Luna Maurielle

Luna Maurielle
5. Enam Sekawan



"Betapa kejamnya kalian berkumpul tanpa diriku"


•••


"Jangan berakting Delica! Aku bahkan hampir mengebom rumah mu tapi kau terus tidur seperti beruang!" Hujat Briana


"Salam hormat dari Beatrice kepada Putri, semoga Putri selalu bahagia" ujar Delica saat melihat Luna


"Salam kembali" ujar Luna tersenyum ramah


"Sepertinya aku ketinggalan banyak berita" ujar seorang laki laki muncul tiba tiba di tengah tengah mereka


"Kau hibernasi terlalu lama Vin!" Ujar Zion menyenggol pundak Alvin


"Hei, siapa ini? Wah cantik sekali" ujar Alvin si buaya darat


"Berikan salam kepada Putri Ephraim!" Senggol Delica


"Ha? Yang Mulya Putri Maurielle! Salam Putri" Ujar Alvin langsung membungkuk


"Ya salam kembali, tidak perlu begitu formal, aku akan mengganggu pertemanan kalian dan menyelinap masuk kedalam member, apa kalian keberatan menjadi teman ku?" Tanya Luna


"Tidak!" Ujar Alvin cepat


"Maksud ku, tentu saja tidak, jadi sekarang kita menjadi Enam Sekawan?" Ujar Alvin


"Ya!" Sahut mereka bersama


"Enam?" Tanya Luna


" Ya! Dengan Edward, sayang sekali dia adalah penerus jendral pertahanan, jadi sebagian waktunya di gunakan untuk berlatih pedang dan beladiri" ujar Brianna


"Oh" bukan! Itu bukan suara Luna!! Suara seseorang yang sedang di bicarakan, Yap! Edward muncul tiba tiba di antara mereka seraya mengigit buah Pir.


"Hey!" Kaget Delica refleks memukul lengan Edward


"Apa?" Tanya Edward tanpa dosa


"Ck!, Tumben sekali kau berkumpul di siang bolong seperti ini?" Tanya Alvin


"Tugas ku sudah selesai semua" ujar Edward


"Akan ku ingatkan sekali lagi! Besok adalah tahun ajaran baru di Academi, jika tugas dari Profesor belum kalian kerjakan, maka jangan bawa bawa aku mengikuti hukuman!" Ancam Edward


"Nanti malam akan ku selesaikan" ujar Zion santai


"Aku hanya kurang satu lagi... Edward... IZINKAN AKU MENCONTEK!!!" Rengek Delica


"Tidak"


"Cih!" Kesal Delica, menyudahi akting gemas nya


Diantara mereka berenam hanya Luna yang sangat mencolok, karna gaun indah dan mahkota nya, Brianna dengan kaos crop dan celana panjang hitam, Delica kaos biasa dan Rok diatas lutut, Edward dengan gaya kasual nya jaket denim, Alvin kaos oblong dan celana pendek, Zion dengan jubah lengan pendek.


Pakaian di dunia ini tidak ada bedanya dengan di dunia Luna sebelumnya, ya mungkin akan berbeda jika ada acara formal kerajaan, atau sekolah, tapi jika untuk bermain pakaian nya santai, pengecualian untuk keturunan bangsawan yang memiliki gaya dan gengsi besar


Luna menyadari penampilannya, lalu berputar pelan, seketika pakaiannya berganti dengan baju Sabrina pendek dan celana panjang, rambut sepinggang yang di urai dan di ikat setengah tanpa mahkota.


"Wow!" Kagum Delica, masalahnya dia belum menguasai sihir transisi seperti Luna


"Keturunan Kaisar memang berbeda" ujar Anna


•••


Mereka duduk santai di bawah rumah pohon, Delica dan Zion tidak santai, karna terus menggerutu tentang tugas yang sedang mereka kerjakan sekarang


"Ayolah!! Bantu aku sedikiiitt saja!" Rengek Delica untuk sekian kalinya kepada Anna ataupun Edward


"Apa yang sulit?" Tanya Luna menengok kearah sebuah wadah di hadapan Delica


"Aku harus menciptakan es abadi, aku tidak memiliki elemen es! Es ku mencair bahkan dalam waktu satu menit!" Lirih Delica di buat se sengsara mungkin


"Coba lakukan lagi" ujar Luna


Delica menggerakkan tongkat dan tangannya di atas wadah, cipratan air keluar dan berasap lalu di wadah itu terbentuk sebuah es balok kecil


"Ini" ujar Delica menyerahkan es nya


"HAHAHAHHAH!" Ejek Anna, karna tugas mereka adalah membuat es dengan bentuk, seperti bintang, ikan, atau semacamnya, bukan balok kotak seperti yang di buat Delica


"Diamlah Dugong!" Kesal Delica


Luna menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman barunya itu


"Gerakan mu sepertinya salah..eumm mungkin seperti ini" tidak ada tiga detik, munculah sebuah pohon Bunga mawar yang mekar indah, terbuat dari es,


"WOAHH!!" Puji Delica


"Yes! Tugas ku selesai!" Girangnya


"Hey! Itu bukan karya mu!" Protes Anna


Berakhirlah mereka dengan saling mengejar memperebutkan pohon bunga mawar kecil yang berbunga lebat.


...•••...


Hari ini adalah hari pertama Luna sebagai siswi Brighton Academi, mengenakan seragam khas Brighton Academi,


"Wow, tidak buruk" ujar Luna berputar putar di depan cermin


Tok tok tok


"Permisi Putri, makanan telah siap, apa anda butuh bantuan untuk bersiap?" Tanya seorang pelayan di luar


Luna berjalan membuka kan pintu, "Tidak, terimakasih bibi" ujar Luna


"Putri terlihat sangat cantik!" Puji Pelayan itu,


"Terimakasih" ujar Luna salah tingkah


"Biar saya bantu menata rambut anda"


•••


Perjalanan menuju Academi berjalan dengan semestinya, jujur Luna belum terbiasa dengan pengawal yang selalu ada di manapun ia berada, bahkan di belakang kereta kuda nya sekarang terdapat sekitar tujuh pengawal,


"LUNA!"


"HAI ANNA!" Sahut Luna membuka tirai jendela kereta kuda nya


"Ingin bersamaku?" Tawar Anna dari atas kudanya, Yap! Anna menunggangi kudanya sendiri menuju Academi


Luna mengangguk antusias "Ini akan menyenangkan" ujar Anna bertepuk tangan


"Ulurkan tangan mu cepat!" Ujar Anna di depan pintu kereta


Luna mengulurkan tangannya lalu Anna menariknya agar duduk di depan nya, "HEI!" Pekik seluruh pengawal saat sadar Tuan Putri mereka di bawa kabur Anna


"Ayolah paman! Kejar kami! Olahraga pagiii!" Pekik Anna, lalu mereka berdua tertawa


"Huh! Hahaha" tawa Luna dan Anna


"Menyenangkan? Terkadang jadi anak nakal memang seru" ujar Anna


"Hahaha, sangat menyenangkan! Terimakasih pengalaman nya" Ujar Luna, mereka berjalan beriringan untuk mengikat Kuda Anna bersama kuda kuda lain di tempatnya..


"Kenapa berhenti di sini?" Tanya Luna, pasalnya Brighton Academi sama sekali belum terlihat


"Kita akan kesana bersama sama, ini di lakukan setiap tahun ajaran baru di mulai, kami akan berkumpul di pos, lalu pergi kesana dengan berjalan kaki sambil berbincang, ini berguna untuk kami yang baru memiliki adik kelas baru untuk saling mengenal" ujar Anna


"Ooo"


"Hai Anna! Hai Luna!" Sapa Delica


"Hai Del"


"Kenapa warna seragam ku dan kalian berdua berbeda?" Tanya Luna, seragam Anna bercorak hijau, dari dasi, kaus kaki, dan jubah, roknya pun hijau, lalu Delica ungu tua,


"Aku dan Anna sudah di bagikan asrama nya, nanti setelah kau di uji dan di tentukan kelasmu, seragam mu juga akan berubah warna" jelas Delica


"Pagi Luna!" Sapa Alvin yang baru sampai pos bersama Edward dan Zion


"Pagi" jawab Luna


"Semoga kau di takdir kan menjadi penghuni Ardath " ujar Zion


Baru Luna sadari seragam mereka sama, Zion, Alvin, Edward, dan Anna, hijau


Tapi Edward memiliki Bros dengan empat warna kristal, Ungu, biru, Hijau, dan putih, mungkin dia ketua kelas...


"ANAK ANAK! MULAI BERBARIS! KITA AKAN MULAI PERJALANAN! INGAT JANGAN KELUAR BARISAN!" Sebuah suara menggema dengan jelas


"BAIK SIR!" Jawab seluruh murid


"Hai! Ku dengar ada seorang Putri kerajaan di antara kalian?" Tanya seorang pria dengan corak putih seperti Luna, nadanya lebih terdengar mengejek daripada bertanya


"Apa urusannya dengan mu?" Tanya Anna sewot,


"Aku hanya meragukan rumor itu, kelompok seperti kalian, Um! Keturunan Ardath! Kau tau? Ayah ku berkata bahwa sebenarnya keluarga Ardath bukanlah penguasa elemen zamrud sesungguhnya" ujar pria itu


"Baiklah jumpa lagi!" Ujar pria itu akhirnya, pergi bersama ke empat teman lainnya


"Apakah dia belum minum air?" Tanya Luna polos


"Hhh, sudah biasa terjadi, Penguasa Zamrud tidak ada harga dirinya di sini" ujar Zion terkekeh pelan


" Siapa penguasa Zamrud? Apa maksudnya?" Tanya Luna


"Edward keturunan penguasa Zamrud, artinya leluhur alias kakek kakek buyutnya adalah pemilik Elemen Zamrud, penguasa Elemen berarti adalah sang pengendali elemen tersebut, mudahnya penguasa Elemen adalah yang kekuatan Elemen nya paling kuat" jelas Alvin


"Begini, ada tiga Elemen terbesar atau Elemen utama di dunia, Elemen Galaksi, Zamrud, dan bastr Elemen"  ujar Delica


"Apa itu?" Tanya Luna lagi


"Nanti pelan pelan kau akan mengerti, jika di jelaskan semua tidak akan selesai dalam sehari, juga kepalamu akan penuh! Dan lihat kita sudah sampai" ujar Zion menjawab Luna.


****


...-Thanks For Reading-...


^^^To be continued~^^^