
"Kalian udah saling kenal?" tanya mama Yudha dan mama Ana secara bersamaan
"Iyalah ma,Yudha kenal banget sama dia, dia ini cewek yang nyiram Yudha pakai air bekas mengepel lantai, dia juga cewek yang hobi ngintipin orang yang lagi pacaran," jelas Yudha santai membuat Ana ternganga kaget
"Bohong tante! Jangan percaya!" pinta Ana panik, membuat mama Yudha dan mamanya terkekeh geli
"Tolong jaga anak tante ya selama di sekolah," pinta mama Ana membuat Ana kaget
"Mama apa-apaan sih, Ana kan bukan anak kecil lagi," protes Ana tidak tetima mendengar mamanya langsung mempercayai Yudha untuk menjaganya di sekolah
"Iya tante, pasti," jawab Yudha mantap membuat Ana makin kaget lagi
Ana langsung menatap tidak percaya ke arah Yudha, yang di sambut respon Yudha berupa kedipan mata genit membuat Ana bergidik ngeri
"Pipi kamu masih sakit?" tanya Yudha sambil menatal ke arah pipi Ana yang tadi di tampar ayahnya, membuat Ana tersadar dari lamunan masa lalunya, Ana menggeleng pelan membuat Yudha menghela nafas berat
***
Rani tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita Ana, bahkan beberapa pengunjung kafe langsung menoleh ke arah mereka dengan berbagai jenis tatapan
Ada yang menatap dengan tatapan heran, ada juga yang penasaran ingin tau, dan pastinya ada juga yang menatap mereka dengan jengkel, seolah merasa terganggu dengan suara tawa Rani yang terdengar sangat kencang
Ana bahkan sampai melemparkan sendok ke arah Rani agar Rani diam, tapi sayangnya Rani dengan sigap menghindar dari lemparan sendok Ana dan berusaha menghentikan tawanya
Saat ini keduanya berada di kafe milik orang tua Ana, yang dikelola oleh Ana sendiri
Kafenya berada di dekat perkantoran, yang membuat oafe tersebut lumayan ramai jika jam makan siang dan malam tiba
"Kalau aku jadi orang tua kalian, aku juga tidak percaya kalau tidak terjadi apa-apa di antara kalian berdua," ujar Rani sambil terkekeh geli membuat Ana mendengus jengkel
"Aku tidak semurahan itu!" protes Ana jengkel, membuat Rani tersenyum geli
"Oke, aku tidak bilang kalau kamu murahan, tapi coba deh kamu pikir sendiri siapa yang bisa percaya kalau tidak terjadi apa-apa di antara kalian berdua, padahal seperti yang kamu cerita, kamu mabuk, jadi tidak sepenuhnya ingat apa yang sudah terjadi, kamu juga tidur di kamar Yudha, ini Yudha An, bukan Dafa, kalau saja kamu cerita, kamu tidur di kamar Dafa dan tidak terjadi apa-apa, aku 100% pasti percaya, tapi ini Yudha, pria yang dikenal sebagai penakhluk wanita, entah sudah berapa wanita yang dia jamah, dan kamu tidur di kamar dia? Dan tidak terjadi apa-apa?" tanya Rani ragu membuat Ana melotot marah
"Oke, aku sebenarnya percaya kepada kamu, yang aku tidak percaya itu pada Yudha, oke kamu tidak sakit, mungkin dia tidak berbuat sejauh itu, tapi apa kamu yakin dia tidak berbuat yang aneh-aneh terhadap kamu, misalnya seperti ciuman? Ini Yudha loh An yang sedang kita bicarakan, pria yang tidak bisa tahan tidak berbuat apapun saat berada di dalam 1 kamar dengan seorang wanita," jelas Rani membuat Ana mencoba berpikir keras
Ana mencoba mengingat apakah terjadi sesuatu saat ia mabuk
Tapi Ana sama sekali tidak mengingat apapun, justru yang Ana ingat malahan hal yang menyakitkan yang membuat Ana mabuk
Pesta ulang tahun Siska malam itu berlangsung meriah
Tapi tiba-tiba saja pesta itu berubah romantis saat Dafa melamar Siska di hadapan semua tamu yang datang, dan sudah jelas Siska menerima lamaran itu dengan gembira
Sangat romantis, tapi juga sangat menyakitkan bagi Ana
Ana sudah mengerahkan segala cara untuk membuat Dafa tertarik kepada dirinya, tapi bukannya tertarik, Dafa malah jatuh cinta dengan semua pesona yang dimiliki Siska, sepupu Ana yang sangat cantik
Hal yang menyakitkan terjadi tidak hanya sampai di situ, dengan berani Siska mencium bibir Dafa di hadapan semuanya
Menegaskan pada semua wanita yang hadir di sana, bahwa Dafa adalah milik Siska, Ana hampir saja menangis kalau saja Yudha tidak muncul dan mengejeknya
"Masih cinta bertepuk sebelah tangan An?" tanya Yudha sambil tersenyum mengejek, biasanya Ana akan mendebat apapun yang Yudha katakan, tapi malam ini Ana terlalu sakit hati
Hatinya sangat perih, hingga tanpa berpikir panjang saat pelayan menawarkan minuman berakohol kepada Ana, Ana langsung mengambil 1 gelas dan meminumnya dalam satu kali tegukan, mengabaikan wajah kaget dan tidak percaya yang Yudha tampakan, Ana hanya bisa mengingat kejadian malam itu sampai di situ
"Siska akhirnya resmi menjadi kekasih Dafa" jelas Ana setelah tersadar dari lamunannya, Rani menghela nafas berat
"Dari dulu kan aku sudah pernah bilang, jika kamu tidak mengungkapkan langsung perasaan kamu kepada Dafa, pria itu tidak kan pernah tau," gerutu Rani jengkel
"Tapi kan aku wanita Ran, tidak mungkin bagi ku untuk bicara terlebih dahulu," protes Ana membuat Rani mencibir kesal
"Siska juga wanita An, tapi lihat cara dia menunjukan rasa sukanya secara jelas terhadap Dafa, lihatkan akhirnya Dafa malah jatuh hti pada gadis seperti Siska, bukannya pada kamu, gadis yang sudah menganggap Dafa seperti seorang pahlawan semenjak masuk SMA," ujar Rani membuat Ana menghela nafas berat
bersambung