
Kim Bum dan Kim So Eun keduanya berjalan beriringan dalam diam tidak ada dari keduanya yang ingin membuka mulut, Kim Bum yang menikmati genggaman pada tangan So Eun sedangkan gadis itu berusaha menutupi segala kegugupannya.
"Lusa perpisahan, sudah membeli gaun?" Tanya Kim Bum, ia menoleh ke arah kiri, ia bingung topik apa yang harus dibicarakan dengan So Eun.
"Belum" jawab So Eun, menoleh menatap Kim Bum yang juga masih setia menatapnya.
"Aku akan menemanimu, bagaimana?"
"Mr. Kim tidak sibuk?" Tanya So Eun, bagaimana seorang CEO plus ketua yayasan memiliki waktu luang untuk menemaninya membeli gaun.
"Hmm. Maaf" sesal Kim Bum ia baru saja mengingat bagaimana sibuknya dia bahkan untuk tidur saja kadang sulit.
So Eun tersenyum manis, "aku tidak ingin merepotkan Mr. Kim, aku bisa mencari gaun bersama Ara atau Hye Sun besok, tenang saja"
Kim Bum tersenyum senang, "aigo, kekasihku ini ternyata pengertian"
"Jangan mengatakan itu didepan ayah dan ibu" ujar So Eun malu.
Kim Bum menghentikan langkahnya begitu juga So Eun yang menatapnya bingung, "ada apa Mr. Kim?"
"Kau ingin merahasiakan hubungan kita?" Tanya Kim Bum yang sudah menyampingkan tubuhnya untuk berhadapan dengan So Eun.
So Eun tersenyum manis, "bukan seperti itu. Apa Mr. Kim tidak melihat bagaimana ibuku sangat menyambut hangat Mr. Kim tapi..,"
"Tapi?" Kim Bum mengerutkan keningnya tak mengerti sedangkan So Eun mengigit bibirnya.
"Kita baru resmi hari ini. Ini terlalu cepat. Aku belum siap menerima banyak pertanyaan dari ibu maupun ayah"
Kim Bum tersenyum, ia mengelus pucuk kepala So Eun, "jika itu mau mu gwaenchana. Tapi jangan coba-coba mengenalkan pria lain pada orang tuamu arra?!" Pita Kim Bum pada So Eun, gadis itu mengangguk lucu.
"Kajja. Udara semakin dingin" Kim Bum langsung menggenggam tangan So Eun dan melangkah kakinya yang diikuti So Eun.
So Eun mengikuti langkah Kim Bum dengan senyum malu-malu. Kim Bum pun sama tapi senyum di wajah pria tampan itu sangat cerah.
"Masuklah. Aku akan pulang" Kim Bum melepas genggamannya, merapikan jaket yang terselampir di bahu So Eun.
"Pergilah" pita So Eun, ia melangkah mundur untuk memberi jarak antara dirinya dan So Eun.
"Kau masuk terlebih dahulu" ujar Kim Bum yang membuat So Eun semakin melangkah mundur.
"Aku akan masuk jika Mr. Kim sudah pergi" Kim Bum tersenyum kecil, ia menganggukan kepalanya dan membalikan badannya menuju mobil.
"Aku pergi" ujar Kim Bum sedangkan So Eun melambaikan tangannya yang dibalas oleh Kim Bum.
So Eun memasuki rumahnya dengan senyum malu\-malu tanpa menyadari kedua orang tuanya menatap aneh dirinya.
"Sepertinya ada yang sedang kasmaran" ujar Tn. Kim So Eun menoleh sekilas, ia langsung tersenyum cerah dan berlalu ke kamarnya.
BRUK
So Eun menjatuhkan tubuhnya di atas kasur "Ah...," helaan nafas panjang So Eun terdengar sangat jelas. Ia tersenyum senang. Apa bahagia sesederhana ini. Hanya seorang Kim Sang Bum si ketua yayasan murah senyum tersebut.
"Mr. Kim...," gumam So Eun senang. Entah kenapa ia menjadi senang walaupun menyebut nama 'mr.kim'
Drt...drt..
So Eun melirik ke arah handphonenya yang menyala, ia mengerutkan keningnya. Siapa yang meneleponnya malam\-malam seperti ini tidak mungkin Hye Sun atau Go Ara.
So Eun mengambil handphonenya dan menatap handphone tersebut dan nomer asing tertera disana.
002xxxxxxxx
So Eun langsung menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
'Yeobseo? Nuguya?'
'Kim So Eun. Uri chingu...,'
So Eun mengerutkan keningnya heran, 'nugu?'
'yak! Apa kau sudah memiliki kekasih sehingga melupakan sahabat tampanmu ini'
So Eun semakin mengerutkan keningnya tak mengerti sekelebat bayangan anak kecil memenuhi pikirannya, 'oh seh?'
'benar, itu aku. Apa kabar So Eun\-ah?'
'yak sekecil Oh, akhirnya menghubungi ku. Sekarang kau dimana?'
'di Korea. Kemarilah'
'esok. Aku akan ke rumahmu dan mengintrogasi mu huh!' so eun mendudukkan dirinya dan menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang.
'ku tunggu sayang. Ah dan aku ada berita baik untuk mu'
'apa itu?'
'kemarilah'
'aish. Arrayeo'
So Eun meletakan ponselnya yang telah mati. Ia langsung membaringkan tubuhnya dan terlelap tidur.
Seperti janjinya semalam sekarang So Eun berada di depan rumah Oh seh sahabat kecilnya.
Ting..tong
Cklek
Tampaklah pria tampan yang gagah muncul dari balik pintu, pria berkulit putih itu tampak menyunggingkan senyum manis untuk si gadis.
"Ada perlu apa nona?" Tanya pria itu dan menatap wajah gadis cantik didepannya.
Pria berkulit putih itu langsung tertawa, ia menggeser tubuhnya untuk mempersilakan So Eun masuk, "wah dengan senang hati Tuan muda oh menyerahkan diri"
"Cih. Kau sendirian dirumah? Bibi dimana?" Tanya So Eun mencari ibu dari sahabatnya itu.
"Sebentar lagi..,"
"Sayang! Ya ampun akhirnya kau kemari Hmm" teriak seorang wanita paruh baya dari lantai atas, wanita itu langsung memeluk si gadis.
"Bibi, aku merindukanmu"
"Hmm bibi juga sayang. Ayo duduk" ujar wanita paruh baya itu dan menarik So Eun keruang keluarga.
"Berteriak. Dan putra kandungannya terlupakan" kesal namja berkulit putih itu dan menutup pintu dengan kesal setelah itu menyusul kedua wanita yang berbeda usia.
"Kau berkuliah dimana Hmm?" Tanya Ny. Oh pada So Eun sedangkan namja berkulit putih yang tak lain adalah Oh Sehun, hanya acuh kepada keduanya dan memiilih menonton film.
"Mendaftar di Universitas Seoul dan Harvard university bi" jawab So Eun yang mendapat keantusiasan dari Ny. Oh.
"Kenapa jauh-jauh, lebih baik disini agar kalian bisa satu kampus. Sehun mengambil fakultas bisnis, yah karena dia putra satu-satunya sedang Oh yerim kami membebaskannya nanti" So Eun tersenyum maklum mendengar jawaban Ny. Oh
"Lalu dimana yerim bi?"
"Dia seperti sehun lebih menyukai Belanda. Dia akan ke Korea jika sedang berlibur"
"Sekarang aku di Korea Mom. Berhentilah seakan-akan aku tidak peduli dengan Mommy dan Daddy" protes sehun. Sebenarnya ia ingin melanjutkan sekolah di Belanda dan sang ibu terus merengek memintanya kembali ke Korea.
"Tapi itu kenyataan kalian berdua benar-benar tidak peduli pada mommy. Kalian harus diancam atau diiming-imingi sesuatu agar pulang" kesal Ny. Oh pada sang putra sedangkan si pria mengendikan bahunya acuh.
"Sayang. Bibi harus pergi, kau tetap disini ya" ujar Ny Oh dan berlalu pergi meninggalkan kedua insan itu setelah mendapat anggukan dari So Eun.
"Yak! Oh seh, kau bilang ada kabar baik. Apa kabar baiknya?" Tanya So Eun pada pria yang duduk di karpet.
"Aku" jawabannya acuh.
"Aku? Aku sedang serius apa kabar baiknya?" Kesal So Eun sambil melempar bantal yang ada disampingnya pada sehun.
"Aish wanita ini" kesal Sehun dan melirik tajam So Eun yang duduk di samping atasnya, "kabar baiknya aku. Karena aku akan menetap di sini. Dan kau malah ingin ke Amerika"
"Hanya itu. Aku kira berita yang akan menguntungkan ku" acuh So Eun saat mendapat tatapan tajam dari sehun tapi itu tak berlangsung lama karena ponsel So Eun yang berbunyi dan mengharuskan si gadis mengangkatnya.
"Yeobseo" ujar So Eun setelah menekan tombol hijau dan meletakan ponselnya di telinga.
"Kau dimana So?" Tanya seseorang dari sebrang sana dan yang So Eun yakini sedang bergulat dengan kertas-kertas yang membuat kepalanya pusing seketika.
"Dirumah teman" jawab So Eun apa adanya.
Hening sesaat, So Eun mendengar helaan nafas lelah, "sudah makan?" Tanya orang tersebut pada So Eun.
"Aku belum makan. Mr Kim sudah makan?" Tanya So Eun yang membuat pria bernama Oh sehun mengerutkan keningnya dan menatap So Eun penuh selidik.
"Nanti. Sudah mendapat gaun? Maaf aku tidak bisa menemui hari ini"
"Setelah dari rumah temanku aku akan mencari gaun" jawab So Eun.
"Arrayeo, sudah dulu. Aku ada meeting lagi, sampai jumpa"
"Hmm" balas So Eun, ia mengakhiri panggilan, meletakan ponselnya kedalam tas dan menoleh ke arah sehun yang sudah duduk disampingnya.
"Mr Kim? Nuguya?" Tanya sehun pada So Eun.
"Bukan siapa-siapa" jawab So Eun enteng sedangkan sehun semakin mengerutkan keningnya bertanda ia tak yakin dengan jawaban si gadis.
"Bohong. Kau sangat perhatian padanya tadi"
"Memang kenapa? Itu bukan masalah besar. Sudahlah, ayo pergi. Antar aku mencari gaun untuk pesta disekolah ku" ujar So Eun dan beranjak dari duduknya, ia menatap sehun yang masih berdiam diri, "mau mengantarku tidak?"
Sehun menghembuskan nafasnya, ia tahu So Eun bukan gadis yang bisa terbuka kepada siapa saja. Ia akan menunggu sampai si gadis mau mengatakan yang sebenarnya, "aku akan mengganti pakaianku" ia langsung berlalu ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
Keduanya sekarang berada di sebuah mall, So Eun terus mengajak Sehun berkeliling sedangkan pria itu terus menggerutu kesal.
"Aish, kau kan sudah menemukan gaunnya mau mencari apalagi?" Tanya sehun kesal, ia melepas genggaman tangan So Eun sedikit kasar.
"Tidak ada si. Aku hanya ingin melihat-lihat, apa kau sudah lapar?" Tanya So Eun menatap wajah sehun dengan cara mendongakkan kepalanya karena pria itu lebih tinggi darinya.
"Perutku sudah dari tadi memberontak minta makan!" Kesal Sehun sedangkan si gadis hanya tersenyum.
So Eun kembali menggenggam tangan sehun, "arrayeo, Kajja" So Eun menarik tangan sehun menuju salah satu restoran Jepang karena keduanya menyukai masakan Jepang tapi langkahnya langsung terhenti saat melihat seseorang yang tidak asing baginya sedang bercanda gurau dengan seseorang yang seperti mereka juga baru selesai makan di restoran tersebut.
"So Eun..," kaget orang tersebut, So Eun langsung memperbaiki mimiknya melepas genggaman pada sehun membukuk hormat pada pria itu.
"Annyeonghaeseo Mr" sapa So Eun.
"Kenapa kau disini?" Tanya Kim Bum ya pria itu ada Kim Sang Bum kekasih dari si gadis yang sedang menahan laju air matanya.
"Saya mencari gaun" jawab So Eun seformal mungkin.
"Dia siapa oppa?" Tanya wanita yang berada di samping Kim Bum, kata 'oppa' semakin membuat So Eun sakit hati.
"Dia Kim So Eun. Dia ke..,"
"Saya salah satu murid di sekolah nya" ujar So Eun memotong ucapan Kim Bum, "kalau begitu kami permisi" so eun membukakan badannya dan langsung menarik sehun Untuk keluar dari restoran. Walaupun sehun merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu tapi ia tetep mengikuti kemana So Eun membawanya.
"Kajja pulang" ujar So Eun setelah berada tepat didepan mobil mereka.
Sehun mengerutkan keningnya, "ada apa denganmu?" Tanya sehun sedangkan si gadis langsung membalikkan badannya.
"Gwaenchana, Kajja" So Eun memasuki mobilnya, Sehun menghela nafas pasrah dan mengikuti kemauan si gadis untuk pulang.
Sesampainya di perkarangan rumahnya So Eun langsung turun dari mobil, melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa menghiraukan sehun yang berteriak memanggilnya.
"So Eun ada apa?" Tanya Ny Kim yang berada diruang tengah tapi tidak dihiraukan oleh So Eun gadis itu langsung berlari menuju kamarnya.
"Ada apa dengannya?" Gumam Ny Kim, ia beranjak dari duduknya dan ingin menyusul So Eun tapi langkahnya terhenti saat mendengar sapaan.
"Annyeonghaeseo bibi Kim" sapa sehun yang membuat Ny Kim menoleh kearahnya.
"Aigoo, sehunie. Kapan kau pulang nak?" Ny Kim melangkah mendekati Sehun dan memalukannya.
"Kemarin siang bi" jawab Sehun setalah Ny. Kim melepas pelukannya.
"Kau semakin tampan saja. Ayo duduk"
"Tidak usah bi" tolak sehun, "mommy sendirian dirumah. Daddy sedang keluar kota jadi sehun harus pulang cepat"
"Ya ampun mommy-mu sangat manja" ujar Ny Kim yang mendapat kekehan kecil dari sehun.
"Ini punya So Eun bi, ia meninggalkannya di mobil" ujar sehun menyerahkan bingkisan yang berisi gaun milik So Eun.
"Gomawo. Ah apa kalian bertengkar? Tadi wajahnya kusut sekali" ujar Ny. Kim setelah menerima bingkisan dari sehun.
"Aniya. Tadi saat kami ingin makan So Eun bertemu seorang pria. Aku tidak tahu kenapa mood-nya langsung buruk" jawab sehun apa adanya, "kalau begitu aku pulang sekarang bi"
"Ah arrayeo, hati-hati" pesan Ny. Kim setelah sehun pergi dari rumahnya ia langsung melangkah kakinya menuju kamar So Eun.
Tok.. tok...
"So Eun. Ini ibu nak"
"Masuk Bu" ujar So Eun sedikit berteriak, ia mendudukkan dirinya dan bersandar pada sandaran ranjang.
"Ini belanjaan mu, apa ada masalah?" Tanya Ny Kim ia duduk di hadapan So Eun menggenggam tangan putrinya.
"Aniya"
Drt.. drt....
Ny Kim dan So Eun menatap ke arah meja Dimana ada ponsel So Eun yang menyala karena panggilan masuk dan disana tertera
Mr Kim❤
"Kenapa tidak diangkat?" Tanya Ny. Kim, sebenarnya ia sedikit kaget dengan nama yang tertera tapi ia tidak ingin bertanya lebih lanjut karena tahu sang putri dalam keadaan mood yang buruk. Ini bukan waktunya untuk menggoda sang putri.
"Tidak usah" acuh So Eun.
Hening sesaat sampai Ny. Kim menyerukan pendapatnya, "jika kau sedang kesal padanya katakan agar dia memperbaikinya. Jangan hanya diam, kau sudah dewasa So Eun" setelah mengucapkan itu Ny. Kim keluar dari kamar So Eun.
"Apa aku harus mengatakan ketidak sukaanku padanya? Aish, kita bahkan baru saja menjalani hubungan dan aku sudah melarang-larang itu tidak mungkin" gumam So Eun bingung.
Tbc