Married With Bastard Mafia

Married With Bastard Mafia
Ep. 3



Pagi telah menyambut hari, matahari menggantikan bulan, dan gelap telah terganti oleh sinar. Di pagi hari yang indah ini semua orang menjalani hari dengan di temani oleh suara burung yang berkicau. Ada yang dalam suasana sedih maupun senang. Tetapi bagaimanapun itu semua orang tetap menjalani hari seperti biasa.


Berbeda dengan kedua orang yang masih terlelap dengan di temani bantal dan guling yang membuat tidur mereka sangat nyaman, walaupun tanpa balutan selimut maupun sehelai pakaianpun.


Kedua orang itu adalah Anna dan Darren. Setelah pergulatan panas semalam, keduanya masih asik dengan tidur dan mimpi masing-masing.


Beberapa menit kemudian, Darren mengerjapkan matanya. Sinar matahari lama kelamaan mengganggu tidurnya. Ia mulai menggeliat.


"Ukh, " Darren merasakan pusing di kepalanya.


Perlahan ia mulai bangun dari tidurnya. Ia belum menyadari bahwa di sampingnya ada seorang wanita.


Setelah sepenuhnya sadar Darren mengambil minum yang berada di nakas sampingnya.


Karena pergerakan dari Darren, perlahan Annapun mulai terbangun dari tidur. Tubuhnya menggeliat perlahan. Ia juga belum menyadari keberadaan Darren.


Karena terjadi pergerakan di sampingnya, mata Darren perlahan mengarah ke arah dimana Anna barada.


"Heiii, kenapa kau berada di kamarku!!"


Darren berteriak, bangun dari atas kasur sambil melihat kondisi tubuh Anna yang telanjang, ia tidak mengingat jika semalam ia telah meniduri secara paksa pembantunya tersebut.


Anna yang baru bangun dari tidurnya mengucek perlahan matanya untuk menetralkan pengelihatannya.


Setelah sepenuhnya sadar Anna langsung menutupi tubuhnya dengan selimut di bawah tubuhnya nya. Anna kembali menangis mengingat kejadian yang menimpanya semalam. Ia yang berniat mencari tambahan uang malah bernasib seperti ini. Bagaimana reaksi neneknya mengetahui ia sudah tidak perawan lagi. Apalagi yang mengambilnya adalah majikannya sendiri.


"Kenapa kau malah menangis?, kutanya sekali lagi. Kenapa kau ada disini?"


Tanya Darren penuh penekanan.


"Kenapa kau tanya padaku. Seharusnya kau tanya kepada dirimu sendiri. Kenapa kau memaksaku melakukan ini?. "


Anna menjawab tak kalah keras. Ia sudah sangat marah karena keperawanannya di ambil, tetapi lelaki di depannya ini malah bertanya kenapa ia berada di kamarnya.


"Aku tidak mengingat apapun. Apa aku menyakiti mu?."


Tanya Darren menurunkan nada bicaranya.


Walaupun ia adalah seorang yang berhati kejam, ia bukanlah lelaki yang memaksakan berhubungan **** jika lawan bermainnya tidak mau. Karena biasanya ia bermain bersama ****** yang di sewakan oleh Arsen.


Tanpa menjawab Anna langsung melilitkan sprei di tubuhnya dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.


Darren yang melihat Anna hendak pergi keluar kamarnya. Bukanya menahan tetapi ia hanya diam. Darren masih binggung dengan situasi ini. Apakah ia memperkosa wanita itu?. Pikiran tersebut menari-nari di kepala Darren.


Jika benar ia memperkosa wanita tersebut ia harus bertanggung jawab.


Darren yang baru menyadari jika ia dari tadi telanjang langsung memakai celananya. Lantas ia langsung menelepon Arsen.


"Halo, ya tuan ada apa menghubungi saya."


Tanya Arsen di seberang telpon.


"Aku ingin bertanya apa kau kemarin mengirim ****** ke apartemen ku?,"


"Tidak tuan, karena anda tidak menyuruh saya. "


"Oh ****, jadi benar."


"Apanya tuan yang benar?, apa ada masalah?."


"Tidak, hari ini kau urus segala urusan kantor. Hari ini aku tidak masuk!"


"Baik tuan."


Setelah mendengar balasan, Darren segera mematikan Handphonenya.