalanya di paha Emma, mencoba untuk tidak peduli dengan foto yang akan menghancurkan imagenya. Tapi! tidak bisa, dia tidak tenang.


"Kamu boleh melakukan apapun dengan foto itu, tapi tidak dengan satu hal," mata William menatap tajam Emma yang tengah menatap arah luar, menikmati malam yang akan turun hujan.


"Apa?"


"Menyebarkannya, jika iya, aku tidak akan segan melakukan kejahatan kepadamu."


"Kamu berani melakukan kejahatan kepadaku?"


"Tentu."


"Ish, jahat sekali. Memangnya kamu akan melakukan apa?"


Emma menunduk, rambut yang tergerai sedikit menutupi pipinya. Ujung rambutnya hampir mengenai permukaan wajah William yang terdiam, menusuk Emma lewat matanya. Tangan kanan William terangkat menyimpannya di tengkuk Emma untuk mendekat. Dahi mereka bersentuhan. William dapat merasakan jika Emma tercekat, tidak bisa bernapas untuk beberapa saat.


Satu gerakan itu menutup jarak di antara keduanya. Kecupan kecil dapat membuat seluruh jiwa Emma terangkat. "Aku akan melakukan ini lebih dalam," bisiknya di depan bibir Emma yang terdiam. Kedua mata itu beradu. "Jika tidak ingin, jangan menyebarkan fotoku!"


"Awshhh," ringis William. Pinggangnya di cubit keras oleh korban yang baru dia cium, tepat di bibir merah mudanya, eumm ... William merasakan rasa Mangga. Manis tahu.


Emma menarik kepalanya, dia menatap nyalang William yang sedang mengusap pinggangnya. "Kamu kira keren kaya tadi, enggak. Huekk. Jijik tau." Emma berakting seolah ingin muntah, padahal perlakuan William barusan dapat membuat jantungnya loncat dari sangkarnya.