MORIA

MORIA
Chapter 1



Langkah kaki seorang gadis cantik blasteran Spanyol-Indonesia terus memenuhi sepanjang koridor sekolah. Dia adalah Moria Kezia, murid pembuat onar dan incaran guru BK. Hidupnya yang selalu dipenuhi dengan berbagai masalah, membuat dirinya perlahan tumbuh menjadi seorang manusia yang kuat dan mandiri.


"Maaf Bu saya telat," ucap Moria dengan nafas yang terengah-engah.


"Moria! Kamu ini cantik-cantik suka sekali telat. Bisa-bisa kamu kena dropout."


Moria hanya menyengir tanpa dosa lalu mengecup singkat punggung tangan Bu Ritma. Guru sosiologinya yang baik hati dan pengertian. "Iya Ibu guru yang cantik."


"Telat mulu lo!" Ketus Fanya sahabat Moria.


"Kan gue udah bilang. Gue kerja! Nyari duit," balas Moria lalu mulai menduduki bangku kosong di sebelah Fanya.


"Tap-"


"Sstt berisik," potong Moria sambil menyumpal earphone ke satu telinganya.


"Kebiasaan!" Tandas Fanya tak ambil pusing.


KBM sudah mulai berjalan selama 3 jam, yang artinya sebentar lagi bel istirahat akan segera berbunyi, dan selama itu pula Moria tertidur pulas di atas mejanya. Untungnya gadis itu memilih tempat duduk paling belakang, Sehingga tidak akan ada guru yang mengetahuinya.


Teng teng teng


"Woy udah istirahat woy," bisik Fanya ke arah Moria.


"Mo! Bangun aelah!" Karena tetap tidak ada pergerakan apapun dari Moria, akhirnya Fanya memutuskan untuk menjambak rambut panjang kecoklatan milik Moria dengan kencang.


"Aww sakit!!!" Ringis Moria lalu menatap tajam ke arah Fanya yang hanya terkekeh pelan. "Jangan ketawa! Lo Jelek."


"Yuk ih istirahat!!" Ucap Fanya sambil menarik lengan Moria dengan kasar.


"Kumpulin nyawa dulu bentaran."


"Gak! Ayo buruan." Dengan terpaksa Moria berjalan mengikuti langkah Fanya yang terbilang cepat.


"Pelan-pelan dong ih!!" Teriak Moria dengan mata yang masih setengah terpejam.


"Keburu gak dapat tempat du-"


Bruk


"Aduh! Hati-hati dong kalau jalan! Mo lo gak papa?" Tanya Fanya khawatir saat melihat Moria jatuh dengan kondisi yang mengenaskan. Yaitu mencium lantai kantin sekolah.


"Teman lo aja yang jalannya sambil merem!" Sewot lelaki itu tak terima.


"Udah gue gak papa!" Perlahan Moria mulai bangkit dan mendongak untuk melihat pelaku yang sudah menabraknya itu.


"Gue gak mimpi kan? Ada pangeran di sekolah kita!!" Seru Moria dengan tatapan yang berbinar ke arah lelaki itu.


"Mo! Lo apaansih! Malu-maluin aja." Fanya menarik lengan Moria untuk menuju kelas, tetapi Moria segera menepis kasar lengan Fanya.


"Nya, lihat ini ada pangeran!!"


"Lo yang gila! Ayo mo!" Bentak Fanya lalu mulai kembali menarik paksa lengan Moria.


"Dadah ganteng!"


Sesampainya di kelas, Fanya terus memarahi Moria dengan berbagai macam perkataan kasar. Namun, reaksi yang diberikan Moria hanyalah tersenyum lebar dan sesekali mengangguk pelan.


"Mo! Lo gila ya!" Teriak Fanya frustasi.


"Gue cuma kagum sama ciptaan Tuhan yang sempurna kaya dia," balas Moria sambil menepuk-nepuk bahu Fanya.


"Moria tapi kan tadi dia ud-"


"Gak peduli! gue gak peduli! Dia pangeran gue pokoknya."


"Gila," cibir Fanya pelan.


"Lo baru tahu Nya?"


"Bodoamat Mo terserah lo aja! Capek gue."


"Kalau capek istirahat aja, jangan ngomel terus."


Fanya berdecak sebal lalu mencubit pipi Moria dengan gemas. "Lo selalu bikin gue jadi punya niatan buat bunuh lo hari ini juga!"


"Psikopat ya lo?"


"Iya! Kenapa hah? Gak terima lo? Sini ribut sama gue!


"Widih Fanya udah jadi jagoan," ledek Moria sambil melepas cubitan di pipinya.


"Tolong jangan dedek bikin emosi sehari aja."


"Dih gue gak ngerasa bikin lo emosi kok."


"Itu menurut lo ya!!"


"Tuh kan lo mah marah-marah mulu, darah tinggi ya lo?"


"Bacot!"


"Cih ngambek."


"Moria diam!!" Fanya menjambak rambut Moria dan sesekali menoyor kasar kepala Moria.


"Aduh sakit Nya sakit."


"Rasain lo!"


"Jahat banget!!"