
Pagi pagi sekali Melisa sudah bangun dari semalaman dia sudah menyusun rencana secara matang untuk pergi dari mension mewah itu.
Melisa berjalan dengan mengendap ngendap seperti maling, padahal ini baru jam 04:00 pagi belum ada seorangpun yang bangun, kesempatan itu langsung di pergunakan oleh Melisa untuk kabur dan pergi sejauh jauhnya.
Saat setibanya di pagar Melisa langsung memutar otak bagaimana caranya dia bisa keluar dari sana, di tambah lagi di dekat gerbang ada 2 ekor anjing yang menjaga yang kapan saja siap menghalangi Melisa.
Melisa dengan langkah pelan nya berjalan sedikit demi sedikit takut suara langkah nya dapat di dengar kedua anjing besar itu, saat Melisa hendak memanjat gerbang, dia tak sengaja menginjak sebuah ranting yang menyimbulkan suara yang membuat anjing anjing itu terbangun dan langsung menggonggong keras ke arah Melisa yang membuat para bodyguard langung terbangun dan menghampiri sumber suara.
"Kau mau kemana nona pagi pagi begini?"tanya mereka yang sudah mengepung Melisa yang membuat Melisa kembali bergetar ketakutan sehingga otaknya tidak bisa mencerna jawapan kepada para bodyguard itu.
Leo yang mendengar ribut ribut karna gonggongan anjing langung turun kebawah memastikan apa yang sedang terjadi.
"Ada apa?"tanya nya saat baru datang yang membuat semua bodyguard itu langsung menunduk hormat kepadanya.
"Nona ini ingin mencoba untuk kabur tuan"
"Gadis ini, bawa dia masuk ke kamar ku,"ucap Leo dengan aura dingin nya siapa saja yang melihatnya pasti akan langsung takut melihat tatapan dinginya itu.
"Yak, aku tidak mau bajingan, lepaskan aku"Melisa masih mencoba untuk memberontak.
"Diam lah nona, sebelum tuan marah,"ucap bodyguard itu yang membuat Melisa hanya mampu menyerah, mau melawanpun tenaganya tidak akan cukup.
"Kenapa kau mencoba kabur hmm?"tanya Leo sambil mengangkat dagu Melisa agar menatapnya.
"A_ku ingin pulang"jawap nya dengan bergetar.
"Sudah kah sudah kubilang bahwa, kamu sebagai jaminan akan hutang ayah mu"
"Aku tidak suka penolakan"tegasnya dan malah langung menarik Melisa kedalam pelukannya.
"Hmm, kamu sudah mulai nakal bagaimana kalo aku menghukum mu?"
"Ja_ngan tuan saya mohon jangan"gugup Melisa saat melihat Leo yang malah mau membuka bajunya.
"Bukan kah sudah dibilang bahwa aku tak menerima penolakan hmm"desak Leo hendak mencium bibir ranum nan indah milik Melisa.
"Hisk, saya mohon jangan"lirih Melisa yang sudah menumpahkan air mata.
"Hari ini kamu selamat,"ucap Leo sambil meningalkan Melisa yang masih terisak.
"Ibu Melisa takut, Melisa pengen pulang"isaknya pilu
Leo yang belum benar benar pergi dari kamar itu hanya mengehela nafas secara kasar, dia tidak tega melihat seorang wanita menangis.
Grepp
Dengan tiba tiba Leo langsung memeluknya dan sedikit mengelus elus punggung Melisa guna sedikit menenangkan nya yang merupakan sebuah hal yang langka, dimana seorang Leonardo sang pengusaha kegelapan bersikap baik terhadap orang asing.
"Aku minta maaf, aku tak bermaksud membuatmu menangis"
"Diam lah, aku tak suka mendengar suara bising apalagi suara tangis"serunya lagi yang membuat Melisa dengan sepontan langung menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak mengeluarkan suara isakan yang berhasil membentuk lengkungan indah di sudut bibir seoarang Leonardo.