Love You Brother

Love You Brother
Kalung



Abel pulang ke rumah dengan hati yang ia sendiri tak tau sedang bahagia atau sedih, Abel menghembuskan nafasnya berkali-kali rasanya sangat sesak mengingat ke jadian tadi. Andaikan tadi lift tidak macet akankah Excel akan memeluknya sebagai seorang wanita mengingat ia selalu diperlakukan layaknya adik kecil.


Abel mengambil foto masa kecilnya dan mengeluarkan dari figura diatas nakas, ia memandang masa kecilnya yang nampak tersenyum bahagia begitu juga dengan Excel, andaikan masa itu bisa diulang kembali, namun semua itu tidak akan mungkin.


“Kak kenapa kamu lupa kenapa kamu nggak inget janji kita”. Tanpa sadar air mata Abel mengalir jatuh ke foto tersebut, Abel mengusap air matanya dan mengembalikan foto tersebut ke dalam figura dan menaruhnya kembali di nakas.


Abel kini berjalan ke balkon rumahnya ia melihati bintang dengan perasaan sedih, dulu ia selalu saja mengajak Excel melihati bintang dan menunggu bintang jatuh untuk membuat harapan. Abel memegang kalung yang melingkar di lehernya dengan perasaan sedih.


“Tuhan tolong aku jika dia memang untukku maka beri aku jalan untuk bersamanya kalau dia bukan untukku maka beri aku kekuatan untuk melupakannya”. Abel kembali ke kamarnya dan melepaskan kalung tersebut dari lehernya namun ia merasa aneh, sekian tahun memakai kalung tersebut lehernya sudah terbiasa.


Abel kembali memakai kalung tersebut dan akan mengembalikannya ke Excel pada waktu yang tepat. Karena jika ia terlalu lama memakai kalung itu maka kenangannya bersama Excel akan tetap melekat dan mengingatkannya.


******


Abel mengerjakan tugasnya di kantor seperti biasa namun dengan perasaan yang kacau bahkan hatinya rasanya campur aduk. Saat Abel sudah selesai pekerjannya ia mematikan komputer namun tak langsung pulang karena menunggu Excel keluar dari ruangannya.


Cukup lama Abel menunggu Excel yang tak kunjung keluar bahkan sampai lewat satu jam. Kantor bahkan sudah kosong dan sepi hanya tinggal ada dia di ruangan itu, Bagas juga sudah pulang sedari tadi.


Abel melihat pintu ruangan Excel terbuka, ia dengan cepat merapikan hp dan dompetnya yang ada di atas meja dan ia masukkan ke dompet, “Abel kau belum pulang ?”.


“Belum, aku nungguin kakak hari ini ada waktu nggak ?”. terlihat Excel mengernyit bingung, “iya ada apa memangnya ?”.


“aku mau ngajak kak Excel jalan-jalan kan kak Excel belum pernah jalan-jalan sama aku sepulang ke Indonesia kan ?”. Abel mengingat kala ia memang belum pernah mengajak Excel kemanapun padahal Abel sudah merencanakan ini dan itu jika Excel kembali ke Indonesia namun semuanya berubah kala ada Jennie.


“Yaudah ayo”. Mereka jalan beriringan menuju ke lift dan sedari Abel masuk ke dalam lift Excel melihati Abel, tentu itu membuat Abel penasaran, “kenapa kak ada yang salah ya sama aku ?”.


“Nggak ada cuma aku kira kamu trauma nggak mau naik lift lagi”. Tuturnya dan tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di lantai satu tanpa ada hambatan.


******


Abel mengajak Excel ke pantai dimana ia merasa banyak kenangan yang ada di pantai tersebut, dan hari ini juga ia hendak memberikan kalung yang selama ini melingkar di lehernya dengan cara yang berkesan.


“Gimana kak pantainya masih bagus kan kayak dulu ?”. Tanya Abel seraya melihati lautan luas di depannya dan angin menerpa wajahnya, waktu yang tak lagi sore membuatnya bisa memandangi matahai yang hendak terbenam.


“iya masih bagus ya, kita datang di waktu yang tepat bisa lihat sunset”. Excel melepas jas dan dasinya dan ia taruh di mobil sedangkan ia dan Abel berjalan di pasir putih dan membuat jejak kaki.


Waktu seolah terhenti bagi Abel, mereka berdua main kejar-kejaran layaknya orang pacaran, dan mengambar di pasir walaupun tersapu ombak setelahnya. Untungnya pantai sepi pengunjung jadi mereka bisa bermain bersama dengan leluasa.


“Udah lama aku nggak ke pantai, terakhir sama Jennie itu juga kalau Jennie nggak sibuk”. Rasanya seperti luka yang di sayat kembali di tempat yang sama, Abel menghembuskan nafasnya pelan dan berusaha tersenyum.


“Kak Jennie apa kabar sekarang dia nggak pernah ke kantor lagi akhir-akhir ini”. Tanyanya seraya kuat dan menahan hatinya agar tak bersedih.


“Dia lagi di Italy , ada pemotretan katanya dia jadi brand ambasador produk pakaian disana, jadi ingat waktu pertaman kali aku ketemu dia, waktu itu juga gitu dia jadi brand ambasador produk yang waktu itu perusahaan papi buat dan aku membantu papi jalanin perusahaanya”.


Abel merasakan rasa nyeri kembali di ulu hatinya, Excel selalu saja membicarakan tentang Jennie kalau orang lain pun langsung akan tau seberapa cintanya Excel kepada Jennie. Abel tanpa sadar kembali menangis tapi untung saja Excel melihat ke depan dan sinar sunset menyamarkan air matanya.


Abel dengan cepat mengusap air matanya agar Excel tak menyadari jika ia bersedih juga kembali tersenyum seperti seolah ikut merasakan kebahagiaan Excel, walau hatinya menangis.


“kak Excel langsung jatuh cinta ya sama kak Jennie waktu pertama kali ketemu ?”. tanyanya seraya tersenyum, ia akan berpura-pura bahagia untuk Excel walau hatinya tidak bahagia.


“iya waktu itu aku langsung menyadari kalau Jennie adalah wanita yang bisa membuatku bahagia hanya dengan senyumnya saja, dia selalu terlihat sangat cantik ”. Tuturnya.


“iya kak Jennie emang cantik banget ya sampai kak Excel kayak tersihir gitu”. Abel mengucapkan itu dengan candaan namun itu adalah ungkapan hatinya.


“Kecantikan kak Jennie membuatmu melupakanku kak melupakan janji kita, kenapa kamu berubah kak, aku masih disini menunggumu dan aku tak berubah tapi kenapa kamu berubah, kamu seperti orang asing sekarang kak aku nggak tau lagi hatimu ada di mana”. Ucapnya dalam hati.


Abel memandangi Excel lekat-lekat dimana Excel nampak sekali bahagia, terlihat dari senyuman yang sedari tadi terukir di jelas di bibirnya namun senyuman itu Excel tujukan bukan untuk dirinya tapi untuk wanita lain.


Terdengar suara hp yang berbunyi dan itu dari hpnya Excel, Excel mengankat hpnya dengan wajah yang bahagia, Abel seketika jadi penasaran siapa yang menghubungi Excel.


“siapa kak ?”. tanyanya kala melihat Excel kembali memasukkan hp pada saku celananya.


“Jennie katanya dia pulang, aku mau jemput dia di bandara, yuk kamu juga ikut ntar aku anterin pulang”. Abel bingung harus bagaimana, jujur ia tak ingin bertemu dengan Jennie sekarang.


“aku nggak ikut ya kak aku minta jemput supir aja soalnya masih mau disini”. Jawabnya dan Excel mengerti, ia sangat senang Jennie pulang karena akhir-akhir ini tak bisa bertemu dengan Jennie.


“yaudah aku pergi ya kamu jaga diri baik-baik”. Excel membalikkan badan meninggalkan Abel yang tak kuat lagi membendung air matanya, rasanya sangat sakit.


“Kamu pergi kak dan aku masih disini hanya bisa melihat kepergianmu seperti dulu”. Hanya deburan ombak dan pasir putih yang bisa mendengar suara Abel, semakin lama angin malam menjadi dingin dan semakin lama hatinya juga semakin sakit.


Seketika Abel menyentuh kalungnya dan teringat tujuan ia dan Excel kesini sebenarnya untuk mengembalikan kalung yang Excel berikan namun malah terlupa, mungkin kalungnya harus di berikan lain kali.