MORIA

MORIA
Chapter 4



"Mo, jajan yuk? Udah istirahat nih," ajak Fanya sambil terus menarik-narik ujung rambut Moria.


"Aduh gak deh. Gue lagi gak mau makan," tolak Moria lalu kembali menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangan.


"Lo kenapa sih Mo? Ada masalah? Cerita sama gue."


"Gak ada ih, udah sana kalau mau jajan! Gue mau di kelas aja."


"Ya udah gue ke kantin ya, Lo jangan kangen."


Moria mengangguk pelan dan membiarkan Fanya pergi ke kantin seorang diri. "Hati-hati Nya."


"Hey!"


Moria mendongakkan kepalanya dan terkejut bukan main karena tiba-tiba wajah Rendi berada tepat di hadapannya dengan jarak yang terbilang cukup dekat. "Hay ganteng?"


Rendi yang mendengar ucapan itu, langsung menjauhkan wajahnya dan menduduki bangku kosong di sebelah Moria. "Lo kenapa gak ke kantin?"


"Gue diet," jawab Moria dengan diiringi gelak tawa.


"Masa sih?" Tanya Rendi tak percaya.


"Iya serius."


"Mori ..."


"Panggil gue Mo aja! Gak usah Mori."


"Iya Mo. Hmm sebelumnya maaf gue dengar pembicaraan lo sama Pak kepsek."


Flashback on


"*Mori kamu kapan mau bayar uang bulanan sekolah? Kamu ini sering nunggak," ucap Pak kepsek sambil menyodorkan beberapa kertas putih ke arah Moria.


"Saya juga lagi usahain buat bayar Pak," balas Moria meminta pengertian.


"Memangnya apa kamu tidak punya orang tua untuk membantu biaya sekolah kamu?" Tanya pak kepsek.


"Saya gak tahu orang tua saya ada di mana. Saya aja harus kerja di cafe buat cari uang pak. Tolong minta pengertiannya. Nanti kalau ada uangnya saya aka segera melunasinya," jawab Moria dengan mata yang berkaca-kaca. Sebenarnya Moria itu sangat sensitif jika membicarakan tentang orang tuanya.


"Baiklah kalau begitu. Saya kasih waktu 3 bulan buat kamu. Kalau kamu tidak bisa membayar terpaksa kamu harus dikeluarkan." Moria membuang nafas kasar lalu mengangguk patuh.


"Saya permisi ke luar pak," pamit Moria*.


Flashback Off


"Nggak! Gue bisa bantu lo buat dapat duit."


"Maksud lo?"


"Lo punya bakat?"


Moria memukul-mukul keningnya dengan telunjuk untuk mencari tahu bakat apa yang dimilikinya. "Nyanyi! Gue pernah ikut lomba nyanyi!"


"Oke, lo kerja jadi penyanyi di cafe gue. Gajinya perhari 200 ribu, Gimana?"


"Oke gue mau!" Rendi langsung tersenyum tipis atas keantusiasan Moria dalam mencari uang.


"Pulang sekolah ini langsung bareng sama gue. Lo udah bisa mulai kerja," ucap Rendi Lembut. Entahlah, kali ini Rendi yang terkenal sebagai prince ice justru menjadi sering tersenyum saat berhadapan dengan Moria.


"Oke bos!"


13:00


Cuaca kota jakarta siang ini benar-benar panas, bahkan sinar matahari sampai menyengat ke permukaan kulit. Namun, tidak sedikit pun memudarkan semangat para siswa-siswi yang sedang berhamburan ke luar gerbang sekolah untuk bergegas pulang. Tetapi berbeda dengan Moria yang saat ini masih menunggu Rendi di depan kelasnya yang sudah terlihat sepi. Sedangkan Fanya sudah pulang lebih awal karena harus buru-buru menjemput orang tuanya yang baru pulang dari Singapure. Ya, Jelas bisa dibandingkan bahwa Moria dan Fanya sangat berbeda jauh secara harta maupun keluarga.


"Si ganteng mana sih ..."


"Nunggu lama ya? Tadi gue di suruh piket. Padahal gue gak pernah piket," kekeh Rendi sambil mengusap peluh di keningnya.


"Keringat lo banyak banget kaya abis lari maraton aja," balas Moria lalu mengusap lembut peluh yang berada di kening Rendi dengan tissue.


"Ya udah berangkat sekarang aja." Rendi mulai mengenggam jari-jemari Moria menuju parkiran sekolah.


"Lo lagi gak ada jadwal kerja kan?" Tanya Rendi di sela-sela perjalanan.


"Nggak. Gue freelance."


"Oh gitu."


Setelah sampai di parkiran sekolah, Moria langsung diperintahkan untuk masuk ke dalam mobil mewah milik Rendi. "Pasang seatbelt lo."


Selama di perjalanan menuju cafe, Rendi lebih banyak diam, sedangkan Moria sering kali berbicara mengenai hal-hal yang tidak penting. Bahkan sesekali Moria juga bersenandung kecil menyanyikan lagu happier-Ed Sheeran dengan suara yang merdu.


"Udah sampai nih di cafe gue," ucap Rendi yang kemudian membuka seatbelt dan meninggalkan Moria di dalam mobil.


"kurang ajar banget gue ditinggal," dumel Moria lalu berlari kecil mengikuti langkah Rendi dari belakang.