MORIA

MORIA
Chapter 2



Sekolah SMA Nusa Bangsa sudah bubar sejak pukul 13:00. Dan kini Moria sedang berada di tempat kerjanya, yaitu cafe yang berada tak jauh dari sekolahnya. Moria bekerja sehari-hari menjadi seorang waitress cafe, meskipun hasil yang didapat tidak seberapa, tetapi setidaknya gaji itu bisa mencukupi kebutuhan untuk makan dan sekolahnya.


"Mo! Kasih pesanan ini ke meja nomor delapan ya!" Perintah Arga. Senior cafe di sini yang sudah Moria anggap seperti Abang sendiri.


"Iya," balas Moria lalu segera berjalan mendekati meja nomor delapan dengan membawa nampan berisi segelas kopi dan cheese cake.


"Mas ini pesanannya," ucap Moria sambil menyodorkan beberapa pesanan ke arah lelaki ber-hodie hitam.


"Lah lo?"


Moria mendongak ke arah lelaki di hadapannya dan sontak saja Moria tersenyum hangat sambil mengedipkan sebelah matanya. "Hay mas ganteng?"


"Ngapain lo di sini?" Tanya lelaki itu heran. Ya, lelaki itu adalah lelaki yang sudah menabrak Moria di kantin sekolah.


"Numpang makan," jawab Moria asal.


"Gue serius!"


"Ya kerja lah. Emang gak lihat apa kalau saya pakai baju pelayan?"


"Oh." Seketika Moria terbelalak karena hanya jawaban singkat yang ia dapatkan. Tetapi Moria langsung mengubah kembali raut wajahnya dan bersikap profesional, karena saat ini dirinya bukan sedang berada di lingkungan sekolah, melainkan di tempat kerja.


"Saya permisi dulu ya kalau begitu," pamit Moria lalu pergi meninggalkan meja.


"Dia kerja di sini? Dia kan masih sekolah," batin lelaki itu bertanya-tanya.


Sementara di tempat lain, tepatnya di belakang cafe. Moria sedang menangis sesegukan karena mendapat kabar bahwa dia harus segera melunasi pembayaran sekolahnya, sedangkan gaji yang dia dapat tidak begitu cukup. Apalagi jika harus ditambah dengan uang makan sehari-hari.


"Mo? Lo di mana?" Panggil Arga.


"Iya Bang!" Sahut Moria lalu menghapus bulir-bulir air mata yang membasahi pipi tirusnya.


"Lo kenapa lagi?" Tanya Arga khawatir ketika melihat mata Moria yang sembab serta hidung yang memerah.


"Gue gak papa."


"Jujur sama gue Mo!"


"Gue gak papa Bang." Moria tersenyum palsu lalu beranjak meninggalkan Arga.


22:00


Malam ini hujan deras turun menjarumi kota jakarta. Moria yang notabene-nya adalah seorang pecinta air hujan, langsung berlari kecil mendekati jendela cafe untuk melihat bulir-bulir air hujan yang turun mengenai kaca jendela.


"Ngelamun aja lo! Nanti kesambet," tegur Arga sambil menepuk pelan bahu Moria dari arah samping.


"Gak bakal."


"Mo, kalau ada apa-apa cerita sama gue."


"Iya Bang."


"Gue kagum sama lo Mo, karena lo selalu terlihat kuat. Lo periang sampai-sampai lo gak ketahuan kalau lo itu terluka, pokoknya gue salut."


"Gerry salut ya Bang?" Ledek Moria sambil mencolek dagu Arga.


"Bercanda mulu lo!" Ketus Arga.


"Kalau gak bercanda nanti siapa yang hibur diri gue sendiri Bang," Lirih Moria yang masih bisa terdengar jelas di telinga Arga.


"Lo gak sendiri Mo. Ada gue, ada Fanya sahabat lo yang kaya toak itu, masih banyak lagi deh."


"Terimakasih Bang karena selalu nguatin gue." Moria perlahan menyenderkan kepalanya di bahu Arga.


"Lo kan udah gue anggap Adik gue sendiri."


"Gak calon istri aja Bang?"


"Gue gak suka bocah Mo."


"Sialan!" Dumel Moria lalu menarik rambut Arga dengan kencang.


"Aduh Mo sakit, kebiasaan ah."


"Bodoamat! Lagian sih bikin kesal."


"Iya-iya nanti lo jadi calon istri gue deh."


"Gak lah gak jadi."


"Sumpah deh Mo, lo maunya apaan dah?"


"Maunya jajan."


Arga berdecak kesal lalu mencubit hidung mancung Moria dengan gemas. "Nanti kalau gue dapat duit, gue janji bakal traktir lo deh Mo."


"Janji?"


"Iya janji, lagian juga gue gak pernah ingkar janji kan?"


"Kata siapa?"


"Kata emak gue Mo!"