
Melisa gadis cantik berumur 19 tahun yang memiliki kepribadian yang sederhana yang harus terjebak di kehidupan Leonardo alfaro sang mafia berdarah dingin, Melisa atau kerap di panggil lisa harus menanggung semuanya karna kedua orangtuanya yang terjerat hutang.
"Cepat bayar hutang mu"ucapan keras di dalam sana membuat Melisa yang baru sehabis pulang kuliah langsung buru buru masuk ke dalam memastikan apa yang sedang terjadi.
"Ibuk, bapak"lirinya membekap mulut melihat kedua orangtuanya yang sedang bersimpuh di kaki seorang laki laki dan di keliling oleh orang orang yang berbadan tegap.
"Wah, wah wah ternyata kamu memiliki putri ya, bagaimana kalo dia menjadi pelunas utang mu gimana? sepertinya menarik"ucap lelaki berpakaiyan rapi itu yang diyakini adalah bos dari mereka semua.
"Jangan, dia tidak tau apa apa,"cegah Bambang ayah dari Melisa.
"Tidak ada yang bisa menghalangi keinginan ku minggir"desaknya sambil sedikit menendang Bambang yang memeluk erat kakinya.
"Ibu bapak mereka siapa?"tanya Melisa yang sudah mulai ketakutan melihat seseorang mulai mendekatinya.
"Pergilah nak, pergi,"Teriak Bambang.
"Enggak, kalo aku pergi ibu sama bapak gimana?"
"Bapak bilang pergi"teriak nya.
Namun, sayang belum sempat Melisa melarikan diri beberapa bertubuh besar sudah menghalanginya dan memengangi kedua tangan nya.
"Lepaskan aku bajingan"teriak nya meronta ronta. Namun tubuhnya yang kecil tidak dapat mengimbangi tenaga mereka yang berbadan besar.
"Kalian siapa?"teriak nya lagi.
"Tenang lah nona, kamu tau kedua orangtuamu ini mempunyai utang yang sangat besar kepadaku dan mereka tidak mampu membayarnya, jadi kamu akan menjadi jaminannya,"ucap Leonardo yang merupakan bos dari mereka.
"Aku ngak mau, lepaskan aku bajingan,"teriaknya masih mencoba tetap memberontak.
"Dengar nona, kamu yang jadi jaminan atau kamu menyaksikan kedua orangtuanya mati di depan matamu pilih"ucao Leo memcengram keras dagu Melisa yang membuat nya semakin bergetar karna ketakutan.
"Bawa dia,"tegasnya dengan dingin.
"Kiyaa, aku tidak mau bajingan, ibu bapak tolong,"ronta nya.
"Aku mau pulang, lepaskan aku hiks, lepaskan"isak Melisa di dalam mobil yang membuat Leo marah, karna tak suka keributan.
"Bisa kah kau diam"ucapnya dengan nada suara yang tinggi membuat Melisa hanya mampu membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara isakan karna takut melihat tatapan tajam Leo kepadanya.
Sesampainya di sebuah rumah mewah ralat kebih tepatnya disebut sebuah mension. Melisa kembali di tarik paksa oleh bodyguard untuk masuk ke dalam.
"Dia akan tingal disini, perlakukan dia dengan baik"dingin nya sambil menunjuk Melisa dan berlalu dari sana.
"Mari nona, saya antar ke kamar anda,"Ucap kepala pelayan itu dengan sopan kepada Melisa.
Melisa dengan tatapan kosongnya terpaksa mengikuti kepala pelayan itu.
"Kamar anda disini nona, dan kamar di depan anda itu adalah kamar tuan, selamat menikmati kamar baru anda,"ucapnya sambil menunduk hormat, namun Melisa hanya diam saja, dia lalu masuk ke dalam dengan tatapan kosongnya, bayangan bayangan kedua orangtuanya terbayang bayang di benak nya, belum lagi masa depan nya, kepalanya rasanya berdenyut memikirkan semuanya akhirnya dia memilih untuk istirahat sejenak menetralkam pikirannya yang sedang kalang kabut.
Namun, sampai sekarang Melisa masih belum bisa memejamkan matanya, hati kecil nya masih bertanya tanya atas semua kejadian pahit yang menimpanya.
Pikiran pikiran buruk mulai menghantui pikiran nya, Melisa mencoba menepis semua pikiran buruk itu namun sayang, bukan nya menghilang namun malah semakin banyak pikiran pikiran buruk yang datang di pikiran nya yang semkin membuat kepalanya berdenyut.
Melisa masih bergelut dengan pikira nya hingga tampa sadar seseorang dari tadi telah memperhatikan nya sambil bersandar di daun pintu menambah kesan cool nya.
"Kenapa belum tidur," suara berat itu membut Melisa sedikit terhetak dan menoleh ke sumber suara, saat melihat lelaki yang bersandar di daun pintu itu dia langsung jenggah dan memalingkan muka tidak ingin melihat muka lelaki itu yang menurutnya penghancur masa depan nya.
"Apa kau tuli?"lelaki itu kembali mengeluarkan suara saat tidak mendapat sahutan dari Melisa
"Apa kau buta?"alih alih menjawap Melisa malah kembali melontarkan sebuah pertanyaan yang mebuat Leo sedikit naik pitam, selama ini tidak ada yang berani kepadanya tapi, gadis ini dengan berani melawan nya.
"Berani beraninya kau, apa kau bosan hidup hah?"sentak Leo namun, tidak membuat melisa goyah.
"Kenapa aku harus takut, kita sama sama makan nasi bukan?"Melisa semakin berani menantantang.
"BRAK"
pintu tertutup dengan keras Melisa menatap kosong ke arah pintu itu dan buliran buliran air mata mulai menetes dari manik indah mata nya.
Cenggeng? tentu saja dia cenggeng, dia hanya pura pura tegas saja di hadapan Leo siapapun yang berada di posisi Melisa pasti juga akan melakukan hal yang sama.
Di pikiran nya terlintas banyak sekali beban yang membutnya semakin frustasi.
Melisa beerapa kali mencoba memejam kan matanya namun matanya seolah olah enggan untuk beristirahat.
Melamun hanya itu yang dilakukan oleh Melisa biarlah dia tidak peduli terhadap jam yang sudah semakin larut dia masih memikirkan bagimana dia bisa melarikan diri dari sosok Leo yang begitu dia benci.
sekuat tenaga Melisa mencoba memejamkan mata agar bisa istirahat dan hal itu tidak mengianati hasil akhirnya dia dapat memejamkan mata meninggalkan sejenak semua masalah dalam hidup nya.