
Abel dan Alvin kini telah tiba di tempat berlangsungnya pesta pertunangan Excel dan Jennie, namun keduanya tak kunjung turun dari mobil dan sejak tadi masih setia di parkiran. Ini semua karena Abel yang meminta dengan alasan belum siap dan meminta waktu sebentar lagi.
“Udah apa belum si, keburu acaranya mulai ntar kalau kita terlambat dikira nggak niat dateng”. Seru Alvin seraya melihati jam tangan mahalnya sedari tadi. Ia tau jika Abel sulit menerima ini tapi mau tetap di parkiran juga acaranya tetap akan di mulai.
“Yaudah yuk doain ntar aku nggak pingsan pas mereka tukar cincin”. Alvin memutar bola matanya jengah, bilangnya dari rumah siap kini malah suruh doain, kalau Abel pingsan yang ada nanti buat repot.
Mereka berdua memasuki kafe yang telah di sulap menjadi acara pertunangan tersebut lengkap dengan dekorasi lampu-lampu kecil yang menghiasi di semua tempat, ada rasa iri di hati Abel tentunya melihat bagusnya tempat tersebut.
Keduanya menghampiri orang tua Excel untuk bersalaman sebagai bentuk kesopanan kepada tuan rumah acara tentunya. “hallo tante om maaf mama sama papa nggak bisa dateng karena belum balik dari luar kota”.
“nggak apa-apa kalian datang saja kami sudah senang”. Jawab Rita yang merupakan maminya Excel.
“Nikmati acara dan jamuannya ya jangan sungkan”. Timpal Jimmy yang merupakan papinya Excel. Walau sudah lama tidak bertemu namun wajah Alvin dan Abel merupakan perpaduan sempurna Dina dan Rey hingga yang baru pertama kali melihat juga akan tau jika mereka anak-anaknya Rey dan Dina.
Alvin dan Abel masuk ke dalam acara dan di situ nampak Jelas Excel sedang menyalami tamu begitu juga Jennie namun mereka tak bersama karena Jennie nampak asyik menyalami dan mengobrol bersama teman-temannya sebagai bentuk keramahan tuan rumah acara.
“Hei apa kau gugup ?”. tanya Alvin yang menghampiri Excel basa-basi sedangkan Abel diam saja dan hanya sedari tadi mendengar pembicaraan kedua lelaki yang usia lebih tua darinya. Ia tak ada mood untuk mengeluarkan suaranya bahkan untuk datang ke acara pertunangan Excel saja sudah sangat berat.
Abel mengamati Excel yang nampak sekali bahagia karena terlihat jelas dari bibirnya yang sedari tadi melengkung ke atas namun tak taukah jika di balik senyuman Excel ada hati Abel yang menangis. “Abel kenapa diam saja apa kau sakit ?”.
Abel masih dalam lamunanya hingga tak sadar jika Excel menyadari jika dirinya tengah tak fokus hingga Alvin sedikit mengguncang lengan Abel agar segera tersadar dari lamunannya. Abel sontak terkejut dan melihat Alvin juga Excel secara bergantian.
“Abel kamu sakit ?”. Excel menaruh punggung tangannya di dahi Abel untuk mengukur tubuhnya namun tak taukah jika itu membuat pipi Abel memerah, Abel dengan cepat sedikit mundur agar tangan Excel segera terlepas takutnya nanti ia tambah tak rela Excel bertunangan.
“nggak aku nggakpapa kok Cuma kurang nyaman aja sama suasana pesta”. Jawabnya dengan cepat, ia tak ingin terlihat sedih namun mau di tutupi juga sedikit banyak akan terlihat. Apalagi wajahnya yang sedari tadi di tekuk.
“jangan terlalu tegang lagi pula ini bukan acara yang terlalu formal, nikamati aja ya”. Abel hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawaban. Bagaimana mau menikmati pesta jika ia saja sudah tak suka dengan pesta tersebut.
Setelah itu Excel pamit untuk menghampiri Jennie yang tengah sibuk menyalami tamunya yang lain, Abel melihati kepergian Excel yang menghampiri dan berdiri di samping Jennie. Rasa sedih dan tak rela datang kembali namun apa mau di kata Excel cintanya dengan Jennie dan bukan dengannya.
*****
MC mengumumkan kalau acara pertunangan akan di mulai dan meminta Excel juga Jennie kedepan guna tukar cincin. Pembawa cincin membawakan sepasang cincin kepada mereka dan keduanya menyematkan di jari manis sebagai tanda pengikat dan peningkatan hubungan mereka ke tahap yang lebih lebih serius.
“sabar bel”. Bisik Alvin ke dekat telinga Abel, ia tau jikaa adiknya itu tengah patah hati, terlihat jelas dari tatapan mata Abel yang nampak sedih, siappun juga akan merasakan kesedihan kala orang yang disayang malah bertunangan dengan wanita lain.
Bahkan tanpa sadar air mata Abel luruh begitu saja dan dengan cepat ia hapus sebelum tamu yang lain juga Excel yang ada di depan sana melihatnya. Walau sudah menguatkan diri tapi nyatanya masih sangat sakit melihat orang yang kita cinta mengikat janji cinta di depan orang banyak, seolah memberitahukan kalau Excel sudah jadi miliknya Jennie dan tak ada seorangpun yang bisa merubahnya.
Didepan sana Excel nampak tampan dengan setelan jasnya yang senada dengan gaun yang di pakai Jennie saat ini. Para tamu juga bertepuk tangan kala keduanya telah selesai bertukar cincin. Dan juga berbagai doa para tamu ucapkan untuk keduanya namun berbeda dengan Abel.
Ia bukannya tak suka jika Excel bahagia namun ia tak suka jika wanita yang di pilih oleh Excel adalah Jennie lantara Jennie bukanlah wanita baik dan penantiannya yang hampir 20 tahun sia-sia sudah.
Abel menunduk karena tak sanggup melihat kemesraan keduanya, ia berharap agar semoga acaranya cepat selesai dan ia bisa pulang. Namun kala ia menunduk Abel tak sadar jika Alvin yang sedari tadi berada di sampingnya kini beralih ke depan tempat Excel dan Jennie yang kosong karena keduanya telah turun.
“semuanya sebagai ucapan selamat kepada Excel dan Jennie yang telah bertunangan adik saya Abel akan mempersembahkan sebuah lagu, mari kita panggil Abel ke depan”.
Abel mendongakkan kepalanya menatap ke depan mendengar namanya di sebut dan ia tak sadar jika Excel dan Jennie sudah turun dan bergabung dengan yang lain sementara Alvin sudah di depan yang entah sedari kapan Abel tak tau.
Dan lebih mengejutkan Alvin seolah menambah beban dan sakit hatinya dengan mengatakan jika ia akan menyanyi, tidak taukah jika hatinya sedang tidak dalam kondisi baik saat ini, jangankan menyanyikan sebuah lagu bahkan bicara saja Abel sedang tak ingin.
“kak Alvin ngapain sih bilang aku mau nyanyi, kenapa nggak sekalian bilang aja kalau aku mau bunuh diri”. Protesnya ketika Alvin sudah ada di samping Abel dan Alvin melah menberikan senyuman seolah menghina.
“jangan berprasangka buruk dulu, gue bilang ini buat kebaikan lo, mendingan lo ngungkapain perasaan lo malam ini lewat lagu karena gue tau lo nggak bakalan bisa ngungkapin perasaan lo, kalau nggak lo ungkapin malam ini nggak akan ada kesempatan lagi, mendingan tuntasin malam ini bel terus abis ini lo mulai hidup baru”.
Abel menimbang, apa yang di katakan oleh Alvin ada benarnya kalau ia tak akan mungkin mengungkapkan perasaanya kepada Excel apalagi Excel kini sudah resnmi menjadi tunangan dan calon suami wanita lain, setidaknya lewat lagu Abel bisa mengatakan isi hatinya walau tersirat.
Abel naik ke atas panggung dan di depan semua orang ia merasa sangat gugup apalagi dilihat oleh Excel dan kedua orang tua Excel tapi nasi sudah menjadi bubur kalau ia turun yang ada akan membuatnya tambah malu.
“malam semuanya sebenarnya ini ide kakak saya yang kurang waras malam ini, namun saya akan mempersembahkan sebuah lagu untuk yang bertunangan hari ini, semoga kalian suka”. Alvin yang mendengar Abel berbicara, padahal juga Abel suka menyanyi di kamar mandi dan Alvin memberikan kesempatan untuk Abel membuktikan hasil latihannya di kamar mandi tersebut.
Setelah mengatakan lagu yang akan Abel nyanyikan kepada band yang mengisi pesta pertunangan tersebut ia menenangkan dirinya dan ketika dentingan suara musik di mulai ia menyanyikan lagu yang paling sesuai dengan isi dan suasana hatinya saat ini.
***Menjelang hari bahagiamu
Kau tak pernah tahu aku bersedih
Kau lupakan semua kenangan lalu
Lalu kau campakkan begitu saja
Tega...
Aku tahu dirimu kini
Tapi bagaimanakah dengan diriku
Tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu
Aku tahu bukan saatnya
Tuk mengharap cintamu lagi
Tapi bagaimanakah dengan hatiku
Tak mungkin ku sanggup hidup begini
Tanpa cintamu
Tak ingatkah kau dulu pernah berjanji
Bahagiakan diriku slamanya
Tak berartikah cinta kita yang lalu
Hingga kau bersama dengan dirinya
Tega...
Aku tahu dirimu kini
Tapi bagaimanakah dengan diriku
Tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu
Aku tahu bukan saatnya
Tuk mengharap cintamu lagi
Tapi bagaimanakah dengan hatiku
Tak mungkin ku sanggup hidup begini
Tanpa cinta darimu
Tapi bagaimanakah dengan aku
Tak mungkin sanggup kehilangan
Aku tahu bukan saatnya
Tuk mengharap cintamu lagi
Tapi bagaimanakah dengan hatiku
Tak mungkin ku sanggup hidup begini
Tanpa cintamu
Tanpa cintamu***
Semua tercengang dengan lagu yang barusan Abel nyanyikan karena seperti ungkapan hati, entah itu memang asli atau hanya sebuah lagu saja yang pasti itu membuat suasana menjadi tegang. Terutama dengan Excel yang nampak tek senang dari sana terlihat dari raut wajahnya.
“lagu ini saya nyanyikan sesuai dengan isi hati saya, lagu ini mewakili perasaan saya malam ini kepada orang yang sangat saya cintai namun tidak bisa saya miliki dan memilih untuk bersama orang lain, dia adalah kak Excel.....”