Me And My Story

Me And My Story
PROLOG



Hay....


Selamat datang di karya ke 3 ku😊


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa rate 5, like, komen, serta vote seikhlasnya karya ini ya😊😊


Follow akun ku👇👇


IG \= @_venanur22


FB \= Vena Nur


NT \= Vena Nur


Sebelumnya cuma pengin bilang.



Karya saya hasil imajinasi saya sendiri. Karya ini bermula dari saya yang sedang mengiris cabai untuk dibuat nasi goreng. Lalu secara tiba - tiba ide ini muncul gitu aja🤣. Jadi bisa dipastikan kalu karya ini memang murni hasil karya imajinatif sang penulis. Dan gak ada campur tangan orang lain.


Gak terima readers tukang plagiat! Yang niat plagiat...silahkan jauh-jauh ya😊


Karya kagak ada tuh yang namanya adegan dewasa atau adegan 21+. So... novel aman untuk semua umur😊


Butuh pendukung bukannya hatters☺ saya sebenarnya kapok mau nulis novel🤣🤣🤣 nanti jadinya malah kaya karya pertama dan kedua saya yang judulnya "ALVARA" sama "PERFECT IDOL" di rate buruk sama pihak yang emang syirik banget. Jadi sebagai pembangkit mood nulis saya buatlah karya ini. Harapan saya sih rate nya diatas 4 terus. Amiin...



Udah deh itu aja.


And...


Happy reading💞


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mama..." aku tersenyum tipis mendengarnya. Aku menunduk, menyejajarkan tinggi ku dengannya yang sedang duduk di kursi depan meja rias. Anakku menatap ku lewat pantulan cermin. Bola matanya yang berbinar sembari bibirnya yang tersenyum membuat ku gemas ingin mengacak - acak rambutnya, jika tidak ingat bisa merusak rambutnya yang baru saja aku rapikan.


"Kenapa sayang?" tanyaku sambil menciup pipi gembulnya. Pipi yang sama persis ketika aku masih seusianya dulu.


"Papa dimana?" Ia mengalihkan tatapannya kepada ku secara langsung.


Ku pegang pergelangan tangannya lalu mengajaknya turun ke lantai bawah. "Ada di teras. Siap ke rumah Oma?" tanya ku padanya.


"Siap dong!" serunya riang. "Tapi... Oma jangan dikasih tahu dulu ya. Biar Jenie kasih surprise"


Aku menggendongnya lalu mulai melangkahkan kaki melewati anak tangga satu per satu. "Iya. Coba bilang dulu sana sama papa" kataku sambil meremas tangannya yang masih ku genggam. Aku menurunkan Jenie perlahan ketika kami sudah sampai pada anak tangga terbawah.


"Papa! Jangan kasih tahu Oma dulu. Jenie mau kasih surprise buat Oma" Jenie berlari kecil sembari berteriak menuju Papanya ketika mengetahui suamiku itu baru akan menelepon seseorang.


Suamiku menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arahku dan Jenie bergantian sebelum akhirnya tersenyum kecil dan mengangkat tubuh Jenie kedalam gendongannya. Ia menatap dalam anak kami yang tengah dalam pelukannya.


"Iya... belum papa telepon kok" ia mencubit ujung hidung Jenie. Hal itu membuat Jenie tertawa kecil. Tanpa sadar aku tersenyum memandangi interaksi keduanya. Aku terus melangkahkan kakiku mendekat kearah dua sosok harta dalam hidupku. Ia mengulurkan satu tangannya ke arah ku, sementara tangan yang lain ia pakai untuk menggendong Jenie, anak kami.


Sambil berpegangan tangan, kami berjalan memasuki mobil yang sudah terparkir manis di halaman rumah. Aku tersenyum kecil.


Menerawang jauh ke masa lalu. Awal dimana aku bertemu dengan seseorang. Kemudian awal perjalanan cinta kami. Perpisahan kami. Sampai akhirnya dipertemukan kembali. Masa-masa yang tidak mudah untuk ku lupakan, masa-masa itu kembali berputar cepat dalam ingatanku. Masa kerinduan dan kebingungan saat aku menyukai seseorang untuk pertama kalinya...