
Hari ini tidak seperti hari biasanya, karena tiba-tiba Moria berangkat tepat waktu ke sekolah. Alasannya adalah tidak ingin sampai terkena dropout. Maka dari itu Moria memutuskan untuk berubah menjadi murid yang disiplin. Bahkan pakaianya yang sering terlihat urak-urakan, kini sudah berubah menjadi lebih rapih. Seragam putihnya pun dimasukan, kemudian sepatu merahnya berubah menjadi berwarna hitam, serta memakai beberapa atribut lengkap seperti dasi dan sabuk.
"*Moria berubah ya sekarang."
"Ya ampun preman udah taubat."
"Bad girl sekolah insaf woy!"
"Moria cantik kalau begitu*!"
Satu koridor sekolah berhasil dibuat ribut hanya karena melihat penampilan Moria yang berubah 180 derajat dari biasanya. Sampai-sampai biang gosip sekali pun ikut mengabadikan moment ini lewat ponsel. Sudah pasti ini akan dijadikan bahan gosipan terbaru di SMA Nusa Bangsa.
"Moria!!!" Teriak Fanya dari jauh sambil berlari mendekati Moria.
"Apa? Mau bilang gue rajin? Iya tahu kok. Dari dulu juga udah rajin Nya."
Moria menepuk dadanya berkali-kali tanda bangga akan dirinya sendiri.
"Idih siapa juga yang mau bilang lo rajin," bantah Fanya lalu merangkul bahu Moria menuju kelas.
"Eh nanti dulu!" Moria berhenti saat tak sengaja matanya menangkap jelas foto dirinya yang sedang mengenakan pakaian pelayan cafe.
"Siapa yang nempelin foto gue di mading?" Tanya Moria heran.
"Udah lah Mo gak usah dimasukin ke hati," ucap Fanya menenangkan.
"Siapa juga yang masukin ke hati. Gue cuma mau tahu siapa orang yang udah foto gue. Soalnya di dalam foto itu gue keliatan cantik banget," balas Moria dengan pandangan yang menatap takjub ke arah mading.
"Terserah lo Mo terserah!" ketus Fanya sambil meninggalkan Moria yang masih berdiam diri di depan mading.
"Gila sih, gue cantik banget," gumam Moria sambil tersenyum lebar.
"Oh jadi ternyata lo pelayan cafe? Ya ampun!! masa cantik-cantik miskin sih? Kasian!"
Moria berhenti tersenyum dan memutar tubuhnya ke belakang dengan perasaan yang jengkel.
"Cindy sharon," ucap Moria ketika membaca name tag di seragam milik perempuan berambut gelombang dengan tampilan yang seperti tante-tante.
"Gak usah nyebut nama gue!" Geram perempuan itu
"Nama lo cantik. Tapi sayangnya muka lo jelek." Setelah mengucapkan kalimat itu, Moria segera meninggalkan perempuan bernama Cindy dengan perasaan yang kesal.
"Kurang ajar lo Moria!!"
Saat kaki Moria ingin segera sampai di kelas tercintanya, tiba-tiba ada suara berat laki-laki yang memanggil namanya.
"Eh Moria!" Panggil seseorang dari arah samping kirinya.
"Wah ini suara si ganteng nih!" Tanpa membuang-buang waktu, Moria segera berhenti dan menunggu lelaki itu menghampirinya.
"Lo disuruh ke ruang kepsek."
Ternyata hanya itu yang disampaikan olehnya. Moria menghela nafas kasar karena sudah pasti alasan dirinya dipanggil ke ruang kepsek adalah untuk membahas pembayaran sekolah.
"Makasih," balas Moria lalu tersenyum hangat dan berbalik arah munuju ruang kepsek.
"Eh tunggu!" Teriak Lelaki itu, tetapi tidak dihiraukan oleh Moria.
"Tunggu dulu!" Lelaki itu pun mencekal lengan Moria dari belakang dan mulai mensejejarkan langkahnya dengan Moria. "Gue Rendi."
"Kenapa lo kasih tahu nama lo? Gue kan gak nanya," balas Moria dengan pandangan yang fokus ke depan.
"Biar lo gak panggil gue dengan sebutan si ganteng terus."
"Lo kan emang ganteng."
"Tapi gue punya nama."
"Oke Rendi sayang."
"Emangnya tadi gue panggil lo pake sebutan apa?" Tanya Moria sambil menoleh sekilas ke arah lelaki yang bernama Rendi.
"Sayang," jawab Rendi polos.
"Ah jadi malu dipanggil sayang," kekeh Moria dengan cengiran khasnya.
Rendi yang tersadar bahwa dirinya sedang dikerjai, langsung menjitak pelan kepala Moria dan mengacak-ngacak gemas rambut Moria. "Kurang ajar!"
"Jangan ikutin gue," peringat Moria saat tiba di depan ruangan yang bertulisan Kepsek.
"Mau ikutin aja ah."
"Kuku gue panjang-panjang nih, mau gue cakar?"
"Curang nih pake kekerasan!"
"Terserah gue dong!"
"Kok lo nyebelin?"
"Biarin aja!"
"Ngajak ribut ya lo?" Rendi mulai maju satu langkah mendekati Moria tetapi Moria segera menjambak rambut Rendi.
"Aduh lepasin gak lo? Sakit nih!!"
"Jangan aneh-aneh ya lo! Ini di ruang kepsek!"
"Apaan sih geer banget! Lepasin rambut gue!"
"Mundur dulu!" Perintah Moria sambil melotot ke arah Rendi.
"Iya nanti aja mundurnya."
"Sekarang gak nanti-nanti!"
"Rambut gue masih dijambak sama lo Le!"
"Le? Lele maksud lo?"
"Buk-"
Moria menjambak lebih kencang rambut Rendi sampai wajah Rendi memerah menahan sakit. "Berani lo panggil gue ikan lele?"
"Ya Allah tolong hambamu ini." Rendi perlahan memejamkan mata lalu mulutnya komat-kamit.
"Berdoalah terus."
"Mo rambut gue bisa botak kalau gini caranya."
"Tinggal beli penumbuh rambut aja apa susahnya sih."
"Gak alami banget!"
"Mau yang alami? Lu cukur bulu ketiak lo, terus tempel di kulit kepala lo itu."
"Lo kelewat gila deh."
"Baru tahu lo?"
"Ya iyalah! Akrab sama lo aja baru-baru ini."
"Ck ya udah lah gue mau masuk dulu," ucap Moria sambil melepaskan jambakanya dan berjalan memasuki ruang kepsek.
"Dasar bar-bar," cibir Rendi lalu mengelus kepalanya yang terasa nyeri akibat jambakan Moria.