
Ana menengadahkan kepalanya untuk melihat pohon rambutan yang menjulang tinggi di hadapannya, pohon rambutan yang memiliki banyak cabang dan berbuah lebat, dan berada di samping gedung sekolahnya
"Buruan! Tunggu apa lagi sih?! Mau ditambah hukumannya jadi lebih berat?" tanya sebuah suara cewek yang lembut namun tegas,
Ana menoleh ke arah 3 orang gadis yang mengenakan seragam SMA yang berdiri di belakangnya, Ana meringis kecil, hari ini adalah hari pertama Ana sekolah di SMA Kusuma, dan hari ini juga hari pertama sekolah itu MOS untuk para siswa baru.
Dari seluruh banyak hari yang ada, hari ini adalah hari kesialan Ana bertubi-tubi, setelah tadi pagi Ana bangun terlambat yang mengakibatkan Ana terlambat setengah jam mengikuti acara pembukaan MOS,
Ana juga lupa memakai atribut yang diperintahkan agar dipakai para siswa baru saat MOS, kelalaian Ana itu menjadikan Ana sasaran empuk untuk para senior yang memang dengan semangat mencari kesalahan para junior mereka.
Setelah push up 10 kali di lapangan tadi bersama 5 siswa baru lainnya, ketiga senior Ana yang terlihat sangat modis dan kompak, memberikan Ana hukuman tambahan karena tidak mengenakan atribut, dan hukuman tambahan untuk Ana adalah memanjat pohon rambutan untuk mengambil buah rambutan yang kulitnya sudah memerah.
Ana tidak bisa menolak, karena jika dirinya menolak, hukumannya pasti bertambah lebih berat lagi, dan di sinilah Ana, di hadapan sebuah pohon rambutan yang berbuah lebat, diawasi ketiga seniornya yang bertampang cantik tapi judes serta galak
"Tunggu apa lagi sih?" tegur gadis yang memiliki rambut panjang yang lurus
"Tapi kak, saya tidak bisa memanjat" jelas Ana takut-takut, seumur-umur Ana memang pernah memanjat pohon, tapi itu dulu, saat Ana masih kecil, sebelum Ana tumbuh dewasa dan tau arti kata malu, dan itu sudah lama sekali, mungkin saat Ana berumur 10 tahun, setelah itu seingat Ana, Ana tidak pernah berniat memanjat pohon lagi.
"Ini pilihan kamu sendiri loh dek, kamu mau ganti pilihan? Kita sih oke-oke aja" jawab gadis yang memiliki poni, Ana menghembuskan nafas berat, ketiga senior itu memang memberikan 2 pilihan hukuman untuk Ana, memanjat pohon rambutan atau bernyanyi dan bergoyang di hadapan seluruh siswa, tentu saja Ana lebih memilih memanjat pohon, Ana tidak suka mempermalukan dirinya sendiri.
"Iya deh kak" jawab Ana pelan, menyerah, Ana kembali menatap pohon rambutan di hadapannya
Ana mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan secara perlahan, Ana mulai menaiki pohon rambutan secara hati-hati, masih bisa Ana dengar dengan jelas suara cekikikan geli dari ketiga seniornya itu, Ana berhasil mencapai cabang keempat dengan susah payah, buah rambutan yang ingin diambil memerlukan Ana naik satu cabang lagi, tapi para serangga yang menghuni pohon rambutan itu mulai menyerang Ana, membuat Ana panik dan ketakutan, bahkan ada yang menggigit tangan dan kaki Ana, Ana berusaha menghindar, tapi hal itu malah berakibat fatal bagi Ana, Ana tergelincir dari cabang pohon rambutan yang ia injak.
Ana siap merasakan tubuhnya nyeri akibat terjatuh di tanah, alih-alih merasakan kerasnya tanah, Ana malah merasakan kedua tangan menangkap tubuhnya, membuat Ana merasakan kehangatan tubuh seseorang.
Ana membuka matanya perlahan, tatapan matanya saling beradu pandang dengan seseorang yang baru saja menangkap tubuhnya yang jatuh, seorang cowok yang memiliki wajah dingin sekaligus tampan, dengan tatapan mata yang sayu memuat Ana terpesona, tidak hanya terpesona dengan paras cowok itu, Ana juga terpesona dengan sikap cowok itu, bagi Ana, cowok itu adalah penyelamat hidupnya, pahlawan yang menolongnya dari bahaya, jantung Ana tiba-tiba berdesir aneh karena keterpesonaannya, Ana benar-benar tidak ingin cowok itu menurunkan Ana dari bopongannya
"Bang Dafa?!" guman Ana dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup, cowok itu tersenyum samar membuat Ana makin terpesona, tidak bisa dipungkiri, Ana kenal dengan penyelamat hidupnya ini, dia adalah Dafa Ariyan, cowok populer di SMA itu yang saat ini tengah menjabat sebagai ketua osis,
Ana seperti siswi baru lainnya langsung terpesona dengan pembawaan Dafa yang selalu berwibawa, meskipun wajahnya menunjukan kesan dingin dan tidak bersahabat, tapi Dafa selalu membantu para juniornya yang kesulitan.
Ana mengamati wajah Dafa tanpa pernah merasa bosan, sampai Ana merasakan tetesan-tetesan air mulai membasahi wajahnya.
"Hujan?!" guman Ana tanpa sadar, tetesan-tetesan air itu makin banyak membuat Ana sontak membuka matanya perlahan, dan wajah yang di hadapannya sekarang bukanlah wajah Dafa, tapi memiliki tatapan mata yang tengil dan sediki genit
"Apa yang kamu lakukan?!" jerit Ana kaget langsung mendorong dada pria itu, membuat pria itu langsung berdiri tegak, Ana juga langsung bangun dari baringnya dan duduk dengan perasaan bingung, pria itu tertawa kencang melihat ekspresi Ana, Ana menatap pria itu jengkel,
Ana kemudian menghembuskan nafas berat karena menyadari apa yang baru ia alami tadi adalah mimpi, kisah masa SMA nya yang tiba-tiba masuk ke dalam mimpinya
"An, apa kamu bermimpi sedang tidur dengan seorang pria?" tanya pria itu sambil tersenyum geli, membuat Ana kembali menatap jengkel, Ana baru sadar kalau pria itu hanya mengenakan celana piyama dan bertelanjang dada, memamerkan otot-otot ditubuhnya dan tentunya perutnya yang sixspack.
Bersambung