Me And You Become Us

Me And You Become Us
Awal



Pernikahan....


Sebuah komitmen antara dua insan untuk saling mencintai tanpa mengenal kondisi ataupun adanya tanggal kadaluarsa.


Setidaknya itulah makna pernikahan untukku. Ikatan yang mengikat bukan hanya dua keluarga tetapi antara aku dan dirinya, Pria yang kucinta.


Tetapi....


Apa ini pernikahan yang kuharap kan.


Pernikahan yang tak di dasari oleh cinta melainkan hanya kontrak perjanjian.


“Saya terima nikah dan kawinnya Tri Elvina Maharani binti Herdianto dengan mas kawin tersebut di bayar tunai”. Kata-kata itu terucap oleh Pria yang duduk disebelah ku hanya dalam satu tarikan nafas. Yang sialnya terdengar merdu saat di ucapkannya, menurutku....


Mungkin jika ia orang itu (dalam artian orang yang kucinta) aku akan merasakan debaran hebat di jantungku. Nihil... hanya ada rasa perih yang bersemayam di dalamnya.


“Sah”. Tanya penghulu sembari melihat ke arah kiri dan ke kanan memperhatikan para tamu undangan yang hadir saat ini.


“Sahh...” jawab kompak semua orang yang hadir di sini. Termasuk mereka, yang katanya kedua orang tuaku.


Tampak senyum tulus mengembang di bibir mereka, tetapi tidak denganku. Tampa sadar dan seizinku air mata keluar dari mataku tanpa bisa ku cegah.


Ku remas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan indah. Yang membuatku seperti satu-satunya Queen di sini. Bahkan membuat semua tamu undangan takjub ketika melihat kearah ku.


Sekarang aku....


Tri Elvina Maharani, bukan lagi seorang gadis melainkan seorang wanita yang kini telah sah secara hukum dan agama menjadi seorang istri dari Pria di sampingku. Devano Adhitama. Lelaki yang belum lama ini ku kenal.


Aku masih fokus ke cermin kecil yang ku pegang. memoles wajah dengan powder yang sebenarnya sudah aku poleskan sebelumnya. Hanya memperbaiki riasan yang sudah luntur oleh keringat setelah satu harian bekerja.


Tak lupa, ku tambahkan lipstik di bibirku yang sudah hilang warnanya akibat memakan gorengan tadi siang. Warna coral dengan sentuhan merah di tengahnya kurasa sangat pas untukku.


“ehem”. Deheman laki-laki di sebelahku membuatku perpaling ke arahnya. Dia adalah Rein, teman kantorku sekaligus sahabat baikku. Dia cukup ganteng menurut ku, dengan tinggi badan sekitar 175 cm, kulit kuning Langsat, dan mata sipit. ditambah dengan sifatnya yang humbel dan perhatian menambah nilai plus dalam dirinya.


“Tumben”. lanjutanya, tapi kedua bola matanya masih fokus ke arah laptopnya.


Aku tersenyum. kemudian ku senggol lengannya dengan lenganku seperti cewek genit yang menggoda pacarnya.


“Iya dong. ada dinner say jadi harus ferfect”.


dia langsung menggeser kursinya ke arahku dengan raut wajah penuh dengan rasa penasaran.


“Serius...kata nyokap gue ngak boleh bohong El, dosa”. ucapnya


“Serius.. ngk bohong”. kuangkat tanganku membentuk huruf V.


“Dinner sama Ayah Bunda”. lanjutku


“Kok gua makin ngak percaya El. Ini nyokap bokap Lo beneran kan, bukan setingan”. ungkapnya masih tak percaya.


ingin sekali ku cakar wajah ganteng tak berdosa ya itu. tapi Wajar jika Rein tak percaya. Dia orang yang paling tau tentang kisah hidupku. Bagaimana perlakuan kedua orang tuaku, bagaimana sikap dingin dan acuh nya mereka terhadapku, bahkan hanya tersenyum padaku pun jarang, aku bisa menghitungnya dengan jari. tapi ntah mengapa saat mereka mengajakku dinner ada rasa senang di dalam hatiku yang tak bisa ku ungkapkan hanya dengan kata-kata, sejenak ku lupakan perlakuan mereka terhadapku. aku tak tau kalau ternyata akan ada sebuah tragedi yang menghampiri.


Aku hanya mengangguk pelan dengan senyuman di ujung garis bibirku dengan manis.