
~Sabar adalah kunci kesehatan~
***
"Clarissa... Clarissa... bangun"
Clarissa menggeliat dalam tidurnya, matanya mengerjap pelan ketika menyadari ada seseorang yang telah membangunkan mimpi indahnya.
"Ghea?" suara serak khas bangun tidur dilontarkan Clarissa.
Perempuan kumal tersebut bangun dan duduk di pinggiran kasur. Matanya menyipit menatap gadis cantik didepannya. Ia tersenyum saat melihat senyuman ramah gadis tersebut.
(Anggap saja ini percakapan bahasa korea ya...😂😂)
"Aku lapar Clarissa..."
Seketika Clarissa membelalakkan matanya. Ia lupa! Sekarang ia sedang menampung orang lain dalam rumahnya. Tidak sarapan adalah hal biasa bagi seorang Clarissa, tapi orang di depannya ini adalah seorang tamu. Mana mungkin seorang tamu tak diberi sarapan. Tuan rumah macam apa ia!
Clarissa cepat - cepat bangun dari tidurnya, ia membereskan tempat tidurnya dengan sangat gesit. Itu adalah salah satu rutinitas awal ketika bangun tidur. Sementara di depan pintu Ghea hanya menatap kegiatan Clarissa dengan mulut sedikit terbuka.
Bagaimana dia melakukannya? Aku saja bahkan tidak bisa melipat selimut. Tapi dia bisa melakukannya dengan sangat cepat! ~ Ghea.
Clarissa mengajak Ghea untuk keluar kamarnya.
"Kamu sudah mandi?"
Ghea menggeleng.
"Kamu mandi dulu saja... kamar mandinya ada disana" Clarissa menunjuk pintu dipojok dapur.
"Kamu sudah membereskan kamar mu?"
Ghea menggeleng lagi.
"Oke. Kalau begitu... kamu segera mandi dan aku akan membereskan tempat tidur mu dulu"
Ghea hanya mengangguk. Ia berjalan menuju kamar mandi di pojok dapur. Sementara itu Clarissa membereskan tempat tidur Ghea sembari menelepon Bu Yanti dengan telepon rumah.
"Bu Yanti lagi dimana?"
"..."
"Clarissa belom sempat memasak, Bu Yanti... mau keluar juga gak enak sama Ghea. Masa Clarissa ninggalin dia sendiri dirumah" Clarissa melipat selimut Ghea dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang telepon. Cukup repot sepertinya.
"..."
"Nah masalahnya itu bu... Clarissa mau masak tapi bahan dirumah abis semua"
Terdengar suara dari dalam telepon tersebut.
"Iya bu. Clarissa nitip nasi uduk 3 bungkus ya. Sekalian telor 1 kilo, gula setengah kilo, teh celup satu kotak, cabe satu kilo terus...." Clarissa menyebutkan pesanan - pesanan nya pada Bu Yanti di ujung telepon.
"... nanti uangnya Clarissa ganti ya bu"
Setelah mengucapkan salam Clarissa mematikan sambungan telepon. Bertepatan dengan ia yang sudah selesai membereskan tempat tidur terdengar suara bising dari luar kamar.
Bruakkk
Clarissa terjengit kaget. Dengan cepat ia menuju sumber suara yang ternyata berasal dari kamar mandi. Matanya membulat ketika melihat pemandangan di dalam nya. Gayung yang berada dipojokkan, sabun cair yang tercecer dimana - mana, pasta gigi yang sudah tumpah, dan yang paling parah... air dalam bak sudah terkuras habis!
Clarissa menatap lubang kecil di bagian bawah bak air, disana tutupnya sudah terlepas dari tempatnya. Sehingga membuat air dalam bak mengalir ke pembuangan karena penutupnya sudah lepas.
Clarissa menghela nafas kasar.
"M- maaf Clarissa" cicit Ghea ketika mengetahui sang tuan rumah tengah emosi, namun ia tahan.
"A-aku biasa mandi dalam bathup"
"Aku pikir ini bathup namun bentuknya yang berbeda. Aku lihat airnya kotor, jadi aku buang dan bermaksud mau mengganti airnya" Ghea menunduk menghindari tatapan tajam dari Clarissa.
Clarissa membuang nafasnya kemudian menatap Ghea, "Ya sudah mau gimana lagi..."
"Kamu istirahat saja dulu di kamar mu, aku akan membereskan ini semua"
"Ah... aku akan membantu mu" sela Ghea.
Sontak Clarissa menatap Ghea dengan pandangan ragu. Sementara Ghea... ia hanya meneguk ludahnya. Apa benar Ghea bisa membantunya? Mau mandi saja harus membuat keributan terlebih dahulu.
"A-aku bisa melakukan apapun yang kau minta" ujar Ghea.
"Tidak perlu..." Clarissa tersenyum kecil.
Clarissa menggeleng - gelengkan kepalanya mengusir pikiran buruk dari otaknya.
"Kamu istirahat saja. Biar aku yang bersihkan" ujar Clarissa ketika mendapati Ghea masih terus berdiri di belakangnya.
Ghea bersikukuh ingin membantu. Akhirnya setelah melewati obrolan panjang Ghea bersedia untuk membiarkan Clarissa membereskan kamar mandi sendirian. Tentu itu tidak mudah mengingat Ghea adalah tipe perempuan yang keras kepala. Entah kenapa kata - kata itu lewat didepan pikirannya saat ia sudah berputus asa untuk menyuruh gadis itu keluar.
"Aku adalah tuan rumah. Setiap tamu yang datang kesini maka ia harus mengikuti setiap aturan yang ku buat. Termasuk kau!"
Akhirnya dengan berat hati Ghea meninggalkan Clarissa sendirian.
***
Sudah cukup lama saat ia selesai membereskan kamar mandi dan sudah rapih dengan setelan feminin nya. Ia memutuskan untuk menunggu Bu Yanti mengantarkan pesanan nya. Namun sudah sekitar 2 jam saat terakhir kali mereka telepon-an Bu Yanti tak kunjung datang.
Sementara gadis di depannya ini, ia justru mengeluh berkali - kali ke arah Clarissa.
"Aku lapar"
Beratus - ratus kali Clarissa mendengar kata - kata itu dari mulut tamu nya ini. Sementara Clarissa hanya bisa membalas dengan senyuman dan mengatakan "Sabar sebentar lagi Bu Yanti datang"
"Aigooo..."
"Sudah lima puluh tujuh kali kamu mengatakan itu pada ku. Tapi lihat lah... Bu Yanti yang kau bilang itu tak muncul - muncul juga" ujar Ghea dengan tampang kesal.
"Oh ayolah Bu Yan--"
Kata - kata Clarissa terpotong oleh nada dering telepon rumah di sebelahnya.
"Halo.." ucap Clarissa setelah mendekatkan telepon tersebut paa telinga kanan nya.
"Neng... maafin ibu ya.." ujar suara di seberang sana.
"Ah Bu Yanti... kenapa minta maaf?"
"Maaf neng... ibu gak bisa belikan pesanan neng. Soalnya ibu dapat kabar dari kampung, katanya adik ibu meninggal. Ibu langsung buru - buru pulang dari pasar dan gak sempat belikan pesanan neng Clarissa" dari suara Bu Yanti terdengar suara sesenggukan, tandanya ia habis menangis. Itu berarti Bu Yanti tidak berbohong.
"Sekarang Bu Yanti lagi perjalanan mau ke kampung" ucap ibu paruh baya tersebut.
Bu Yanti mengucapkan maaf berkali - kali pada Clarissa. Ia juga menuturkan akan di kampung selama dua minggu. Setelah berbincang - bincang sebentar Clarissa menutup telepon tersebut dan mengalihkan tatapannya pada gadis yang sedari tadi melihat interaksinya dengan Bu Yanti di telepon.
"Bu Yanti gak bisa belikan kita pesanan" ujar Clarissa.
Seketika tatapan Ghea berubah murung, bibirnya mengerucut sebal.
"Dari tadi sudah ku bilang... Bu Yanti tidak akan kesini" Ghea melipat tangannya lalu beranjak menuju dapur meninggalkan Clarissa sendiri di ruang tengah.
"Lihat lah gadis itu... tidak ada sopan santun sama sekali pada tuan rumah" gumam Clarissa.
Gubrraaak... Pranggg...
Terdengar suara ricuh dari arah dapur.
"Apa lagi sekarang yang ia perbuat?" Clarissa melangkahkan kakinya menuju asal suara dengan pandangan kesal.
"Apa - apaan ini!" Clarissa refleks berteriak ketika melihat alat - alat dapur berupa panci, wajan, serta penggorengannya berserakan di lantai. Matanya berubah membulat ketika melihat beberapa piring dan gelas yang sudah pecah di atas wastafel.
"Apa yang kau lakukan?!"
Ghea melihat kearah Clarissa yang sedang menatapnya kesal. "Aku tidak sengaja menjatuhkan alat - alat itu ketika akan--"
"Lebih baik kau sekarang istirahat dikamar mu" ucap Clarissa penuh penekanan.
Ghea hanya bisa mengangguk. Mungkin tadi Clarissa bisa menahan amarahnya. Tapi tidak kali ini. Dengan cepat Ghea berjalan meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamar nya.
"A-apa yang telah kulakukan?" cicit nya dibalik pintu kamar.
Gadis kurus tersebut mengintip kearah dapur lewat sela - sela pintu, rupanya Clarissa tengah memandang pintu kamarnya. Tidak bukan! Sepertinya Clarissa tengah menatap ke arahnya! Dengan cepat Ghea menutup pintu kamar dan bersandar pada pintu yang sudah tertutup.
"Aigoo... sepertinya aku telah membuatnya marah"
***
Di dapur...
Clarissa menghela nafas ketika melihat Ghea yang sedang mengintipnya lewat sela - sela pintu kamar. Gadis itu kemudian menutup pintu kamar nya dengan cepat.
Clarissa menghela nafas pelan, kemudian menatap ke penjuru dapurnya. Berantakan. Sepertinya ia harus melewatkan makan siang untuk membereskan semua ini.
Menyebalkan.