
Abel melihati dirinya di cermin yang memantulkan bayangannya, terlihat matanya yang masih sembab karena habis menangis kemarin, kalau begini bagaimana ia akan berhasil mendapatkan Excel kalau dirinya malah terlihat tidak menarik.
Sedangkan pacarnya Excel sangat cantik dan juga punya tubuh yang bagus layaknya model bahkan tingginya hampir setara dengan Excel, Abel jika di sejajarkan dengan pacarnya Excel mungkin hanya sehidungnya Jennie saja.
Abel mengambil eyeshadow dan ia poleskan ke matanya untuk menutupi matanya yang sembab, walau tak menutupi secara sempurna tapi lebih baik dari pada yang tadi, “Semangat Abel semangat”.
Abel berjalan ke dapur dan kembali membuat nasi goreng, katanya Alvin nasi goreng buatannya Abel rasanya lumayan jadi ia akan membawakannya kembali dan kali ini ia ingin Excel benar-benar mencicipi masakannya dan berharap Jennie tak datang ke kantor lagi.
“Lo buat nasi goreng lagi ?”. Alvin yang datang entah dari mana menghampiri Abel yang tengah memasak, dan Abel menyodorkan satu sendok nasi goreng untuk Alvin cicipi.
“Gimana kak rasanya ?”. tanya Abel dan setelah menelannya Abel melihati Alvin penuh harap.
“Lumayan kayak kemarin rasanya cuma kalau yang kemarin rasa cinta yang ini rasa perjuangan”. Sindir Alvin dan tak Abel hiraukan karena memang benar kali ini Abel akan berjuang dengan sekuat tenaga membuat Excel cinta padanya.
Abel lalu mengambil piring dan nasi goreng yang masih ada di wajan ia pindahkan ke piring, “lha yang itu buat siapa ?”.
“Buat kak Alvin makasih kemarin malem udah jadi sansak”. Walau mencebikkan bibir tapi Alvin terima dan makan nasi goreng buatan Abel.
*****
Abel sampai lagi di kantor dan ia menghela nafas untuk memulai hari lagi walau kali ini rasanya berat. Abel melihat Excel yang ada di dalam lift sendirian dan pintu lift tersebut hampir tertutup segera ia mengejar Excel agar bisa berduaan di dalam lift.
“Abel kamu masuk ? kukira kamu masih sakit, gimana udah sehat atau perlu ke dokter ?”. tanya Excel kal Abel sudah masuk dalam lift dan Abel memberikan senyuman semanis mungkin.
“pagi kak aku udah sembuh kok”. Excel melihati mata Abel yang masih nampak sembab walau sudah di tutupi oleh eyeshadow.
“itu matanya kenapa ?”. tanyanya seraya menunjuk mata Abel yang terlihat sembab karena jarak mereka yang dekat membuat Excel bisa melihat mata sembab Abel.
“Gak apa-apa kak cuma kurang tidur aja kok pagi ini juga udah baikan”. Ucapnya seraya memperlihatkan senyuman semanis mungkin.
Abel mengeluarkan kotak bekal yang sudah ia siapkan untuk Excel dan ia berika ke Excel mumpung hanya mereka berdua saja di dalama lift. Semoga bekal yang ia buat di sukai oleh Excel.
“apa ini bel ? bekal ?”. Abel mengangguk dengan cepat, akhirnya ia bisa memberikan bekal itu kepada Excel dan berharap tidak ada lagi pengganggu seperti pacar Excel.
“kak yang kemarin itu beneran pacarnya kak Excel ? sejak kapan kak Excel pacaran kok nggak pernah ngasih tau Abel kalau kak Excel deket sama cewek dan punya pacar ?”. tanyanya dan Excel tersenyum.
“Dia anak kuliahan apa udah kerja kak ? trus selama sebulan aku kerja disini kok dia kesini baru datang ke kantor kemarin ?”. tayanya lagi, Abel ingin tau seperti apa lawan yang harus ia hadapi dan ingin tau lebih dalam bagaimana kisah cinta Excel, siapa tau ia bisa mendapatkan informasi untuk mengalahkan Jennie.
“dia model makanya jarang kesini karena sibuk pemotretan, kadang juga kita bertemu sebulan sekali atau lebih lama kalau dia lagi ada pemotretan”. Abel tersenyum akhirnya ia bisa mencari celah harus bagaimana, Excel bilang Jennie orang yang sibuk itu artinya Jennie tidak terlalu sering ketemu sama Excel jadi ia akan mendekati Excel selama Jennie tidak ada.
Nekat memang mendekati lelaki yang sudah punya pacar dan membuat wanita lain patah hati namun semua penantian Abel tak akan ia sia-siakan dengan seorang Jennie sebagai pengganggu, 20 tahun lebih dan ia kalah sebelum berjuang tentu Abel tak akan menyerah lagi pula 20 tahun itu bukan penantian yang sebentar.
“kak entar aku boleh makan sama kak Excel nggak ?”. tanyanya dan Excel mengiyakan permintaan Abel.
Bersamaan dengan itu lift berdenting dan pintu lift terbuka ke tempat tujuan mereka, mereka akan kembali bekerja seperti biasa, dan Abel ingin baik dalam bekerja walaupun hatinya sedang tak baik. Setidaknya ia bisa mendapat pujian dari Excel jika bekerja dengan baik
*****
Jam istirahat tiba dan Abel tak sabar makan dan bersama dengan Excel, ia tadi juga menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri. Abel melangkah menuju ke ruangan Excel dan mengetuk pintu, kala terdengar Excel mempersilahkan masuk Abel pun masuk ke dalam ruangan.
Abel melihat banyak dokumen yang ada di mejanya Excel membuat Abel menjadi sungkan karena ia berfikir akan mengganggu Excel karena Excel sedang sibuk sedangkan ia malah mengajak Excel makan bersama.
“lagi sibuk ya ? yaudah aku makan di kantin aja”. Abel hendak berbalik namun Excel memanggil Abel untuk tidak pergi dan ia sendiri beranjak dari duduknya.
“nggak apa-apa lagi pula itu udah hampir selesai”. Excel dan Abel duduk di sofa yang ada di ruang kerja Excel dan Abel mengambil kotak bekal berisi nasi goreng juga karena tadi ia memang menyiapkan dua bekal.
Excel menyendokkan nasi goreng tersebut ke mulutnya dan Abel menatap bagaimana Excel kala memakan masakannya karena ini baru pertama kali Excel memakan masakan buatannya. Saat Excel di luar negri Abel belajar masak dari mama Dina dan berharap jika nanti akan jadi istrinya yang baik untuk Excel tapi sepertinya perjalanan Abel untuk jadi istrinya Excel masih panjang dan berliku.
“gimana kak rasanya itu aku sendiri yang masak tadi ?”. Excel tersenyum ke arah Abel dan bilang jika masakan Abel enak.
“Nggak nyangka lo aku kamu bisa masak, apalagi rasanya mirip masakan mama Dina”. Abel merasa jika masakannya berhasil membuat Excel senang, mungkin Abel harus membawakan bekal untuk Excel lebih sering agar ia dan Excel bisa sering makan siang bersama.
Tiba-tiba terdengar pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita yang membuat Excel maupun Abel melihat ke arah pintu tersebut.
“Hey Excel aku bawakan makan siang”
“Jennie”