
Semua orang tercengang mendengar penuturan Abel tak terkecuali Alvin, padahal Alvin menyuruh Abel untuk menyatakan perasaanya pada Excel lewat lagu tapi kini Abel malah benar-benar menyatakan perasaanya kepada Excel secara gamblang.
Abel melihat ke arah Excel begitu juga sebaliknya Excel melihat Abel, apa yang selama ini Abel pendam akhirnya bisa ia nyatakan, mau bagimana selanjutnya Abel belum memikirkannya, ia menatap nanar ke arah Excel setelah itu ia berbalik karena air matanya hendak menetes tanpa bisa ia tahan lagi.
Abel menghapus air mata tersebut dan menghela nafas agar tenang pasalnya hatinya kini sangat berkecamuk, setelah di rasa tenang ia kembali berbalik dan menampilkan senyum seolah barusan tak mangatakan apapun.
“untuk kak Excel dan kak Jennie selamat karena kalian kena prank”. Semua tamu yang tadinya tegang lantaran Abel mangatakan kata-kata yang tidak seharusnya di katakan di acara pertunangan Excel kini bertepuk tangan karena mereka fikir Abel benar-benar mengeprank Excel dan Jennie.
“maaf ya udah bikin heboh semuanya, selamat menikmati acaranya”. Abel turun dari panggung dan mendapat tepukan tangan dari semuanya juga Jennie namun berbeda dengan Excel yang menatap Abel tanpa berkedip sedikitpun bahkan alisnya menukik memperlihatkan kalau ia tak senang.
“kak ayo kita pulang aku udah nggak kuat disini lama”. Abel berujar kepada Alvin dan tentu Alvin menyadari itu, tentu ia tau kondisi hati adiknya saat ini sedang tak baik, apalagi tadi itu cukup membuat Abel sedih karena harus tetap tersenyum padahal hatinya menangis.
“yaudah tunggu disini gue pamit dulu sama orang tuanya Excel, nggak enak kalau langsung pergi gitu aja”. Abel mengangguk dan menunggu Alvin kembali namun tanpa ia duga lengan Abel di pegang oleh seseorang dengan begitu kuat hingga membuat Abel seketika melihat siapa yang tengah memegang lengannya.
“kenapa kau melakukan itu ? apa mangsudmu dengan melakukan itu agar menjadi pusat perhatian semua orang ? lakukan itu di tempat lain tapi jangan di acaraku bel kau mengacaukan acaraku, kau sangat membuatku kecewa”. Abel menghentakkan tangan Excel dengan kuat, Abel sudah tak tahan memangnya siapa yang mau menarik perhatian orang.
“kau bilang kecewa ? akan kuberitahu siapa yang paling membuat kecewa disini, kaulah yang mengacaukan hidupku, kaulah yang membuatku menunggu hampir 20 tahun hanya untuk sebuah janji palsu yang kau ingkari, apa kau lupa janji kita ? ya kau lupa dan kau tak memikirkan perasaanku kaulah yang membuatku kecewa”
“apa yang kau katakan sebenarnya ?”. Abel tersenyum miring dengan air mata yang sudah mengalir, tentu Excel lupa kalau tidak pasti hari ini yang bertunangan dengan Excel adalah dia dan bukannya Jennie, tapi dengan seenaknya Excel lupa padahal Abel sudah sangat berharap pada Excel.
“kau tanya apa maksudku ? kau mengingkari janji kita untuk menikah dan bersama selamanya, aku mengharapkanmu kembali setiap hari agar kau menepati janjimu tapi kau malah melupakan janji kita, aku mencintaimu kak apa kau tidak sadar ?”. Abel menghapus air matanya dan menatap nanar Excel yang diam dan tercengang dengan perkataan Abel.
"Aku menyanyangimu, aku mencintaimu bukan sebagai kakak melainkan perasaan seorang gadis yang mencintai lelaki, aku ingin menjadi kekasihmu, aku ingin menjadi pendampingmu, aku ingin menjadi istrimu tidak bisakah kau mencintaiku kak ?". Abel bisa melihat wajah keterkejutan Excel nampak sangat jelas saat itu.
“maaf bel tapi aku hanya menganggapmu sebagai adik”.
Abel melihat Excel dengan rasa kekecewaan yang teramat menyakitkan, akhirnya ia mendapat jawaban dari Excel mengenai pernyataan cintanya dan ia gagal mendapatkan hati Excel, walau tau jika Excel tak mencintainya dan hanya mencintai Jennie nyatanya tetap menyakitkan setelah mendengar Excel mengatakan itu secara langsung dari mulut Excel.
Semua perasaan yang ia pendam bahkan tanpa sepengetahuan orang tuanya ia mencintai Excel selama ini dan penantiannya sia-sia sudah. Abel menarik kalung yang ada di lehernya hingga putus dan ia lemparkan kalung tersebut tepat ke arah Excel saking kesalnya.
Tak mnyangka kalau kalung itu akan ia berikan dengan cara seperti ini tapi mau bagaimana lagi, kalung itu sudah tidak ada artinya untuk Abel, seperti harapannya yang hancur kini kalung itu juga begitu.
“aku sangat kecewa denganmu dan aku menyesal pernah mencintaimu, jangan harap aku mau jadi adikmu karena setelah ini persaudaraan kita berakhir dan kau bukan kakakku”. Setelah mengatakan itu Abel berbalik dan pergi dengan air mata yang mengalir deras.
Hilang sudah semuanya, rasa cinta, rasa sayang, persaudaraan dan harapan Abel. Tidak ada yang tersisa kecuali rasa kecewa. Tiba-tiba Abel merasa tangannya di pegang kembali dan ia melihat siapa yang memegangnya, setelah tau jika orang itu adalah Alvin Abel segera memeluk kakanya dan menumpahkan rasa sedihnya.
Tadi saat Abel dan Excel terlihat berbincang bersama Alvin tidak segera menghampiri Abel dan melihat situasi, ia melihat betapa kecewanya Abel dan setelah Abel pergi barulah Alvin menghampiri Abel.
“Ayo kita pergi kak”. Alvin mengangguk dan mereka pergi dari tempat itu, sebelum Abel tambah sedih dan membuat orang-orang mengetahui kesedihannya. “iya kita pergi udah lo jangan nangis hapus air mata lo”.
*****
Di tempat lain Excel memandangi kepergian Abel dan ia menunduk untuk melihat apa yang tadi Abel lemparkan kepadanya. Ia memungut sebuah kalung dengan liontin berbentuk bintang, tapi dalam benaknya ia berfikir untuk apa Abel melemparnya dengan kalung.
Apakah ini bentuk kebencian Abel namun mengapa sampai merusak kalungnya hingga putus, Excel melihat dan memperhatikan kalung tersebut dengan cermat, ia seperti pernah melihat kalung itu namun dimana.
Tiba-tiba Excel merasa kalau pundaknya ada yang menepuk dan ia berbalik menengok ke belakang, ternyata Jennie yang menepuk pundaknya, “sayang apa yang kau lakukan disini ? ayo kita kembali yang lainnya mencarimu untuk mengucapkan selamat dan berpamitan”.
"Iya ayo". Excel mengangguk dan ia berjalan berdampingan dengan Jennie setelah sebelumnya memasukkan kalung milik Abel ke dalam saku celananya.
.
.
.
.
.
.
Banyak alasan untuk kita mencintai seseorang namun hanya butuh satu alasan untuk kita membenci orang itu.