
"Williammm."
Orang yang menjadi objek kekesalan Emma hanya tertawa, pria itu menatap geli wajah masam, rambut acak acakan, dan air mata yang akan turun dari Emma.
"Maaf, maaf. Salah siapa menjadi orang enaknya di usilin, hm?" William menepuk punggung Emma lembut setelah dia membawa Emma dalam dekapannya.
"Kamu ngeselin! kapan aku bisa ngirim kamu ke neraka?" Emma melepaskan pelukan William. Wajahnya menatap galak William. "Jangan tertawa!"
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang lewat hanya menatap sekejap lalu memfokuskan tatapan mereka pada urusan masing masing. William. Pria itu ingin menjemput sahabatnya yang sedang berkuliah semester akhir.
Namum, bukan William jika tidak jahil. Pria itu melihat sang sahabat di bangku taman dengan beberapa buku desain baju yang indah.
"Aku seperti kucing kejebur di got." Emma menatap wakahnya di cermin kecil yang selalu ia bawa.
William membereskan buku buku Emma yang terletak di atas kursi besi taman, setelah membawa buku yang tidak terlalu banyak, pria itu menggengam jemari Emma, membawanya menuju parkiran. Sepanjang perjalanan Emma menggerutu kesal sembari merapihkan rambutnya.
"Emma." Gadis itu menatap belakang. Tristan, teman pria Emma di jurusan Teknik Kimia itu memanggilnya.
"Iya?" Emma melepaskan genggaman William. Lantas menghampiri Tristan lima langkah di depannya.
"Bukumu, ketinggalan di perpustakaan." Emma melihat buku yang di sodorokan Tristan. Perancang busana. Nama buku itu, buku yang selalu Emma bawa kemana pun.
"Terimakasih." Tristan menepuk pucuk kepala Emma setelah mendapatkan senyum manis dari gadis cantik di depannya.
"Byee Tristan" Pria tinggi dengan pakaian modis itu melambaikan tangannya ke arah Emma.
"Cepet!" suara berat milik William memerintah. "Lambat!" gerutunya melihat langkah kecil Emma.
"Galak banget, sih.Menstruasi ya?"
"Iya."
"Ihhh." Emma bergidik ngeri.
"Jijik, ya?"
William menyimpan buku Emma di jok belakang mobilnya. "Enggak, sih." Gadis itu mengambil tempat di samping jok kemudi.
William menatap Emma di sampingnya. "Terus?"
Emma menatap William, dia menatap serius wajah pria di sampingnya. "Coba kamu banyangkan, bagaimana seorang pria sepertimu menstruasi."
"Tidak terbayang," jawab William acuh sembari memakai seatbeltnya.
"Ihhh. William, coba bayangkan."
William kembali menatap Emma, wajah gadis itu memerah, matanya menatap tajam William. "Jika pria mens, maka itu akan seperti hotdog."
"Hot dog?" kening William mengernyit, tanda tidak mengerti.
"Iyaaa. Coba bayangkan." pinta Emma sudah tertawa kecil.
William coba membayangkan. Hotdog, makanan dengan bahan roti panjang, sosis, ditambah beberapa saus seperti mayonaise, saus ... Damn!!!! apakah maksud Emma itu ... EMMA!! Wiliiam menjitak jidat Emma kencang. Gadis itu terdiam setelah tertawa mendapatkan jitakan yang cukup membuat jidat indahnya memerah
"Pikiranmu!" William ingin tertawa namun dia sedikit malu. Bagaimana bisa Emma mambahasa itu.
"Awsss. Benar, kan, jika pria menstruasi itu seperti hotdog!" Emma tertawa terbahak bahak menyisakan William yang ingin tertawa namun di tahan.
...🐁🐁🐁...
WidSeet. Komplek elit di pusat kota itu tampak tenang di malam hari. Penduduk di WidSeet pun tampak beristirahat dari padatnya jadwal kerja tadi siang. Di tengah keheningan itu, ada satu ruangan yang sudah hancur berantakan.
"WILLIAMMMMMM!"
"Awsssss. EMMAAAA!"
Kediaman rumah orangtua Emma itu ramai oleh teriakan teriakan dari William dan Emma. Masalah ini di mulai karena masalah nasi goreng.
"Nasi goreng itu gak pake kecap." Emma keras kepala saat William akan menuangkan kecap di atas nasi goreng setengan jadi.
"Pake kecap Emma." William juga masih berpegang pada pengetahuannya saat membeli nasi goreng di samping kantornya.
"Enggak Willi, nasi goreng itu gak pake kecap." Emma merebut botol kecap dari tangan William.
William berdecak, dia mematikan kompor terlebih dahulu sebelum melanjutkan debatnya. "Kamu pernah beli nasi goreng?"
"Pernah," jawab Emma. Nasi goreng yang Emma beli adalah di restoran tionghoa yang menyajikan nasi goreng polos.
"Pakai kecap?"
"Enggak, kok. Polos. Kamu dapet ilmu dari mana bikin nasi goreng pake kecap?"
William mundur beberapa langkah, dia membuang napas kasar. Nasi goreng itu pakai kecap. Pokoknya nasi goreng itu pakai kecap. Karena kesal berdebat dengan kucing got di depannya, William berjalan keluar dari dapur melewati Emma.
Pria itu membalikan tubuhnya menatap Emma, gadis itu memakai piyama motif animasi bawah laut berwarna kuning. Didalam rumah ini hanya ada mereka berdua, asisten rumah orangtua Emma sudah di perintahkan untuk kembali ke belakang.
Alasan William menginap adalah perintah dari Donald—Ayah Emma yang sedang di Mexico untuk urusan bisnis.
"Bodoh." Emma meresfon dengan melemparkan bantal sofa ke muka William. Karena tidak ingin kalah, William membalas pukulan bantal ke arah Emma.
Mereka berdua saling melempar bantal. Bahkan guci besar yang pecah tidak mereka hiraukan. Berlari dari kejaran Emma, William berlari ke lantai dua— menuju kamar Emma yang kebetulan terbuka lebar. William meloncat ke tengah kasur Emma yang cukup besar.
"Sini." Tantang William.
"Kamu yang ke sini, turun." perintah Emma berkacak pinggang.
Untuk beberapa menit mereka kejar kejaran, mengelilingi kamar Emma yang begitu luas. Bahkan baju di walk-in closet sudah berhanburan menjadi tumpukan baju yang mengenaskan. William berhenti di depan kasur, dia memilih merebahkan tubuhnya di bahan empuk itu.
"Cukup! aku sudah lelah." William mengalah, dia sudah terlalu lelah kejar kejaran pada pukul sebelah malam. Bahkan malam ini dia sudah banjir keringat.
"Aku juga." Emma merebahkan tubuhnya di samping William yang sedang mengatur napas.
William menatap langit kamar Emma. "Kenapa kita berdebat, padahal dunia sudah canggih. Kita memiliki ponsel yang pintar untuk mencari mana yang benar."
William membalikan tubuhnya, dia merubah posisi rebahannya menjadi tengkurap. Ponsel yang di sakunya sudah di tangan, jemari lentiknya menjelajahi layar ponselnya. Emma bergabung, dia tengkurap, matanya memperhatikan ponsel William.
"Bisa di lihat Nyonya Wistlyee, jika nasi goreng pakai kecap."
Emma yang merasa bodoh hanya mangut mangut. Apa dia begitu bodoh hingga guci yang Mami-nya beli dari Itali pecah karena ulahnya. "Coba cari 'nasi goreng tionghoa' aku yakin itu tidak pakai kecap."
William mengetikan apa yang sahabatnya pinta. Saat apa yang dia ketikan muncul. Barulah, saat itu Emma merasa hidupnya tidak terlalu bodoh. Nasi goreng, dengan nasi goreng tionghoa itu berbeda.
"Kita membuang energi terlalu banyak karena hal ini." William merubah posisi tubuhnya menjadi menghadap Emma.
Emma mengangguk. Dia menatap William yang menguap. Pria itu menumpu kepalanya di tangan. "Aku mengantuk."
Tubuh Emma di rengkuh, wajah Emma di lahap habis di dekapan William. Degub jantung William terdengar jelas. Lengan berotot William menjadi bantalan kepala Emma. "Good night." William mengecup lembut Emma.
"Good night." Emma membalas pelukan William.
.
.
.
.
.
.
.
Ayooo, klik dulu jempolnyaaaa.
Iyaaa... gratis kok. Cuman butuh waktu satu detik.
.
Yappp terimagaji buat yang sudah like.
.
Bagaimana? Nasi goreng biasa sama nasi goreng tionghoa itu beda.
Udah tau
Baru tau
TBC