
~Sikapnya itu antara ceroboh dan juga bodoh~
***
Jam sudah menunjukkan pukul 13.34. Clarissa baru saja selesai membereskan dapurnya. Sekarang ia sudah diam duduk di teras depan rumahnya. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, namun pikirannya menerawang kemana - mana.
Ia mendecak kesal ketika mendengar suara merengek dari dalam rumahnya.
"Aigoo... aku lapar"
Ghea melonggokkan kepalanya menatap Clarissa yang saat ini sedang menatap melas dirinya.
"Sampai kapan mau menunggu, sudah hampir 24 jam aku tidak makan" rengek nya.
"Hey... tunggulah sebentar lagi. Aku juga lapar asal kau tau" decak Clarissa.
Saat ini Clarissa sedang duduk di teras rumah bukan tanpa alasan. Dari tadi ia sedang menunggu tukang bakso lewat. Biasanya kan jam segini tukang bakso keliling gemar sekali lewat perumahan.
"Kenapa tidak makan di restourant atau cafe terdekat?" tanya Ghea.
Clarissa merengutkan wajahnya, "Kalau aku punya uang banyak sudah dari tadi aku membawamu kesana"
"Atau jika kau punya uang. Bawalah aku kesana sebagai kompensasi piring dan gelas milikku yang telah kau pecah kan"
Ucapan Clarissa seketika mampu membuat perempuan kurus tersebut membungkam.
***
"Hey ini makanan apa? Di Korea aku tak pernah melihatnya"
Sudah sekitar satu jam Clarissa menunggu tukang bakso lewat. Namun tak kunjung lewat. Akhirnya Clarissa memutuskan untuk membuat makanan seadanya dari dalam kulkas untuk mengisi kekosongan perut. Alhasil jadilah makanan satu ini. Kolaborasi dari bahan favorit dunia. Pepaya susu.
Yap! Pepaya yang diberikan susu kental manis. Sepertinya sudah cukup mengisi perut yang kosong.
"Makan lah. Kau akan menyukainya"
Dengan suka cita Clarissa memakan makanan yang ia buat. Sementara itu.... Ghea hanya melihat dengan ragu ke arah piring berisi Pepaya tersebut. Tangannya dengan pelan menusuk - nusuk daging pepaya dengan garpu yang ia pegang. Ia memasukkan potongan kecil pepaya kedalam mulutnya.
Matanya membulat. Ia merasakan gelenyar pepaya dengan susu kental manis. Rasanya..... yah lumayan. Tidak - tidak!
"Ini enak" matanya bulat berbinar. Clarissa tersenyum melihat Ghea yang menurutnya yah... agak norak. Di lingkungannya makanan seperti ini sudah biasa. Ia saja sampai bosan makan makanan ini terus menerus.
Ghea memakan makanannya dengan lahap sementara Clarissa hanya menggeleng - gelengkan kepalanya. Ia berdiri dari duduknya lalu menuju wastafel untuk mencuci piring kotor.
"Kamu mau apa?" Ghea melihat Clarissa yang tengah mencuci piring di wastafel.
"Mencuci piring"
"Cuci piring? Kau bercanda kan. Yang aku lihat sekarang adalah kau yang sedang bermain... balon"
Clarissa tergelak. Balon katanya? Lihatlah bahkan gadis kurus ini tidak bisa membedakan antara balon dan juga busa sabun. Sampai kapan ia akan menampung wanita ini?
Clarissa sudah selesai mencuci piring nya, kini ia tengah mengelap tangannya dengan tisu kering lalu membuangnya ke kotak sampah disamping bawah wastafel.
"Kamu cepat selesaikan makan mu" Clarissa berhenti berjalan didepan meja tempat Ghea sedang makan.
"Baik" Ghea mengangguk polos.
"Lalu segera temui aku di ruang tengah. Aku tunggu" Clarissa berlalu menuju ruang tengah.Tetapi sebelum itu ia mengambil alat tulis serta beberapa buku PR nya. Yah... tugas sekolah jauh lebih penting sekarang.
Sementara Ghea...
Ia selesai menghabiskan makannya lalu dengan cepat mengikuti kegiatan seperti yang dilakukan Clarissa barusan, yaitu mencuci piring. Ia menuangkan sabun ke spon lalu meremasnya pelan dan mengaplikasikannya ke piring kotor. Terlihat lah busa di piring tersebut.
"Woow..." bibirnya membulat kecil.
"Ini seperti magic... aku baru tahu ada hal seperti ini disini, bahkan di Korea aku tak pernah melihat yang seperti ini" bibirnya tersenyum kecil, jari telunjuknya memainkan busa di piring membentuk namanya.
"Daebak!"
Ghea membulatkan matanya. Tangannya memegang dadanya karena kaget, nafasnya naik turun tak beraturan. Kepalanya melonggok ke belakang menatap karpet berbulu yang ia kira bulu kucing. Ia menghela nafas panjang.
"Untung bukan kucing" cetusnya. Yep! Ia phobia kucing. Aneh kan? Rata - rata kaum hawa itu menyukai kucing, tapi perempuan satu ini..? Aiyo... lupakan saja. Lagipula tak semua perempuan menyukai kucing.
Back to topic...
Tiba - tiba jantungnya berdetak cepat. Matanya melirik - lirik ke arah kotak sampah yang ada di samping wastafel, kakinya secara otomatis mendekati kotak sampah tersebut secara perlahan.
"Aigoo... apa yang sudah ku lakukan..." badannya bersender ke dinding wastafel. Lalu menatap takut ke arah pintu dapur yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah. Matanya kembali menatap piring yang kini sudah terbelah dua didalam kotak sampah.
Ia kembali menerawang ke kejadian beberapa saat lalu ketika ia memecahkan piring dan gelas milik tuan rumahnya itu. Membayangkan betapa marahnya Clarissa saat tahu piring dan gelas miliknya sudah tak utuh kembali.
"Bagaimana jika ia marah padaku lagi?"
***
Ghea memutuskan untuk tidak memberi tahu Clarissa tentang piring miliknya yang kembali ia pecahkan. Kini ia sedang duduk berdua bersama Clarissa di ruang tengah. Melihat dari raut wajah Clarissa, sepertinya ia akan membicarakan sesuatu yang serius. Apa ia akan mengusirku? pikir Ghea.
"Hey begini... kau tahu kan, kau ini orang baru disini" kalimat pertama yang mampu membuat seorang Ghea mati kutu.
Omo! Apa dia benar - benar akan mengusirku? ~ Ghea.
"I... iya"
Clarissa memutar otak untuk mencari kalimat yang tepat. Dari tadi ia hanya sibuk menonton tv, yah... matanya menatap ke lurus kedepan tapi tidak dengan pikirannya yang mutar kemana - mana.
"Bukan kah tidak baik kalau kau menyembunyikan identitas mu dari tuan rumah?" ujar Clarissa hati - hati.
Oh rupanya hanya meminta identitas, pikir Ghea.
"Kau... berniat... berkenalan dengan ku?" tanya Ghea.
"Yah kurang lebih seperti itu" Clarissa menatap lurus kearah perempuan kurus yang kini tengah duduk di depannya, "Jadi... siapa nama lengkap mu? Alamat mu? Dan tujuan mu datang kemari?"
Akhirnya pertanyaan yang memenuhi otaknya dari tadi terluncur bebas begitu saja. Sedari malam tadi ia sudah jenuh memikirkan tujuan perempuan tersebut bisa berada di daerahnya tanpa tujuan. Hanya ada dua alasan yang terlintas dibenaknya malam itu. Bisa saja karena ia benar - benar tersesat atau... mungkin saja ia berpura - pura tersesat dan berniat merampok dengan alasan sebagai orang hilang?
Alasan ke dua benar - benar membuat nya tidak bisa tertidur dengan tenang. Entah benar atau tidak, Clarissa merasa bahwa baru saja Ghea terlihat sedikit gugup sebelum akhirnya berdeham menjawab pertanyaannya.
"Nama ku.... Ki- emm... Ki--"
"Ki? Kisana?" tebak Clarissa asal.
Ghea membelalakkan lebar matanya dengan mulut meruncing, "Enak saja!" tepis nya.
"Na... nama ku... G-Ghea Sha! Nama ku Ghea Sha" jawab nya tergagap.
Mencurigakan. Satu kata yang lewat di depan otak Clarissa. Namun segera ia buang jauh - jauh. Bibirnya berdeham pelan.
"Emmmm... lalu, alamat mu?" ulang Clarissa.
"Omo! Tentu saja aku dari Seoul" jawab Ghea bangga. Clarissa memutar bola mata nya. Kemudian kembali menatap tajam si pemilik bola mata cokelat.
Ditatap seperti itu membuat Ghea ciut dan sedikit terintimidasi. Kepalanya yang semula terangkat tinggi kini terbalik menjadi menunduk takut. Aura yang dikeluarkan Clarissa membuatnya merasa menjadi narapidana yang tengah di interogasi.
"Pertanyaan ketiga? Apa tujuan mu?" ia tak menghilangkan tatapan tajam nan menusuk yang ia tujukan untuk Ghea. Tangannya menyilang didepan dada dan punggungnya bersandar pada sofa di belakangnya.
Ghea menghela nafas, "Aku tersesat" dua kata yang mampu membuat Clarissa tersenyum sinis.
"Apa kau berfikir aku sebodoh itu untuk tidak mengetahui apa tujuan mu?"
"Ap- apa yang k-kau bilang?"
"Cepat katakan yang sebenarnya atau kau mau aku menyeretmu ke pihak yang berwajib!!!"
Matilah aku tuhan....!