
Tik....Tik...Tik....
rintik-rintik hujan perlahan jatuh membasahi bumi.
terdengar suara angin berhembus kencang sedang menari-nari.
Bak tamu yang tak di undang, hujan datang tiba-tiba. diawali dengan kegelapan, tetesan air, dan di akhiri dengan sebuah sinar terang yang menyinari.
seolah mewakili isi hati, hujan turun bersama luapan emosi.
itulah yang dirasakan gadis yang berdiri di depan trotoar saat ini. Merasa sedih, emosi, marah, semua bercampur menjadi satu
Elvina..
hmmm, ya gadis itu bernama Elvina.
Elvina berjalan menelusuri trotoar dengan payung hitamnya. Berjalan tak tentu arah, bagai orang yang hilang kendali.
“hiks... hiks...
apa ini takdirku” suara tangis Elvina pecah
Dia sudah tak tahan lagi, binggung dengan semua yang menimpanya saat ini. Ingin rasanya ia berteriak dan membantah. tetapi.... dia tau bahwa semua itu tak akan ada gunanya.
Elvina terus berjalan menelusuri jalanan ibukota. sampai tiba di depan penyebrangan jalan, akhirnya dia berhenti. lampu yang awalnya berwarna hijau tiba-tiba berubah menjadi merah saat kedatangan Elvina.
“ha...ha....ha....
hiks......hiks...
bahkan lampu merah pun tak berpihak kepadaku”. kata Elvina sembari tertawa dan meneteskan air mata.
seperti tersambar petir di siang hari, mungkin itu adalah kata-kata yang dapat menggambarkan keadaannya saat ini.
Elvina menatap ke arah jalanan dengan pandangan kosong, sampai akhirnya dia tersadar dengan kemunculan seorang pria yang akan menyebrang jalan.
Tin....Tin...
suara tlekson mobil terdengar dari arah kejauhan..
“apa dia gila” kata Elvina dengan mata terbelalak
Tinnnnnnnn........
elvina melihat mobil menuju pria tersebut. tanpa berpikir panjang Elvina berlari ke arah pria itu, menarik tangannya dengan sekuat tenaga.
bruakkkk.....
terdengar suara mobil menghantam sesuatu. Elvina terjatuh di pinggir trotoar, pria yang ditariknya jatuh tak jauh dari tempatnya. kemudian Elvina duduk dan melihat keadaan sekitar. dia melihat mobil menabrak sebuah tiang jalanan
keadaan mobil tersebut sangat parah. lalu Elvina melihat ke arah pria yang di tolongnya tadi, tampak pria tersebut tergeletak tak bergerak bersimpah darah. tak lama banyak orang berdatangan.
“mbak. mbak ngak apa-apa” tanya seorang warga
Elvina hanya diam, syok dengan apa yang ada di hadapannya.
kemudian terdengar suara ambulan bersautan...
di lihatnya ambulan membawa pria di dalam mobil. keadaan nya tidak parah, hanya luka di kepala. kemudian dia melihat ke arah sebaliknya dia melihat pria yang di tolongnya tadi dibawa dengan keadaan yang masih tak sadar diri.
“mbak... ayo kita obati lukanya” kata seorang wanita yang tak lain adalah tim medis.
Elvina hanya diam, kemudian dia di bawa menuju sebuah rumah sakit dan dirawat di sebuah ruangan karena sebenarnya dia juga terluka di bagian tangan, tapi dia tak sadar kalau tangannya terluka.
**di rumah sakit**
drap...drap....drap
“permisi sus, pasien yang bernama Devano Adhitama dirawat di ruang berapa” kata seorang wanita dengan nafas tersengal sengal
“Pak Devano dirawat di ruang nomor 17 lantai tiga” kata suster
“terimakasih sus”
kemudian wanita itu melanjutkan langkahnya. Hinga tiba di depan kamar yang di tuju
bruak..
suara pintu yang terbuka dengan suara kencang
dia melihat sosok Devan sudah duduk bersandar dengan keadaan sadar.
“tuan Devan anda tidak apa-apa” kata wanita itu dengan wajah cemas
“hmmm” jawab Devan
“untunglah, saya terkejut mendengar berita tentang kecelakaan tuan. bagaimana ini bisa terjadi tuan, tak biasanya tuan seperti ini” tanya wanita itu
"ntah lah, aku tak tau. yang aku ingat aku hanya berjalan lalu tiba-tiba aku merasa ada yang menarik tanganku lalu.... aku tak ingat lagi”
“apa kau tau apa yang terjadi an” tanya Devan
“yang saya dengar tuan menyebrang jalan saat lampu merah, lalu dari arah berlawanan ada mobil yang mau menabrak tuan. tapi untunglah ada orang yang menarik tangan tuan sehingga tuan tak tertabrak mobil” kata ana menjelaskan apa yang sedang terjadi
“lalu.. bagaimana keadaan mereka” tanya Devan
“mobil yang mau menabrak anda mengalami ringsek di bagian depan sedangkan pengemudinya hanya mengalami luka ringan di bagian kepala” jelas ana
“bagaimana dengan orang yang menolong ku” tanya Devano sambil melihat ke arah ana
“emm... anu tuan saya tidak tau keadaan orang yang menolong tuan, dia hanya mampir ke rumah sakit kemudian pergi, jadi saya tidak sempat melihatnya” jawab ana dengan ragu
“selidiki orang itu, saya mau mengucapkan terimakasih kepadanya” kata devan sembari menatap ke arah jendela
“baik tuan” jawab ana
tak lama setelah percakapan ana dan Devan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu
“sayang....
kau tak apa-apa, apakah ada yang sakit, bagian mana yang terluka” kata seorang wanita sambil sedikit berlari menghampiri Devan kemudian memeluknya
“awww.... mah sakit” kata devan meringis kesakitan
“maaf sayang....apa perlu kita panggil dokter kesini” tanya mamah dengan perasaan cemas
“tak perlu mah, ini cuma luka kecil. besok aku sudah boleh pulang mah” jawab Devan menenangkan hati mamanya
“kau yakin tak apa sayang” kata mamah masih tak yakin dengan keadaan Devan
“iya mah” jawab Devan.
...
...
...
happy reading guys. 📓jika kalian suka jangan lupa like ya👌
salam hangat dari outhor untuk kalian ◉‿◉