Me And My Story

Me And My Story
CHAP 1. Mbak Cantik?



~Semuanya diawali dari pertemuan~


***


Dibawah guyuran hujan, Clarissa berlari cepat menuju cafe seberang. Nafasnya tersengal - sengal tidak menjadi hambatan untuk nya terus berlari. Jam sudah menunjukkan pukul 18.30, sudah saatnya pergantian jam kerja.


Saat ia masuk kedalam cafe. Suasana cukup sepi. Ia menghela nafas pelan. Beruntung cafe sedang sepi. Dengan cepat ia berjalan menuju loker yang berada dibagian belakang resepsionis. Ia mengganti pakaiannya dengan seragam cafe.


Ckleek...


Pintu terbuka dan bersamaan dengan itu seorang perempuan dengan kacamatanya masuk kedalam.


"Telat lagi?" ujarnya sembari melihat jam tangan.


"Biasalah..." sahut Clarissa.


Keduanya tertawa. "Tinggal sendiri emang gak enak" ucap perempuan tersebut, "Apa - apa harus sendiri. Masak sendiri. Beresan sendiri. Untung lo kuat" keluhnya.


"Yap! Semanjak bunda sama ayah pergi. Gue harus serba sendiri. Lo sendiri gimana? Yakin mau ninggalin orang tua lo?"


"Harus! Mereka memang gitu. Selalu semaunya, kalo gue gak pergi, mau sampai kapan gue dijadiin boneka terus sama mereka"


"Kalo lo mau... lo bisa aja balik kerumah asal lo. Lo bisa berhenti kerja part time dan bisa kaya dulu lagi... bisa hidup mewah" Clarissa menyimpan pakaiannya didalam loker kosong miliknya.


"Dan sebagai gantinya gue harus terima dijodohin sama orang genit itu!" seru Sharla kesal.


Clarissa tertawa pelan. "Tapi kayaknya dia emang cinta mati sama lo"


Pintu ruangan ganti kembali terbuka. Kini seorang ibu - ibu kepala tiga muncul dibalik pintu tersebut. Orang sering memanggilnya dengan sebutan 'Bu Bora' alias Bu Bos Ramah. Yap! Dia adalah pemilik cafe tempat Clarissa bekerja. Dia dikenal sebagai bos yang ramah dan pengertian. Karena itu banyak petugas cafe yang betah kerja disana. Selain itu Bu Bora ini sering sekali kasih bonus harian kepada petugas kalau cafe sedang ramai.


"Hmm... disini kalian rupanya. Diluar mulai ramai tuh mau sampai kapan kalian di sini" ucap Bu Bora sambil tersenyum tipis.


"Eh... tumben jam segini ramai" cetus Sharla. Ia mengalihkan tatapannya pada luar cafe.


"Mungkin karena hujan. Jadi pada neduh" kata Clarissa cuek.


"Yaudah deh. Gue duluan ya..." kata Sharla sambil berjalan pergi.


"Yoi..." Clarissa mengacungkan jempolnya.


Tersisalah Bu Bora dan Clarissa di dalam ruangan ganti. Bu Bora berjalan mendekati Clarissa, tangan bos tersebut terlihat menenteng sesuatu.


"Apa itu bu?" tanya Clarissa sambil menunjuk bungkusan ditangan Bu Bora dengan dagunya.


"Oh... ini. Ini make up sama perawatan buat kamu" Bu Bora menyerahkannya pada Clarissa.


Clarissa tak langsung mengambil, "Dalam rangka apa bu?" tanya Clarissa heran.


"Kemarin ada salah satu pelanggan komen lagi sama saya. Katanya wajah kamu terlalu kumal dan dekil. Jadi dia agak risih neglihat kamu" jawab Bu Bora.


Clarissa mengehela nafas kesal, "Seminggu terakhir saya juga dapat komenan kaya begitu dari beberapa pelanggan. Emang kenapa sih bu sama wajah saya. Apa wajah saya terlalu jelek kalau ingin jadi barista?" dumelnya. Clarissa melihat wajahnya lewat pantulan kaca yang berada di depannya. Terlihat wajahnya yang sedikit kusam dan berminyak.


"Hem... menurut saya. Kamu itu cantik Clarissa" ujar Bu Bora.


"Semua orang juga bilang gitu sama saya. Mereka bilang begitu karena ingin meledek saya, ibu juga begitu kan" Clarissa menyilangkan tangannya didepan dada lalu bersandar pada loker dibelakangnya. Pandangannya lurus menatap lantai.


"Bukan gitu... saya ini dulu pernah ikut les make up ketika masih muda. Jadi saya tahu potensi seseorang agar bisa menjadi cantik. Kamu salah satunya" Bu Bora tersenyum menatap Clarissa yang masih menunduk menatap lantai.


"Saya bisa buat kamu jadi cantik" lanjutnya lagi. Seketika Clarissa mengangkat pandangannya.


"Sebagai salah satu barista cafe, kamu diharuskan memiliki penampilan serta wajah yang cantik. Sehingga pelanggan nantinya betah lama - lama di cafe lihatin wajah kamu" Bu Bora terkekeh kecil.


"Sebenarnya saya juga pengin bu jadi cantik" cicit Clarissa.


Pikirannya menerawang ke kejadian yang sering dialaminya setiap hari di sekolah. Saat dimana ia selalu di bully oleh teman - teman SMA nya karena ia memiliki wajah yang tidak menarik. Wajah yang kumal dan dekil. Di sekolah ia hanya memiliki satu teman yang tulus berteman dengannya, yaitu Sharla. Hanya Sharla lah yang tulus berteman dengan Clarissa tanpa memandangnya sebelah mata.


"Yaudah... kamu cuci wajah kamu dengan facial wash yang ada di bungkusan itu. Terus lanjut kerja, nanti saat cafe sudah mulai sepi kamu ke ruangan saya ya. Saya bakal ajarin kamu make skincare" Bu Bora menaruh bungkusan skincare di lantai ruangan ganti lalu pamit keluar.


Clarissa menghela nafas. Ia melirik bungkusan skincare dilantai sebelum akhirnya mengobrak - abrik mencari facial wash yang dimaksud oleh Bu Bora. Setelah menemukannya, ia segera mencuci wajahnya. Hasilnya benar - benar kelihatan beda. Wajahnya jauh lebih bersih dan tak lagi berminyak. Ia tampak fresh setelah mencuci wajahnya dengan facial wash.


Setelah mengeringkan wajahnya dengan tisu, ia segera keluar dan mulai menjalankan tugasnya sebagai seorang barista cafe. Mulai dari mengantar pesanan, mencatat pesanan, membuat kopi sampai pada kegiatan mencuci gelas kotor ia lakukan. Sementara Sharla, ia bertugas pada bagian resepsionis.


***


Cafe sudah mulai sepi. Jam juga sudah menunjukkan pukul 9 malam, itu artinya cafe akan segera ditutup. Sharla sudah pamit pulang duluan karena jam kerja nya sudah habis. Semantara Clarissa dengan beberapa petugas lainnya masih harus bersih - bersih sebelum pulang.


"Clarissa! Kamu dipanggil Bu Bora di ruangan nya" ucap salah seorang barista.


Karena sedari tadi cafe terus ramai, membuat Clarissa tidak bisa menemui Bu Bora sesuai janjinya tadi. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat. Clarissa berjalan menuju ruangan Bu Bora. Ruangannya berada disamping resepsionis.


"Iya bu" ucap Clarissa ketika sudah didalam ruangan.


Bu Bora mempersilahkan Clarissa duduk di seberang mejanya. Lalu sekedar berbasa - basi tentang suasana cafe tadi. Clarissa tahu, bukan itulah tujuan Bu Bora memanggilnya.


"Ini sudah malam, bu. Saya pamit dulu" Clarissa melempar kan senyum kecil lalu berdiri dari duduknya.


"Kamu gak suka basa - basi ya ternyata" ujar Bu Bora sambil tersenyum.


"Jadi... gimana? Gimana rasanya setelah pake facial wash?" tanya Bu Bora sambil menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi. Clarissa dipersilahkan duduk lagi oleh Bu Bora. Ia menjawab pertanyaan bos nya itu sesuai hasil yang ia dapat ketika memakai sabun pencuci wajah dari bos nya tersebut.


Bu Bora menjelaskan kegunaan dari masing - masing skincare yang ia bawakan untuk Clarissa. Cara pemakaiannya, nama produknya, manfaatnya, dan lain - lain. Sementara Clarissa menyimak penjelasan tersebut dengan serius.


"Kamu udah paham?" tanya Bu Bora setelah selesai menjelaskan beberapa skincare.


Clarissa mengangguk kecil.


"Ya sudah... kamu bawa ya skincare ini. Buat wajah kamu secantik mungkin, biar teman - teman yang sering bully kamu jadi minder" kata Bu Bora.


"Siap bu!" sahut Clarissa sembari tersenyum lebar.


Clarissa membawa skincare dari Bu Bora. Rupanya bungkusan di ruang ganti tersebut telah diambil lagi oleh Bu Bora dan ditaruh diruangannya. Buktinya... saat Clarissa sampai di loker, bungkusan yang tadinya dilantai sudah tidak ada. Itu artinya Bu Bora telah mengambilnya.


Clarissa tidak terlalu perduli hal tersebut. Yang ia pikirkan sekarang adalah pulang kerumah dan mencoba memakai krim malam yang diberikan oleh bos nya itu tadi. Setelah mengganti pakaiannya, ia bergegas pulang. Di cafe masih ada beberapa petugas yang sedang mengelap meja. Clarissa berpamitan sebentar pada mereka lalu melangkah meninggalkan cafe.


Saat dijalan, ia bertemu dengan salah seorang tetangga samping rumahnya.


"Neng Clarissa!"


"Eh Bu Yanti... ada apa? Nyari saya???" tanya Clarissa.


"Iya neng. Kami semua lagi bingung" ucap Bu Yanti.


"Kami semua??? bingung?? Ada apa sebenarnya bu?" tanya Clarissa beruntun.


Clarissa mengajak Bu Yanti kembali berjalan sambil menjelaskan maksud dari Bu Yanti.


"Jadi tadi itu neng... ada orang caaantik bangettt. Tapi kayaknya bukan orang sini" ujar Bu Yanti.


"Maksudnya... orang luar kota?"


Bu Yanti menggeleng, "Bukan. Tapi dia itu orang orang luar negeri kayanya mah, neng. Soalnya dia itu gak ngerti bahasa kita. Terus juga mbak cantik itu ngomong - ngomong bahasa aneh"


"Orang luar negeri ya...." Clarissa menebak - nebak dari manakah mbak cantik yang dimaksud oleh tetangganya tersebut.


"Orangnya putih, kurus, agak mancung.... kayak yang di TV TV itu lah... apa namanya ya...." Bu Yanti berfikir keras.


"Apa ya... yang sering di tonton sama neng Clarissa. Apa tuh namanya neng?"


"Drakor??? Drama Korea?"


"Nah iya itu... bahasanya soalnya sama neng kaya mbak cantik itu. Makanya saya sama tetangga yang lain nyariin neng dari tadi. Siapa tahu neng ngerti bahasanya mbak cantik itu. Soalnya saya sama tetangga lain pada gak ngerti" ujar Bu Yanti sambil terkekeh kecil, "maklum orang ndeso mana tahu kaya begituan" lanjutnya lagi.


Clarissa tertawa pelan, "Mbak cantiknya dari kapan di komplek bu?" tanya nya.


Bu Yanti berfikir, "Mungkin sekitar 3 jam yang lalu. Pertama ibu lihat dia, dia kaya orang hilang gitu. Tengok sana tengok sini, yah... ibu kasian lihat dia maghrib - maghrib sendirian jadinya ibu bawa ke rumah deh" jelas Bu Yanti.


Mereka sudah tiba di komplek tempat tinggal Clarissa. Clarissa izin untuk bersih -bersih sebentar, kemudian meminta Bu Yanti agar membawa mbak cantik yang dimaksud nya untuk ke rumah Clarissa.


Setelah selesai mandi, Clarissa memakai piyama tidurnya. Rambutnya ia biarkan tergerai sepunggung. Malam ini Clarissa terlihat anggun. Ia berjalan menuju ruang tamu rumahnya, dimana disana sudah ada Bu Yanti, Pak Jono dan si mbak cantik, sementara tetangga - tetangga yang sebelumnya bergerombol kini sudah terlihat membubarkan diri. Maklum, hari sudah menunjukkan pukul 22.10. Sebagian orang pasti lebih memilih tidur dikasur.


"Ini lohh neng Clarissa si mbak cantik itu" Bu Yanti menunjuk orang disampingnya dengan lirikan mata.


Clarissa menoleh, ia mendapati seorang perempuan, perempuan berkulit putih, bermata sedikit sipit, dan bertubuh agak kurus. Cantik. Itulah kata yang terpikirkan oleh Clarissa ketika menatap cewek berponi tersebut.


"Annyeong" sapa si mbak cantik. Hal itu sontak membuat Clarissa sedikit menganga.


Orang Korea!!! ~ Clarissa.


"Neng Clarissa kenapa? Neng ngerti si mbak cantik ini ngomong apa?" tanya Bu Yanti.


Clarissa mengerjap pelan, ia masih tak menyangka bahwa orang di depannya ini benar - benar orang Korea. Clarissa mengangguk kecil menjawab pertanyaan Bu Yanti.


"Annyeong" Clarissa menjawab sapaan si mbak cantik.


Setelah beberapa menit berbincang - bincang terlihat keduanya mulai sedikit akrab. Nama mbak cantik tersebut adalah Ghea. Entahlah, ia tidak terlalu peduli nama panjang gadis asal Korea tersebut. Awalnya Ghea memanggil Clarissa dengan sebutan 'eoni' namun Clarissa menolak dan menyuruh Ghea memanggilnya dengan nama nya saja. Lagipula usia mereka hanya terpaut satu tahun, dimana gadis Korea tersebut berumur 16 tahun sementara umur Clarissa 17 tahun. Yep! Disini Clarissa lebih tua satu tahun dibandingkan Ghea.


Clarissa tak pernah menyangka. Bahwa hobby nya yang suka nonton drakor sampai - sampai fasih berbahasa Korea kini ilmu nya terpakai. Ilmu berbahasa Korea yang secara tak sengaja ia hafal ketika sering nonton drakor tiap malam, kini berguna juga! Ia membayangkan, jika ia tidak lancar bahasa Korea maka ia pasti akan kebingungan mengahadapi turis seperti Ghea ini. Untung hafal, pikir Clarissa.


Bu Yanti serta suaminya, Pak Jono memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sementara Ghea akan lebih baik untuk sementara tinggal bersama Clarissa. Lagipula jika Ghea tinggal bersama Bu Yanti, itu pasti akan merepotkan karena tak seorangpun dari keluarga Bu Yanti yang mengerti Bahasa Korea. Jadi mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan besok pagi saja, mengingat besok adalah weekend pasti akan lebih leluasa untuk mengobrol.


Malam juga semakin larut. Tidak baik juga terus mengobrol. Apalagi besok Clarissa harus mengerjakan beberapa PR dari sekolah yang sudah mulai menumpuk. Clarissa mempersilahkan Ghea tidur dikamar tamu. Mengingat hanya ada dua kamar. Maklum, Clarissa ini tinggal di daerah perumahan minimalis. Untung saja perumahan ini sudah dibeli oleh almarhum orang tua Clarissa.


"Selamat malah Ghea" Clarissa melempar senyum ramah kearah Ghea yang dibalas anggukan singkat olehnya.


Clarissa merebahkan tubuhnya pada kasur kesayangannya, dalam hitungan detik dirinya sudah larut pada alam bawah sadar. Ia melupakan tujuannya untuk memakai krim malam sesuai anjuran Bu Bora tadi.


Hm. Hari yang melelahkan. Gumam Clarissa pada alam bawah sadarnya.