
Kim Bum baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia keluar dari sekolah pukul 5 sore dan sekolah tersebut sudah sangat sepi karena jam pulang sekolah sudah terlewat 2 setengah jam yang lalu.
Drt... drt..
"Oh, Ayah. Ada apa?"
"Bum-ah. Ayah ada makan malam dengan teman Appa. Apa kau bisa ikut?"
"Baiklah. Dimana?"
"Cafe droftop. Jam 7 malam, jangan telat"
"Akan aku usahakan"
Setelah mendengar jawaban dari ayahnya Kim Bum mematikan telfonnya dan memasukan kesaku jas. Ia langsung menaiki mobilnya untuk mengantarnya pulang ke apartemen.
Kim Bum langsung meninggalkan area sekolah dengan kecepatan sedang. Saat melewati halte matanya tak sengaja menangkap seorang gadis yang sedang membaca buku, dengan telinga yang terpasang aerphone.
Cit.
"Anak kecil..," panggil Kim Bum yang sudah menurunkan kaca jendelanya dan memanggil seorang gadis yang duduk di halte. Gadis itu mendongakkan kepalanya.
"Ka.. annyeonghaeseo Mr. Kim" sapa gadis itu canggung apalagi Kim Bum menampilkan senyum cerahnya, So Eun melepas aerphonenya.
"Kenapa belum pulang, bukankah waktu pulang sudah berakhir dari tadi?"
Gadis itu tersenyum canggung, "aku..," alasan apa yang harus ia pakai. Jika ia jujur dia belum pulang karena ketiduran itu akan sangat memalukan.
"Sudah tidak usah dijawab jika tidak mau. Cepatlah naik" ujar Kim Bum saat melihat gadis didepannya itu ingin berbohong.
"Nde?"
"Jam segini bis sudah tidak ada. Sebentar lagi juga akan turun hujan" ujar Kim Bum. Sebenarnya ia merasa aneh dengan dirinya sendiri, dia tidak pernah seperti ini pada orang lain terutama wanita. Tapi ini, ah sudahlah.
"Aku sedang menunggu jemputan. Mr Kim duluan saja" tolak gadis itu dan memalingkan wajahnya karena Kim Bum terus menatapnya intens.
Drt.. drt..
"Yeobseo pak kang. Dimana? So Eun sudah ada di halte dekat sekolah"
"...."
"Apa? Baiklah tak apa. So Eun akan mencari taksi"
"..."
"Tidak ini bukan salah pak Kang"
So Eun gadis itu mematikan telfonnya dan menghela nafas panjang, supir pribadinya baru saja mengabari jika mobilnya mogok.
"Anak kecil. Bagaimana jemputanmu?" Tanya Kim Bum, so eun melirik tajam tapi ia langsung merubah tatapannya. Ia tidak boleh membuat ketua yayasannya marah, bisa-bisa ijazahnya ditahan.
"Hm..,"
"Tidak bisa menjemput? Kalau begitu naik. Aku akan mengantarkanmu. Taksi akan jarang lewat apalagi cuaca yang tidak bersahabat seperti ini"
Setelah menimbang-nimbang akhirnya So Eun menerima tawaran Kim Bum untuk pulang bersama.
Selama perjalanan tidak percakapan sama sekali kecuali sesekali So Eun yang memberikan intruksi arah rumahnya.
"Anak kecil, siapa namamu?" Tanya Kim Bum yang sudah tidak tahan ingin mendengar suara gadis disampingnya.
"Kim So Eun dan aku bukan anak kecil, usiaku 18 tahun ingat itu Mr. Kim" jawab So Eun sedikit kesal karena dipanggil anak kecil oleh Kim bum, seketika ia tersadar dan langsung menundukan kepalanya.
"Untuk kejadian tadi pagi lupakan saja. Walaupun itu menghina saya secara tidak langsung" ujar Kim Bum, ia tahu kenapa gadis itu banyak diam tidak seperti pertama kali mereka bertemu.
"Maafkan kesalahanku. Aku benar-benar tidak bermaksud menghina Mr. Kim" ujar So Eun dengan kepala yang masih menunduk. Ia benar-benar menyesal.
Puk
Tangan besar Kim Bum jatuh di atas kepala So Eun, "tak masalah. Tadi pagi kau memang sedang terlihat kesal"
Kim Bum mengacak-acak pelan rambut panjang So Eun, "ini rumahmu kan?" Tanya Kim Bum yang sudah menjauhkan tangannya dari kepala So Eun.
"Heh?" So Eun menoleh ke arah yang ditunjuk Kim Bum dan itu memang rumahnya.
"Nde. Kamsahamnida Mr. Kim"
Setelah mengatakan itu, So Eun langsung terbirit-birit keluar untuk masuk kerumahnya, jantungnya seakan-akan ingin meledak saat ketua yayasannya itu mengacak-acak rambutnya.
Kim Bum tersenyum simpul melihat siswinya berlari seperti dikejar setan, "lebih baik aku langsung ke apartemen sebelum menemui ayah"
Malam telah tiba, So Eun berjalan dengan gontai menuju ruang makan dan mendudukkan dirinya dengan malas di meja makan.
"Entah Bu, perasaan ku sendari tadi tidak karuan" adu So Eun pada sang ibu yang masih sibuk menata meja makan.
"Kau sakit?" So Eun menggelengkan kepalanya pelan.
Ny Kim dan mendudukkan dirinya di hadapan So Eun, ia menangkup kedua tangan So Eun, "ceritakan pada ibu, ada apa?" Tanya Ny Kim.
"Itu memalukan Bu"
"Apa yang memalukan? Apa ini tentang pria?" Tebak Ny Kim yang membuat semburat merah muncul di pipi So Eun.
"Ternyata benar" jawab Ny Kim, So Eun menatap ibunya tak percaya.
"Mak..maksud ibu apa?"
"Siapa pria itu? Apa dia tampan? Tinggi? Pintar? Sekolah diman.."
"Ibu!" Pekik So Eun kesal, ia langsung menarik tangannya yang digenggam oleh ibunya itu.
"Kenapa jika dia pria? Kau sudah cukup dewasa untuk merasakan jatuh cinta sayang" ujar Ny Kim yang membuat raut wajah so eun semakin tertekuk.
"Aku tidak jatuh cinta! Kenapa aku harus jatuh cinta pada ahjusin sok tampan itu" kesal So Eun, Ny Kim langsung menghentikan kegiatannya mengambil lauk untuk So Eun.
"Apa kau bilang ahjusin? Sayang didunia ini masih banyak pria yang seumuran denganmu. Kenapa kau jatuh cinta pada seorang ahjusin? Siapa dia berani-beraninya membuat putriku jatuh cinta padanya"
So Eun menatap kesal si ibu, "ibu! Sudah aku bilang aku tidak jatuh cinta padanya!"
"Ah, syukurlah. Ibu tidak akan merestui hubungan kalian. Walaupun kau menangis darah. Ibu tidak rela kau bersama seorang ahjusin mengerti!" Ujar Ny Kim lega, ia kembali melanjutkan kegiatannya mengambil lauk Pauk untuk putrinya.
"Ayah dimana Bu?"
Ny Kim meletakan piring yang sudah penuh tertutupi oleh nasi dan beberapa lauk, "ada acara dengan temannya. Ibu dengar teman ayah ini memiliki seorang putra, dia tampan, tinggi dan juga pintar, sayang"
So Eun memakan makanannya dengan malas, "lalu apa hubungannya denganku. Aku tidak peduli" Ny Kim hanya tersenyum penuh makna.
****
Dilain sisi, Kim Bum sedang bercanda gurau dengan ayahnya dan juga teman ayahnya itu.
"Putrimu itu sangat lucu..," ujar ayah Kim Bum disela-sela tawanya.
"Haha benar Sang Jun. Pernah satu ketika dia dengan mudahnya memanjat pohon mangga tapi dia tidak bisa turun akhirnya dia menangis dengan keras agar seseorang menolongnya untuk turun" cerita orang tersebut yang tak lain adalah Kim So Ra.
Kim Bum tersenyum kecil, "dia pasti berteriak dengan lantang samchon" ujar Kim Bum menanggapi cerita dari teman ayahnya itu.
Tuan Kim So Ra mengangguk, "benar bum-ah, dia bahkan berteriak seakah ia akan mati saat itu juga hahah"
"Apa yang dia katakan So Ra-a?" Tanya Tuan Kim Sang Jun penasaran.
"Begini, 'ya Tuhan aku tidak mau mati seperti ini. Aku belum memiliki suami yang tampan. Aku tidak mau mati sebelum menikah dengan pria tampan' dia benar-benar sangat lucu. Masih sempat-sempatnya dia memikirkan pernikahan dengan pria tampan di usianya 17 tahun ha-ha-ha"
Sang Jun dan Kim Bum sudah tidak bisa menahan tawanya lagi, mereka tertawa terbahak-bahak mendengar cerita So Ra.
"Aigoo. Perutku jadi sakit karena tertawa begitu keras"
Mereka meredakan tawa mereka, "sudahlah, jika ia tahu aku membuka aibnya di akan mengamuk dan mengurung diri dikamar karena malu" ujar Tuan Kim So Ra.
"Aku ingin melihat putrimu So Ra-a, aku pikir dia akan cocok dengan Kim Bum" ujar ayah Kim Bum yang membuat So Ra dan Kim Bum menatapnya tak percaya.
"Ayah! Apa yang ayah lakukan!" Kesal Kim Bum, ia pikir tidak akan ada acara perkenalan yang diakhiri perjodohan dia sudah muak dengan semuanya.
"Sang Jun, putriku masih SHS..," ujar Tuan So Ra memberi pengertian, apalagi ia dapat melihat raut wajah Kim Bum yang langsung berubah drastis. Walaupun ia berniat mengenalkan putrinya pada Kim Bum.
"Hanya berkenalan apa salahnya. Aku tahu kau tidak akan menjodohkan putrimu. Tenang saja, hanya berkenalan..,"
So Ra menghela nafas panjang temannya itu memang sedikit keras kepala.
"Bagaimana bum-ah?" Tanya So Ra pada pria muda didepannya yang mengangguk pasrah.
"Hanya berkenalan. Tidak apa-apa samchon" jawab Kim Bum yang membuat sang Jun tersenyum senang.
"Jangan takut. Ayah tidak akan memaksamu lagi" ujar sang Jun yang menepuk bahu Kim Bum pelan.
"Baiklah, jika itu kemauan kalian. Aku akan membawa keluargaku untuk bertemu kalian. Sepertinya sudah sangat larut, aku pamit" ujar So Ra dan mengundurkan diri.
"Bum-ah sepertinya gadis...,"
"Ayah! Aku tidak suka, aku sudah memiliki gadis yang aku cintai. Lagi pula anak samchon terlalu kekanak-kanakan bagiku!" Tolak Kim Bum mentah-mentah.
"Baiklah, kita hanya berkenalan. Dan untuk gadismu, kenalkan pada ayah" ujar Sang Jun, ia menepuk bahu Kim Bum pelan dan pergi meninggalkan putranya.
TBC