Me And My Story

Me And My Story
CHAP 4. Si Tuan Muda



~Keajaiban itu tidak semu. Keajaiban itu memang benar ada~


***


Nan jauh disana di negeri seberang. Nampak bangunan mansion megah yang berdiri kokoh. Bangunan bernuansa klasik namun glamour tersebut ditanami berbagai bunga serta tanaman yang mampu memanjakan mata.


Disalah satu ruangan mansion tersebut duduklah seorang laki - laki. Matanya tajam menusuk, dengan alis dan bibir yang tebal serta rahang tegas, mampu membuat orang disekitarnya tak mampu mengalihkan pandangan darinya. Tangannya memegang selembar foto ditangannya, dalam foto tersebut terdapat foto dirinya dan juga sesosok perempuan yang tak asing lagi di matanya. Hingga suara pintu yang diketuk dari luar membuyarkan lamunan nya.


Pintu terbuka lebar, terlihatlah laki - laki kepala empat dengan setelan jas serta kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Laki - laki tersebut menenteng sebuah map, setelah menutup pintu, laki - laki tersebut segera berjalan menemui sang tuan.


"Selamat sore, tuan" suara baritonnya memecah keheningan diantara mereka.


"Angkat kepala mu Sekretaris Nam" sang tuan berbicara pelan, namun mampu membuat laki - laki yang diketahui Sekretaris Nam tersebut mengikuti perintahnya.


"Apa yang kau bawa?" tanya sang tuan.


Sekretaris Nam menyerahkan map yang sedari tadi ia tenteng, "Itu berkas berisi lokasi tempat tinggal nona" ujarnya.


"Cukup sulit menemukan lokasi nya sekarang. Karena nona benar - benar pintar menyembunyikan identitasnya. Hal itu membuat saya terpaksa mengerahkan tim intel pribadi tuan muda" lanjut Sekretaris Nam.


"Gadis ini benar - benar..." geram tuan muda. Giginya menggeretak, namun matanya terus membaca berkas yang dibawa oleh Sekretaris Nam.


"Bagaimana mungkin ia bisa sampai di pinggiran kota? Kenapa ia tidak tinggal di kota besar saja?" rentet tuan muda.


"Dari yang bisa saya simpulkan, sepertinya nona tersesat tuan"


Tuan muda mengangguk, ia kembali meletakkan map yang baru saja ia baca ke atas meja. Mata tajamnya menatap Sekretaris Nam, "Bagaimana dengan 'mereka'? Apa 'mereka' tahu?"


Sekretaris Nam sedikit mengernyit, otaknya berputar mencari makna kata 'mereka' yang tuan muda nya ucapkan. Ia tersenyum tipis ketika mengetahui makna kata tersebut. Ia menggeleng.


"Tuan muda tenang saja. Untuk saat ini mereka tidak akan tahu" ujar Sekretaris Nam.


"Cih... dasar tak berotak" umpat si tuan muda. Tentu kata - kata tersebut tidak ditujukan untuk Sekretaris Nam, ia menujukan umpatan tersebut untuk 'mereka'.


Sekretaris Nam hanya bisa menatap sang tuan muda. Ia tahu benar sulitnya menjadi sang tuan. Hidup yang penuh tekanan, hidup yang diarahkan, ia tidak bebas. Segalanya telah diatur orang tuanya. Namun ia hanya bisa menurut dan terus bersabar. Di usia yang begitu muda ia dipaksa harus melakukan hal ini dan itu yang tidak ia suka. Begitupula dengan saudarinya.


Ia dan saudarinya sama - sama menjalani hal yang sulit. Dibawah tempramen serta kegilaan orang tua mereka dibesarkan. Dari kecil hidup mereka telah diatur. Sekretaris Nam lah penguat mereka, ia bagai menjadi orang tua angkat mereka. Mereka dibesarkan dan di didik dibawah pengawasan Sekretaris Nam. Hanya ia lah yang mengerti perasaan mereka.


Hingga kegilaan orang tua mereka berada di puncak nya beberapa hari yang lalu. Saudarinya dipaksa bertunangan dengan seorang laki - laki kepala empat demi memperkuat perusahaan. Hal tersebut tentu saja sangat ditentang oleh saudarinya hingga membuat ia memutuskan untuk pergi begitu saja. Meninggalkannya tanpa pamit.


Kepergian sang saudari membuatnya kalap dan perlahan muncul secercah perasaan benci terhadap orang tuanya. Sekretaris Nam menatap iba pada tuan muda nya yang kini tengah memejamkan rapat matanya.


"Sekretaris Nam" panggilnya.


"Iya tuan"


Ia mengangguk, "Akan saya segera siapkan" ujarnya.


Sang tuan muda berdiri kemudian memegang kedua pundak Sekretaris Nam, sorot matanya memancarkan kekuatan.


"Pastikan saat aku pergi kau menjaga rahasia ini sebisa mu. Jangan biarkan manusia tak berotak itu mengetahui keberadaan ku" tuan muda menatap lekat manik mata dibalik kacamata hitam tersebut.


"Saya mengerti" jawaban tegas terlontar otomatis dari si Sekretaris.


Tuan muda kembali duduk di tempat nya. Ia memandangi Sekretaris Nam yang sedang memberesekan berkas di meja. Ia tahu, segala keputusan yang ia ambil pasti sangat beresiko. Bukan untuk dirinya, tetapi untuk pelindungnya.


Tuan muda memanggil Sekretaris Nam yang sudah berdiri di depan pintu, yang sudah bersiap untuk keluar ruangan.


"Sekretaris Nam maafkan aku" ujar tuan muda lirih, namun masih dapat didengar oleh sang sekretaris.


Sekretaris Nam menghentikan laju langkahnya lalu berbalik menatap tuan muda yang kini tengah menatap sendu dirinya. Bibirnya mengembang,


"Sudah tugas saya untuk melayani serta melindungi anda tuan Park Jae Lee"


***


"Masih tak mau bicara juga rupanya" Clarissa tersenyum sinis.


"Aku tidak berbohong Clarissa.... aku benar - benar tersesat"


Sudah dua puluh tiga kali Ghea mengatakan hal itu. Namun tak membuat Clarissa berhenti menginterogasi nya. Clarissa yakin, perempuan kurus didepannya ini pasti penjahat cilik.


Ghea berdecak.


"Baiklah akan aku jelaskan..." Ghea memandang Clarissa dengan tatapan tajam.


"Katakan!" Senyum Clarissa mengembang sempurna. Setelah didesak akhirnya perempuan ini akan mengakui jati dirinya.


Aku rasa tidak ada salahnya memberi tahu ia tentang diriku ~ Ghea.


"Aku adalah se--"


Bruakk...!


Pintu rumah terbuka lebar. Menampakkan sesosok laki - laki dengan seragam cafe. Nafasnya tampak ngos - ngosan.


"Apa - apaan ini!" Clarissa berteriak frustasi.