
Di saat sedang berkumpul suara telepon membuat intensi mereka teralih, handphone Frans lah yang berbunyi.
Setelah Frans pamit untuk mengangkat telepon dia kembali dengan wajah yang tidak bisa di artikan saat dia membisikan sesuatu kepada Leo wajah Leo pun tak kalah berbeda dengan Frans.
"Kita bergerak sekarang, Frans"dingin nya penuh wibawa.
"Baik tuan"
Melisa yang melihat kepergian mereka hanya diam, ingin rasanya dia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun dia terlalu takut untuk menanyakan itu.
Setelah cukup lama berbincang bincang ria dengan ibu dan kakak Leo beserta juga Key keponakan mengemaskannya mereka akhirnya pulang yang membuat Melisa kembali merasa kesepian terlebih dia juga sangat menyukai Key si bertubuh gembul itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 20:00 Melisa yang tak tau harus melakukan apa langsung pergi ke kamar dan hendak beristirahat.
Namun, seseorang yang mengetuk ralat lebih tepatnya menggedor ngedor pintunya membuat dia langsung membuka pintu dan alangkah terkejutnya dia melihat seorang berdiri di depan nya dengan tubuh yang berlumuran darah.
"Kau kenapa tuan?"
"Jangan banyak tanya cepat obati aku"ucap Leo sedikit membentak yang membuat Melisa sedikit terkejut.
"Ba_aik"gugup nya.
"Sebenarnya apa pekerjaan anda tuan, sehingga bisa luka luka begini?"tanya Melisa dengan takut sambil sedikit meringis melihat banyaknya luka di tubuh tuannya itu.
"Kau tak perlu tau bukan?"tanyanya dengan aura yang mencengkeram kan yang membuat Melisa tidak berani bertanya lagi.
"Anda mau ngapain tuan?"gugup Melisa saat melihat Leo yang malah membuka baju kaos putihnya yang sudah berlumuran darah yang menampakkan tubuh indahnya nan atletis"
"Tentu saja ingin kau mengobati luka ku ini bodoh, emang kamu pikir saya mau ngapain"dingin nya melihat Melisa yang malah menutup matanya.
"Ha, maaf,"kikuk Melisa namun, dia semakin tercengang melihat banyak nya luka yang ada di sekujur tubuh Leo.
"Apa, ini tidak sakit tuan?"Melisa meringis sendiri melihat semua luka itu tapi tuannya ini malah tidak merasa kesakitan saat dirinya mulai membersihkan luka luka itu.
"Tidak, aku sudah terbiasa"santai Leo yang membuat Melisa semakin bertanya tanya apa sebenarnya pekerjaan tuannya ini.
Setelah membersihkan dan mengobati semua luka luka di tubuh Leo, Melisa langsung berniat pamit undur diri.
"Kamu mau kemana?"suara berat itu membuat langkah Melisa terhenti dan langung menoleh ke sumber suara.
"Saya mau istirahat di kamar sebelah tuan"sopan nya.
"Siapa yang mengijinkan mu pergi ha?"
"Jadi, saya harus tidur di mana?"tanya Melisa layaknya orang bodoh.
"Tidur lah disini, temani aku tidur"suara berat itu semakin membuat Melisa bingung.
"Kemarilah dan temani aku tidur"sahut Leo lagi sambil menpuk nepuk kasur yang ada di sampingnya, saat melihat Melisa yang malah bengong.
"Tidur di situ?"beo nya lagi.
"Lambat, cepat kemari atau kau menerima akibatnya"dingin nya dengan nada berat nya yang membuat mau tak mau Melisa mulai melangkah mendekati kasur dimana Leo sedang berbaring.
"Ck, lambat"decak nya dan langung menarik Melisa sehingga terjatuh menindih luka luka nya.
"Aww, kau mau membunuhku? hah"sentak nya yang membuat Melisa takut dan juga terkejut sehingga langsung menutup matanya sangking terkejutnya.
"Maaf tuan saya tidak sengaja"lirih Melisa.