
.... LUCKY FANGIRL....
Aleka tak bisa diam menunggu aluna ditangani oleh dokter, dia ingin mendobrak pintu didepannya itu dan memastikan aluna baik baik saja tapi dia masih sadar.
Tak lama kemudian dokter yang menangani aluna keluar ,langsung saja aleka menghampirinya
"Bagaimana keadaan teman saya dokter? Dia baik baik saja kan?" Tanya aleka , dokter yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kaku ,dokter itu bisa melihat kalau pemuda didepannya ini begitu khawatir dengan temannya
"Tenang, pasien tidak papa ,hanya syok. Jika pasien sudah sadar tolong tenangkan, kemungkinan dia akan meraung saat mengingat kejadian yang ia alami. Panggil saya jika sudah sadar"
Aleka mengucapkan syukur berkali kali mendengar itu ,dia takut sekali tadi. Dia tidak bisa melihat aluna seperti tadi ,bisa mati mendadak jika aluna terluka parah.
Aleka masuk kedalam ruangan aluna, bisa dia lihat gadis didepannya terlelap indah. Kemudian ia genggam tangannya ,mengelus pelan punggung tangan itu.
"Kenapa kejadian kek gini bisa menimpa lo? Maaf karena gw gak bisa ngejaga lo dengan baik, padahal gw pernah janji sama lo kalau gw bakal ngejaga lo"
Mata itu perlahan terbuka, menatap langit langit rumah sakit. Terdengar suara isakan kecil membuat aleka langsung melihat kearah aluna.
"Aluna"
"Ale...hiks"
"Hey...jangan nangis , jangan nangis. ada gw aluna" Bukannya berhenti aluna semakin terisak, ini bukan pertama kalinya bagi aluna yang hampir dilecehkan. Rasa traumanya semakin besar ketika pelecehan itu kembali terulang.
aleka langsung memeluk tubuh ringkih tersebut bermaksud menenangkannya.
Aluna bersyukur karena aleka tepat waktu menemukan dirinya yang dilecehkan. entah jika tidak aleka ,mungkin dia akan berakhir di ranjang bersama pria tua itu.
sekitar 10 menit tangis aluna mereda , aleka juga tak henti hentinya mengelus punggung cantik di pelukannya itu.
"ale...aku takut" lirih aluna.
suara itu membuat relung hati aleka terluka. sahabat nya terluka kembali karena ulah seseorang, dan aleka yakin ini ulah dari keluarga nya.
Aleka masih memeluk erat aluna , semakin berjalannya waktu tangis itu terhenti dan berganti dengan dengkuran halus. Aleka tersenyum, lebih baik memang jika aluna tertidur.
"aluna, lo doang yang bisa bikin gw kalang kabut kek tadi. Gw pastiin lo bahagia kedepannya. Gw yang bakal mewujudkan impian lo. gw janji"
Dengan perlahan aleka membaringkan tubuh aluna. dia pastikan keinginan aluna akan terkabul karena dirinya.
......................
"Marchell!!" Panggil seseorang diambang pintu dengan antusias.
Marchell yang melihat itu hanya mampu menampilkan ekspresi datar andalannya.
Wanita itu langsung berlari dan memeluk tubuh marchell.
"nak, akhirnya kau mau datang kesini, ibu kangen" ucap wanita yang merupakan ibu dari marchell, menyamankan diri di tubuh sang anak.
Namun tak lama dari itu marchell langsung melepas paksa pelukan itu dan menatap tajam wanita dihadapannya.
"Bisakah kau jangan dekat dekat denganku?" tegas marchell yang membuat sang ibu menatap sendu putranya itu.
"nak, jangan seperti ini."
"lalu aku harus seperti apa??, jika bukan karena nenek aku tidak sudi menginjakkan kakiku disini lagi!!"
setelah mengucapkan itu, marchell pergi masuk kedalam rumah orang tuanya itu meninggalkan ibunya yang sedih akan sikap marchell.
Marchell tak peduli dengan keadaan ibunya yang sakit hati karena perilakunya itu. Dia lebih sakit hati ketika mengingat kelakuan orang tuanya dulu.
"Nenek" panggil marchell.
yang dipanggil hanya bisa menoleh lemah karena faktor usia yang sudah menua. Marchell tersenyum ketika melihat senyuman juga terbit di bibir sang nenek.
"apa kabar marchell?" tanya nenek.
"baik nenek, apa nenek akhir akhir ini sehat? seperti iyasih ,dilihat begini saja sudah kelihatan"
"dasar bermulut manis" sambil terkekeh nenek mengucapkannya membuat hati marchell kembali menghangat.
"ada apa nenek menyuruhku kesini?" tanya marchell.
"nenek mau kamu melepas karirmu dan hidup bersama ayah dan ibumu, kau mau kan??"
tak bisa marchell menutupi rasa kagetnya. Ia tak menyangka neneknya akan mengatakan hal seperti itu.
hatinya kembali sakit, dengan segera meninggalkan rumah itu.
...TO BE CONTINUED...