
"Non, Non. Bangun. Non."
Emma mengerjap mendengar ketukan pintu, gadis itu membuka matanya, mencoba untuk bangun dari tidurnya. Pandangan pertamanya bertemu dengan wajah William yang masih terlelap, pria itu masih merengkuh tubuhnya yang kecil.
"Willi, bangun!" Emma menepuk punggung William. "Wil, bangun. Aku sesakkkk."
Pria itu membuka matanya perlahan, matanya menatap Emma tajam. "Emmaaa. Terlalu pagi untuk bangun."
"Cepat! meski ini hari minggu kita harus produktif!" Emma merontah, hingga bisa terlepas dari rengkuhan tikus besar di depannya. Emma beranjak dari tidurnya segera membuka pintu yang dari tadi di ketuk.
"Ada maling Non!" Ucapan histeris Bi Eulis itu membuat William yang kembali menutup matanya langsung membuka matanya seketika.
Maling? hell, ini WidSeet. Tidak mungkin. Penjagaan di beberapa sudut, security dua puluh empat jam menjaga, CCTV berhamburan. Meski ada maling, mereka hanya ingin masuk neraka dengan suka rela.
"Apa Non tidak apa-apa? Bibi takut maling akan mencelakai Non Emma." Bi Eulis menatap Emma takut.
Otak pintak milik William bekerja di pagi hari, meski wajahnya masih tertidur di bantal, dia ingin otaknya berfungsi dengan benar. William yakin, mereka mengira kerusuhan yang di buat dirinya dan Emma karena ulah pencuri.
William mendudukan tubuhnya, memaksa jiwanya bangun dari kasur. Kaki lemasnya berjalan menghampiri pintu. Rambut acak acakannya menambah nilai tampan baginya. "Bi Eulis ... good morning." Bi Eulis menatap William dengan menyungingkan senyum.
"Kekacauan di bawah itu karena Emma. Coba kalian cek duli CCTV sebelum menganggu tidur William."
William menguap.
Bi Eulis berpikir, benar juga. Kediaman Wistlyee memeliki beberapa CCTV. Dengan cepat Bi Eulis berlari menuju lantai bawah dengan suara teriakan kencang memanggil Hislam sebagai penjaga CCTV untuk memeriska.
William menggaruk tengkuknya, mata lelahnya menatap Emma di sampingnya. "Ayo, tidur." William menarik Emma menuju kasur.
"Eh." Emma berhenti. "Jangan tidur, kita harus mencari guci milik Mami yang hancur. Kita hanya punya waktu seminggu sebelum Mami pulang."
"Aku akan mengurus itu. Sekarang waktunya tidur."
Tikus itu kembali memeluk kucing gotnya. Emma pasrah. Jika memabahas soal tidur, si tikus laboratorium itu tidak bisa di ganggu gugat.
Ceruk leher Emma menghangat, napas teratur William menghembus menggelitik di leher jenjang Emma. Geli tetapi candu.
...🐁🐁🐁...
Kepulangan Ayah, Mami dan sang Kakak itu membuat Emma panas dingin. Bagaimana tidak, malam itu, saat dia kejar kejaran dengan William, mungkin lebih tepatnya saat perang bantal. Emma dan William merusak guci kesayangan Mami, robot keluaran tahun 1999 milik Kakak, dan miniatur patung yang begitu langka milik Ayah.
Untuk guci milik Shira— Maminya sudah selesai. Tapi .... untuk masalah sang Ayah dan kakak itu sangat sulit, robot dan patung itu sudah langka, bahkan William sudah menyerah.
Keringat dingin bercucuran, senyuman kikuk ditampilkan membuat Virenda—kakaknya curiga melihat adiknya berbeda. "Ada dengan wajah itu? apa ada hal yang membutmu menjadi seperti itu?"
Emma menggeleng sembari duduk di samping Donal dengan jemari bergetar. Shira mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan. Kejelian Shira tidak ada tandingan, meski sekecil apapun itu, Mami lah orang yang sangat peka.
"Emma. Kita keluarga, bilang sama kita. Ingat, kejujuran adalah kunci kebahagiaan." Shira menatap sang putri. Wajah Emma pucat, dia ketahuan.
"Emma? apa yang kamu sembunyikan?" Virenda menatap adiknya. Emma menatap sang Ayah di samping, lalu Virenda di depannya.
"Kakak. Ayah. Emma benar benar tidak sengaja melakulan ini. Emma bersumpah! ini tidak akan terjadi lagi berikutnya. Maaf ya. Emma merusak robot Kakak dan merusak patung Ayah."
Virenda beranjak dari duduknya, kakinya melangkah menuju adiknya yang duduk di depannya. Emma menutup kelopak matanya rapat rapat, takut takut jika sesuatu akan terjafi pada dirinya.
"Tatap kakak." Virenda bertekuk lutut di depan Emma. "Tidak ada yang berharga dari kamu, Emma. Robot hanya pajangan, dan kamu adalah berlian."
Emma menatap Virenda. "Kak.."
"Kakak..."
Emma berhambur di pelukan sang Kakak. "Sayang kakak banyak banyak."
"Ekhem." deheman dari Donal membuat Emma menguraikan pelukannya dari Virenda. Apa sang Ayah akan marah besar, jika di lihat dari harga patung dan wajah Ayah, pasti Ayah akan marah.
"Emma akan menerima semua hukuman dari Ayah."
"Sejak kapan Ayah memberikan hukuman untuk Emma, hm? apa hanya Virenda yang di peluk?" Donal menatap ke arah lain.
"Ayahhhh." Emma memeluk Donal dari samping. "Sayang Ayah."
...🐁🐁🐁...
Setelah sesaat turun dari mobil lamborghini aventador Lp720 berwarna abu abu milik Virenda, dia langsung di panggil oleh Tarissa, gadis dari fakultas Farmasi. Langkah Emma tertuju pada Tarissa.
"Ada pertandingan baseball, ayo, kita lihat kharisma Jonnathan," seru Tarissa senang. "Oh god, bantu Tarissa untuk bernapasss." wanita itu sedang membayangkan betapa sexy nya Jonnathan saat mengayunkan tongkat baseball. Ciahhh.
Emm menggeleng. Temannya yang satu ini tergila gila dengan Jonnathan, meski pria itu sudah memiliki kekasih bernama Camilla, tapi ambisinya untuk merebut Jonnathan semakin kuat. Dia tidak peduli di sebut perebut lelaki orang. Hiduppppp.
"C'mom babe!" Tarissa menarik Emma, mengajak gadis dengan dua buku tebal di tangannya berlari melewati koridor menuju lapangan baseball di samping gedung sains.
"Slowly!! kita tidak akan terlambat." Emma mengatakan dengan terpogoh pogoh.
"Kita tidak bisa melewati itu untuk sedikitpun, Emma."
Meski Emma jatuh, Tarissa tidak peduli, yang di pedulikan Tarissa adalah melihat Jonnathan memukul bola dengan tongkat baseballnya. Saat sampai di lapangan baseball, kedua gadis itu mencari kursi tribun yang kosong. Sudah banyak mahasiswi yang berteriak dengan nama jagoan mereka.
Saat Tarissa melewari Camilla di atasnya, dia langsung memasang wajah angkuh dengan delikan mata yang sangat ketara jelas dari mata Camila. Geng Camila yang terkenal hits langsung mencekal lengan Tarissa dari tribun atas.
"Maksud kamu apa? ingin ku colok matamu dengan sumpit ini, hah? berani sekali, adik tingkat tidak tahu diri." orang di samping Camilla bersuara dengan cekalan kuku yang tajam hingga sedikit terasa perih.
Tarissa mendongkakkan wajahnya. "Silahkan. Aku tidak peduli. Karena jika sumpit itu mengenai mataku, maka besoknya surat drop out sudah ada di keset depan rumahmu."
"Tarissaa." Emma menepuk punggung gadis itu lembut.
Satu orang di atas tribun Camilla memcuatkan wajahnya, membisikan sesuatu pada gadis di samping Camilla hingga cekalan itu terlepas. Tarissa mengibaskan rambutnya, lanjut berjalan, mencari tribun yang kosong.
"Jalang!!" Camilla meloncat ke kursi di depan, berlari menghampiri Tarissa.
"Dasar penggoda, jalang, tidak tahu diri." Camilla mendorong Tarissa kedepan.
"Camilla, aduh. Kumohon, stop," ujar Emma menengahi.
Camilla menjambak rambut Tarissa, posisi Emma di tengah menjadi binggung. Kericuhan di tribun membuat pemain baseball menjadi menatap kerumuhan di satu daerah. Emma terus memisahkan mereka, hingga tanpa sengaja Camilla mendorong Emma ke arah kanan, ke arah bawah.
"Aaaaaakkkk!!!!!"
Tubuh Emma terjatuh kebawah hingga melewati dua kursi tribun. Camilla dan Tarissa sama sama kaget dan takut. Tarissa meloncat mengecek keadaan Emma yang sudah kacau. Lutut sobek, luka di pipi, darah mengalir di pelipis, ujung bibir sobek dan lebam di lengan.
"EMMA!!"
.