MORIA

MORIA
Chapter 5



"Perhatian semuanya!!" Teriak Rendi yang langsung membuat seluruh karyawan cafe memberhentikan aktifitasnya.


"Kok ramai sih?" Bisik Moria.


"Kalau gak ramai bukan cafe namanya," gumam Rendi sambil memutar kedua bola matanya jengah. "Oke jadi gadis yang di samping saya inj adalah karyawan baru yang akan berkerja di sini. Dia akan menjadi penyanyi yang akan menghibur pelanggan cafe."


"Kapan kamu bilang kalau gadis di sebelah saya ini adalah calon istri saya," batin Moria kepedean.


"Hay nama gue Moria Kezia. Panggil aja Mo," ucap Moria dengan di akhiri senyuman lebar.


"*Dia bule."


"Cantik banget ya."


"Tapi kok bule kerja sih? Mana masih sekolah*."


"Kalau kalian mau bisik-bisik mending jangan di sini!! Lanjutkan pekerjaan kalian!!" Bentak Rendi sambil menatap tajam satu persatu karyawannya.


"Ganteng-ganteng galak," gumam Moria.


"Yaudah sana duduk di tempat pojok cafe. Udah disediain microphone buat nyanyi kok. Inget ya suaranya harus bagus jangan sampai kecewain gue!" perintah Rendi tegas.


"Iya Rendi ganteng, suara gue pasti bagus kok."


Rendi mendengus geli mendengarkan ucapan Moria yang terdengar sangat percaya diri. "Gue percaya."


Seluruh pandangan pelanggan di cafe seketika tertuju kepada Moria yang sedang berjalan santai mendekati panggung kecil. Sementara di atas panggung juga ada tiga orang asing yang sepertinya akan menjadi partner kerjanya.


"Hay? Kenalin nama gue Silva," ucap seorang perempuan berambut ikal.


Kemudian lelaki berparawakan tinggi dan blasteran juga ikut memperkenalkan dirinya. "Gue Reza."


"Gue Akbar," tambah seorang lelaki dengan wajah manis berlesung pipi.


Moria langsung menjabat tangan mereka satu persatu dan tak lupa juga untuk memasang senyuman sebaik mungkin agar terkesan ramah dan tidak sombong. "Moria."


"Oh iya gue sebagai pemain piano di sini. Kalau Reza sama Akbar jadi gitaris," jelas Silva dengan senyuman manis di bibirnya.


"Oh oke deh. Akhirnya nambah stok teman lagi," balas Moria yang langsung di sambut dengan gelak tawa dari Silva dan Akbar. Sedangkan Reza hanya diam dan fokus menatap gitar kesayangannya.


"Kita mau nyanyi lagu apa Mo?" Tanya Akbar sambil mengetes senar gitarnya.


"Nyanyi Jatuh hati dari Raisa aja," usul Moria.


"Boleh tuh. Ya udah langsung mulai aja deh," ucap Silva menyetujui.


"Selamat sore semuanya ..."


"Sore!!" Teriak para pengunjung dengan serempak.


"Ada ruang hatiku yang kau temukan ...


Sempat aku lupakan, kini kau sentuh.


Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati ...


Ku terpikat pada senyummu, aku tersihir


jiwamu, terkagum pada pandangmu.


Caramu melihat dunia. Ku harap kau


tahu bahwaku terinspirasi hatimu,


Ku tak harus memilikimu,


tapi boleh kah ku selalu di dekatmu ..."


Tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat. Bahkan cafe yang tadi terlihat ramai perlahan mulai sepi. Jam dinding cafe telah menunjukkan pukul 00:00. Dan sekarang para pekerja sedang disibukkan dengan kegiatan menutup cafe.


"Mo gue antar balik ya," ucap Rendi saat melihat Moria yang sedang membantu pekerja lain untuk membersihkan meja.


"Gak usah. Gue bisa naik ojek atau angkot kalau ada," tolak Moria dengan halus, karena tidak ingin terlalu banyak merepotkan Rendi.


"Lo cewek Mo."


"Ya ampun ganteng!! Semua orang juga tahu kalau gue cewe," teriak Moria dengan dramatis.


"Maksud gue tuh gak baik anak perawan pulang malam-malam gini."


"Yauda deh yuk. Lumayan diantar sama cogan," goda Moria dengan diiringi gelak tawa.


"Bodoamat Mo."


Kini di dalam mobil, Rendi dan Moria sama-sama saling bungkam. Sesekali mata Moria menahan rasa kantuk yang sudah mulai menyerang. Sedangkan Rendi yang melihat itu berusaha untuk menahan tawanya karena wajah Moria yang sangat menggemaskan. "Tidur aja Mo, lo pasti lelah banget. Masalah jalan ke rumah lo, gue tahu kok ada di mana, tenang aja. Tidur gih!"


"Emangnya gak papa?" Tanya Moria memastikan.


"Ya gak papa." Setelah mendengar ucapan Rendi yang dianggap menyetujui, Moria segera memejamkan matanya menuju alam mimpi.


"Selamat tidur," gumam Rendi lalu mengusap pelan bahu Moria.


"Coba ulang dong," pinta Moria dengan mata yang terpejam.


"Tidur Mo."


"Iya gue tidur, bawel lo."