
"EMMA!"
Beberapa pria berlari menghampiri Emma yang sudah di bantu oleh Tarisaa untuk duduk di kursi. Wajah shock Emma membuat Tarissa bingung. Tarissa memberikan botol air mineral kepada Emma sebagai penenang.
"Kamu baik baik saja?" Tristan berdiri di samping Emma. Pria itu berdiri menutupi cahaya matahari dengan tubuh tingginya yang di balut jersey baseball berwarna putih.
Emma mendongkak, dia menggeleng sebagai jawaban yang jujur. "Aku terkejut, dan luka ini terlalu perih." Lutut Emma sedikit robek karena mengenai besi di bawah kursi.
"Camilla?" Jonnathan mendongkak, menatap sang kekasih yang hanya menatap bengong kericuhan yang entah siapa yang mulai.
"Aku akan membawamu ke campus health unit, oke." Tristan menyelipkan tangannya di bagian lutut dan tengkuk leher Emma untuk segera membopongnya.
"Berhenti!" teriakan itu menjadi pusat perhatian. Pria berjas dengan kaca mata hitam datang berjalan dengan santai, saat beberapa langkah lagi, pria itu melepaskan kacamatanya. "Lepaskan Emma. Biar saya yang bawa."
"Willi?"
"Cepat, singkirkan tangan kotormu!" perintah William kepada Tristan.
...🐁🐁🐁...
Luka robek di lutut harus di jahit. Karena terlalu takut, membuat William membawa wajah Emma ke atas dadanya untuk menutupi mata kepo Emma. Beberapa kali Emma sedikit berteriak dan William pun menenangkan dengan usapan lembut di kepala.
"Sudah, beres. Semoga segera sembuh. Untuk lebih lanjutnya, Emma bisa dibawa ke rumah sakit." Dokter kampus menyarankan. "Nanti aku akan membawakan kursi roda, ya."
"Tidak perlu, Dok. Ada saya," ujar William seraya mengedipkan matanya.
Dokter Intan terseyum manis. "Baiklah, aku tinggal ya." Dokter Intan keluar dari ruangan, meninggalkan William dan Emma berduaan.
"Sakit?"
"Sedikit."
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Emma.
William duduk di kursi. Pria itu menatap Emma yang berbaring. "Aku sponsor."
"Kamu memang tikusku, Willi. Jika tidak ada kamu pasti aku sudah banjir air mata." Emma terkekeh.
William dan Emma saling melontarkan pertanyaan, mereka berdua terlihat sangat asik. Namun, teriakan di luar ruangan membuat Emma sedikir tersentak. Suara teriakan itu,
"Jangan terlalu merasa paling berkuasa Camilla. Ayolah, sedikit berpikir dewasa. Dari tadi kamu terus menyalahlan Tarissa. Emma menjadi korban, Camilla, kamu harus sadar jika kamu salah."
"Jika Tarissa tidak duluan, ini semua tidak akan terjadi, Than."
"Stop! Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan kamu sendiri."
"Than. Kamu itu pacar aku, atau jalang ini, sih? Dari tadi kamu menyalahkan aku terus. Buka mata kamu, apa kamu tidak melihat jika ada dua pelaku di sini."
William beranjak dari duduknya, tangannya menggapai handle pintu. Terlihat ada empat orang di luar sana. "Kalian masuk." Perintah William tidak ingin di bantah. "Kamu jangan," lanjutnya menghadang Tristan.
Tarissa, Jonnathan dan Camilla di suruh masuk oleh William. Pria berjas dengan aura kuat itu berdiri di depan tiga orang yang sedikit menunduk tetapi masih bisa jelas William lihat.
"Saya tebak, semua ini berawal dari seorang pria, kedua wanita ini berperang karena pria, dan berefek kepada Emma." William berjalan memunggungi, memperhatikan barang di ruangan. Lalu matanya menatap tajam Tarissa. "Tarissa, jika kamu tidak kecentilan, ini semua tidak akan terjadi."
Tarisaa terbelak, pria sialan, harusnya dia membantunya dalam masalah ini. Di sisi lain Camilla tersenyum merendahkan Tarissa.
"Dan ini semua tidak akan terjadi jika tidak ada pria ini." Jonnathan menghirup udara banyak saat di tunjuk oleh William.
Emma menggeleng. "William, ini semua tidak sengaja," ujarnya.
"Stttsss. Diam saja. Aku yang akan mengurusnya." Wiliiam melipatkan tangannya di bawah dada. "Semua ini salah kamu." William melempar tatapan tidak suka terhadap sahabat Emma yang satu ini.
"Hanya orang bodoh yang merasa tidak bersalah." William berjalan menuju Emma yang tersenyum. Senyumam Emma berarti dia juga setuju.
...🐁🐁🐁...
"Emma. Kenapa dia?" Virenda bertanya pada Emma melihat Tarissa bercucuran air mata sembari duduk di ubin dengan kedua kaki di sila.
"Karena dia, Emma menjadi seperti ini." Emma menunjuk seluruh badannya.
Tarissa menatap sahabatnya. "Ma-ma-MAAF. Aku be-benarr, ti-ti-tidak ta-ta-huuu." Tarisaa mengelap air matanya dengan punggung tangannya. Betapa menyedihkannya Tarissa saat ini.
"Cengeng." Ledek William baru kembali dari rumahnya yang bersebelahan dengan Emma. Pria itu berganti pakaian yang lebih santai.
"BASTARD!!!" Tarissa berteriak sembari mengacungkan kedua jari tengah ke arah William.
Pria yang di kata katain oleh Tarissa hanya tertawa, dia mengambil tempat di samping Emma yang sedang selonjoran di atas sofa. Virendra pun menghidangkan lasagna buatan dirinya di atas meja. "Rissa. Makan, air matamu butuh asupan." Virendra membantu Tarissa berdiri.
"Kak Vi, memang bhaikkk."
"Gimana gimana?" Emma menatap Tarissa.
"BHAIKKKK!" Tarissa mengacungkan jempol dengan tawa yang menyedihkan. Lihat saja, kedua mata sembab dan hidung memerah.
Tarissa berlari kecil, memotong lasagna lalu mehidangkan di piring kecil. Virendra menatap Tarissa dari samping yang sedang memakan lahap lasagna yang Ia buat. "Enakkk."
"Mau dong," pinta Emma.
William berdiri, dia memotongkan lasagna dan menghidangkannya untuk Emma. Saat memakanpun Emma di suapi oleh William. Virenda yang sedari kecil melihat ke romantisan mereka sudah biasa saja.
...🐁🐁🐁...
Angin malam yang dingin menabrak gorden kamar William Trydes Clericus yang sengaja terbuka, asbak rokok sudah hampir penuh oleh abu rokok. Pria dengan kaus hitam oblong dengan celana pendek sedang duduk di area balkon kamarnya. Udara yang dingin itu membuat rambut hitamnya ikut terbawa angin.
"WILLIAM!"
Suara gertakan dari samping itu sudah William ketahui siapa orangnya. "Matikan rokokmu sebelum aku mematikan detak jantungmu. Aku ingin tidur!!"
"Cobalah." William tersenyum seraya menghisap rokok yang di selipkan di bibir indahnya. Wajah kesal Emma begitu memancingnya untuk berbuat jahil.
"Tunggu aku di sana." Wajah Emma memerah padam dengan tangan mengepal ke atas.
Di dalam rumahnya, gadis dengan piyama hijau daun itu berjalan dengan kata kata kutukan untuk seorang William. Balkon mereka yang bersebelah membuat asap rokok William tercium hingga ke kamar Emma. Gadis dengan rambut yang di ikat itu semakin menggerutu ketika melihat jam digital di rumahnya menunjukan pukul 01:30. Dini hari? ayam pun enggan untuk berkokok.
"AKU BERSUMPAH AKAN MEMENGGAL LEHERMU!" Emma mendang pintunya. "Awsss, sakit." Emma memegang lututnya yang baru di jahit tadi pagi.
Karena terlalu marah kepada William yang mengganggu tidurnya, gadis itu melihat lemari besar di samping kanannya, lalu laci paling bawah dia buka untuk membawa remote control. Jemari lentiknya menekan tombol logo pintu dari beberapa tombol yang ada. Sedetik setelah itu pintu putih besar terbuka lebar.
Di pos satpam keluar Pak Yayan dengan muka ngantuk. "Non, kenapa?"
"Buka gerbangnya!" Tidak biasnya, Emma yang selalu bertutur kata lembut menjadi lebih kasar malam ini. "Baik, non." Pak Yayan menatap Emma dengan wajah khawatir, luka di seluruh tubuh Emma membuatnya iba.
Langkah kaki besar membawa Emma menuju rumah besar di sampingnya, dari arah balkon, William tertawa menghabiskan rokok terakhirnya sebelum Emma datang.
Emma menyungingkan senyumnya, gadis itu masuk keperkarangan rumah orangtua William setelah di bukakan oleh satpam. Emma mengambil selang air keran, dia mengarahkannya ke balkon kamar William.
Sebelum menghindar, air itu sudah membasahi tubuh William. "EMMA!" William berdiri dari kursi rotannya, jemarinya mencengkram pembatas begitu kuat. Air nya begitu dingin.
Mata William hampir keluar menatap Emma yang tertawa namun sedikit meringis. Emma memegang pelipisnya, dadanya sedikit memburu. Luka di lututnya begitu menyelekit dalam satu waktu. Sial. Udara dingin di luar membuat badannya lemah. Gadis itu ambruk ke atas rumput.
"Holly shit, Emma!!"