
"Nakal! lihat, Emma pingsan karena ulahmu. Ya Tuhan, bantu aku. Apa dosa yang di perbuat diriku hingga mendapatkan putra seperti ini." telapak tangan DianaβMama William memerah karena memukul William begitu keras.
"Dianaa. Emma tidak apa apa, dia hanya kurang fit." Shia menghampiri Diana yang frustasi.
"Tidak Shira, ini salah putraku. Jika saja dia tidak merokok dan menyebabkan Emma ku terbangun, maka Emma tidak akan pingsan." Diana merasa bersalah.
Kediaman keluarga Cericius itu ramai oleh dua dokter pada pukul dua dini hari. Seluruh tubuh Emma di cek. Padahal Shira sendiri tidak begitu parno akan hal ini hingga memanggil dua dokter. Diana begitu menyayangi Emma, padahal mereka hanya sebatas tetangga.
"Jika Emma kenapa-napa kamu angkat kaki dari rumah ini." Ucapan Diana tentu guyonan semata, meski William pergi pun William sudah memiliki rumah, apartemen, Villa yang bisa ia tepati.
"Anak Mama itu Willi atau Emma?" tanya William, dia menatap Diana yang duduk tepi kasur. "Aku seperti anak angkat di keluarga yang kejam." William merajuk.
"Iya. Mama nyesel angkut kamu jadi anak Mama." Diana melirik sang suami yang sedang menguap. Hell, ini pukul dua dini hari, dan telinganya sudah begitu sakit oleh teriakan istrinya.
"Mam. Viranda ngantuk, besok ada meeting, aku tinggal ya," pamit Viranda. Shira mengangguk. Pria itu kembali ke kediaman keluarga Wistlyee untuk kembali ke alam mimpinya. Karena pria itu tidak bisa tidur tanpa guling kesayangannya.
"Berikan obat ini pukul delapan pagi saat dia sudah terbangun, untuk luka jahitnya jangan terlalu banyak bergerak, dan ini, obat pereda nyerinya." pesan dari dokter.
"Baik, dok," jawab Diana.
"Shira, kita jaga anak kita bersama ya." Diana menatap Shira. Wanita itu mengangguk dengan tersenyum.
...πππ...
Pukul tujuh pagi Emma terbangun dari tidurnya, gadis itu menatap sekitar. Kamar tidur William. Kamar pria itu terlihat manly, warna cat lebih gelap dan hiasan yang natural. Kepala Emma pusing. Sebenarnya Emma benci tubuhnya saat lemah. Jika Emma mendapatkan luka atau terjatuh, maka malamnya Ia akan demam.
Saat demam, Emma tidak nafsu makan. Emma tidak suka, dia sangat menyukai makanan, oleh karena itu Emma benci demam. Demam merengut nafsu makan.
"Emma, sayanggg." Diana menyembulkan wajahnya. "Eh, udah bangun ternyata."
Diana duduk di tepi kasur. Tangan hangatnya mengusap pipi Emma. "Pusing ya?"
"Iyaa." Emma merengek, gadis itu meringsut memeluk boneka robot di samping kirinya. Diana mengusap lembut surai panjang Emma.
"Mami kamu sedang membuatkan bubur, setelah makan, minum obat. Oke."
Emma menggeleng. "Pahit, Tan."
"Biar cepet sembuh, sayang."
"Enggak. Obat pahit."
...πππ...
Emma melewatkan dua jadwal memakan obat. Emma menolak obat yang diberikan Diana dan Shira. Padahal sekarang sudah jam tujuh malam. Shira sudah mengancam Emma dengan berbagai cara pun gadis itu masih mengunci mulutnya untuk menerima dua pil obat. Bahkan, Virenda dan Donal sekali pun itu tidak mempan.
William? pria itu sibuk bekerja, dia melakukan berbagai meeting dengan para petinggi dari berbagai perusahaan.
Emma berpikir di bawah selimut. Kasihan juga. Tapi! obat itu pahit! dia tidak kuat menelannya. "Kak." Emma mengintip sedikit wajah Virenda. Kakaknya kelelahan.
Virenda menatap adiknya. "Pulang, yuk. Nanti aku minumnya di rumah, ya."
Emma mendudukan tubuhnya. Beringsut dari atas kasur milik William, lalu menjatuhkan kakinya ke atas lantai. "Ayo," ajaknya.
Sesampai di lantai bawah, Diana dan sang suami mempertanyakan kenapa tidak menginap saja. Namun jawaban Emma hanya singat, tidak ingin merepotkan. Baiklah, jika Emma ingin begitu, Diana mengizinkannya. Wanita cantik berumur empat puluh empat itu mengantarkan Emma sampai ke rumah dan ke depan kamarnya.
"Di minum obatnya, oke. Good night." Diana berpamitan.
...πππ...
"Gimana, Emma sudah minum obatnya?" William bertanya kepada Virenda saat pria itu baru saja keluar dari kamar adiknya, Virenda mengangguk kemudian melenggang turun ke lantai bawah membawa nampan.
Emma yang sedang duduk di atas kasur sembari membaca buku melihat kedatangan William. Gadis itu melotot, langsung melempar bukunya asal, dia dengan segera bersembunyi di bawah selimut. "Aku ingin tidur, kamu pulang saja."
"Buka." William menarik selimut merah muda Emma. Pria itu memaksa terus agar Emma membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"William. Kamu bisa pulang. Aku sudah meminum obatnya." Emma mengeram kesal di dalam selimut.
"Jangan berbohong, Emma." Pria yang tampan saat berbalut jas itu menaikan lututnya ke atas kasur di ikuti kedua kakinya. Kaki William sudah di atas, mengunci kaki Emma yang di selimuti. Posisi William di atas Emma, kedua tangan William yang mencuat warna hijau itu di taruh di sebelah kepala Emma.
"WILLIAM!" Emma merontah.
William menyelusupkan tangannya ke bawah bantal yang di tiduri Emma. "Willi. Please, bantu aku. Jangan." Emma mengintip sedikit.
"Minum ini, atau aku beritahu Tante Shira jika setiap kali kamu sakit kamu menyembunyikan obat di bawah selimut. Plih yang mana?" tawar Wiliiam menatap wajah Emma serius.
"Jangan." Emma memasang wajah memelas. "Tapi obat pahit."
Wiliam membanting tubuhnya kesamping Emma. Dia memejankan matanya sekejap. Beberapa saat kemudian tangan indahnya merogoh saku celana bahan yang Ia kenakan . "Aku mambawa permen." William menatap samping.
Emma merampas semuanya dari tangan William. Gadis itu mendudukan tubuhnya yang melemah karena merasa seluruh tubuhnya sakit. Obat di tangan William dia bawa, untuk menit pertama Emma masih termenung. Di depannya sudah siap permen. Dengan seluruh kekuatannya, Emma memasukan dua pil obat kedalam mulut di iringi air yang ia minum.
"Pahitttt!!!" Buru buru Emma menyambar permen, dia terus mencecapi rasa permen yang manis agar menghilangkan rasa yang sebelumnya, yaitu pahit.
"Wilβ eh, tidur." Emma mengukir senyum melihat wajah tenang William. "Hihi. Makasih, tikus laboratorium ku."
Emma menidurkan kepalanya di samping William yang menyamping. Emma merapatlkan tubuhnya, hampir dekat, hampir ujung hidung mereka akan bertubrukan. "Sama-sama," jawab William, tanpa membuka matanya. Tangannya menarik pinggang Emma, dia melahap seluruh tubuh Emma untuk mendekap di tubuhnya yang besar.
Malam yang indah. Rembulan malam yang sempurna menjadi saksi kedua orang itu berlari menuju alam mimpi mereka yang indah. Pelukan hangat dari William sekaan Emma tidak membutuhkan selimutnya, selimut merah mudanya menganggur, memperhatikan keromantisan kedua insan itu.
"William, ayo makβ ya Tuhan, udah tidur ternyata." Shira berdiri di ujung pintu. "Selamat tidur sayang." Shira menutup pintunya, sebelum itu dia mengganti lampu menjadi lampu tidur.