Lucky Fangirl

Lucky Fangirl
Lucky 02




...*LUCKY FANGIRL*...


Kelas yang dihadiri oleh aleka dan aluna telah usai ,keduanya sekarang sudah berada di depan fakultas. Jemputan aleka sudah tiba sejak 15 menit yang lalu. Dan sama halnya ketika aleka menawarkan aluna untuk pulang bersama.


"Lo beneran gak mau ikut gw??" Paksa aleka sekali lagi. Sebenarnya dia sudah lelah memaksa aluna karena jawaban yang ia lontarkan selalu sama.


" Gak ale, kamu pulang duluan aja ,aku ada urusanan disekitar sini"


" Ya kan sekalian gue anter aluna"


Aluna kembali menggelengkan kepalanya ,dia akan mencari pekerjaan paruh waktu karena dia butuh uang sekarang dan dia tidak mau sampai ale tau tentang keadaannya ini. Kalau sampai ale tau bisa gagal semuanya, karena ale tidak akan pernah mengijinkan aluna untuk bekerja.


"aku bisa sendiri ale, udah sana kamu pulang aja."


Aleka menghela nafasnya ,aluna keras kepala sama seperti dirinya ,bahkan jika ia memaksapun aluna tetap tidak akan menurut ,mengalah memang jalan terakhir nya.


Aleka membuka dompet nya dan mengambil selembar uang 100 ribu dan menyerahkannya kepada aluna.


Aluna yang melihat itupun bingung apa maksud aleka menyerahkan uang 100 ribu kepadanya.


"Apa??"


"Gw gak mau tau ,lo ambil ini uang buat ongkos lo pulang nanti , karena lo gak mau ikut sama gw"


"Tapi-


"Gak ada tapi tapian aluna. Gue gak menerima penolakan"


Dengan terpaksa aluna mengambil uang dari ale ,ini sifat yang aluna kurang suka dari ale ,dia seakan akan terlihat menyedihkan di depan ale karena selalu dia yang memberi uang atau pun barang lainnya, walaupun hidupnya memang menyedihkan.


Padahal aluna sudah mati matian mempertahankan ekspresinya seakan akan dia selalu bahagia agar ale tidak terlalu melihat sosok aluna yang menyedihkan.


"Terima kasih ale, aku bakal pake uangnya" ucap aluna disertai dengan senyuman walaupun canggung.


"Ya harus habis pokoknya"


"Kamu tenang aja ,bakal habis kok uangnya. Kalo gitu aku duluan ya ale, aku gak mau terlambat."


Aluna langsung berlari ke seberang jalan meninggalkan aleka yang masih menatapnya dengan pandangan sendu.


Aleka bukannya tak tau aluna akan pergi kemana, dia sangat tau. Bahkan dia juga tau bagaimana kondisi keluarga aluna. Dia sebenarnya ingin ikut campur dan menarik aluna keluar tapi apa yang harus ia lakukan, dia bukan siapa siapa aluna. Jadi dia tak mungkin berbuat semuanya.


"Gw tau keadaan lo gimana aluna, tapi kenapa lo gak pernah cerita sama gue?"


"Apa gw masih belum bisa dapet kepercayaan dari lo?"


"Apapun demi lo aluna"


...*LUCKY FANGIRL*...


Aluna sekarang berada di salah satu cafe yang ada di kotanya, raut wajah aluna sudah tampak sedih semenjak staff yang ada disana mengatakan jika tidak ada lagi lowongan pekerjaan.


"Beneran udah gak ada ya pak?"


"iya dek ,tadi udah ada yang ngambil job nya, jadi udah gak ada lagi"


Aluna harus kemana sekarang ,tempat ini adalah satu satunya harapan dia. Gaji nya juga lumayan besar ,tapi sekarang kesempatan itu sudah tidak ada. Mencaripun tidak akan menemukan lowongan lagi ,karena dia sudah mencari cari sebelum menemukan tempat ini. Dia sudah mengelilingi kota ini dan tak ada satupun tempat yang mencari pekerja.


"ayah aku harus kemana sekarang?aku gagal dapet pekerjaannya."


Aluna menangis di samping cafe itu ,dia menangisi takdirnya. Kenapa takdir yang ia punya sangat buruk. Selalu saja musibah menimpa dia, mulai dari ayahnya yang terjatuh sakit , beasiswa nya di cabut ,bahkan ibu nya pun memilih bersama laki laki lain ketika ayahnya masih berada dirumah sakit sekarang. Tak ayal juga ia selalu mendapat siksaan dari ibunya.


"ayah...tolong ayah bertahan ya, aku akan mencari kemanapun asal ayah bisa kembali sehat dan bersamaku"


"Aku harus kuat demi ayah, tapi keadaan ini selalu membuatku kembali terpuruk hiks..."


"aku gak kuat sendirian ayah...aku butuh ayah....butuh sandaran ayah..."


"ibu selalu semena mena kepada semenjak ayah sakit hiks...."


"ayah selalu bilang kalau aluna anak yang kuat ,tapi aku gak sekuat itu ayah....aku ...aku anak yang lemah"


Tangis aluna semakin pecah ketika mengingat perlakuan ibunya kepadanya, bahkan dengan lantang ibunya tak menginginkan anak seperti aluna. Hidupnya sudah susah sekarang dan ditambah ibunya menginginkan uang kepada aluna untuk menghidupkan keluarga barunya.


Aluna tak beranjak dari tempatnya ,dia bersembunyi dibalik toko tadi, meluapkan segala penderitaannya. Dia ingin menyerah saat ini tapi tak bisa, ada ayahnya yang membutuhkan dirinya. Jika dia bisa memilih dia sungguh ingin menyerah.


Aluna mendongakkan kepalanya ketika sapu tangan terjulur kearahnya. bisa dilihat seorang pemuda dengan tampilan tertutup sedang menatap dirinya sendu.


"untukmu" ucap pemuda itu sambil mengambil tangan aluna dan menyerahkan sapu tangan tersebut.


"Jangan pernah berpikiran menyerah, karena yang berpikiran seperti itu adalah orang paling lemah di dunia ini. Kau wanita kuat ,sayangi dirimu."


Aluna terdiam mendengar itu, ucapan pria itu membuatnya merasa lebih baik. Aluna ingin mengucapkan rasa terimakasih pada pemuda itu namun pemuda itu sudah beranjak pergi meninggalkan aluna.


"Terima kasih sapu tangannya dan kata kata penyemangat mu"


...To Be Continue...