
Sakura membaringkan tubuh letihnya diatas ranjang pink kesayangannya. Dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya. Matanya menerawang pada langit-langit kamar. Dengan pikiran yang melalangbuana entah kemana. Ia menghela napas.
Kling kling kling!
Emeraldnya menoleh pada ponsel yang ia letakan di samping bantalnya. Ada sebuah panggilan masuk. Sakura segera meraihnya dan melihat nama Sasuke tertera disana. Ia menimang untuk mengangkatnya atau tidak, lalu seperkian detik kemudian ia menekan tombol hijau. Panggilan tersambung.
"Sakura?"
Sakura merasakan desiran aneh saat namanya dipanggil begitu lembut. Ada sedikit rona merah yang memaksa untuk keluar. Ia berdehem pelan tanpa sepengetahuan Sasuke. "Iya. Ada apa Sas?"
Sakura berusaha tenang. Hingga terdengar helaan napas pelan disana. Yang helaan napasnya saja sanggup membawa debaran pada jantung Sakura.
"Lo udah sampe rumah?"
"Iya. Baru aja." jawab Sakura sambil menganggukkan kepalanya. Ia dapat merasakan Sasuke tersenyum diujung sana.
"Sekarang lagi apa?"
"Gue?" tanya Sakura balik
"Sasori."
Terdengar tawa lembut Sakura. Tawa ringan yang sangat dirindukan Sasuke. Sasuke ikut tersenyum pelan. Ia dapat membayangkan wajah Sakura saat ini.
"Gitu aja ngambek."
"Lo nyebelin sih."
"Salah siapa gue jadi nyebelin?" tanya Sakura sekaligus menyindir Sasuke. Ia tertawa renyah diujung telepon sana.
"Nyebelin juga gue suka."
Sakura terdiam mendengar ucapan Sasuke barusan. Begitu juga Sasuke yang menunggu respon Sakura. Ada jeda panjang diantara mereka. Tapi detik pada durasi telepon terus berlanjut. Sakura yang merasa obrolan ini sedikit kurang nyaman bermaksud mengakhirinya.
"Sas, udah dulu ya. Gue mau mandi." kata Sakura.
"Oke." jawab Sasuke
Setelah mendengar ucapan oke Sakura segera saja mengakhiri panggilan mereka. Meletakkan ponselnya kembali di meja lalu beranjak bangun keluar kamarnya
Tapi tiba-tiba Sasori membuka pelan pintu kamarnya. Mendudukkan diri diranjang Sakura, dengan mulut yang mengunyah pocky hazelnya menatap tepat pada emerald Sakura.
"Sejak kapan dia balik?"
"Baru beberapa hari yang lalu." jawab Sakura acuh. Ia membuka lemari bajunya dan mengambil potongan kaos dan celana disana. Membawanya ke sisi ranjang lalu beranjak mengambil handuk baru dari lemari paling bawah. Sasori hanya mengamati gerak gerik adiknya. Menunggu apalagi yang ingin gadis gulali itu sampaikan.
Tapi disetiap detik yang Sasori tunggu, adiknya tetap bergeming dan sibuk mondar mandir dikamarnya.
"Lo gimana?" tanya Sasori
Sakura menoleh dengan alis terangkat. "Gue?" ia menunjuk dirinya sendiri
"Ya siapalagi?"
Berdehem pelan Sakura melangkah mendekati kakaknya dan duduk di kursi belajar tepat berhadapan dengan Sasori.
"Gue baik."
"Gue tau lu paham maksud gue." kata kakaknya. Sakura menatap hazel kesukaan nya. Mencari apa maksud dari kedatangan kakaknya ke kamarnya. Malem ini.
"Lo mau gue gimana kak?"
"Lo masih lanjutin hubungan ama dia?"
"Dia bilang gue mantan. Berarti udah kelar." kata Sakura acuh.
"Tapi hati lo bilang lain?" ejek Sasori
Emerald Sakura segera menghujam retina kakaknya. Menyelidiki, mendalami dan ia menemukan sirat ke khawatiran disana.
"Gue baik. Dan gakan semudah itu gue jatuh lagi ke pelukan dia. Gue masih sakit kak."
"Tapi lo bahagia dia balik kan."
Sakura mengangkat bahunya "Sedikit, mungkin?"
Sasori menghela napas lalu meraih laptop Sakura di nakas. Melangkahkan kedua kakinya keluar dari kamar Sakura sambil melambai "Oke. Gue pinjem ini." sebelum meninggalkan kamar Sakura, Sasori menoleh sebentar dan menatap adiknya.
.
.
.
Pagi ini Sakura sudah siap dan mematut diri didepan cermin. Dapat dilihatnya pantulan dirinya disana. Mata emerald yang menurutnya cukup teduh namun kadang membara di beberapa situasi. Rambut merah mudanya ia ikat satu. Dengan poni tipis yang menjuntai dan anak rambut yang dibiarkan menghiasi sisi kanan dan kiri telinganya. Menutupi sebagian pipinya yang sedikit membengkak karena Ino yang terus menjejalkan macaron padanya.
Seragam musim panas ia kenakan. Dengan potongan baju berlengan pendek berwarna putih dan rok kotak-kotak berwarna biru tua. Ia menyelipkan ponselnya pada saku rok nya dan meraih tas yang berada dimeja. Menyampirkan dibahunya lalu bergerak ke arah kenop pintu. Untuk turun. Bergabung dengan kakak dan ibunya.
Sakura sudah tak memiliki ayah. 2 tahun lalu tepat setelah setahun Sasuke meninggalkannya Sakura yang kala itu berada di perpustakaan kota mendapati telepon dari kepolisian. Ayahnya kecelakaan saat sedang mengantar barang. Dan nyawa nya tak tertolong.
Sejak saat itu keluarganya selalu bergenggam erat. Ia, Sasori dan Ibunya. Apapun akan mereka lakukan bersama untuk menghindari hal yang tak diinginkan. Dan Sakura mampu melewatinya karena ia memiliki ibu yang penyabar juga kakak yang hebat.
Sasori. Kakak satu-satunya yang Sakura miliki sekarang sedang menempuh jalur pendidikan di Universitas Konoha. Semester tiga. Karena nya ia bisa membagi waktu dengan bekerja paruh waktu membantu ibunya. Untuk ekonomi mereka juga biaya pendidikan Sakura.
Sakura merasa berharga memiliki mereka. Tanpa mereka Sakura tau ia sudah cukup rapuh untuk melakukan percobaan bunuh diri.
Saat menuruni anak tangga dapat ia cium aroma masakan yang menggugah selera, yang memenuhi tiap ruangan dilantai satu rumahnya. Disana ibunya mengenakan daster putih selutut dengan apron biru yang menggantung indah di leher dan mengikat pinggangnya.
Mendapati Sakura yang menjejakkan kakinya Mebuki menoleh dan melambai pelan. Menyuruh Sakura segera mendekat.
Sasori sedang sibuk dengan dasi dan jas yang terlihat mahal yang ia kenakan. Juga sebuah koper yang tak pernah Sakura lihat tergeletak diatas meja. Sakura mengenyit dan menatap kakaknya "Mau kemana?"
"Wawancara. Lo tahu? Untuk memperbaiki ekonomi kita." Sasori tertawa pelan. Tapi tidak dengan Sakura. Gadis itu menoleh pada ibunya.
"Memang kita sedang kekurangan finansial?"
Tentu ibunya menggeleng. "Tidak Saki. Kakak mu hanya ingin mencoba peruntungan. Semoga ia beruntung hari ini."
Sasori tersenyum mendengar ucapan ibunya ia mendekat dan mencium pipi Mebuki dengan lembut "Thanks Mah, aku jalan ya. Bye mah bye adik tersayang." pamit Sasori tak lupa ia mencuri satu kecupan pipi Sakura.
Sakura mencebik kesal lalu kemudian tersenyum tipis. Ia menarik kursi makan dan mendudukan diri disana. Menatap sandwich dan susu yang tersaji disana. Juga kotak bekal yang sedang ibunya kerjakan.
"Aku selalu jatuh cinta dengan bento yang kau buat Mah." puji Sakura.
Mebuki hanya mendongakkan kepalanya sebentar dan tertawa. Ia menyelesaikan tugas akhirnya. Membungkus bento Sakura dengan serbet lalu memasukkan nya pada tas gadis itu. Menghela napas saat menatap gadis bungsunya dengan cepat menghabiskan makanan yang ada di atas meja. Mebuki membuka apron yang melilit ditubuhnya lalu berjalan mengelilingi meja dan mengelus puncak rambut Sakura. Memberikan satu kecupan disana.
"Mamah siap-siap untuk berangkat kerja dulu ya. Habiskan makananmu dan segera berangkat. Oke?"
"Yes, Mom!" ujar Sakura memberi hormat pada ibunya dengan mulut yang penuh sandwich.
.
.
.
"Sebenarnya gue berharap tadi ketemu lo diujung lorong kelas."
Sebuah suara mengintrupsi langkah kaki Sakura. Ia melihat Sasuke mendekat dan menawarkan diri membawa buku yang sedang ia bawa.
"Sayang sekali Lo gak beruntung."
Ia tetap melangkahkan kaki jenjangnya membiarkan sepasang kaki lain mengejarnya. Dengan sangat mudah.
"Lo lagi PMS ya?"
Sakura mendelik kesal lalu menemukan mata jenaka Sasuke yang siap menggodanya.
"Kemarin lo so sweet gitu ke gue. Ko sekarang jadi jutek gitu?"
Sakura mengangkat bahu lalu memasuki kelasnya. Sasuke ikut masuk. Meletakkan buku yang tadi ia ambil dari Sakura dimeja gadis itu. Beberapa siulan Sasuke terima saat ia menginjakkan kaki dikelas gadisnya. Ia tak suka perhatian. Sebenarnya.
Sakura segera merapihkan beberapa buku diloker dibelakang kelas mereka. Sedang Sasuke berjalan mendekati Naruto dan duduk dikursi sampingnya.
"Kenapa? Ditolak?" ejek Naruto
Sasuke hanya menyeringai. "Liat aja nanti."
.
.
To be continue