
Ting!
Sakura segera menoleh pada ponselnya yang dia letakan di meja belajarnya, dengan langkah malas dia mendekat dan meraih benda pipih berwarna putih tersebut, membuka satu pesan masuk di sana. Keningnya berkerut melihat satu nomer baru yang tidak ia kenal.
From: +622345xxx
Hai
Sapaan singkat, Gadis itu mengenyitkan keningnya, pasalnya nomer ponsel yang dia pakai saat ini tidak ada yang mengetahui kecuali keluarganya. Ya Sakura baru saja kehilangan ponsel seminggu yang lalu akibat kecerobohannya. Ia masih menimang dengan mengetukkan pelan ponsel ke tangannya. lalu Jemari gadis itu bergerak lincah diatas keypad ponsel nya.
To: +622345xxx
Siapa?
Setelah menekan tombol send gadis itu meletakan ponselnya di ranjang lalu berbaring. Biasanya dia paling malas untuk sekedar membalas pesan dari orang tidak jelas. Tapi entah mengapa saat ini dia hanya ingin.
Mungkin karena bosan.
Mungkin.
Ting!
Ponselnya kembali berbunyi, pertanda pesan masuk kembali ia terima. Sakura lalu menoleh dan dengan cepat meraih ponselnya nya. Membuka satu pesan masuk disana. Ternyata benar dugaannya. Dari nomer yang tadi.
From: +622345xxx
Masa lalu
"Heh?" gadis itu menatap kesal pada pesan dihadapannya. Alisnya berkedut dengan bibir terbuka lebar, "Gue paling kesel nih kalo udah yang beginian nongol di nomer gue!"
Gadis itu lalu melempar ponsel nya lalu mematikan lampu kamarnya. Menatap kesal pada benda pipih yang kembali bergetar.
"Bodo amat!"
...
Dug dug dug!
"Sakuraaaa cepat turun! Udah jam 7 lewat!" teriak Sasori sambil mengetuk pintu kamar Sakura. Sekali dua kali ketukan masih pelan, namun melihat sang empu kamar belum juga membuka pintu Sasori berinisiatif mengetuk dengan kencang. Ia tau, adik nya sudah seperti kebo tidur.
"Iya bentar Kak Saso." jawab Sakura tak kalah kencang. Gadis itu dengan tergesa-gesah memasukan buku-buku yang telah dia persiapkan sebelumnya. Melirik sekilas pada dinding yang menunjukkan pukul 7:15 Sakura menghentakkan kaki dengan kasar dan membanting pintu kamarnya lalu berlari menuruni anak tangga rumahnya.
Sakura menatap kesal kakak lelaki nya itu. Mendekati meja makan Sakura hanya menengguk satu gelas penuh susu yang disediakan ibunya untuknya.
"Saki berangkat." pamitnya.
"Ehhh? Kau tidak sarapan?" tanya Mebuki bengong melihat putri bungsunya yang tergopoh-gopoh berlari kearah pintu keluar. "Tidak mah, aku sudah telat." saut Sakura. ia segera memakai sepatunya dengan kilat dann berlari keluar rumah.
Sedangkan Sasori hanya geleng-geleng kepala lalu kembali melanjutkan sarapannya. Sepotong roti dengan selai kacang kesukaannya. Mebuki yang melihat kedua anaknya hanya menghela napas dan kembali melanjutkan rutinitasnya.
"Jangan terlalu sering menjahili adikmu Saso-kun." nasihat Mebuki. Sedang yang mendengar hanya tersenyum dan mengangguk lalu beranjak dari meja makan. Menyampirkan tasnya di bahu lalu mencium pipi Mebuki.
"Iya mah, aku berangkat."
"Hati-hati."
...
From: +622345xxx
Pagi my love
Lo siapa sih?
Gue? Masa lalu lo
Terserah. Jangan ganggu gue!
Lo cantik dengan jepit rambut itu. Lo masih menyimpan pemberian gue?
What? Sakura melotot pada layar ponselnya, tangan kirinya otomatis menyentuh jepit rambut berwarna putih. Jepit rambut yang menemaninya selama 3tahun belakangan. Pikirannya melayang dan sampai pada satu orang yang sangat dirindukan. Lalu tanpa sengaja emerald nya melihat seseorang yang melihat kearahnya.
Oh my! Onyx itu.
Dia mendekat dengan mulut terkatup rapat lalu menatap tepat pada retina Sakura, menyelami manik hijau tersebut hingga membuat Sakura terdiam dan kaku.
"Hai mantan."