Mr. Kim

Mr. Kim
Part 4



Kim Bum langsung mengejar gadis yang cukup ia kenali, tapi Kim Bum heran kenapa gadis itu langsung lari keluar restoran saat melihatnya. Apa ia malu karena perkataanya tadi sore?


"Yak.., Kim So Eun!" Teriak Kim Bum, ia langsung mencekal lengan So Eun.


"Kenapa lari?" Tanya Kim Bum lembut, ia menatap manik hitam mata So Eun.


So Eun sedikit membelalakkan matanya, "nde? Aniyo. Hanya..,"


Kim Bum semakin merundukan kepalanya agar bisa sejajar dengan si gadis yang lebih pendek darinya. Ia dengan sabar menanti perkataan si gadis.


"Hanya.., tidak ada. Kenapa Mr. Kim bisa bersama ayah dan ibuku?" Tanya So Eun untuk mengalihkan kegugupannya.


"Kau Putri satu-satunya mereka?" Tanya Kim Bum tanpa melepas tatapannya dan So Eun langsung mengangguk pelan mengiyakan.


Seketika senyum terbit begitu saja dibibir Kim Bum tanpa diperintah, "pas..,"


"Apa yang pas Mr. Kim?" Tanya So Eun tak mengerti.


Kim bum langsung menegakan tubuhnya, melirik sekeliling yang sedikit lengang karena mereka berada di parkiran, Kim Bum tersenyum kecil menatap So Eun.


"Mr. Kim ada..., akh" kaget So Eun saat tangannya di tarik oleh Kim Bum untuk masuk kepelukannya dan yang lebih mengejutkan gadis itu Kim Bum memeluknya sangat erat.


"Mr. Kim.." panik So Eun bukan apa-apa jantungnya berasa akan meledak, aliran darahnya juga seperti dipercepat apa-apa ini.


"Aku dijodohkan dengan Putri kecil mereka" ujar Kim Bum yang membuat So Eun membelalakkan matanya.


"Apa!" So Eun mendorong Kim Bum agar melepas pelukannya.


"So Eun..,"


"Mr. Kim maaf tapi, aniya ayahku tidak seperti itu. Mungkin kau salah orang Mr Kim" ujar So Eun cepat dan juga gugup. Apa iya ayahnya melakukan perjodohan? Akh itu tidak mungkin. Ia lebih mengenal ayahnya.


"Tapi itu kenyataan. Dan sesuai perkataanku tadi sore, aku tertarik padamu" jawab Kim Bum dan menatap So Eun dengan intens.


"N-nde?"


"Apa ini pertama kalinya ada seseorang yang menyatakan perasaannya padamu?" Tanya Kim Bum saat melihat raut wajah So Eun panik.


"Nde, jantungku berdebar kencang" lirih So Eun dengan polosnya, Kim Bum tersenyum senang ternyata bukan dia saja yang merasakannya.


"Benarkah?" Tanya Kim Bum memastikan ucapan So Eun karena volume suara gadis itu sangat kecil.


"Nde?"


"Jantungmu berdebar kencang saat bersamaku?" So Eun mengangguk pelan tapi ia langsung menggelengkan kepalanya cepat. Ia baru saja sadar atas ucapannya. Benar-benar senang membuat diri sendiri malu.


Kim Bum tersenyum senang melihat tingkah So Eun yang malu-malu kucing, apalagi pipi yang bersemu merah. Sangat imut.


"Sukailah aku mulai sekarang" ujar Kim Bum, So Eun langsung mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Kim Bum yang sedang tersenyum.


"Aku.., aku harus memastikan hatiku terlebih dahulu" ujar So Eun gugup.


"Aku harap itu tidak lama So Eun"


~~


"Apa mereka saling mengenal?" Gumam So Ra melihat Kim Bum yang mengejar putrinya itu.


"Aku harap itu kabar baik untuk kita So ra~a" balas sang Jun dengan senyum cerah. Apa gadis yang dimaksud putranya itu adalah putri dari sahabatnya?


"Aku harap So Eun tidak membuat masalah" Tutur Ny. Kim karena ia tahu betapa ceroboh putrinya itu.



So Eun menidurkan dirinya di kasur, ia terus membolak\-balikkan tubuhnya, ia sangat gusar. Kenapa jantungnya semakin berdegup kencang.



Sukailah aku mulai sekarang



"Akh..., apa\-apa ini. Akh So Eun tenanglah" kesal So Eun ia langsung mendudukkan dirinya mengacak\-acak rambut panjangnya itu dengan kesal.



"Apa yang harus aku lakukan. Aish.., berhentilah berdegup kencang" kesal So Eun, ia menyibakkan selimutnya dan langsung berlari keluar kamar menuju dapur untuk mencari minum.



Disisi lain Kim Bum menatap langit\-langit kamar dengan senyum yang tak pernah luntur.



"Ah, Kim So Eun" gumam Kim Bum dengan senyum yang tak pernah luntur.



"Apa dia sudah tidur? Kenapa aku sudah merindukan anak itu" gumam Kim Bum yang diakhiri kekehan kecil, ia mengakui dirinya sedikit gila setelah bertemu So Eun




"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Ny. Kim, ia menggeret putrinya ke meja makan.



"Apa?"



"Kau dan Kim Bum. Kenapa kau melarikan diri dan Kim Bum mengejarmu? Dan kalian tidak kembali?" Cerca Ny Kim



"Itu bukan masalah penting bu, sudahlah" jawab So Eun, ia langsung meminumnya dalam sekali tengguk.



"Apa dia menembakmu? Kau menerimanya kan?"



"Ibu!"



Ny Kim tersenyum lebar, ia harap firasatnya kali ini benar. Akh ia akan memiliki menantu tampan setelah ini.



So Eun mengerutkan keningnya heran melihat sang ibu yang tersenyum lebar.



Keesokan harinya, So Eun menatap pantulan kaca didepannya. Ia sedikit menghela nafas lega, ia tidak akan bertemu Kim Bum karena hari ini ia tidak akan berangkat ke sekolah.


"Kali ini Tuhan sedang baik pada kesehatan jantungmu Kim So Eun" gumam So Eun pada dirinya sendiri.


Ia mengambil tas ranselnya dan bergegas keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan.


"Pagi ayah,ibu" teriak So Eun saat menuju ruang makan, langkahnya langsung terhenti saat melihat pria muda yang duduk di salah satu kursi, "Mr Kim?"


"Hai" sapa kim Bum.


"Pagi sayang. Cepat duduk. Kau membuat menantu ibu menunggu lama" ujar Ny Kim yang sibuk membuat minum.


"Men--nantu?" Gumam So Eun dengan wajah kaget.


"Kenapa disitu, cepat duduk disebelah Kim Bum" ujar Tn Kim pada putrinya yang masih berdiri di anak tangga.


So Eun langsung menghampiri sang ibu yang berada di dapur, "menantu, menantu apa yang ibu katakan. Aish" bisik So Eun pada ibunya.


"Apa yang salah. Dia akan menjadi menantu ibu" balas Ny Kim yang juga berbisik agar kedua laki-laki yang berada di ruang makan tak mendengar percakapan mereka.


"Siapa juga yang akan menikah dengannya. Jangan membuatku malu Bu. Dia ketua yayasan disekolah ku" ujar So Eun yang sesekali melirik kearah Kim Bum yang berbincang dengan ayahnya.


"Kau ini tidak bersyukur disukai pria tampan, baik dan nilai plusnya kaya So Eun. Sudah, cepat bawa ini ke meja makan" ujar Ny Kim sambil menyerahkan nampan yang berisi 4 cangkir teh pada So Eun sedang dirinya langsung melenggang pergi. So Eun menatap punggung ibunya tak percaya.


"So Eun jangan melamun nak" ujar Ny Kim saat putrinya tak kunjung datang.


"Aish, NDE!" So Eun melangkah kakinya dengan kesal.


So Eun meletakan nampan tersebut tepat dihadapan ibunya, ia menggerakkan bola matanya seperti menyuruh si ibu untuk membagi minuman tersebut.


"Ini nak Kim Bum, buatan So Eun" ujar Ny. Kim sambil menyerahkan cangkir teh pada Kim Bum sedangkan So Eun langsung membelalakkan matanya tak percaya. Ibunya benar-benar pembohong yang ahli jika menyangkut pria tampan.


"Kamsahamnida bi. So Eun" ujar Kim Bum yang menatap So Eun yang berdiri disampingnya ibunya.


"Hmm. Kalau begitu aku langsung berangkat" ujar So Eun, ia menjulurkan tangannya ingin berpamitan dengan Ny Kim tapi tidak ditanggapi.


"Kau akan berangkat dengan Kim Bum" ujar Ny. Kim dan untuk kesekian kalinya so eun membelalakkan matanya.


"Hye Sun akan menjemputku" Jawab So Eun.


"Kau mau membuat kebaikan menantu ibu sia-sia?"


So Eun langsung menepuk bahu ibunya, "apa yang ibu katakan. Maaf Mr Kim" ujar So Eun tak enak pada ketua yayasan nya itu, ia benar-benar malu pada Kim Bum. Ya ampun mulut ibunya itu tidak bisa dikontrol.


"Ibu memang benar kan. Nak Kim Bum?" Tanya Ny Kim yang diangguki oleh kim Bum.


"Tuh kan. Ibu sudah menghubungi Hye Sun agar tidak menjemput mu. Kau berangkat bersama kim Bum" ujar Ny. Kim sedangkan Tn. Kim menggelengkan kepalanya tanpa ingin menyela pembicaraan kedua wanitanya itu.


"Ibu.., Mr Kim itu orang sibuk. Ya kan Mr. Kim?" Tanya So Eun pada Kim Bum ia sedikit memainkan bola matanya dan alisnya agar Kim Bum membantunya menyakinkan sang ibu.


Kim Bum tersenyum kecil, "aku kesini memang ingin menjemputmu So Eun"


"Apa!?"


TBC